Sabtu, 01 Februari 2014

DUAPULUH DELAPAN

Dua orang manusia, lahir dari rahim yang sama, keduanya perempuan. Sebutlah mereka Si Sulung dan Si Bungsu.

Sulung terlahir sempurna, pancaran kedua orang tuanya. Secara fisik sangat menarik, dia menjaga makannya agar tidak kelebihan berat badan. Banyak orang tua lainnya yang telah meliriknya jika dia kebetulan lewat di depan rumah mereka, untuk dijadikan menantu kelak. Menjelang remaja, konon sudah ada beberapa lelaki yang datang untuk melamar, tapi orang tua Si Sulung orang yang sangat peduli akan pendidikan. Semua lamaran ditolak dengan halus, mereka mau menyekolahkan Si Sulung sampai sekolah setinggi-tingginya.

Begitulah, Bungsu selalu tak sengaja mendengar cerita tersebut. Ya, cerita itu bukan untuk diceritakan kepadanya, tapi kepada handai taulan. Lagipula buat apa memikirkannya, dia belum faham, dia masih balita waktu itu. Sedangkan Si Sulung tengah kuliah di kota dengan biaya dari ikatan dinasnya, bertambahlah rasa syukur akan kehadiran Sulung, adanya dirinya di keluarga tersebut tak pernah memberatkan mereka.

Meski telah berulang-ulang mendengar cerita tersebut, Bungsu tetap berusaha sebaik mungkin, nilainya tak pernah jelek di sekolah. Sampai tiba saatnya Sulung menikah, meninggalkan orang tuanya, ke luar pulau bersama suaminya, menjenguk orang tuanya sesekali. Kali ini, mereka datang mengendarai mobil, sesuatu yang masih mahal bagi mereka. Dengan bangga mereka tersenyum, melambaikan tangan, padal itu masih beberapa meter dari halaman rumah. Ayah dan Ibu segera berlari membuka tirai jendela melihat kedatangan Si Sulung dan suaminya serta ditemani seorang bayi.

Bungsu yang masih SD tidak mengerti, mengapa ada orang yang tersenyum dengan mudah lewat di atas aspal. Suatu kali dia bertanya kepada Guru Sejarahnya, bagaimana sejarah aspal di desa mereka bisa ada. Sang Guru menjawab, bahwa semua wilayah itu dulunya adalah hutan, kemudian ada yang menebangnya agar manusia bisa lalu-lalang di sana. Kemudian penjajah datang, menerapkan kerja paksa terhadap nenek moyang mereka, membangun jalan yang tak becek ketika hujan, agar kendaraan bisa melewatinya dengan mulus.

Sejak hari itu, dia berfikir terus akan cerita gurunya tersebut. Terbayang di kepalanya, kakek buyutnya dengan tubuh kurus tersengat matahari, berkeringat sepanjang hari untuk membangun jalan yang selalu dilaluinya ke sekolah tiap hari. Dia memutuskan, sebisa mungkin dia akan jalan kaki melewati jalan aspal, berkeringat, disengat matahari, merasakan apa yang dirasakan kakek buyutnya dulu.

Cerita itu membekas di dalam dirinya, dia bertumbuh jadi sosok yang lebih sensitif, bahwa ketika mencicipi sebuah kenikmatan, dia harus sadar akan pengorbanan orang-orang sebelum adanya nikmat tersebut. Dia jadi seorang yang tak gampang tersenyum, dicap aneh, terkadang jadi bahan lelucon. Dia pernah membaca, Charlie Chaplin yang pernah satu-dua kali ditontonnya bilang, bahwa pelawak yang baik adalah pelawak yang tidak tertawa akan lawakannya.

Kemudian teknologi komunikasi yang lebih canggih menembus desanya, sekarang mereka tak perlu lagi antri di wartel untuk menelpon. Si Sulung telah membelikan handphone ke orang tuanya. Mereka bisa berbicara kapanpun mereka mau. Bungsu sadar, Sulung dan Ibunya sangat dekat, usia mereka hanya terpaut 17 tahun. Ketika Ibunya dan Si Sulung berbicara, mereka bercerita seperti adek-kakak.

Namun, kebalikannya bagi Si Bungsu, dia sering banyak tak sefaham dengan Ibunya. Mereka sering bertengkar, ujungnya Ibu mendiaminya selama dua hari, sedangkan Bungsu hanya bisa menangis diam-diam. Apakah memang dirinya tak perlu ada di keluarga ini? Adakah Tuhan sedang iseng menyisipkannya sampai-sampai dia dicap aneh bahkan oleh keluarganya sendiri?

Bungsu jadi sosok yang pendiam, dia memilih seperti itu daripada harus selalu bersitegang dengan Ibunya, dia takut jadi anak durhaka seperti kata udztas. Dia sebenarnya iri dan cemburu kepada Si Sulung, apalagi ketika Si Sulung dan Ibunya saling membincangkan kasih sayang mereka satu sama lain. Tapi, Bungsu sering bersedih, kalau mereka tiba-tiba bercerita tentang dirinya, mereka tertawa, bagi mereka Si Bungsu itu aneh sehingga bagi mereka lucu.

Bungsu hanya bisa sedih, dia sepenuhnya mengiyakan pendapat Charlie Chaplin. Dia tidak tertawa, dia sedih, yah dia pelawak yang sedih di balik panggung. Tak ada yang pernah mengamati berapa kesedihan yang harus dibayar untuk membuat orang lain tertawa, tapi dia percaya bahwa ketika seorang bahagia, ada orang yang membayar untuk itu, seperti asal-usul jalanan aspal di sekolah mereka, seperti dirinya yang bisa saja menghamburkan air ketika ada orang di Afrika yang kehausan.

Bungsu semakin hari jadi sosok yang misterius. Sulung bahkan sering menanyakan kepadanya, dengan siapa dia bergaul. Pernah suatu kali dia mengajak Sulung bertemu beberapa temannya, tapi Sulung tidak suka dengan teman Bungsu yang dikenalkan kepadanya, seorang penyair yang tak enggan membacakan sajak yang mengumbar kelamin di dalamnya.

Sulung tidak suka jika adiknya berteman dengan orang seperti itu, dia dari keluarga yang baik-baik. Bungsu marah kali ini, katanya, itu temannya yang pertama dan terakhir dikenalkan kepada keluarganya. Tak ada seorang pun yang boleh menghakimi teman-temannya, dia pun bebas bergaul dengan siapapun. Walau setiap hari hidup bersama, Bungsu membangun jarak dengan keluarganya. Bungsu tak peduli jika keluarganya meremehkannya, mengatai-ngatainya dengan nakal dan tak tahu diri.

Apa semua orang harus baik? Dia teringat lagi nasehat udztas, tapi untuk apa neraka diciptakan jika seluruh manusia harus masuk surga? Tuhan menciptakan kebaikan tidak datang dengan sendirinya di bumi, seperti halnya kaya-miskin, cerdas-bodoh. Bungsu sadar, dia bukannya takut durhaka, dia tetap mencintai keluarganya dengan sekedarnya.

Dia bukan kakaknya, Si Sulung yang telah jauh di luar pulau, kaya dan telah sanggup membeli jarak agar dia dirindukan. Bungsu membangun temboknya sendiri, dengan membenci dirinya dan kemudian menerima dirinya apa adanya. Bungsu hanya pengangguran, tapi bersedia ada di sana saat Ibunya membutuhkan dukungan tanpa harus menelponnya, tembok yang dibangunnya tak mematikan kepekaannya akan keadaan di rumahnya.

Cintanya, selalu ada. Selalu ada, dalam artian abadi, seperti plastik yang tak butuh tanggal kadaluarsa, bukan daging yang bisa busuk. Tapi,suara Thom Yorke membuatnya resah, plastik itu memang abadi, tapi fake.

Palsu, Bungsu sadar mengapa dia layak diabaikan, lebih pantas dijadikan lelucon untuk membuat orang di sekitarnya senang walau dia tak bisa bahagia dengan itu.