Kamis, 16 Agustus 2012

Lebaran, suci seperti terlahir kembali...


Olimpiade 2012 memang telah selesai, tapi di rumah saya masih tetap atlit, walau sampai sekarang belum diakui oleh dunia sebagai sebuah cabang olahraga : MENGAYUN. Di rumah ada tiga manusia kecil yang bergantian diayun setiap hari, mereka lumayan aktif jadi rasa ngantuk di mata mereka butuh dipancing dengan mengayun mereka, yaitu dengan menidurkan mereka pada sebuah kain yang sudah dikaitkan dengan per yang digantung, tapi tidak usahlah saya menjelaskannya secara mendetail karena hanya orang yang keterlaluan modernnya yang tak tahu bagaimana penampakannya. Begitulah, saya merasa jadi “polisi tidur” yang harus mengamankan setiap mimpi mereka, maka menu insomniaku bertambah lagi. Apalagi setelah setahun lebih fokus menyelesaikan tugas akhir, tiap bangun pagi siang saya mencek warna kelopak mata bawah bagian dalam di cermin. Bayangan di cermin seperti mengolok-olok, saya (yang di cermin) tinggal menjulurkan lidah. Tiap hari berjalan ke kampus seperti orang mabuk, ngefly itu murah ternyata, tidak butuh obat atau minuman keras, cukup dengan sering-sering begadang.

Tapi setelah ramadhan dan kebetulan urusan kampus sudah tamat, saya menganjurkan diri saya lebih banyak di rumah. Saya bercerita kalau mengayun ponakan beresiko insomnia, kebalikannya jika tugas itu pas pagi/siang hari, apalagi ramadhan, teler jadinya. Tidur, sepertinya ibadah paling banyak yang kulakukan ramadhan ini, balas dendam. Terlalu banyak tidur dan dendam, makruh pangkat dualah puasa ini. Jadwal tidur saya bahkan bisa menyamai jadwal tidur ponakan yang paling kecil yang baru berumur empat bulan, yang terbangun hanya karena lapar atau pipis. Lebaran nanti, saya benar-benar kembali jadi fitrah bayi. Lega rasanya, menjadi manusia lagi, bukan burung yang terbang atau hantu yang melayang ketika berjalan kaki.