Senin, 22 Desember 2014

CACAT

Sepuluh tahun lalu...
Dia yang baru kukenal dua hari, menghampiri kursi tempatku duduk dan mengambil bukuku. Didapatinya dua buah cerpenku, dua buah cerpen yang kubuat saat SMA, ‘’kamu suka nulis?’’ saya tak menjawab, dia bagiku masih orang asing, ‘’saya juga suka nulis.’’ tambahnya. Dosen masuk, kami berhamburan menemukan kursi masing-masing.

Lima tahun lalu...
‘’Sedang bikin apa?’’, sms seperti itu sering mampir di handphoneku, dari dia seorang, keluargaku pun sudah tahu kedekatan kami, demikian pun dengan teman seangkatan. Ada yang bilang kami seperti saudara, punya kemiripan wajah, ada yang beling hubungan kami sepasang kekasih. Whateverlah, orang hanya mencap, kami yang menjalaninya.

Setahun yang lalu...
Handphone saya hampir tak punya kegunaan lagi selain melihat jam, dan hanya sebuah sms penting pernah mampir, ‘’Apa kabarmu?’’, itu bunyi smsnya. Hai orang asing, tiba saatnya kita jadi kenalan biasa saja. Mungkin saya yang lelah mengenal setiap dirinya, kini muncul dirinya yang baru lagi. Semua teman dan keluarga menanyakan kabarnya, saya tak tahu harus menjawab apa. ‘’Teman macam apa kamu tak tahu apa-apa tentang temanmu?’’ Yah, teman macam apalah saya ini.

Saya tak tahu apa-apa lagi tentangnya, hubungan ini hanya punya satu kaki untuk melangkah ke depan, tak ada kaki kiri dan kanan yang bergantian di depan dan satunya menahan berat badan di belakang, pincang. Sebelahnya lagi lunglai, tak meminta pertolongan, asik menikmati kesakitannya sendiri. 

Mungkin akan ada sapaan basa-basi, dan hanya balasan ‘’hehehe’’ sekedarnya dari saya atau darinya. Seperti halnya kaki pincang tadi punya sanggahan lagi, tapi dari kayu, yang lunglai itu tetap asik di situ menghabiskan dukanya.