Jumat, 11 April 2014

MIRIP BAPAK




I don't consider myself different to anyone else with AlDS. I'm not guilty. I'm not innocent. I'm just trying to survive.

Itu perkataan Ms. Benedict, sambil memandang dengan penuh iba kepada penderita AIDS , Andrew Backett di ruang sidang. Andrew adalah seorang pengacara yang menuntut firma tempatnya bekerja, firma terbaik di Kota Philadelphia. Dia dipecat karena dianggap teledor menghilangkan sebuah berkas penting dan dia sangat sadar bahwa dia disabotasi. Pada akhirnya, keputusanjuri memenangkan Andrew Backett karena ini bentuk diskriminasi terhadap penderita AIDS.

Andrew Backett diperankan dengan sangat cemerlang oleh Tom Hanks, pengacara yang paling diandalkan di kantornya. Tom Hanks berperan sebagai seorang gay di sini, berpasangan dengan Antonio Banderas. Tom Hanks harus menurunkan berat badannya demi tuntutan perannya, jadi sedih ngelihatnya, apalagi Tom Hanks  ditampakkan semula sehat, perlahan-lahan sekarat. Saya suka dengan keluarga dan teman-temannya, yang  mereka pikirkan bagaimana agar mereka melepas Andrew dengan kesedihan yang tak berlebihan.


Joe Miller (Denzel Washington) yang semula merupakan ‘rival’nya pada mulanya menolak, tapi kemudian dia merasa tertantang pada kasus yang ditawarkan Andrew. Karena film PHILADELPHIA (1993) ini sedih, karaker Joe Miller datang sebagai karakter yang lucu mengisi kemuraman cerita. Dan, Antonio Banderas (Miguel)  masih sangat muda, penonton perempuan pasti sangat terhibur dengan kemunculannya. Andrew-Miguel, cute couple! :)



Dulu, saya suka menonton film walau saya tak memperdulikan siapa yang main, siapa sutradaranya dsbginya. Suatu malam, jauh sebelum saya mengenal Tom Hanks, saya pernah menonton satu babak film The Terminal di sebuah chanel televisi. Saya melewatkan opening film dan bagian end creditnya, jadi saya tak tahu kalau orang tersebut bernama Tom Hanks. Saya, seorang yang baru saja kehilangan Bapak kandung, dengan serta merta dalam hati mentitahkan, orang ini mirip Bapak, mungkin hanya emosi saya, atau saya berlebihan, tak saya pedulikan lagi.


Saya mengenal Tom Hanks ketika Toy Story (3) dirilis. “Hey, film kartun tentang mainan ini dibuat sequelnya lagi!”, kebetulan beberapa kali menontonnya, ceritanya unik, saya pikir, mungkin (di pikiran anak kecil) mainan itu berjalan, itulah sebabnya mainan sering hilang. Saya menonton seri pertama dan kedunya, juga masih dari televisi, saya belum pernah ke bioskop waktu itu. Saya bersemangat, selain karena saya memang penyuka animasi. Saya mencari infonya di internet dan takjub, Woody si koboy ternyata diisi oleh orang yang bernama Tom Hanks ini, yang juga pemeran utama di The Terminal. Saya bahkan mencari di internet, orang lain yang ingin punya Bapak seperti Tom Hanks, saya menemukan Joko Anwar :)



Suatu kali saya pernah memperlihatkan foto Tom Hanks kepada kakak-kakak saya, seorang di antara mereka nyeletuk bahwa hanya rambutnya yang mirip, bergelombang. Tapi sudahlah, itu pendapat orang lain, sama halnya ketika mereka menertawakan saya ketika saya mengatakan bahwa saya mirip dengan Gita Gutawa walau hanya gingsulnya saja. Yah, saya berlebihan, tapi saya bisa senang dengan itu jadi persetan dengan cibiran orang lain. Seperti ketika seorang sopir pete-pete tua bercakap-cakap dengan saya dengan sapaan ‘Nak’. Jika kau kehilangan sesuatu, kau menemukannya dimana-mana.