Kamis, 16 Agustus 2012

REFLEKSI 17 AGUSTUS 2012 YANG RAMADHAN

Ketika masih duduk di bangku SMP, saya dengan beberapa teman pernah membuat menangis Ibu Guru wali kelas. Dia telah dua caturwulan memberikan peringkat pertama sampai kelima kepada temanku yang notabene keluarganya semua. Saya sengaja berteriak agar didengar olehnya dan teman-teman yang sedang istirahat di taman, bahwa dia tidak adil, bahwa saya punya teman segeng yang lebih pintar yang hanya digesernya menjadi peringkat keenam, dan di caturwulan kedua malah turun ke peringkat ketujuh. Saya merasa ditipu oleh guru saya tersebut karena dia sendiri yang selalu mengutarakan di depan kelas kalau dia menilai keaktifan kami di kelas dan teman saya selalu aktif, bahkan lebih aktif dari yang lain, saya jangan dibilang lagi. Kalau saya tidak mood saya malah bolos, atau kalau gurunya lagi mendongeng saya malah tidur. Tiga tahun, sepertinya saya dan teman saya itu salah masuk sekolah. Semua kelas yang jadi rangking satunya yah keluarga para guru-guru di sana, kecerdasan teman saya dibalas kesewenang-wenangan memberi nilai para pembinanya. Semoga keadaan di sekolah saya tersebut sudah berubah.

Setelah kami lulus, saya dan teman saya tersebut mendaftar di SMA yang sama. Syukurlah, akhirnya, kecerdasan teman saya ini tak hanya saya yang mengakuinya, dia dapat rangking walau tak bisa menggusur seorang teman dari SMP lain yang sepertinya ditakdirkan menjadi peringkat pertama seumur hidup karena orangnya memang pintar. Tak apalah, yang penting beberapa teman yang kebetulan satu sekolah lagi bisa dikalahkan teman saya. Adapun justru yang jadi rangking dua di SMP malah sudah menikah, tidak eksis walau setahuku dia doyan tampil bak model, dia dengan teman segengnya dalam sebulan tak pernah alpa membuat poto bareng di rumah, waktu itu hape jadul pun masih barang langka apalagi hape berkamera (kebetulan di rumah saya ada studio foto punya bapak). Tiap istirahat di kelas mereka menyanyi sambil membaca lirik-lirik lagu Malaysia yang ditulisnya kembali di sebuah buku tulis. Sementara saya dan kelompok kecil saya lebih sibuk merencanakan bolos yang indah “Jam pelajaran Bahasa Indonesia, kemana nanti kita?”.

Lulus SMA, teman saya ini justru tidak bisa kuliah lagi. Yang kudengar dia hanya kuliah pendidikan (bukan sarjana) di ibukota kabupaten, hampir seperti universitas terbuka. Dia konon sudah mengajar sebagai tenaga pengajar honorer sebuah SD di kampung. Yah baguslah, semoga dia bisa menularkan kecerdasannya. Sedangkan saya yang bisa kuliah, sampai hari ini belum bisa ngapa-ngapain. Seperti yang selalu saya katakan, kuliah melenyapkan kesederhanaan berfikir saya.

Saya juga pernah bercakap-cakap dengan seorang teman kuliah, tentang seorang dosen yang lumayan ditakuti di kalangan mahasiswa. “Sial, padahal itu Ibu, lulus jadi dosen karena link. Dia mudah keterima dosen jadi seharusnya dia juga permudah kita kalau berhadapan ma dia, tidak adil. Kau tahu tidak, kalau itu Ibu cucunya Profesor blablablabla makanya gampang diterima.” Begitulah, yang dimanfaatkan banyak orang untuk mendapatkan hal-hal yang diinginkannya sekarang lebih banyak berlaku lank-link-lunk. Kalau ingat hal-hal begini, saya jadi enggan jadi orang baik, ujung-ujungnya nama saya nanti akan dimanfaatkan. Padahal semua orang tahu, Soekarno pastilah berbeda dengan Megawati, mereka dua pribadi yang berbeda walau hubungan mereka ayah-anak. Jadi ingat sebuah artikel di sebuah majalah, “Keturunan Biologis, Bukan Keturunan Ideologi”. Hahahaha… Bukan saya loh yang bilang, tapi itu benar-benar judul sebuah artikel. Jadi peace buat Bu Mega!

Teringat sms dari seorang teman yang juga punya keinginan jadi dosen, tapi katanya tidak untuk di unh*s. Kita semacam mengkhianati kemampuan kalau memerlukan koneksi untuk mendapatkan pekerjaan. Kalau dipikir benar juga, orang lain setengah mati berusaha untuk lulus, namun ada beberapa orang yang dengan hanya punya ‘orang dalam’ jadi mudah untuk mendapatkannya. Namun hal-hal ini seketika bertubrukan dengan kalimat "sudah rezeki!". Jadi, apakah KPK itu sebenarnya berhadapan dengan kemauan Tuhan? Seperti peminta-minta sumbangan yang selalu mengganggu istirahat siang, kata udztas, berilah harta kita seikhlas kita, jangan diusir, jangan sampai itu adalah jelmaan malaikat. :o Maafkan saya ya Allah, saya masih mempertanyakan apa yang mereka (sering) katakan. Para pengemis itu, mereka malah akan jadi tambah malas walau tak semuanya, ada beberapa yang benar-benar harus dimaklumi mengapa mereka sampai harus mengemis. Udztas juga manusia!

Di sebuah forum kecil yang saya salah satu terlibat di dalamnya, sampai pesertanya berdebat. Salah satu pihak malah menggeser hal nepotisme ini mengarah ke zaman Nabi Muhammad saw. “Mengapa tidak, Nabi dulu mengangkat orang-orang terdekatnya sebagai petinggi/pejabat negara.” Ampun, daripada bingung, saya mau sahur dulu pemirsa…