Gara-gara nemu video animasi 3D Pikachu, jadi nostalgila deh.
Waktu kecil, ada dua serial animasi monster-monsteran yang digandrungi, Digimon dan Pokemon. Digimon, lebih canggih, futuristik, istilahnya saja kan Digital Monster (yang disingkat DigiMon). Selain itu, para monster-monster ini bisa berinteraksi dengan berbicara dengan majikannya. Yah, kalau soal keseruan, Digimon menang kemana-mana. Tapi, theme song Pokemon yang sayaaa suka banget. Hanya ada akan satu nada pesan masuk yang mungkin tak akan kuganti, yaitu nada-midi ketika para personel Power Ranger dapat panggilan dari markas. Sedangkan lagu nada panggil, ada beberapa, salah satunya ini. Walau gak terlalu ngeh sama cerita serialnya, tapi semua tahu kalau Pikachu itu imut, apalagi kalau sudah bersuara ''pikaaa pikaaaa... pikaaaa chuuuuu....''. Sedangkan karakter-karakternya lebih suka antagonisnya, Team Rocket (James-Jessie-Meowth).
Sabtu, 26 Desember 2015
Jumat, 11 Desember 2015
Book Sniffing
Label:
buku,
curhat picisan
Kalau ke Toko ATK, nemu orang yang mendekatkan wajahnya ke dalam sampel
buku tulis baru --segel telah terbuka-- , mungkin itu saya... ahahaha. Tapi bukan hanya buku baru saya senang menciumnya, buku-buku lama juga, seperti di Perpustakaan Pusat Unhas juga wangi, wanginya bukan karena parfum tapi lebih vintage, karena buku di sana buku-buku lama, mungkin sudah 70 tahunan berdekam di sana. Kalau harum 'vintage' ini, kita tak perlu sengaja untuk membuka dan menciumnya, cukup berdiri di antara rak-rak buku tersebut, baunya akan mengepung kita. Aroma macam ini juga sering saya dapati di gudang-gudag kantor, dimana banyak dokumen lama bertumpuk di sana.
Dulu, di kampung, alm. Bapak punya usaha sablon/cetak undangan. Saya dan kakak saya sering kebagian melipat dan mengelem sampul undangan. Biasanya, semakin mahal harganya semakin wangilah kertasnya, tapi yang ini lebih ke wangi parfum daripada bau kertas.
Seandainya banyak uang, pengen deh bikin parfum, variantnya terbagi dua New Book and Old Book, yang New Book mungkin baunya kayak inti pohon yang barusan di tebang, kalau yang Old Book yang harumnya vintage, hehehehe.
Dulu, di kampung, alm. Bapak punya usaha sablon/cetak undangan. Saya dan kakak saya sering kebagian melipat dan mengelem sampul undangan. Biasanya, semakin mahal harganya semakin wangilah kertasnya, tapi yang ini lebih ke wangi parfum daripada bau kertas.
Seandainya banyak uang, pengen deh bikin parfum, variantnya terbagi dua New Book and Old Book, yang New Book mungkin baunya kayak inti pohon yang barusan di tebang, kalau yang Old Book yang harumnya vintage, hehehehe.
Kamis, 10 Desember 2015
Dave Grohl
Label:
musik
"Halo anak nongkrong!"
Hahahahaha... "Learn to Fly", salah satu video favorit (saya dan kakak) sering nonton dulu di MTv. Salah satu video music rock yang bikin kami tertawa karena video klipnya lucu. Dan akhirnya, Dave Grohl berhasil menampakkan sisi jenaka musik cadas, karena justru, kakakku yang dulu justru sedang sangat suka dengan Oasis, yang video klipnya tak satupun yang membuat tertawa. Selanjutnya, mungkin ada Rivers Cuomo, ketimbang lucu, dia lebih sering 'weird' (aneh). Kalau Damon Albarn, mungkin ke keren yak, contoh Gorillaz. :)
Hahahahaha... "Learn to Fly", salah satu video favorit (saya dan kakak) sering nonton dulu di MTv. Salah satu video music rock yang bikin kami tertawa karena video klipnya lucu. Dan akhirnya, Dave Grohl berhasil menampakkan sisi jenaka musik cadas, karena justru, kakakku yang dulu justru sedang sangat suka dengan Oasis, yang video klipnya tak satupun yang membuat tertawa. Selanjutnya, mungkin ada Rivers Cuomo, ketimbang lucu, dia lebih sering 'weird' (aneh). Kalau Damon Albarn, mungkin ke keren yak, contoh Gorillaz. :)
Minggu, 29 November 2015
NORAK VS COOL
Label:
artikel siluman,
fiksi,
untag
Seorang perempuan, dicap perawan tua oleh orang-orang di
sekitarnya. Suatu hari seorang pemuda datang ke desanya untuk urusan pekerjaan.
Pemuda ini lumayan tampan, berpendidikan dan sopan. Pemuda ini langsung mencuri
perhatian perempuan tersebut, baginya pemuda itu sempurna. Bukan pertama
kalinya dia menyukai seorang laki-laki, tapi baginya pemuda ini unik, tidak
seperti pemuda-pemuda di desanya yang kebanyakan hanya bertani. Sepertinya rugi
jika dia tidak melakukan apa-apa. Maka untuk pertama kalinya, dia mengenalkan lipstik
ke bibirnya, tau-tau nanti pemuda itu lewat depan rumahnya. Tak perlu ditanya lagi,
semua orang tersenyum, mungkin bagi mereka lucu, norak.
Memang, mencintai itu norak, kangen itu norak, (pantaslah Kangen
Band begitu, namanya saja demikian), tapi kau tak bisa menangkisnya. Tapi mencintai
diri sendiri rasanya lebih cool, lebih keren ketimbang keliatan norak. Karena
mencintai diri-sendiri bukan mengenai luluhnya diri akan pesona dan karisma. Menerima
diri dengan segala kebaikan dan dosa* yang telah diperbuat, bukan mengenai puji-pujian
gombal lalu kemudian melayang karenanya. Tidak perduli dengan pandangan orang
tentangmu, apakah yang kau lakukan baik atau buruk, itu tidak penting lagi.
Tapi sepertinya aku masih sulit melakukannya, satiap hari
aku sibuk memikirkan, aku salah apa sama
orang lain, aku sibuk mencela diri sendiri daripada harus meminta maaf kepada
orang itu, aku banyak mengecewakan orang-orang di sekitar saya. Tiap malam,
itulah menu insomnia di kepalaku. Tapi ajaibnya, sesibuk-sibuknya aku membenci
diriku sendiri, aku terkadang masih (sempat) kangen… kamu!**
Tapi buat apa mencintaimu jika mencintai diriku sendiri saja
sudah membuatku puas?
*karena kita merasa pantas melakukannya, dan orang itu
pantas menerimanya, tak ada manusia yang sempurna.
** “cieeee cieeee” dan pura-pura batuk itu juga norak
KURANG NASIONALIS
Label:
artikel siluman,
curhat picisan,
untag
Kalau berkunjung ke toko buku akhir-akhir ini, ada yang
aneh. Sedang ramai buku mewarnai untuk dewasa, ramai pula dibahas di medsos.
Katanya terapi anti-stres, yang benar saja, saya sampai sekarang masih suka
mewarnai. Saya tidak tahu siapa yang tidak normal, saya yang kekanak-kanakan,
atau orang-orang dewasa yang “mendadak” menganggap seru kegiatan mewarnai ini.
Mungkin kebanyakan orang ke toko buku untuk membeli buku, oke, saya juga
membeli buku jika kebetulan lagi ada uang, tapi saya akan paling lama
memelototi lemari, khusus memajang sebuah merk alat tulis-menulis paling
terkenal di dunia, mau beli semua jenis-jenisnya, pensil warna, cat warna, cat
akrilik, blablabla, pokoknya mau membeli satu set suuuuper lengkapnya, mungkin tak
ada orang yang mau merelakan uangnya untuk itu, begitupun orang-orang di
sekitar saya, buang-buang duit saja kan? Tidak bisa memenuhi obsesi saya yang
ini, maka sebagai gantinya, saya hanya bisa memeriksa stok pensil warna para
krucil di rumah, kalau pensil-pensil mereka sudah sekarat, saya merasa
bertanggung jawab membelikan mereka yang baru. Kasiyan mereka jika harus
bernasib sama dengan saya waktu kecil, pensil dan spidol warna hanya untuk tugas
kesenian kakak-kakak di sekolah, setelahnya pensil dan spidol warna itu
diumpetin agar saya yang belum sekolah tak merengek karena melihatnya.
Bicara tentang ‘mewarnai’, mungkin
orang yang paling terhindar dari stres adalah tukang cat, mungkin. Tapi, mereka
melakukannya untuk bekerja, lebih kepada kewajiban (untuk mendapatkan materi,
nafkah) daripada kesenangan. Atau, perempuan yang tiap hari make-up, mewarnai
wajahnya, bisa dibilang terhindar dari stres, jadi ini juga salah satu
kebingungan saya mengapa ada buku mewarnai untuk dewasa. Tapi trend jilbab,
rok, baju (terutama untuk wanita), mulai dari pertengahan tahun ini adalah monochrome,
dua warna saja. Pakaian dengan lebih dari tiga warna kurang diminati sekarang,
terkesan norak, murahan. Agh, bagi saya membosankan sekali, seperti hitam dan
putih, rasanya dunia sepi sekalilah kalau begini keadaannya, hahahaha. Seperti
warna bendera kita, tapi sepertinya jarang orang yang mau memakai trend ‘merah-putih’
doang, nanti dikira bendera berjalan.
Tapi lihatlah, bendera negara
lain, Amerika misalnya, pernah juga tuh trend Bendera Amerika diaplikasikan ke
fashion. Bendera merah-putih terlalu membosankan, berIndonesia bukan lagi soal ‘berani’
dan ‘suci’, seperti dunia yang tak lagi melulu hitam dan putih, benar atau
salah.
Langganan:
Postingan (Atom)

