Sabtu, 26 Desember 2015

Hyaku-Go-Juuichi (One-Hundred-Fifty-One) -Ending Theme Pokemon

Gara-gara nemu video animasi 3D Pikachu, jadi nostalgila deh.

Waktu kecil, ada dua serial animasi monster-monsteran yang digandrungi, Digimon dan Pokemon. Digimon, lebih canggih, futuristik, istilahnya saja kan Digital Monster (yang disingkat DigiMon). Selain itu, para monster-monster ini bisa berinteraksi dengan berbicara dengan majikannya. Yah, kalau soal keseruan, Digimon menang kemana-mana. Tapi, theme song Pokemon yang sayaaa suka banget. Hanya ada akan satu nada pesan masuk yang mungkin tak akan kuganti, yaitu nada-midi ketika para personel Power Ranger dapat panggilan dari markas. Sedangkan lagu nada panggil, ada beberapa, salah satunya ini. Walau gak terlalu ngeh sama cerita serialnya, tapi semua tahu kalau Pikachu itu imut, apalagi kalau sudah bersuara ''pikaaa pikaaaa... pikaaaa chuuuuu....''. Sedangkan karakter-karakternya lebih suka antagonisnya, Team Rocket (James-Jessie-Meowth).

Jumat, 11 Desember 2015

Book Sniffing

Kalau ke Toko ATK, nemu orang yang mendekatkan wajahnya ke dalam sampel buku tulis baru --segel telah terbuka-- , mungkin itu saya... ahahaha. Tapi bukan hanya buku baru saya senang menciumnya, buku-buku lama juga, seperti di Perpustakaan Pusat Unhas juga wangi, wanginya bukan karena parfum tapi lebih vintage, karena buku di sana buku-buku lama, mungkin sudah 70 tahunan berdekam di sana. Kalau harum 'vintage' ini, kita tak perlu sengaja untuk membuka dan menciumnya, cukup berdiri di antara rak-rak buku tersebut, baunya akan mengepung kita. Aroma macam ini juga sering saya dapati di gudang-gudag kantor, dimana banyak dokumen lama bertumpuk di sana.



Dulu, di kampung, alm. Bapak punya usaha sablon/cetak undangan. Saya dan kakak saya sering kebagian melipat dan mengelem sampul undangan. Biasanya, semakin mahal harganya semakin wangilah kertasnya, tapi yang ini lebih ke wangi parfum daripada bau kertas.

Seandainya banyak uang, pengen deh bikin parfum, variantnya terbagi dua New Book and Old Book, yang New Book mungkin baunya kayak inti pohon yang barusan di tebang, kalau yang Old Book yang harumnya vintage, hehehehe.

Kamis, 10 Desember 2015

Dave Grohl

"Halo anak nongkrong!"

Hahahahaha... "Learn to Fly", salah satu video favorit (saya dan kakak) sering nonton dulu di MTv. Salah satu video music rock yang bikin kami tertawa karena video klipnya lucu. Dan akhirnya, Dave Grohl berhasil menampakkan sisi jenaka musik cadas, karena justru, kakakku yang dulu justru sedang sangat suka dengan Oasis, yang video klipnya tak satupun yang membuat tertawa. Selanjutnya, mungkin ada Rivers Cuomo, ketimbang lucu, dia lebih sering 'weird' (aneh). Kalau Damon Albarn, mungkin ke keren yak, contoh Gorillaz. :)


Minggu, 29 November 2015

NORAK VS COOL



Seorang perempuan, dicap perawan tua oleh orang-orang di sekitarnya. Suatu hari seorang pemuda datang ke desanya untuk urusan pekerjaan. Pemuda ini lumayan tampan, berpendidikan dan sopan. Pemuda ini langsung mencuri perhatian perempuan tersebut, baginya pemuda itu sempurna. Bukan pertama kalinya dia menyukai seorang laki-laki, tapi baginya pemuda ini unik, tidak seperti pemuda-pemuda di desanya yang kebanyakan hanya bertani. Sepertinya rugi jika dia tidak melakukan apa-apa. Maka untuk pertama kalinya, dia mengenalkan lipstik ke bibirnya, tau-tau nanti pemuda itu lewat depan rumahnya. Tak perlu ditanya lagi, semua orang tersenyum, mungkin bagi mereka lucu, norak.

Memang, mencintai itu norak, kangen itu norak, (pantaslah Kangen Band begitu, namanya saja demikian), tapi kau tak bisa menangkisnya. Tapi mencintai diri sendiri rasanya lebih cool, lebih keren ketimbang keliatan norak. Karena mencintai diri-sendiri bukan mengenai luluhnya diri akan pesona dan karisma. Menerima diri dengan segala kebaikan dan dosa* yang telah diperbuat, bukan mengenai puji-pujian gombal lalu kemudian melayang karenanya. Tidak perduli dengan pandangan orang tentangmu, apakah yang kau lakukan baik atau buruk, itu tidak penting lagi.

Tapi sepertinya aku masih sulit melakukannya, satiap hari aku  sibuk memikirkan, aku salah apa sama orang lain, aku sibuk mencela diri sendiri daripada harus meminta maaf kepada orang itu, aku banyak mengecewakan orang-orang di sekitar saya. Tiap malam, itulah menu insomnia di kepalaku. Tapi ajaibnya, sesibuk-sibuknya aku membenci diriku sendiri, aku terkadang masih (sempat) kangen… kamu!**

Tapi buat apa mencintaimu jika mencintai diriku sendiri saja sudah membuatku puas?




*karena kita merasa pantas melakukannya, dan orang itu pantas menerimanya, tak ada manusia yang sempurna.
** “cieeee cieeee” dan pura-pura batuk itu juga norak

KURANG NASIONALIS

Kalau berkunjung ke toko buku akhir-akhir ini, ada yang aneh. Sedang ramai buku mewarnai untuk dewasa, ramai pula dibahas di medsos. Katanya terapi anti-stres, yang benar saja, saya sampai sekarang masih suka mewarnai. Saya tidak tahu siapa yang tidak normal, saya yang kekanak-kanakan, atau orang-orang dewasa yang “mendadak” menganggap seru kegiatan mewarnai ini. Mungkin kebanyakan orang ke toko buku untuk membeli buku, oke, saya juga membeli buku jika kebetulan lagi ada uang, tapi saya akan paling lama memelototi lemari, khusus memajang sebuah merk alat tulis-menulis paling terkenal di dunia, mau beli semua jenis-jenisnya, pensil warna, cat warna, cat akrilik, blablabla, pokoknya mau membeli satu set suuuuper lengkapnya, mungkin tak ada orang yang mau merelakan uangnya untuk itu, begitupun orang-orang di sekitar saya, buang-buang duit saja kan? Tidak bisa memenuhi obsesi saya yang ini, maka sebagai gantinya, saya hanya bisa memeriksa stok pensil warna para krucil di rumah, kalau pensil-pensil mereka sudah sekarat, saya merasa bertanggung jawab membelikan mereka yang baru. Kasiyan mereka jika harus bernasib sama dengan saya waktu kecil, pensil dan spidol warna hanya untuk tugas kesenian kakak-kakak di sekolah, setelahnya pensil dan spidol warna itu diumpetin agar saya yang belum sekolah tak merengek karena melihatnya.
Bicara tentang ‘mewarnai’, mungkin orang yang paling terhindar dari stres adalah tukang cat, mungkin. Tapi, mereka melakukannya untuk bekerja, lebih kepada kewajiban (untuk mendapatkan materi, nafkah) daripada kesenangan. Atau, perempuan yang tiap hari make-up, mewarnai wajahnya, bisa dibilang terhindar dari stres, jadi ini juga salah satu kebingungan saya mengapa ada buku mewarnai untuk dewasa. Tapi trend jilbab, rok, baju (terutama untuk wanita), mulai dari pertengahan tahun ini adalah monochrome, dua warna saja. Pakaian dengan lebih dari tiga warna kurang diminati sekarang, terkesan norak, murahan. Agh, bagi saya membosankan sekali, seperti hitam dan putih, rasanya dunia sepi sekalilah kalau begini keadaannya, hahahaha. Seperti warna bendera kita, tapi sepertinya jarang orang yang mau memakai trend ‘merah-putih’ doang, nanti dikira bendera berjalan.
Tapi lihatlah, bendera negara lain, Amerika misalnya, pernah juga tuh trend Bendera Amerika diaplikasikan ke fashion. Bendera merah-putih terlalu membosankan, berIndonesia bukan lagi soal ‘berani’ dan ‘suci’, seperti dunia yang tak lagi melulu hitam dan putih, benar atau salah.