Minggu, 19 Mei 2013

HOBI BARU (2)

Tak pernah sebelumnya serius menikmati balapan MotoGP, kalaupun nonton hanya lalu-lalu saja, tergantung mood dan kesempatan. Jika televisi menayangkan, tiba-tiba saya lewat, bisa saja saya menonton motor-motor itu saling susul-menyusul, mengasyikkan juga. Tapi kalau sedang tidak mood yah saya abaikan saja.

Tapi hidup beberapa bulan ini membosankan sekali, berharap punya sesuatu yang baru. Hitam Putih (sebuah acara talk show) pernah menghadirkan Jorge Lorenzo (dibaca : Horhe Lorenzo). Saya takjub, melihat pemuda ini malah mengingatkan saya pada Bob Dylan muda. Sebagai seorang yang sudah menyelami sosok Bob Dylan selama kurang lebih empat tahun, mengaguminya, saya kurang lebih tahu bagaimana wajahnya. Tiba-tiba “mencintai” si Hohe ini lebih terasa nyata daripada “mencintai” Bob Dylan, yang maaf, sudah tua, lebih tepat jadi kakek/paman daripada seorang laki-laki yang pantas kugilai. Hahahaha.


http://twicsy.com/i/AzeSEb

Saya mencoba mencari beberapa info tentang Hohe, yah saya bisa maklum dia ternyata sudah punya banyak penggemar, baik secara prestasi maupun secara fisik. Ada yang memirip-miripkannya dengan Shia LaBeouf, ah yang benar saja. Yang bilang dia mirip Shia LaBeouf pasti lihatnya pas di Hongkong (pisss!). Daripada mirip Shia LaBeouf, saya malah melihat dia adalah Tom Cruise versi chubby.


Adek kakak ketemu :)



Seandainya saja, Todd Haynes mengenal wajah si murah senyum ini saat menggarap film Im Not There, kritikus film akan semakin beranggapan kalau film ini “very weird movie”. Ngomong-ngomong soal film, jadi ingat perbincangan konyol beberapa tahun yang lalu dengan seorang teman. 

Kalau misalnya kisah hidup k’ Nay diangkat jadi film, kira-kira k’ Nay di perankan oleh siapa yah?
Siapa yah? Saya mau yang jadi saya Sherina deh… (ngarep)
(dia tertawa) Hahahaha, kalau menurutku sih, k’ Nay kan pernah bilang kalau k’ Nay mirip ma Gita Gutawa sama Giring Nidji, jadi Gita Gutawa sajalah.


Persamaan saya dengan mereka hanya satu : gingsul

Tapi sayangnya Gita Gutawa itu murah senyum sekali, berbeda dengan saya yang (menurut pengakuan seorang teman yang lainnya) sangat irit senyum, kalau foto posenya seram melulu. Nantilah belajar senyum sama Hohe. *mandang poto-potonya yang senyum dan membalas senyumnya itu* :D Tapi sayangnya, Hohe dan beberapa pembalap latin lainnya punya kemampuan Bahasa Inggris yang terbatas. Bisa dibayangkan betapa lucunya ketika syuting wawancara untuk official yang harus memakai Bahasa Inggris, berapa kali take yah? Jajajajajaja (ketawa versi latin). Yah bagaimana mau ngobrol ma Hohe kalau begitu, dia yang perbendaharaan kata-kata Inggrisnya masih sedikit sedangkan saya yang tidak tahu sama sekali bahasa espanas. Tapi ndak apa-apa, kalau saya sudah sering tersenyum hasil belajar dari dia, nanti dibalas saya ajari Bahasa Indonesia, kan katanya mau tinggal di Bali nanti kan, Hohe?  Untuk sementara kita pakai bahasa hati saja yah, Hohe… 

Akhirnya, pertama kali nonton serius MotoGP ketika para pembalap tersebut berlomba di sirkuit Jerez (5 Mei 2013). Salah satu alasan yang membuat saya nggak ngeh banget nonton balapan macam ini adalah iklan. Berbeda dengan sepakbola yang justru jadi olahraga paling banyak penikmatnya, iklan hanya mengotori di pinggir lapangan atau hanya satu-dua yang tersemat di dada seragam para pemain. Di balapan semacam MotoGP, selain iklan berderet di pinggir sirkuit, kostum balap kalau dibilang penuh dengan “jualan”. Jadi sempat berfikir, balapan ini semacam “jualan” semata, motor yang saling lambung-melambung akhirnya tidak menarik lagi.

Balapan menjadi menarik perhatian saya ketika di lap terakhir terjadi drama antara Marc Marquez dan Jorge Lorenzo si X-Fuera. Hohe yang sedang berusaha mengunci posisi kedua setelah di depannya Dani Pedrosa terpaut lumayan jauh, tanpa disadarinya, di belakangnya ada Marquez yang mengasapinya. Terjadilah tragedi kontroversial tersebut, Hohe tanpa sengaja “menyenggol” Marquez yang kemudian justru melaju secepatnya melampaui.

Ketika mereka selesai selebrasi dan waktunya memarkir motor, Marquez menghampiri Hohe untuk meminta maaf, namun Hohe menolak dengan memberi isyarat jari telunjuk kepadanya. Di podium, kembali Marquez mencoba untuk membuka damai, kembali Hohe menolak. Hubungan mereka tiba-tiba menjadi dingin, justru para penggemar mereka yang panas, saling melempar argumen “siapa yang salah?”. Bully-membully pun terjadi.



Di sirkuit yang sama, kelokan yang sama

Marquez vs Lorenzo (2013)

Rossi vs Gibernau (2005)

Satu pihak mengatakan kalau Marquezlah yang bersalah, kok bisa berulah senekat itu kepada seniornya. “Marquez masih muda, jadi wajarlah! Pembalap muda itu memang selalu agresif, belum banyak pengalaman, jadi wajarlah dia yang minta maaf… blab la bla!”. Hei, ini balapan, tak ada klakson untuk permisi dan tak ada kaca spion untuk memantau ke belakang. Balapan bukanlah berkendara dengan penuh sopan santun walau di MotoGP ada aturan sendiri, dan “dewan” MotoGP tidak menganggap itu suatu pelanggaran. Hadiah ulang tahun yang pahit buat Hohe, apalagi tikungan tersebut sesudah balapan dinamakan sesuai dengan namanya.

Pihak lainnya menuduh Hohelah yang bersalah, dia lengah sehingga membuka jalan selebar-lebarnya untuk yang mengincarnya. “Ini balapan, Jorge. Jangan manja!” Mereka mengganggap penolakan Hohe terhadap Marquez sebagai tindakan yang tidak gentlemen, bahkan aksi bully lebih banyak mengarah ke Hohe. Ada apa dengan trend bully membully kita sekarang? Dunia memang sedang terbalik, dulu yang dikucilkan itu orang jelek, sekarang justru orang ganteng yang diborong caci-makian. Seolah-olah orang ganteng (macam Hohe) hanya bisa kebagian jadi personil boyband dan pemain opera sabun saja, walau sebenarnya saya bukan orang yang sepenuhnya setuju dengan ide anti-bully.

Hubungan Marquez dan Hohe sudah baikan, mereka kabarnya di pesawat (ke sirkuit selanjutnya) mengobrol, seperti sedia kala. Para fans masih menyerbu satu sama lain, padahal mereka sudah berjabat tangan di depan wartawan di sebuah press conference. Saya bukan fanatik ke seseorang, saya baru di sini, jadi harap dimaklumi tulisan ini, tak ada niat untuk memihak siapa. Seperti saya katakan sebelumnya, saya tidak menampik saya suka Hohe, saya juga suka Valentino Rossi yang nyentrik, siapa lagi yang selalu menyempatkan “dadah dadah” di belakang punggungnya, ke kamera di bagian belakang motornya (padahal sedang di posisi start) kalau bukan “The Doctor”. Sudahlah, siapa yang tak kenal Rossi, dia sudah menjadi legenda dan icon tersendiri di MotoGP. Yamaha sepertinya selalu tertarik merekrut pembalap yang “heboh” dari segi pribadi pembalap itu sendiri, termasuk pada skenario selebrasi ketika pembalap mereka posisi satu. Berbeda dengan Honda yang merayakan kemenangannya paling banter hanya membawa serta bendera sebelum memarkir motor. Saya juga suka Pedrosa, ternyata orangnya imut. Kru Honda sampai-sampai merombak berbagai sudut motor khusus yang dikendarai Pedrosa agar dia nyaman memakainya. Little Spaniard ini mukanya juga unik ternyata, eheheheh. Empat yang selalu mendominasi podium MotoGP 2013 >>> Pedrosa-Marquez- Lorenzo- Rossi : FANTASTIC FOUR! (jiah, kek The Beatles saja). Walau tak menutup kemungkinan posisi mereka bisa didepak di beberapa sirkuit, seperti di Le Mans tadi, Cal Crutchlow menduduki posisi ketiga. Bola itu bundar, begitupun dengan roda yang bulat, cintalah yang segitiga (?)

sudah di posisi start, sempat-sempatnya.


Kemana gerangan para pembalap-pembalap Asia? Saya baru mengenal beberapa nama saja, jadi maaf, yang agak tenggelam, yang finish di bagian ekor-ekor saya masih belum sempat memperhatikan. Saya tidak tahu, kita (orang-orang Asia) tidak punya track record yang lumayan bisa dibanggakan di bidang olahraga, kecuali satu-dua orang. Bola masih dirajai orang-orang Italy, Spanyol, Jerman, dan Inggris. Ada apa dengan kita? Apakah karena musim/cuaca? Di sana, jika musim salju, orang-orang keluar untuk berseluncur. Jika musim panas, mereka ke pantai, volley pantai. Kita? Sedang apa jika musim kemarau? Duduk-duduk di rumah, depan kipas angin, sambil meneguk minuman dingin. Sedang kalau musim hujan, kita juga masih di rumah, dengan kebiasaan perut mendadak lapar kalau dingin, atau kalau tidak menuruti perut, kita tidur.

Kita malas olahraga, olahraga bagi kita tidak penting. Jadi, kita tidak butuh olahraga? Siapa bilang, “mereka” saja yang mengatakan itu “sport”. Kalau mereka kemana-mana sudah naik (mengenal) mobil, kita masih jalan kaki, paling canggih naik sepeda. Kalau mereka tinggal putar kran dan air mengalir, kita masih harus nimba di pinggir sumur, dan seterusnya, dan seterusnya. Alah, olahraga hanya untuk orang-orang yang tidak banyak bergerak.*mencari pembenaran* Kembali ke MotoGP…
  

Marquez ketemu Rossi. Dulu mengidolakan, sekarang melampaui idola




Adalah Marq Marquez yang masih sangat muda, yang digadang-gadang membuat MotoGP tidak menjemukan seperti selama ini. Hem, sepertinya menarik juga mengamati perkembangan si Baby Alien ini. Ikuti jadwalnya di sini.




BONUS
Ini foto Bob Dylan, mirip siapa yah?

SpongeBOB DYLAN Squarepants(?)