Minggu, 10 Juni 2012

MBAK DUKUN

Kata SIPUT, saya mengerikan, terkadang membuatnya takut dengan opini-opiniku tentang masa depan seseorang. Saat tahun kedua kuliah, sahabat saya yang lain si KEONG punya geng sendiri, sering mengajak dia jalan-jalan. Tapi, kasiyan juga si KEONG, senangnya sama-sama, pas susah-susah dia sendirian. Jika ada tugas, dia diborong ma teman-temannya. Itulah yang kulihat.

Suatu siang, saya berkata kepada SIPUT. “Keong itu dimanfaatkan saja, kasiyan! Nanti mereka akan abaikan dia.” Dan kejadianlah, apalagi pas skripsi, tapi si KEONG sukses selesai lebih awal. Mentalnya telah terlatih untuk melaksanakan banyak tugas.  Dimanfaatkan, itu kata saya, tapi bagi dia itu latihan. Begitulah orang yang baik, seperti teman saya si KEONG ini.

Beda lagi dengan SIPUT, saya pernah datang ke kostnya untuk mengajaknya kuliah-ran seperti biasa. Tapi sial, ada yang menelponnya, “Iyya tunggu saya di halaman”, katanya dengan orang di ajaknya bicara. Saya diusir pelan-pelan, dan ketika di halaman saya menemui seorang lelaki. Oh yah, ini dia, lelaki yang merampas ‘teman jalan’ saya. Saya segera memasang tampang sangar.

"Sekampung yah sama SIPUT?"

"Tidak, teman biasa" Jawabnya, kasiyan juga, dia menjawab seperti seorang tersangka yang diinterogasi.

Sepanjang jalan, saya kesal dan berfikir, pasti itu pacarnya. Saya selalu menunggu si SIPUT cerita yang sebenarnya dengan saya dan bersabar, kehilangan teman jalan, dia yang jadi lain, tidak antusias kalau ada tema yang kulemparkan kepadanya untuk diperbincangkan. Beberapa bulan baru dia jujur karena saya mencoba jadi sahabat yang baik baginya.

Sebenarnya, MBAK DUKUN adalah gelar darinya untuk saya, resminya pas si SIPUT nyusun skripsi. Jurusan yang kami ambil HUKUM INTERNASIONAL, butuh banyak literasi berbahasa asing. Buku-buku bahasa asing di Indonesia tidak begitu banyak bertebaran, menjadikan kami lebih mengandalkan internet.

Celakanya, dia tak bisa kemana-mana sendirian, dia tipe orang yang suka ditemani. Saya sering diajaknya untuk searching di warnet karena saat itu wifi belum familiar. Yah tidak apa-apa jadi ‘budak’nya, lagipula dia sering mengajak makan sebagai upahnya, hahaha. Jika saya tidak sempat menemaninya, dia akan mengsms dan minta ditemani esoknya. Besoknya dia akan bercerita, “Eh, Pak M***** suruh nyari deklarasi blablablabla tapi saya tidak temukan kemarin, coba kau yang cari, Nay!”

Saya mengambil alih komputer sambil mengetikkan di google apa yang dicarinya. “Nih, adaji!” Dengan senang dia akan berujar “Nay, kenapa kalau ada kau selalu kudapat yang ku cari!” Di momen tersebutlah, saya disebutnya sebagai MBAK DUKUN, walau hanya sebagai pajangan di sampingnya duduk, terkadang juga main dibayarkan olehnya, dia nggak tegaan :D Pernah suatu kali, dia (di Jogja) via YM mengeluhkan MOZILLA yang tidak mau terbuka. "Sudah berulang-ulang kurestar tetap nda mau, tapi saya coba lagi deh. Tunggu nah!"

Saya menunggunya memulai percakapan lagi via YM, saya membuka satu halaman baru, hari itu entah mencari apa, saya lupa. Dan Tab YM saya berkedih-kedip. "Dak, thanks! Mmmuaaach. Setelah curhat ma kau, kenapa MOZILLAku bisami terbuka. Kau masih sakti mandraguna" Apa? Saya mirip MANDRA? :D

Saya terkadang meramal, mungkin lebih tepatnya memprediksi. Bedanya, kalau dukun-dukun tradisional pakek kemenyan ma kembang, saya hanya butuh komputer/laptop yang bisa terhubung ke internet. Seorang teman SMA yang sudah pindah ke Palu, jauh sebelum pacaran dengan seorang perempuan, saya sudah memprediksinya mereka akan pacaran, dan benar itu terjadi walau beberapa tahun ditutup-tutupi, maksudnya tidak cerita ke saya. Iyyalah, emang penting gitu dia cerita sama saya. :P
 
Pernah, saya di add seorang lelaki, yang kemudian membuat saya curiga, dia begitu akrab dengan seorang teman perempuan yang telah lebih dulu menjadi temanku. Saya bertanya kepada teman lainnya, saya mengira mereka sudah pacaran, tapi teman saya tak menanggapi. Tapi belakangan, teman perempuan saya ini bercerita kalau dia pacaran dengan seorang asli Toraja, ramalan saya gugur seketika. Tiga bulan berselang, justru mereka masing-masing memajang foto mereka berdampingan di FB, keduanya memasang wajah senang. Ramalanku sebenarnya tidak salah, hanya tertunda. -----haaaaaa?

Saya tak lama kenalan dengan seorang teman, juga lewat FB. Inisialnya OP, saya rajin membagi note-note atau apapun yang menurut saya menarik karena dia pernah meminta saya untuk menjadi kontributor tulisan di majalan digital miliknya (maksudnya proyeknya ma teman-temannya).


itulah kenapa kamu harus ada disini, kamu nonton film yang jarang dinonton orang banyak, dengar musik yang jarang didengar orang banyak..... sebenarnya interest utama mu apa sih?

sembarang, yang penting senang, haha! nulis juga yah adalah sedikit, gambar? coret2 bisa, tapi tidak untuk serius. apa lagi di'? sembarang... haha, saya juga bingung.

Dan tak lama seorang perempuan cantik berkerudung hijau di foto profilnya mengadd saya, mungkin cemburu dengan saya. Ahahaha, lucu saja. Dia atau saya yang lucu, kebingunan ini juga lucu. Dia yang cemburu atau saya yang kePDan telah membuat cemburu pacarnya orang. Ahahahah! Saya belum tahu apakah si jilbab hijau ini benar-benar pacar si OP, ah saya malas menanyakannya!

Mungkin, ini hanya perasaan saya kalau saya memang terlalu peka. Saya teringat nasehat alm. Bapak saya menjelang saya mengikuti Ujian Akhir Nasional sewaktu SD, “Perempuan itu, sangat percaya pada firasat!”, saya sepenuhnya mengiyakan. Semua prediksi yang saya lontarkan mungkin kebetulan saja. Tenang saja, saya ini hanya paranormal, saya pun tidak mengerti mengapa mereka disebut demikian. Bukankah Anda juga paranormal kan, maksudnya normal-normal saja, kan? Memangnya para’tidak’normal itu yang bagaimana?

Oh yah, ini adalah bagian penting dari tulisan ini. Saya memprediksikan JERMAN yang akan jadi pemenang Liga EURO tahun ini! Hahahah. Maaf sebenarnya bukan memprediksikan sih, menjagokan lebih tepatnya. :P


Dak : Badak, panggilan si SIPUT buat saya :D