Senin, 20 Agustus 2012

SUMPUNG LOLO

Sumpung lolo (Bahasa Bugis), dalam Bahasa Indonesia mendekati makna menjalin silaturrahim. Baru tahu dari penjelasan kakak kandung kalau ternyata silaturrahmi dan silaturrahim beda. Silaturrahim artinya menjalin hubungan lebih dekat lagi dengan keluarga (punya hubungan darah). Sedangkan silaturrahmi, kepada orang luar.


Yang mukanya kuning, mungkin sudah keracunan kue keju :D


Akhirnya, setelah beberapa tahun, kita bisa merayakan Idul Fitri bersamaan. Senang saja, pas ke rumah keluarga, tetangga atau teman, gak usah mereka nanya-nanyain "Eh, kamu lebaran kemarin atau tadi?". Memang hanya hal yang sepele tapi saya menyukainya.

Hari pertama lebaran, belum kemana-mana. Hanya di rumah, bersih-bersih seperti hari biasa dan merapikan dapur sendiri seeeee beeeee luuuuum... pergi mengacak-ngacak dapur orang lain. Hahaha! Nantilah, pas hari kedua, tadinya hanya rencana ke rumah Om yang di Jl. Banta-Bantaeng eh malah ikut-ikutan rombongan mereka pergi ziarah juga.

Bukan hanya satu rumah, tapi empat rumah. Sebelum pergi, saya disuruh sarapan dulu. Karena tak ada nasi, maka buras pun jadi. Jadi pas sampe di rumah Om, malah makan soto saja karena sudah kenyang. Lanjut ke rumah alm. Pungngaji Patellongi/Pungngaji Aminah di Minasa Upa. Waaaa, mereka menyuguhkan buras ketan hitam tapi perut masih kenyang yah sudah, perut hanya punya tempat untuk beberapa sendok agar-agar (makanan penutup).

Lanjut lagi, ke rumahnya kak Ikhsan/kak Fauziah, juga di Minasa Upa. Setelah capek ketawa-ketiwi, alhamdulillah sudah lapar. Coto bikinan kak Uci jadi nambah selera buat makan. Hampir magrib baru ke rumahnya Pungngaji Nurdin/Pungngaji Sari' di Cendrawasih. Sampai di rumah, jam 9 sudah teler, capek campur kekenyangan. Tapi sampai tengah malam masih terus-terusan cerita tentang kunjungan-kunjungan tadi, belum habis indahnya.

Lebaran itu, mungkin juga berarti melebarkan perut... Ntahlah, besok Mak berencana kemana lagi!