Kamis, 11 April 2013

24 Mei 2013

Ini tentang MELUKa dan MELUKi

Dirimu terlihat sering mengenakan topi dan kacamata hitam. Banyak yang memuji bahwa dirimu tampak menakjubkan mengenakannya. Orang-orang itu hanya tahu tentang fashion semata, mungkin saja yang menemukan kacamata hitam dan topi pertama kali adalah orang-orang yang takut terlihat, terang matahari baginya adalah musuh. Sesekali, dari jauh kau agak merunduk, seperti menyembunyikan mata dengan topi itu.

Dari dekat, kacamata itu hanya memantulkan wajahku sendiri. Kau banyak bercerita tentang kepedihan-kepedihan orang lain. Tapi saya merasainya itu adalah kesakitanmu sendiri. Kau lebih nyaman menceritakan dirimu diperankan sebagai orang lain, dengan begitu dirimu merasa tegar.

Ingin suatu waktu nanti memelukmu erat sampai saya bisa merasai kegelisahanmu juga. Pundakku siap menimang airmatamu. Kau tahu, yang membuat hidup ini terasa panjang bukanlah kegembiraan. Jadi, mari kita merayakannya dengan menangis sepuas-puasnya.

Mungkin saya salah, kau tak butuh pelukan dan menangis. Kau hanya butuh topi dan kacamata, menjadi dalang bagi cerita-cerita sedih yang kau utarakan. Lalu tiba-tiba, kisah itu adalah cuplikan dari hidupku sendiri.

Kau benar, mungkin justru sayalah yang ingin sekali bertanya padamu "bisakah aku memelukmu?"