Minggu, 03 April 2011

AKU MENCINTAIMU WALAU AKU TAK PUNYA APA-APA

Apakah cinta yang membahagiakanmu? Sesuatu yang ingin kumiliki!

Inilah aku, yang mencintaimu dengan segala yang tidak kupunyai.
Aku mungkin tak punya telinga tempat suara resahmu mengalir.
Akupun tak punya keinginan memperlihatkan bahwa aku seorang yang telah dewasa untuk cukup menguatkanmu dengan kata-kata nasehatku, yah aku jauh lebih muda. Umurku bukanlah lautan yang asin karena pengalaman, tempatmu berenang seluas-luasnya, mungkin malah hanya sebuah kubangan yang beruntung ada karena hujan sejenak saja.
Keberanian tak kujadikan mulut untuk mengatakan cintaku padamu.
Aku juga tak punya dana untuk membeli jarak agar kau bisa merindukanku.
Perasaan ini sungguh sederhana, ada begitu saja seperti sebuah bangunan menjulang yang muncul tiba-tiba, tapi mengapa terasa rumit?
Aku tak punya sesuatu yang pantas membuatmu bangga, sesuatu yang harus membuatmu memilihku…
Aku hanya punya dua ‘tahu’, tahu bahwa aku mencintaimu. Dan tahu, itu tak pernah cukup!

Rabu, 23 Maret 2011

MALAM “TUMBEN” INSAF

Malam selalu harus berdurasi panjang, ada banyak cerita yang menggelayut di kepala meminta untuk diceritakan. Begini, saya hanya ingin memberitahukan bahwa saya sudah jarang pulang kampung. Saat nenek saya masih hidup dan sehat, beliau sering bercerita tentang masa kecil kami, masa lalunya dia, atau tentang dongeng-dongeng yang tak bisa dijangkau jamannya bahkan (mungkin) oleh kakeknya sendiri. Kampung, dalam pikiran saya tahun-tahun terakhir ini hanya berbentuk cerita, salah satunya melalui cerita Mak kepada saya jika beliau menghadiri acara keluarga.


Teman-temanku mungkin mencapku sombong, anak desa yang telah durhaka karena jarang berkumpul lagi dengan mereka. Saya lebih senang menyebutnya ‘menabung rindu’. Pun sedikit kecewa juga, keindahan desa yang kurasakan hanya terbingkai oleh dongeng-dongeng para orang tua. Desa-desa kini telah mengkhianati kesederhanaannya, yang dipaksa menjadi kota oleh penghuninya. Jadi, bukannya tak ingin pulang, hanya merasa tak ada perbedaan. Dari kota pulang ke desa yang ‘nanggung’ jadi kota.


Saya jadi ingat seorang teman sekelas, dia seorang siswi lumayan rupawan. Pun kepintarannya jangan diragukan, jika ujian tiba dia akan begadang untuk menghapal satu buku demi sebuah nilai yang bagus. Heheheheh… Namun, yang sangat jadi perhatiannya adalah poninya, sepertinya dunia akan jungkir balik kalau dia belum menjenguk mukanya sesekali di cermin membetulkan kemiringan poninya!


Suatu pagi, saya dengan beberapa teman duduk di halaman sekolah. Sepertinya Tuhan membuatku harus berfikir tanpa harus belajar di kelas pagi ini, sebuah kejadian kecil membuat saya kecewa. Kebetulan La Kato’, seorang penjual *roti otti di kampungku lewat. Segera kupanggil karena memang pagi itu saya belum sempat sarapan. Beberapa teman yang sudah mengenalnya segera mendekat untuk membeli juga. La Kato’ segera memarkir sepedanya.


Saya mengajak si Bintang Kelas ini turut merasakan enaknya jajanan yang satu ini, dia langsung memperlihatkan wajah jijik melihat La Kato’.


“Enak lo!” kata saya.


“Ah, janganmi! Tidak jijikko Nay lihat mukanya? Ih….!” Dia meludah.


Semua hal-hal yang bagus selama ini kulihat padanya berguguran. Saya tak melihatnya lagi sebagai salah seorang siswi pintar di kelasku, tapi hanya seorang budak nilai. Saya berbalik mengucilkannya, bahwa dengan mudah dia menganggap najis seseorang hanya karena fisiknya, hanya dengan melihat mata La Kato’ yang tak lagi sempurna, hanya karena dia jijik kepada giginya yang tak rapi. Saya malah menyesal mengapa pernah mengakui bahwa dia pintar.


La Kato’, selain tiap paginya keliling kampung bersepeda untuk menjual roti buatan Maknya yang sudah janda, dia juga bekerja sebagai penjaga salah satu masjid yang lumayan besar di kampungku. Setiap harinya dia bertugas mengecek sound system, menyapu lantai, membersihkan tempat wudhu, dan mengatur sandal para jema’ah. Dia hidup dari ucapan “terima kasih” para jama’ah. Malah saya pernah mencandainya, kebetulan dia memang orang yang dikenal humoris dan mudah bergaul.


“Wey, PNS betulanmi La Kato’je’, pake pakaian dinas terus ke masjid!”, dia tertawa menanggapi bercandaanku sambil meneruskan tugas menyapunya. Banyak warga yang memberinya baju, mungkin banyak baju dinas PNS, maka dia jadikan semacam seragam kerja saat bertugas.

Semoga orang-orang macam dia tak ditumbuhkan kekesalan akan hujat terhadap fisiknya. Seandainya saya yang dihidupkan Tuhan dengan jalan hidup seperti itu, mungkin saya akan lebih banyak putus asa. Tapi tidak dengan dirinya, dia tahu bahwa banyak orang yang tak bisa menerima kekurangannya. Maka dia mencari tempat-tempat yang bisa menerimanya, yah masjid! Diapun menampilkan dirinya sebaik mungkin, sesopan mungkin menghormati orang lain bahwa dia pun layak berarti buat orang banyak.


Maka, saya pun teringat seseorang. Banyak yang mengatakan bahwa dia, memang seorang lelaki dengan terbelakang mental. Kehidupannya hanya berkisar dari suatu hajatan ke hajatan yang lain. Orang di kampungku memanggilnya La Bandung. Saya tidak tahu mengapa dia dinamai demikian. Mukanyapun sering jadi bahan tertawaan karena dianggap idiot. Dengan pakaian lusuhnya yang seolah melecehkan sebuah pesta yang dikerumuni dengan baju-baju kerlap-kerlip dan makanan mewah, dia berkali-kali lalu lalang di tengah tamu untuk mengumpulkan piring-piring kotor, pekerjaan yang mungkin orang-orang gengsi untuk melakukannya. Jika saja tidak ada La Bandung, maka piring untuk menjamu tamu akan habis. Di sela-sela kewajibannya, sejenak dia menuju ke depan pengiring musik pesta tersebut. Dia akan bergoyang di depan panggung, dan orang-orang masih akan menertawakan ulahnya itu. Dia mungkin tak peduli, dia terus bergoyang mendengar musik karena begitulah caranya menikmati hidup.


Maka, malam ini saya telah menguliahi diri sendiri. Mereka berdua tak perlu dilabeli pahlawan, mereka tak perlu. Jikapun diberi, mereka tak tahu untuk menjadikannya suatu kebanggaan, pikiran mereka terlalu sederhana. Mereka tak perlu diundang ke acara semacam KICK ANDY untuk menyiarkan apa yang telah mereka perbuat untuk orang banyak. Tak perlu membayar mahal-mahal seminar ESQ di hotel mewah hanya untuk memikirkan : bukan apa yang telah kita terima semasa hidup, tapi apa yang telah kita berikan kepada orang lain, walau posisi kita seorang idiot sekalipun!


Satu hal, kita telah hilang kesederhanaan. Kita terlalu banyak mengejar, berlari menuju tujuan yang menawarkan kemewahan sehingga kita menghiraukan berbagai ragam keindahan yang banyak disisipkan di perjalanan. Rasa-rasanya banyak hal yang harus kita lewati namun kita telah melompatinya. Mungkin, kita telah lupa menjadi sederhana!


Salam KUPER, Luwwwaarrr biasa….!!! =P




*Roti otti : kue tradisional bugis terbuat dari tepung beras dan pisang, biasa juga disebut roti berre'

Sabtu, 19 Maret 2011

SURAT UNTUK DIRI SENDIRI

Sebuah hati, kau hanya berkenalan beberapa menit tapi sensasinya seperti telah tua bersama. Maka tak perlu lagi menghitung tahun, umur bukan lagi ukuran untuk tidak saling memahami, tak butuh pertanyaan untuk mendapatkan banyak jawaban antara kalian. Namun, kemana kau harus bercerita ketika hati yang punya banyak stok “memaklumi”mu itu tiba-tiba dibajak oleh hati yang lain, yang seharusnya adalah milikmu? Apakah karena saat kenalan telah melimpah jawaban sehingga sekarang yang tersisa hanya perkiraanmu tentangnya? Mendadak, kau merasa dia jauh lebih mudah dari ‘umur kalian’. Kau merasa menyayangkan, harus berkenalan ulang dengan dirinya yang ini, walau tak nyaman lagi untuk menjabat erat hatinya. (Yah, harus diakui, kita sebenarnya harus tabah berkenalan dengan banyak orang yang berdiam diri pada satu raga yang sama.)

Kemana kau harus mengungsi saat semua orang yang kau butuhkan dicuri oleh kesibukannya masing-masing? Mereka tak sempat mendatangkan wujudnya di depanmu sebagai bala bantuan, terkadang rindu itu meledak di mata, hujan-hujan yang membuat lorong-lorong ingatanmu tergenang-genang kenangan. Kenangan yang butuh diperbaharui dan diulang, namun kau hanya bisa merindu dan meyakinkan diri bahwa mereka senantiasa mendo’akanmu, bantuan terhebat bagi seorang yang banyak penghalang ruang dan waktu. ‘Sesuatu’ yang lebih hebat dari sekedar uluran tangan-tangan mereka akan datang: Kuasa Tangan Sang Maha Baik! Percayalah, mereka cuma mengucapkan “sampai jumpa” bukan “selamat tinggal”.

Jadi tak usah khawatir, mereka hanya sibuk, bukan melupakanmu. Tak selalu ingat, bukan berarti lupa kan? Jadi saya pun tak ingin kalah, “Maaf, saya sibuk merindukan kalian!”

Kamis, 24 Februari 2011

SIAPAKAH YANG SEBAGAI ENGKAU?

Senyummukah yang bereinkarnasi di bibirnya? Bersinar menyilaukan hatiku, seperti sesuatu yang tak pantas kumiliki. Seseorang yang cukup hanya kulihat dari jauh, seperti rasa ketika aku hanya telah merasa lebih dari cukup saat dipunggungi olehmu. Dan muncul lagi sebuah perang dahsyat, antara pikiran dan hati. Namun, lagi-lagi akulah yang jadi korban... Seseorang di kepalaku berkata, kebodohankulah yang menerjemahkan dia adalah kau dalam bentuk lain.

Hah, malam ini kembali kenanganmu mempermainkan diriku, rasanya seperti telah muak bermain komediputar namun permainannya tak bisa berhenti, mengulang-ulang kenangan, seolah sayalah yang jadi bahan tontonan.

~ ~ ~

Apakah di sana ada waktu lowong untuk menghayal, mengdamparkan diri pada masa lalu? Apakah arwahmu terlalu sibuk tidur tanpa bermimpi? Apakah kau pernah mengingat pertemuan terakhir kita?

Kau memintaku datang karena katamu baru hanya padaku kau bilang sedang sakit. Aku sangat mengerti karena begitulah kau, tak ingin membuat orang lain resah. Kau meminta dibawakan sejumlah obat herbal, katamu "sapa tahu ampuh!", jangan khawatir. Saya malah membawa diriku pula sebagai obat untuk hatimu...

"Jangan kaget jika bertemu nanti!" sms darimu. Jangan khawatir, saya punya banyak persediaan airmata untuk memaklumi keadaanmu, bagaimanapun dirimu nanti. Setiap orang yang keluar dari pintu hotel itu, kupandangi kakinya melangkah, was-was kalau itu dirimu.

Sweater abu-abu, mana mungkin aku lupa. Apalagi setelah seorang perempuan di kemudian hari menghubungiku bahwa sweater itu pemberiannya. Lalu, bagaimana dengan nasib buku-buku kirimanku? Apakah isinya kau kenakan dengan baik di pikiranmu? Fakta yang membuatku seperti jatuh ke dalam jurang, semakin jauh darimu.

"Ayo, kita ke sana!" katamu menunjuk sebuah swalayan kecil di ujung jalan. Di sini terlalu ramai, mungkin kau membaca ketidaknyamananku. "Jangan terlalu cepat jalannya, saya cepat lelah!" Bahkan kau tak tahu, saya selalu bersedia mengalah, demi untuk dipunggungi olehmu. saya selalu di belakangmu. Aku selalu harus melihatmu. Kita melangkah, sampai mendapatkan sebuah kursi panjang.

Waktu yang terus mengejar malam, kendaraan yang berlalu, manusia-manusia yang lalu lalang, semuanya berlari. Hanya kita berdua yang melambat seolah kau memberi kesempatan diriku menyimpan momen ini sedetail-detailnya.

Kau tahukah? Saya selalu pulang pada kenangan ini, hatiku selalu berhasil memperbaharuinya, sesekali mengulangi langkah-langkah lambat kita di jalan ini. Aku mengulang langkahku, lalu siapakah yang memerankan dirimu? Jika kau berganti oleh yang lain, haruskah pula aku menjelma yang lain? Siapa sebagai engkau?

Malam kali ini berdurasi lumayan panjang karena harus menonton kenangan kita...

Senin, 31 Januari 2011

E K S E P S I

Dua hari yang lalu, Anda membuat mataku muntah... Malam ini giliran pikiranku yang tumpah! Menambah saja pemborosan emosiku yang terbuang percuma... Mengapa masih harus memikirkan kata-kata dari seorang “hakim” sepertimu, seolah palumu selalu butuh terketuk untuk sebuah putusan tersangka pada orang yang bisa saja tak bersalah?
Mulut Anda tak berhenti menyerangku saat pandanganku mulai kabur melihat kertas-kertas di mejamu yang sepertinya hanya bisa menonton, tak mau memihak salah satu dari kita. “Nah, saya sudah tak bisa lagi bicara kalau orang sudah nangis!”, lalu mengapa setelahnya Anda masih memancing? Bukan tissu yang Anda tawarkan, tapi tuntutan berikutnya...

“Mengapa kau menangis, apa masalahmu Dek?”, dan meluncurlah para nasehat yang tak bisa berimigrasi ke pikiranku. Saya harus bilang dalam hati, bahwa bukan hatiku yang dingin tak bisa tercairkan oleh kalimat-kalimat “panas”mu, tapi sepertinya hati Anda yang patut dipertanyakan tak bisa membaca nafasku yang tersesat mencari jalan keluar karena tersedak akan semua kemarahan dan kekesalan yang akhirnya saya hanya bisa menangis. Itulah senjataku melindungi diri dari orang yang lebih tua, saya merasa tak pantas melawan.

Menangis? Sepertinya lucu, mungkin! “Kita semua punya masalah. Saya punya Nenek yang meninggal tadi pagi, tapi saya tidak pergi ke sana...!”. Tuturmu santai, beruntunglah saya bukan Nenek Anda. Hehehe. Berhubung karena solusi yang Anda tawarkan basi, maka kesempatan ini saya menjawab pertanyaan basi ‘mengapa seseorang bisa menangis?’, karena dia takut orang yang dicintainya, kebahagiaannya terenggut. Walau Anda berhasil membuat saya sedih selama setengah jam, tapi semoga taraf kebahagiaan saya jauh lebih ke puncak daripada Anda.

Bagi Anda, mungkin saya termasuk manja, ya boleh... sehingga Anda pun bisa kelihatan lebih tegar dari saya, “Sebagai wanita kita harus kuat, Dek!”. Tapi bagi saya itu bukan TEGAR, melainkan TEEEGAAAA... (tanpa huruf ‘R’ yah!) =P Dan begitulah ‘orang-orang’ normal, katakanlah cara berfikirnya kurang lapang. Sepertinya uang di dompet dan rekening Anda pun tak akan mampu membeli ‘kelapangan’ berfikir, hanya kesensitifan hati untuk mencoba menceburkan diri ke penderitaan orang lain yang bisa jadi ‘alat tawar’nya.

“Temanmu sudah banyak yang berpenghasilan tetap, sudah berhasil. Coba kalau kau juga dari dulu...!” Saya menunduk, Ya Tuhan, ‘hakim’ ini sungguh berani memperbanding-bandingkan ketentuanMu, apalagi ukurannya hanya materi.

Keluar dari ruanganmu, tiba-tiba hatiku sedang musim gugur. Daun-daun teori-teori yang Anda tanam telah gugur seketika, saat Anda telah berhasil menampakkan keinginan berkuasanya atas diri saya, saat Anda telah berhasil membuat saya tiba-tiba terbentur parah.

Maaf, jika Anda membaca ini. Di sini, giliranku yang jadi hakim, sang tersangka yang mencoba membela diri. Saya adalah ‘tuhan’ dari kata-kataku sendiri...

Kau terbang, aku hanya melangkah di darat. Kau bisa mendarat, tapi aku tak bisa mengudara! Lalu, jangan kau mencelaku hanya karena jalanmu bebas hambatan. Tanggalkan sayapmu dan langkahkan kakimu di jalan berbatu yang sebelumnya hanya pandanganmu yang menapakinya. Itupun mungkin belum menjamin kau merasakan apa yang aku rasakan...