Selasa, 09 Desember 2014

Kaki Kipas


Hari ini ketiban macet lagi, tau gitu lebih baik tiduran di rumah membayar cicilan-cicilan kantuk selama ini, cuaca dingin habis hujan mendukung. Saya pikir, apa lagi yang terjadi? Ternyata hari ini tanggal 9 Desember, saya lupa kalau hari ini Hari Anti Korupsi. Saya malas berbicara mengenai Korupsi, saya lebih takut dengan pencopet yang terus mondar-mandir di lapak seorang Pamanku di Pasar Sentral Makassar. Saya pernah meremehkan dua kali nasehat dua penjual minuman yang berbeda agar menjaga tas ransel saya, ternyata memang benar ada pencopet di sekitaran jalan sana.

Pertama melihatnya, dia sedang rehat bersama beberapa temannya, yang bukan pencopet. Teman-temannya ini mengumpulkan uang dengan memaksa orang-orang untuk beli di lapak di mana dia bekerja, memaksa orang untuk singgah dan membeli dengan hasil tawar-menawar dan berdebat dengan mereka. Satu-dua orang biasa ''diladeni'' tiga orang lelaki tersebut. Supaya aksinya dan akting emosionalnya lebih mantab, terkadang sebelumnya mereka meminum ballo' terlebih dahulu, atau kalau mampu mereka membeli minuman bermerk.

Kembali ke pencopet tadi. Selesai mencopet, berlagak jagoan akan bercerita ke temannya mengenai apa yang didapatnya, walau yang didapatnya sedikit atau sedang sial, tak dapat uang sama sekali. Seolah pekerjaannya sangat beresiko tinggi, butuh keahlian khusus. Saat pertama kali melihatnya mencopet, saya ditegur oleh Paman saya supaya tidak komen apa-apa, berusaha untuk tidak memperhatikannya. Paman saya bercerita kalau dia ditegur ketika kedapatan mencopet, dia akan marah-marah bahkan sampai pada tahap memukuli orang tersebut.

Kebaikan dan keburukan tidak ada yang menang dan kalah, siapa yang punya kekuatan itulah yang menang, soal waktu saja. Saya tercenung memikirkan semua itu... Seperti ketika ada Badan POM datang ke sana, semua bisa disita, tapi tidak dengan keinginan menjual dan membeli barang tersebut. Seperti ketika seorang dosen kedapatan sedang mengonsumsi shabu-shabu di hotel, saya teringat dengan istri dan anak-anaknya. Seperti ketika orang tua yang terus-terusan mengungkung cita-cita kita hanya sebatas sebagai pegawai. Sigh. Kehidupangnga!

https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEh-idLgJbv__EuHuNgHjoat95AWPFv96xwIpwfqh6nWhmeb-LfHLOaDMdZ-sgIaLiM1mEY0uNvWyU8YGvjHqxPR2AWqzgkzJwYg9yE58fMGGB9x_IG1aJ-jhqG2o3tJSGpU_JPC-RR5EMe9/s1600/sj_wanita.jpg

Apa kita tidak bosan terus-terusan memakai seragam? Apa kita tidak bosan memakai pantofel dan selalu bangun pagi setiap hari? Walau sebenarnya saya tidak bosan jalan kaki, dari TK sampai kuliah. Mungkin itulah penyebabnya telapak kaki saya bentuknya tidak seperti bentuk kaki wanita kebanyakan yang langsing, muat dengan sandal jepit untuk wanita. Ketika membeli sandal jepit, saya justru mencari sandal jepit yang nyaman, sandal jepit laki-laki dan cenderung kebesaran untuk telapak kaki saya. Peduli siapa, kaki saya yang makai kok.




*ballo : minuman miras khas Makassar