Jumat, 09 Agustus 2013

Maaf Boleh, Lupa Jangan!

Ada empat atau lima buah sms ucapan lebaran yang mampir di handphone, balas seadanya saja. Semakin malas "merayakan" sesuatu dengan berlebihan. Lebaran hanya menziarahi tempat tidur dan dunia mimpi karena dua hari ini, justru malah bikin perutku malas terima apa-apa, kalau tidak muntah-muntah, yah m*ncr*t, biasa, adaptasi pola makan baru. Barusan makan pagi, perut kaget, sepertinya gas di lambung meningkat, kalau sendawa rasanya gak enak, seperti habis minum bensin (ahahah robot kapang!). Mungkin juga karena sebulan ini, setiap malam habis di pete-pete makan angin, jadi sebelum minta maaf sama yang lain, saya harus minta maaf dulu ma perut saya sendiri. Ahahahah!

Tapi entah mengapa, saya lagi-lagi merasa bukan siapa-siapa, ada seorang teman berjanji, walau hanya janjinya mau ucapkan selamat lebaran via sms karena alhamdulillah, lebaran kali ini umum-muhammadiyah seragam hari lebarannya. Yah sudahlah, kalau LUPA merupakan larangan seperti yang tercantum di judul tulisan ini, mungkin dia sudah lupa. Dia bebas, dia punya keluarga, dia punya teman-teman lain, dia akan baik-baik saja bahkan tanpa mengenal saya pun dia akan baik-baik saja. Baiklah, saya sudah tidak khawatir lagi...

Saya juga tidak yakin, semua orang perlu dimaafkan. Seperti halnya Tuhan yang memaafkan walau tak memerintahkan malaikatnya menghapus keburukan yang tercatat. Jadi jika pendosa selalu bersembunyi pada kalimat "Tuhan saja memaafkan dosa hamba-Nya!", maka Anda yang didzalimi seharusnya membalas "Saya bukan Tuhan!" *sesat :D