Kamis, 26 Juni 2014

massaddung malleepa

Sebelum mengaji, biasanya di kampung saya, anak-anak akan berteriak (dalam Bahasa Bugis) "Jangngati tajangngaati, utaruu nawa-nawa, utaruu paddissengeng, utarusii manengngi korang tellu pulo geso'na" (Pemberi terang pada hati, karena keinginan (niat), karena ilmu/pengetahuan, akan kulaksanakan 30 juz). Saya tak tahu pasti, ini semacam niat atau doa, seperti itulah... Saat mengaji, terdapat gambar yang fenomenal buat kami yang masih anak-anak.




Bentuknya kurang-lebih seperti di gambar, tapi yang terdapat di juz amma jadul yang saya dan teman-teman mengaji pakai gambarnya menyerupai tang. Saya pernah menanyakan kepada salah satu teman, jawabnya sambil menjelaskan dengan menunjuk ke gambar tersebut, bahwa gambar itu adalah gambar neraka dan surga. Kami percaya penjelasan itu dari generasi ke generasi, di pengajaran mengaji tradisional. Sampai tiba Bapak menyuruh saya melanjutkan mengaji ke TPA yang ada di masjid kampung saya, kira-kira ketika itu saya kelas 3 SD. Bisa saya rasakan, cara mengaji udztas dan cara mengaji guru mengaji saya yang sebelumnya sangat berbeda. Sebelum beliau mengajarkan lebih jauh mengenai tajwid, di depan kami beliau menunjukkan poster mulut menganga, dia menjelaskan bahwa Makharijul Huruf menunjukkan bagaimanakah seharusnya penyebutan huruf, darimanakah bunyi huruf itu, apakah bibir, gigi, tenggorokan, dan seterusnya. Sepulangnya, saya membuka lagi juz amma yang saya pakai belajar mengaji pertama kali, dan ternyata benar, gambar itu berjudul Makharijul Huruf (dalam tulisan Bahasa Arab). Lucu saja mengingat cerita yang saya percaya dulu. Ternyata itu bukan gambar neraka-surga, tetapi penampang mulut manusia dari samping, hehehe.