Rabu, 02 Januari 2013

Menyapamu

Hai, sedang musim apa di sana? Sepanjang hari tadi hujan deras. Saya tidak bisa menjemur pakaian yang saya cuci dua hari ini. Hujan beberapa hari ini tak memberi kesempatan sedikitpun.

Sudah lama ya kita tidak saling menyapa padahal tiga minggu yang lalu kita bertemu. Kau tertawa riang dikelilingi orang-orang yang kurang kukenal. Saya diam memandangimu dari jarak beberapa meter, bermain tebak-tebakan dengan perasaan sendiri, apakah ada tempat kosong untukku di situ, di dekatmu? Tapi saya memilih menunggu, berkonsentrasi mengirim sinyal keberadaanku dalam sunyi.

Kau berdiri, diikuti dua orang kemudian, perbincangan yang diam-diam sejam kuikuti dari jauh telah bubar. “Hey, sori. Aku tidak melihatmu tadi. Aku duluan ya, ada urusan!” Saya bisa apa selain tersenyum, hal terbaik yang pantas kau terima dariku dalam keadaan seperti ini. Kau berlalu, saya tidak lagi bisa terdeteksi olehmu, saya telah hilang.

Namun saya berhasil menghibur diriku. Saya masih sering berbagi hal-hal lucu kepada dirimu di berbagai jejaring maya yang menghubungkan kita. Kita mungkin kehabisan topik di dunia nyata, tapi semoga saya tak renta lelucon di dunia maya. Maka saya rajin menyapamu di sana sampai empat buah gambar menggetarkanku, saya sedang merasa dalam bahaya.

Kepalamu bersandar di bahunya, bibirmu tersenyum. Saya hanya bisa memegang bahuku, membayangkan kepalamu terbaring di sana. Sambil membelai rambutmu, kita sering memperhatikan gelap perlahan-lahan menghisap senja di tepi danau itu.

Betapa beruntungnya kamera lelaki itu, bisa menangkap adegan mesra kalian. Saya tidak punya kamera atau apapun itu untuk menjelaskan betapa merananya bahu kananku ini. Apakah kau masih ingat, saya pernah mencandaimu kalau bahuku akan rendah sebelah karena seorang gadis telah menjadi langgananku, meletakkan kepalanya di salah satunya? Ah, mungkin kau telah lupa. Kepalamu telah terbuai oleh sebuah bahu yang baru dan telah ada sebuah bahu yang telah merasa kosong.

Menyapamu, mungkin adalah hal bodoh yang kulakukan malam ini, tapi tidak sepenuhnya salah. Saya menyapamu sebenarnya untuk menyadarkan diriku sendiri. Ketika kau merasa tak ada sapaan dari yang kau cintai itu artinya saatnya kau menyapa dirimu sendiri, dengan air matamu sendiri.

Semoga besok masih hujan agar tak ada yang menyiangi keramaian di pipi, dengan begitu saya tak merasa kesepian.