Selasa, 18 Desember 2012

KAMRA


Memang janjinya minjam kamera punya kakak, hanya sehari. Ada satu hal yang saya rasa penting untuk saya foto. Syukur, tidak rugi di jalan sambil menunggu sore, waktu yang lebih nyaman untuk interview warga.

Selama 10 menit saya mondar-mandir di sana, saya terus terang gugup. Saya bukan profesional tapi kehadiran Bapak tersebut lumayan menyita perhatian saya ketika lewat di sana. Saya berusaha agar dia tak menyadari, agar dia tetap nyaman, tapi mungkin juga dia dan orang sekitar pasar curiga.

Bagi yang sering melewati Jalan Paccerakang, dekat Patung Ayam di Daya (Kota Makassar), Bapak tua ini pasti tak asing lagi. Dia melambaikan tangan mengarahkan kendaraan yang bergerombol mengikuti aba-aba lampulantas yang tak banyak membantu.

Kamra, bukan Norman Kamaru


Saya tak tahu apakah dia memang orang gila atau bagaimana. Hampir setiap hari dia berdiri di sana, dengan seragam polisi kumal. Mungkin semasa muda ada obsesi yang tak kesampaian untuk menjadi polisi. Dia membantu polisi (yang punya posko samping jalan tersebut), mengawal lalu lintas perempatan yang selalu carut-marut itu. Bahkan ketika pak polisi sedang beristirahat, dia tetap berdiri di sana tanpa perduli teriknya matahari.

KAMRA, nama yang tertulis pada bagian dada di seragamnya. Dia tak perlu lagi melalui berbagai macam prosedural kepolisian untuk menjadi polisi.