Menonton film ini mengingatkan saya pada keluarga River Phoenix. Orang tuanya memutuskan untuk menjalani hidup dengan gaya hippie. Anak-anak yang tidak menempuh pendidikan formal, petikan gitar dan tiupan harmonika di waktu senggang adalah hiburan paling seru. Gaya hidup hippie artinya mendekatkan diri ke alam, mengembalikan posisi manusia sebagai bagian dari alam tersebut.
Mirip dengan yang ingin diperlihatkan film ini, sepasang suami-istri menjauh dari kota, membangun rumah mereka untuk keluarga mereka di tengah hutan. Mereka baru akan ke kota jika ada kebutuhan mereka yang tidak dapat mereka dapatkan di hutan, kehidupan utopis yang diimpikan oleh yang mencintai alam. Mereka tidak natal, paskah, tapi satu-satunya hari raya yang mereka rayakan adalah hari lahir Noam Chomsky (yea, masuk akal, tidak ada yang menyatukan manusia selain kemanusiaan itu sendiri).
Di bawah ini scene favorit saya. Ibu mereka meninggal, dan wasiatnya ingin dikebumikan seperti kepercayaan yang dianut ibunya, yakni dengan dibakar jasadnya. Maka pergilah mereka mencuri mayat ibunya yang sudah terkubur paginya karena kakek-nenek mereka tidak mengabulkan permintaan sang mendiang.
Mendengar mereka bernyanyi, seperti merayakan kehidupan. Oh ya, saya suka gaya berpakaian mereka.
Tampilkan postingan dengan label keluarga. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label keluarga. Tampilkan semua postingan
Jumat, 13 Januari 2017
Minggu, 03 April 2016
ditumpuk
Label:
buku,
curhat picisan,
keluarga,
neting
Buku yang judulnya tak diperlihatkan itu adalah buku yang kubeli dari bulan satu, dan belum dibaca sampai sekarang. Makin hari makin malas membaca. Di rumahku ada tiga orang yang suka menumpuk bahan bacaan, minimal dua kali dalam setahun Mak mengharuskan kami memilih mana yang harus dibuang dan disimpan. Bagi kami sih semuanya penting, tapi daripada Mak marahmarah, jadi biarlah... sedih. Mak bilang, buku hanya sekali dibaca, setelah itu tak ada gunanya lagi, hanya menuhin ruangan saja.
Buku tidak ada apaapanya sampai dibaca, bacaan dan pengetahuan pun tak ada apa-apanya jika tidak diaplikasikan ke kehidupan seharihari. Tanteku yang dari kampung akan tertawa mengejek saya seandainya bukubuku di foto tersebut buku resep memasak atau berkebun, karena saya payah dalam memasak dan Bapak dan Mak saya bukan lagi ''keturunan petani'' yang suka bercocoktanam, mereka guru dan pedagang.
Tante saya pernah bilang kalau kami ini, anaana' monri e*, tidak tahu apaapa selain sekolah, buku dan belajar. Dia pernah bilang kepada kami, mukaaalaa sikolama'tu!**
Ada benarnya, kami mah apa atuh, hanya budakbudak ilmu pengetahuan semata.
*anak zaman sekarang
**saya hanya kalah sekolah dari kalian semua
Senin, 13 Juli 2015
RAMADAN 2015
Label:
curhat picisan,
keluarga
Seminggu yang lalu, mengalami kejadian yang na’as. Karena keteloderanku, tas tempat uang pembeli di lapak Om diambil orang, saat itu panik luar biasa. Tante hanya bisa pasrah, Om luar biasa kesal dengan saya. Memang sih saya yang salah, tumben juga hari itu tas uang itu tak kuselempangkan, hufh, musibah! Saya hanya bisa nangis, rasa-rasa separuh nyawa ini hilang entah kemana, belum lagi sedang puasa, sampe di rumah mata bengkak.
Padahal sehari sebelumnya seorang pencuri tertangkap basah sedang mengambil dompet seorang penjual. Si penjual menggiringnya keliling pasar sambil berteriak “Weeee, inimieh mau ambil uangku tadi eee, tandai memangmi mukanya”. Si pencuri, seorang ibu-ibu, tak berdaya diseret sana-sini. Jalanan tiba-tiba macet luar biasa, apalagi saat itu banyak orang berbelanja untuk lebaran. Tidak ada kejadian saja, pundak baku pundak bertemu, perjalanan menuju wc terdekat atau ke masjid buat shalat sungguhlah sebuah perjuangan luar biasa, apalagi sedang ada hal heboh kayak gini.
Itu pencuri yang merupakan “lawan” dari penjual di pasar, lain pula dengan pencopet dan preman yang tidak mengganggu penjual, justru ada yang berteman baik dengan penjual, sasarannya adalah pengunjung/pembeli, bahkan saya mengenal beberapa di antara mereka. Jika Anda tidak mengganggu mereka, mereka pun tak akan mengganggu Anda, bahkan bisa akrab dan jadi penolong Anda.
Asal Anda tutup mulut ketika mereka beraksi maka Anda akan aman-aman saja dari hajaran mereka, maksud saya, mereka tidak main-main, akan memukul Anda. Pun dengan preman ini, jika Anda seseorang dari luar daerah (Jawa, Maluku, Papua dan sebagainya), berhati-hatilah berbelanja. Jika di film-film Anda bisa melihat preman-preman itu memalak para pedagang, lain halnya dengan di Pasar Sentral Makassar ini. Preman-preman ini akan memaksa Anda membeli barang yang Anda tawar dengan harga tinggi. Ini semacam kerjasama antara si penjual dengan preman tersebut. Jadi saran saya, alangkah baiknya jika teman Anda saja yang membelikan barang yang Anda ingini.
Inilah pasar, tidak ada peraturan yang menjamin keamanan Anda. Hari ini Anda menyaksikan orang lain sedang sial, mungkin besok giliran Anda! Tetaplah waspada, apalagi para pencopet ini pasti sedang senang-senangnya beroperasi sekarang karena pasar ramai akan ibadah “tawaf” para pembeli, yang baginya adalah sasaran empuk. Selamat menunaikan ibadah “tawaf”, tetap waspada!
Ngomong-ngomong soal lebaran, tahun ini, style yang paling diminati adalah Jodha, seiring dengan merebaknya serial India di tivi. Istilah Jodha buat menyebutkan barang-barang/fashion yang memiliki aksen emas pada bahannya. Jilbab jodha, tas jodha, sandal jodha, bahkan daster jodha pun ada, ckckck. Saya bukan penggemar berat India, tapi saya tidak bisa menafikkan betapa cantiknya kain-kain mereka. Beberapa hal yang membuatku bertahan menonton tivi, fashion dan desaign. Bahkan saya kadang-kadang pantengin Dangdut Academy demi melihat apa yang dikenakan oleh pesertanya, kalau menurutku "jelek" yah tinggal pindah chanel, hahahaha. Tapi apapun yang Anda kenakan, selamat berlebaran, selamat berkumpul dengan keluarga.
SALAAAAAAAM! *pegang dahi, hormat ala Jodha Akbar
Padahal sehari sebelumnya seorang pencuri tertangkap basah sedang mengambil dompet seorang penjual. Si penjual menggiringnya keliling pasar sambil berteriak “Weeee, inimieh mau ambil uangku tadi eee, tandai memangmi mukanya”. Si pencuri, seorang ibu-ibu, tak berdaya diseret sana-sini. Jalanan tiba-tiba macet luar biasa, apalagi saat itu banyak orang berbelanja untuk lebaran. Tidak ada kejadian saja, pundak baku pundak bertemu, perjalanan menuju wc terdekat atau ke masjid buat shalat sungguhlah sebuah perjuangan luar biasa, apalagi sedang ada hal heboh kayak gini.
Itu pencuri yang merupakan “lawan” dari penjual di pasar, lain pula dengan pencopet dan preman yang tidak mengganggu penjual, justru ada yang berteman baik dengan penjual, sasarannya adalah pengunjung/pembeli, bahkan saya mengenal beberapa di antara mereka. Jika Anda tidak mengganggu mereka, mereka pun tak akan mengganggu Anda, bahkan bisa akrab dan jadi penolong Anda.
Asal Anda tutup mulut ketika mereka beraksi maka Anda akan aman-aman saja dari hajaran mereka, maksud saya, mereka tidak main-main, akan memukul Anda. Pun dengan preman ini, jika Anda seseorang dari luar daerah (Jawa, Maluku, Papua dan sebagainya), berhati-hatilah berbelanja. Jika di film-film Anda bisa melihat preman-preman itu memalak para pedagang, lain halnya dengan di Pasar Sentral Makassar ini. Preman-preman ini akan memaksa Anda membeli barang yang Anda tawar dengan harga tinggi. Ini semacam kerjasama antara si penjual dengan preman tersebut. Jadi saran saya, alangkah baiknya jika teman Anda saja yang membelikan barang yang Anda ingini.
Inilah pasar, tidak ada peraturan yang menjamin keamanan Anda. Hari ini Anda menyaksikan orang lain sedang sial, mungkin besok giliran Anda! Tetaplah waspada, apalagi para pencopet ini pasti sedang senang-senangnya beroperasi sekarang karena pasar ramai akan ibadah “tawaf” para pembeli, yang baginya adalah sasaran empuk. Selamat menunaikan ibadah “tawaf”, tetap waspada!
Ngomong-ngomong soal lebaran, tahun ini, style yang paling diminati adalah Jodha, seiring dengan merebaknya serial India di tivi. Istilah Jodha buat menyebutkan barang-barang/fashion yang memiliki aksen emas pada bahannya. Jilbab jodha, tas jodha, sandal jodha, bahkan daster jodha pun ada, ckckck. Saya bukan penggemar berat India, tapi saya tidak bisa menafikkan betapa cantiknya kain-kain mereka. Beberapa hal yang membuatku bertahan menonton tivi, fashion dan desaign. Bahkan saya kadang-kadang pantengin Dangdut Academy demi melihat apa yang dikenakan oleh pesertanya, kalau menurutku "jelek" yah tinggal pindah chanel, hahahaha. Tapi apapun yang Anda kenakan, selamat berlebaran, selamat berkumpul dengan keluarga.
SALAAAAAAAM! *pegang dahi, hormat ala Jodha Akbar
Sabtu, 04 Juli 2015
Kini Baru Kau Rasa - Dewi Yull
Sedikit demi sedikit, selera musik sedikit bergeser gara-gara sering main ke Pasar Sentral. Okelah, banyak lagu mereka, yang sering mereka senandungkan atau mainkan bukan seleraku. Tapi ada satu lagu yang ngena banget. Pergi Pagi Pulang Pagi, memang sih agak suka dengan mereka, bagi saya musik mereka lumayan berkualitas dan matang, setelah ST12 bubar, kayaknya Armada ini penggantinya. Dan lagi, lumayan suka dengan lagu-lagu mereka yang lain, tapi gak ada yang sekena dengan lagu yang satu itu, hahahaha. Kenal mereka sejak mereka masih bernama Kertas Band ; Kekasih yang Tak Dianggap dan Selamat Tinggal Kekasih Terbaik.
Tadi siang, tiba-tiba mendengar lagu ini, diputar oleh penjual CD di dekat lapak Om yang kadang-kadang saya hadir di sana buat bantuin dia menjual. Saya ikut bersenandung, Tante yang liatin saya jadi tertawa. Hahaha, ini salah satu lagu favorite alm. Bapak. "Semakin dalam kau coba melupakan dirinya, semakin dalam kau rasa", bagian lirik favorite beliau. Hehehe... #rinduBapak
Tadi siang, tiba-tiba mendengar lagu ini, diputar oleh penjual CD di dekat lapak Om yang kadang-kadang saya hadir di sana buat bantuin dia menjual. Saya ikut bersenandung, Tante yang liatin saya jadi tertawa. Hahaha, ini salah satu lagu favorite alm. Bapak. "Semakin dalam kau coba melupakan dirinya, semakin dalam kau rasa", bagian lirik favorite beliau. Hehehe... #rinduBapak
Selasa, 19 Mei 2015
MERASA
Label:
artikel siluman,
curhat picisan,
keluarga,
sok ilmiah,
teman
Kalau ke tempat kerja, senior bilang ''Ko kurusan, Nay. Diet ko, dek?'' Saya hanya membalasnya ''Iyakah, kak? Gak diet, bukan saya sekali!'' Yah, siklus tubuh enam bulan ini agak menyebalkan. Akhir bulan kalau bukan pertengahan bulan ditengok penyakit. Sigh... Jadi tahanan kamar, gak bisa kemana-mana, padahal tiap hari keluyuran kemana-mana, menyusuri belantara Makassar ini.
Sakitnya sih hanya sehari, tapi penyembuhannya itu makan waktu dua hari, Bos di tempat kerja ngomel karena tugas-tugas sudah deadline. Belum lagi dengan perubahan pola makan habis sakit, dari lambung yang kosong melompong karena gak nafsu makan ketika sakit, setelah sembuh harus dipaksa dengan porsi normal seperti biasanya, alhasil itu gas di lambung mengamuk.
Menyebalkan, karena kurus bukan karena diet, bukan karena usaha, tapi karena malas jaga kesehatan. Tapi kayaknya dari dulu gak doyan ma diet-diet, apalagi ada tuh yang lagi trend, food combining, banyakan makan buah ma sayur daripada hewani ma karbohidrat, agak mirip vegetarian yah, dimana bedanya food combining ini ma vegetarian, silakan Anda cari sendiri ya... Lagian kalau saya pikir-pikir, dua hal ini pola makan bangsa timur yah? Kayak di Jepang, makannya banyak sayur. Biksu juga hanya makan protein nabati tanpa hewani, orang Barat dan Eropa sana mencoba dan menerapkannya dan ternyata terbukti lebih menyehatkan, diberi merk bahasa Inggris jadinya kedengaran ''wah'' gitu yak, piss yah buat penggiat vegan ma food combining, ini hanya opini saya, ini hanya opini saya. Gak peduli siapa yang pertamakali menerapkannya, kalau itu menyehatkan kenapa tidak. Saya saja yang malas, karena saya fikir bagaimana kalau yang kerja berat kayak kuli makan sayur ma buah doang, kalau lapar di siang hari pastilah mereka harus makan, tapi yah sudahlah, ini kan sesuai porsi kebutuhan energi mereka.
Memang sih, sudah beberapa orang yang bilang saya kurusan, teman kerja (yang saya ceritakan di atas), seorang tante, seorang lagi sepupu, hallah, belum cukup lima sih, gitu aja bangga, belum valid tuh... Tapi merasa agak kurusan sih.
MERAAAASSAAAA atauuuu PERASAANMU SAAAJAAA, Nay??? *sudahlah, mungkin mereka lelah*
Sakitnya sih hanya sehari, tapi penyembuhannya itu makan waktu dua hari, Bos di tempat kerja ngomel karena tugas-tugas sudah deadline. Belum lagi dengan perubahan pola makan habis sakit, dari lambung yang kosong melompong karena gak nafsu makan ketika sakit, setelah sembuh harus dipaksa dengan porsi normal seperti biasanya, alhasil itu gas di lambung mengamuk.
Menyebalkan, karena kurus bukan karena diet, bukan karena usaha, tapi karena malas jaga kesehatan. Tapi kayaknya dari dulu gak doyan ma diet-diet, apalagi ada tuh yang lagi trend, food combining, banyakan makan buah ma sayur daripada hewani ma karbohidrat, agak mirip vegetarian yah, dimana bedanya food combining ini ma vegetarian, silakan Anda cari sendiri ya... Lagian kalau saya pikir-pikir, dua hal ini pola makan bangsa timur yah? Kayak di Jepang, makannya banyak sayur. Biksu juga hanya makan protein nabati tanpa hewani, orang Barat dan Eropa sana mencoba dan menerapkannya dan ternyata terbukti lebih menyehatkan, diberi merk bahasa Inggris jadinya kedengaran ''wah'' gitu yak, piss yah buat penggiat vegan ma food combining, ini hanya opini saya, ini hanya opini saya. Gak peduli siapa yang pertamakali menerapkannya, kalau itu menyehatkan kenapa tidak. Saya saja yang malas, karena saya fikir bagaimana kalau yang kerja berat kayak kuli makan sayur ma buah doang, kalau lapar di siang hari pastilah mereka harus makan, tapi yah sudahlah, ini kan sesuai porsi kebutuhan energi mereka.
Memang sih, sudah beberapa orang yang bilang saya kurusan, teman kerja (yang saya ceritakan di atas), seorang tante, seorang lagi sepupu, hallah, belum cukup lima sih, gitu aja bangga, belum valid tuh... Tapi merasa agak kurusan sih.
MERAAAASSAAAA atauuuu PERASAANMU SAAAJAAA, Nay??? *sudahlah, mungkin mereka lelah*
Jumat, 15 Mei 2015
PEMBEBASAN
Label:
curhat picisan,
keluarga
Sebentar lagi adek ke pulau sebrang buat lanjut studi, kasih tambah lagi namanya. Hiks hiks, sedih... Nda adami lagi yang temani kemana-mana, bonceng antar sana-sini, angkat-angkat barang. Dipikir-pikir, saya kejam juga yak... *baru nyadar* Akhirnya dirinya bebas dariku yang manenna' dan pannooko-nookoreng ini, hahaha.
Sabar yah kaki, betis, besok-besok kita jalan kaki lagi... Caw taw...
Sabar yah kaki, betis, besok-besok kita jalan kaki lagi... Caw taw...
Selasa, 31 Maret 2015
HOME (2015)
Gadis kecil bernama Tip, tinggal sebatang kara di kotanya. Dia hanya ditemani oleh Pig, kucing piaraannya. Semua orang --termasuk ibunya-- sudah dibawa, entah kemana oleh alien-alien Boov yang tiba-tiba mengosongkan kotanya agar bisa ditinggali dengan aman oleh mereka. Dua hal menarik tentang mereka; mereka berhidung, posisinya seperti telinga pada manusia dan warna mereka berubah sesuai dengan emosi yang mereka rasakan.
Sampai suatu ketika dia bertemu dengan salah satu alien spesies Boov yang dikejar-kejar oleh sukunya karena telah membuat kesalahan fatal. Dan beberapa banyak kesalahan-kesalahan sebelumnya, begitulah dia mendapatkan namanya : Oh, mereka memanggilnya demikian.
Sementara dalam pelarian, Oh berjanji untuk menemani Tip menemukan Ibunya. Petualangan mereka pun dimulai, termasuk sensasi naik roller coaster ketika mereka berkejar-kejaran pada Menara Effiel yang sudah terbalik.
Ceritanya ringan, tidak terlalu menguras emosi karena begitu banyak hal-hal lucu disuguhkan dalam animasi untuk anak-anak yang satu ini. Bukan berarti film ini kurang secara pendalaman kisah karena sebenarnya kita diajak mengikuti ikatan persahabatan yang pelan-pelan muncul antara Tip dan Oh. Komedi, drama dan petualangan tidak dilebih-lebihkan, semua pas pada porsinya. Demikian pula kita digiring untuk memahami kehilangan, bagaimana rasanya hal-hal yang dicintai terenggut dari kita, sehingga sesakit apapun itu jangan sampai kita melakukan hal yang sama kepada orang lain.
Bagian favorit : Ketika Bangsa Boov ini berlarian untuk menyelamatkan diri masing-masing, Captain Smek yang merupakan pemimpin mereka yang otoriter berteriak “Ruuuuun for my liiiiiife!”
Selasa, 11 November 2014
GALERI HAFIDZ, NADIM & SYAMIL
![]() | |
| tumben akur |
Suatu kali, saya ingin serius menggambar, tapi jika dihadiahi peralatan oleh seseorang. Khayalan tersebut tak kunjung nyata, daripada menunggu, maka saya putuskan saja menjadikan hal ini sebagai resolusi saya untuk tahun 2015 mendatang, sebisa mungkin menyisihkan uang buat membelikan mereka pensil warna.
Berikut gambar-gambar mereka, favoritku yang berjudul Gajah dan Jerapah.
![]() |
| awan berwajah |
![]() |
| ayam |
![]() |
| brontosaurus |
![]() |
| bus |
![]() |
| gajah |
![]() |
| itik |
![]() |
| jake si anjing |
![]() |
| jerapah |
![]() |
| kereta dari atas |
![]() |
| kucing 1 |
![]() |
| kucing 2 |
![]() |
| laut |
![]() |
| menulis |
![]() |
| mewarnai |
![]() |
| mobil 1 |
![]() |
| mobil 2 |
![]() |
| mobil 3 |
![]() |
| mobil 4 |
![]() |
| mobil 5 |
![]() |
| mobil 6 |
![]() |
| pemandangan 1 |
![]() |
| pemandangan 2 |
![]() |
| pemandangan 3 |
![]() |
| pemandangan 4 |
![]() |
| robot |
![]() |
| rumah panggung 1 |
![]() |
| rumah panggung 2 |
Selasa, 04 November 2014
I DON'T WANT HIM TO GROW UP
Label:
keluarga
Ada zamannya, ketika kami berdua bangun dari tidur siang, Nenek tak sempat buat cemilan, maka dia memberi uang jajan kami masing-masing, tak banyak, tapi cukup untuk membuat bahagia. Setiap malam minggu, kami bertiga tidur satu ranjang. Sebelum tidur, saya dan dia merencanakan mengejar capung esok hari dilanjutkan dengan kegiatan yang menyenangkan lainnya.
Ketika saya kuliah, saya pernah dikirimi sms oleh orangtua bahwa dia terpilih menjadi Pasukan Pengibar Bendera, walau tertahan hanya di tingkat Kabupaten, saya membayangkan betapa gagahnya dia mengenakan seragamnya.
Tiba waktunya dia kuliah juga, kami bertemu, walau saudaraan saya bisa rasakan dia jadi agak canggung, semua kenangan hanya berulang dalam wujud kisah, kami memang ramai membicarakannya, tapi saya tak bisa bohong pada diri-sendiri, kalau yang kurindukan adalah adikku yang bocah, mungkin diapun juga begitu adanya...
Video di bawah ini, membuat saya bercerita, membuat saya tersenyum sekaligus menangis.
Ketika saya kuliah, saya pernah dikirimi sms oleh orangtua bahwa dia terpilih menjadi Pasukan Pengibar Bendera, walau tertahan hanya di tingkat Kabupaten, saya membayangkan betapa gagahnya dia mengenakan seragamnya.
Tiba waktunya dia kuliah juga, kami bertemu, walau saudaraan saya bisa rasakan dia jadi agak canggung, semua kenangan hanya berulang dalam wujud kisah, kami memang ramai membicarakannya, tapi saya tak bisa bohong pada diri-sendiri, kalau yang kurindukan adalah adikku yang bocah, mungkin diapun juga begitu adanya...
Video di bawah ini, membuat saya bercerita, membuat saya tersenyum sekaligus menangis.
Selasa, 30 September 2014
Senin, 11 Agustus 2014
PENGAKUAN MASHANDA
Label:
artikel siluman,
fiksi,
kartun,
keluarga,
neting
Setelah membuat beberapa video, kali ini saya membuat pengakuan tertulis.
Tidak perlu menjadi orang dewasa untuk memahani anak-anak, orang dewasa hanya peduli pada lucu atau tidaknya anak itu. Hanya anak-anak yang mengerti anak-anak. Saya sering bertengkar dengan anak-anak yang saya temui karena saya menganggap pendapat mereka pentingg, bukan seperti orang dewasa yang selalu bilang kalau “ah, sudahlah, dia kan hanya anak kecil!”
Bahkan dari penglihatanku, orang dewasa yang dipandang pendapatnya itu, kalau bukan sekolahnya tinggi, ataukah kaya, ataukah punya jabatan, tapi kebanyakan orang dewasa baru dimintai pendapatnya jika sudah menikah. Ini sangat tidak adil terutama bagi anak-anak.
Oprah Winfrey belum pernah menikah tapi dia sudah berbuat banyak kebaikan. Kebaikanlah yang membuatnya didengar, kebaikanlah yang membuatnya punya banyak keluarga, bukan dari hubungan darah ataupun perkawinan. Apa-apaan ini, saya malah menjadi anak yang antifamily. Meski demikian, saya selalu menangis jika menonton, atau mendengar kisah keluarga yang mengharukan, karena kata orang itu sudahduah naluri pemberian tuhan, jadi begitulah, saya melawan naluri pemberian tuhan (???)
Tulisan macam apa ini, tidak menginspirasi, hanya tumpahan keegoisan semata.
*Mashanda, tanpa huruf R. Masha? Masha yang ditemani beruang itu? Bisa jadi….
Tidak perlu menjadi orang dewasa untuk memahani anak-anak, orang dewasa hanya peduli pada lucu atau tidaknya anak itu. Hanya anak-anak yang mengerti anak-anak. Saya sering bertengkar dengan anak-anak yang saya temui karena saya menganggap pendapat mereka pentingg, bukan seperti orang dewasa yang selalu bilang kalau “ah, sudahlah, dia kan hanya anak kecil!”
Bahkan dari penglihatanku, orang dewasa yang dipandang pendapatnya itu, kalau bukan sekolahnya tinggi, ataukah kaya, ataukah punya jabatan, tapi kebanyakan orang dewasa baru dimintai pendapatnya jika sudah menikah. Ini sangat tidak adil terutama bagi anak-anak.
Oprah Winfrey belum pernah menikah tapi dia sudah berbuat banyak kebaikan. Kebaikanlah yang membuatnya didengar, kebaikanlah yang membuatnya punya banyak keluarga, bukan dari hubungan darah ataupun perkawinan. Apa-apaan ini, saya malah menjadi anak yang antifamily. Meski demikian, saya selalu menangis jika menonton, atau mendengar kisah keluarga yang mengharukan, karena kata orang itu sudahduah naluri pemberian tuhan, jadi begitulah, saya melawan naluri pemberian tuhan (???)
Tulisan macam apa ini, tidak menginspirasi, hanya tumpahan keegoisan semata.
*Mashanda, tanpa huruf R. Masha? Masha yang ditemani beruang itu? Bisa jadi….
Jumat, 11 April 2014
MIRIP BAPAK
Label:
artikel siluman,
curhat picisan,
film,
kartun,
keluarga

I don't consider myself different to anyone else with AlDS. I'm not guilty. I'm not innocent. I'm just trying to survive.
Itu
perkataan Ms. Benedict, sambil memandang dengan penuh iba kepada
penderita AIDS , Andrew Backett di ruang sidang. Andrew adalah seorang
pengacara yang menuntut firma tempatnya bekerja, firma terbaik di Kota
Philadelphia. Dia dipecat karena dianggap teledor menghilangkan sebuah
berkas penting dan dia sangat sadar bahwa dia disabotasi. Pada akhirnya,
keputusanjuri memenangkan Andrew Backett karena ini bentuk diskriminasi
terhadap penderita AIDS.
Andrew Backett diperankan
dengan sangat cemerlang oleh Tom Hanks, pengacara yang paling diandalkan
di kantornya. Tom Hanks berperan sebagai seorang gay di sini,
berpasangan dengan Antonio Banderas. Tom Hanks harus menurunkan berat
badannya demi tuntutan perannya, jadi sedih ngelihatnya, apalagi Tom
Hanks ditampakkan semula sehat, perlahan-lahan sekarat. Saya suka
dengan keluarga dan teman-temannya, yang mereka pikirkan bagaimana agar
mereka melepas Andrew dengan kesedihan yang tak berlebihan.


Joe Miller (Denzel Washington) yang semula merupakan ‘rival’nya pada mulanya menolak, tapi kemudian dia merasa tertantang pada kasus yang ditawarkan Andrew. Karena film PHILADELPHIA (1993) ini sedih, karaker Joe Miller datang sebagai karakter yang lucu mengisi kemuraman cerita. Dan, Antonio Banderas (Miguel) masih sangat muda, penonton perempuan pasti sangat terhibur dengan kemunculannya. Andrew-Miguel, cute couple! :)

Dulu,
saya suka menonton film walau saya tak memperdulikan siapa yang main,
siapa sutradaranya dsbginya. Suatu malam, jauh sebelum saya mengenal Tom
Hanks, saya pernah menonton satu babak film The Terminal di sebuah
chanel televisi. Saya melewatkan opening film dan bagian end creditnya,
jadi saya tak tahu kalau orang tersebut bernama Tom Hanks. Saya, seorang
yang baru saja kehilangan Bapak kandung, dengan serta merta dalam hati
mentitahkan, orang ini mirip Bapak, mungkin hanya emosi saya, atau saya
berlebihan, tak saya pedulikan lagi.


Saya
mengenal Tom Hanks ketika Toy Story (3) dirilis. “Hey, film kartun
tentang mainan ini dibuat sequelnya lagi!”, kebetulan beberapa kali
menontonnya, ceritanya unik, saya pikir, mungkin (di pikiran anak kecil)
mainan itu berjalan, itulah sebabnya mainan sering hilang. Saya
menonton seri pertama dan kedunya, juga masih dari televisi, saya belum
pernah ke bioskop waktu itu. Saya bersemangat, selain karena saya memang
penyuka animasi. Saya mencari infonya di internet dan takjub, Woody si
koboy ternyata diisi oleh orang yang bernama Tom Hanks ini, yang juga
pemeran utama di The Terminal. Saya bahkan mencari di internet, orang
lain yang ingin punya Bapak seperti Tom Hanks, saya menemukan Joko Anwar
:)


Sabtu, 01 Februari 2014
DUAPULUH DELAPAN
Dua orang manusia, lahir dari rahim yang sama, keduanya perempuan. Sebutlah mereka Si Sulung dan Si Bungsu.
Sulung terlahir sempurna, pancaran kedua orang tuanya. Secara fisik sangat menarik, dia menjaga makannya agar tidak kelebihan berat badan. Banyak orang tua lainnya yang telah meliriknya jika dia kebetulan lewat di depan rumah mereka, untuk dijadikan menantu kelak. Menjelang remaja, konon sudah ada beberapa lelaki yang datang untuk melamar, tapi orang tua Si Sulung orang yang sangat peduli akan pendidikan. Semua lamaran ditolak dengan halus, mereka mau menyekolahkan Si Sulung sampai sekolah setinggi-tingginya.
Begitulah, Bungsu selalu tak sengaja mendengar cerita tersebut. Ya, cerita itu bukan untuk diceritakan kepadanya, tapi kepada handai taulan. Lagipula buat apa memikirkannya, dia belum faham, dia masih balita waktu itu. Sedangkan Si Sulung tengah kuliah di kota dengan biaya dari ikatan dinasnya, bertambahlah rasa syukur akan kehadiran Sulung, adanya dirinya di keluarga tersebut tak pernah memberatkan mereka.
Meski telah berulang-ulang mendengar cerita tersebut, Bungsu tetap berusaha sebaik mungkin, nilainya tak pernah jelek di sekolah. Sampai tiba saatnya Sulung menikah, meninggalkan orang tuanya, ke luar pulau bersama suaminya, menjenguk orang tuanya sesekali. Kali ini, mereka datang mengendarai mobil, sesuatu yang masih mahal bagi mereka. Dengan bangga mereka tersenyum, melambaikan tangan, padal itu masih beberapa meter dari halaman rumah. Ayah dan Ibu segera berlari membuka tirai jendela melihat kedatangan Si Sulung dan suaminya serta ditemani seorang bayi.
Bungsu yang masih SD tidak mengerti, mengapa ada orang yang tersenyum dengan mudah lewat di atas aspal. Suatu kali dia bertanya kepada Guru Sejarahnya, bagaimana sejarah aspal di desa mereka bisa ada. Sang Guru menjawab, bahwa semua wilayah itu dulunya adalah hutan, kemudian ada yang menebangnya agar manusia bisa lalu-lalang di sana. Kemudian penjajah datang, menerapkan kerja paksa terhadap nenek moyang mereka, membangun jalan yang tak becek ketika hujan, agar kendaraan bisa melewatinya dengan mulus.
Sejak hari itu, dia berfikir terus akan cerita gurunya tersebut. Terbayang di kepalanya, kakek buyutnya dengan tubuh kurus tersengat matahari, berkeringat sepanjang hari untuk membangun jalan yang selalu dilaluinya ke sekolah tiap hari. Dia memutuskan, sebisa mungkin dia akan jalan kaki melewati jalan aspal, berkeringat, disengat matahari, merasakan apa yang dirasakan kakek buyutnya dulu.
Cerita itu membekas di dalam dirinya, dia bertumbuh jadi sosok yang lebih sensitif, bahwa ketika mencicipi sebuah kenikmatan, dia harus sadar akan pengorbanan orang-orang sebelum adanya nikmat tersebut. Dia jadi seorang yang tak gampang tersenyum, dicap aneh, terkadang jadi bahan lelucon. Dia pernah membaca, Charlie Chaplin yang pernah satu-dua kali ditontonnya bilang, bahwa pelawak yang baik adalah pelawak yang tidak tertawa akan lawakannya.
Kemudian teknologi komunikasi yang lebih canggih menembus desanya, sekarang mereka tak perlu lagi antri di wartel untuk menelpon. Si Sulung telah membelikan handphone ke orang tuanya. Mereka bisa berbicara kapanpun mereka mau. Bungsu sadar, Sulung dan Ibunya sangat dekat, usia mereka hanya terpaut 17 tahun. Ketika Ibunya dan Si Sulung berbicara, mereka bercerita seperti adek-kakak.
Namun, kebalikannya bagi Si Bungsu, dia sering banyak tak sefaham dengan Ibunya. Mereka sering bertengkar, ujungnya Ibu mendiaminya selama dua hari, sedangkan Bungsu hanya bisa menangis diam-diam. Apakah memang dirinya tak perlu ada di keluarga ini? Adakah Tuhan sedang iseng menyisipkannya sampai-sampai dia dicap aneh bahkan oleh keluarganya sendiri?
Bungsu jadi sosok yang pendiam, dia memilih seperti itu daripada harus selalu bersitegang dengan Ibunya, dia takut jadi anak durhaka seperti kata udztas. Dia sebenarnya iri dan cemburu kepada Si Sulung, apalagi ketika Si Sulung dan Ibunya saling membincangkan kasih sayang mereka satu sama lain. Tapi, Bungsu sering bersedih, kalau mereka tiba-tiba bercerita tentang dirinya, mereka tertawa, bagi mereka Si Bungsu itu aneh sehingga bagi mereka lucu.
Bungsu hanya bisa sedih, dia sepenuhnya mengiyakan pendapat Charlie Chaplin. Dia tidak tertawa, dia sedih, yah dia pelawak yang sedih di balik panggung. Tak ada yang pernah mengamati berapa kesedihan yang harus dibayar untuk membuat orang lain tertawa, tapi dia percaya bahwa ketika seorang bahagia, ada orang yang membayar untuk itu, seperti asal-usul jalanan aspal di sekolah mereka, seperti dirinya yang bisa saja menghamburkan air ketika ada orang di Afrika yang kehausan.
Bungsu semakin hari jadi sosok yang misterius. Sulung bahkan sering menanyakan kepadanya, dengan siapa dia bergaul. Pernah suatu kali dia mengajak Sulung bertemu beberapa temannya, tapi Sulung tidak suka dengan teman Bungsu yang dikenalkan kepadanya, seorang penyair yang tak enggan membacakan sajak yang mengumbar kelamin di dalamnya.
Sulung tidak suka jika adiknya berteman dengan orang seperti itu, dia dari keluarga yang baik-baik. Bungsu marah kali ini, katanya, itu temannya yang pertama dan terakhir dikenalkan kepada keluarganya. Tak ada seorang pun yang boleh menghakimi teman-temannya, dia pun bebas bergaul dengan siapapun. Walau setiap hari hidup bersama, Bungsu membangun jarak dengan keluarganya. Bungsu tak peduli jika keluarganya meremehkannya, mengatai-ngatainya dengan nakal dan tak tahu diri.
Apa semua orang harus baik? Dia teringat lagi nasehat udztas, tapi untuk apa neraka diciptakan jika seluruh manusia harus masuk surga? Tuhan menciptakan kebaikan tidak datang dengan sendirinya di bumi, seperti halnya kaya-miskin, cerdas-bodoh. Bungsu sadar, dia bukannya takut durhaka, dia tetap mencintai keluarganya dengan sekedarnya.
Dia bukan kakaknya, Si Sulung yang telah jauh di luar pulau, kaya dan telah sanggup membeli jarak agar dia dirindukan. Bungsu membangun temboknya sendiri, dengan membenci dirinya dan kemudian menerima dirinya apa adanya. Bungsu hanya pengangguran, tapi bersedia ada di sana saat Ibunya membutuhkan dukungan tanpa harus menelponnya, tembok yang dibangunnya tak mematikan kepekaannya akan keadaan di rumahnya.
Cintanya, selalu ada. Selalu ada, dalam artian abadi, seperti plastik yang tak butuh tanggal kadaluarsa, bukan daging yang bisa busuk. Tapi,suara Thom Yorke membuatnya resah, plastik itu memang abadi, tapi fake.
Palsu, Bungsu sadar mengapa dia layak diabaikan, lebih pantas dijadikan lelucon untuk membuat orang di sekitarnya senang walau dia tak bisa bahagia dengan itu.
Sulung terlahir sempurna, pancaran kedua orang tuanya. Secara fisik sangat menarik, dia menjaga makannya agar tidak kelebihan berat badan. Banyak orang tua lainnya yang telah meliriknya jika dia kebetulan lewat di depan rumah mereka, untuk dijadikan menantu kelak. Menjelang remaja, konon sudah ada beberapa lelaki yang datang untuk melamar, tapi orang tua Si Sulung orang yang sangat peduli akan pendidikan. Semua lamaran ditolak dengan halus, mereka mau menyekolahkan Si Sulung sampai sekolah setinggi-tingginya.
Begitulah, Bungsu selalu tak sengaja mendengar cerita tersebut. Ya, cerita itu bukan untuk diceritakan kepadanya, tapi kepada handai taulan. Lagipula buat apa memikirkannya, dia belum faham, dia masih balita waktu itu. Sedangkan Si Sulung tengah kuliah di kota dengan biaya dari ikatan dinasnya, bertambahlah rasa syukur akan kehadiran Sulung, adanya dirinya di keluarga tersebut tak pernah memberatkan mereka.
Meski telah berulang-ulang mendengar cerita tersebut, Bungsu tetap berusaha sebaik mungkin, nilainya tak pernah jelek di sekolah. Sampai tiba saatnya Sulung menikah, meninggalkan orang tuanya, ke luar pulau bersama suaminya, menjenguk orang tuanya sesekali. Kali ini, mereka datang mengendarai mobil, sesuatu yang masih mahal bagi mereka. Dengan bangga mereka tersenyum, melambaikan tangan, padal itu masih beberapa meter dari halaman rumah. Ayah dan Ibu segera berlari membuka tirai jendela melihat kedatangan Si Sulung dan suaminya serta ditemani seorang bayi.
Bungsu yang masih SD tidak mengerti, mengapa ada orang yang tersenyum dengan mudah lewat di atas aspal. Suatu kali dia bertanya kepada Guru Sejarahnya, bagaimana sejarah aspal di desa mereka bisa ada. Sang Guru menjawab, bahwa semua wilayah itu dulunya adalah hutan, kemudian ada yang menebangnya agar manusia bisa lalu-lalang di sana. Kemudian penjajah datang, menerapkan kerja paksa terhadap nenek moyang mereka, membangun jalan yang tak becek ketika hujan, agar kendaraan bisa melewatinya dengan mulus.
Sejak hari itu, dia berfikir terus akan cerita gurunya tersebut. Terbayang di kepalanya, kakek buyutnya dengan tubuh kurus tersengat matahari, berkeringat sepanjang hari untuk membangun jalan yang selalu dilaluinya ke sekolah tiap hari. Dia memutuskan, sebisa mungkin dia akan jalan kaki melewati jalan aspal, berkeringat, disengat matahari, merasakan apa yang dirasakan kakek buyutnya dulu.
Cerita itu membekas di dalam dirinya, dia bertumbuh jadi sosok yang lebih sensitif, bahwa ketika mencicipi sebuah kenikmatan, dia harus sadar akan pengorbanan orang-orang sebelum adanya nikmat tersebut. Dia jadi seorang yang tak gampang tersenyum, dicap aneh, terkadang jadi bahan lelucon. Dia pernah membaca, Charlie Chaplin yang pernah satu-dua kali ditontonnya bilang, bahwa pelawak yang baik adalah pelawak yang tidak tertawa akan lawakannya.
Kemudian teknologi komunikasi yang lebih canggih menembus desanya, sekarang mereka tak perlu lagi antri di wartel untuk menelpon. Si Sulung telah membelikan handphone ke orang tuanya. Mereka bisa berbicara kapanpun mereka mau. Bungsu sadar, Sulung dan Ibunya sangat dekat, usia mereka hanya terpaut 17 tahun. Ketika Ibunya dan Si Sulung berbicara, mereka bercerita seperti adek-kakak.
Namun, kebalikannya bagi Si Bungsu, dia sering banyak tak sefaham dengan Ibunya. Mereka sering bertengkar, ujungnya Ibu mendiaminya selama dua hari, sedangkan Bungsu hanya bisa menangis diam-diam. Apakah memang dirinya tak perlu ada di keluarga ini? Adakah Tuhan sedang iseng menyisipkannya sampai-sampai dia dicap aneh bahkan oleh keluarganya sendiri?
Bungsu jadi sosok yang pendiam, dia memilih seperti itu daripada harus selalu bersitegang dengan Ibunya, dia takut jadi anak durhaka seperti kata udztas. Dia sebenarnya iri dan cemburu kepada Si Sulung, apalagi ketika Si Sulung dan Ibunya saling membincangkan kasih sayang mereka satu sama lain. Tapi, Bungsu sering bersedih, kalau mereka tiba-tiba bercerita tentang dirinya, mereka tertawa, bagi mereka Si Bungsu itu aneh sehingga bagi mereka lucu.
Bungsu hanya bisa sedih, dia sepenuhnya mengiyakan pendapat Charlie Chaplin. Dia tidak tertawa, dia sedih, yah dia pelawak yang sedih di balik panggung. Tak ada yang pernah mengamati berapa kesedihan yang harus dibayar untuk membuat orang lain tertawa, tapi dia percaya bahwa ketika seorang bahagia, ada orang yang membayar untuk itu, seperti asal-usul jalanan aspal di sekolah mereka, seperti dirinya yang bisa saja menghamburkan air ketika ada orang di Afrika yang kehausan.
Bungsu semakin hari jadi sosok yang misterius. Sulung bahkan sering menanyakan kepadanya, dengan siapa dia bergaul. Pernah suatu kali dia mengajak Sulung bertemu beberapa temannya, tapi Sulung tidak suka dengan teman Bungsu yang dikenalkan kepadanya, seorang penyair yang tak enggan membacakan sajak yang mengumbar kelamin di dalamnya.
Sulung tidak suka jika adiknya berteman dengan orang seperti itu, dia dari keluarga yang baik-baik. Bungsu marah kali ini, katanya, itu temannya yang pertama dan terakhir dikenalkan kepada keluarganya. Tak ada seorang pun yang boleh menghakimi teman-temannya, dia pun bebas bergaul dengan siapapun. Walau setiap hari hidup bersama, Bungsu membangun jarak dengan keluarganya. Bungsu tak peduli jika keluarganya meremehkannya, mengatai-ngatainya dengan nakal dan tak tahu diri.
Apa semua orang harus baik? Dia teringat lagi nasehat udztas, tapi untuk apa neraka diciptakan jika seluruh manusia harus masuk surga? Tuhan menciptakan kebaikan tidak datang dengan sendirinya di bumi, seperti halnya kaya-miskin, cerdas-bodoh. Bungsu sadar, dia bukannya takut durhaka, dia tetap mencintai keluarganya dengan sekedarnya.
Dia bukan kakaknya, Si Sulung yang telah jauh di luar pulau, kaya dan telah sanggup membeli jarak agar dia dirindukan. Bungsu membangun temboknya sendiri, dengan membenci dirinya dan kemudian menerima dirinya apa adanya. Bungsu hanya pengangguran, tapi bersedia ada di sana saat Ibunya membutuhkan dukungan tanpa harus menelponnya, tembok yang dibangunnya tak mematikan kepekaannya akan keadaan di rumahnya.
Cintanya, selalu ada. Selalu ada, dalam artian abadi, seperti plastik yang tak butuh tanggal kadaluarsa, bukan daging yang bisa busuk. Tapi,suara Thom Yorke membuatnya resah, plastik itu memang abadi, tapi fake.
Palsu, Bungsu sadar mengapa dia layak diabaikan, lebih pantas dijadikan lelucon untuk membuat orang di sekitarnya senang walau dia tak bisa bahagia dengan itu.
Sabtu, 19 Oktober 2013
Strong Enough To Break
Senang sekali mendapat kabar kalau mereka baru saja rilis album baru,
judulnya Anthem. Tapi sudahlah, saya belum
dapat jaringan yang berlimpah untuk bisa dengar lagunya satu-satu.
Bisanya hanya dengar beberapa lagu yang video klipnya telah tersedia di
youtube. Haassstaaagaaaah, saya CLBK ma mereka. Musik mereka keren, agak
ngerock, tapi masih enak untuk nari (hallah, bilang aja karena lagi
demennya macam JKT48). Untuk sementara lagu-lagu depresi terpinggirkan.
Kabar dari mereka yang berhasil singgah di channel tivi Indonesia (2000an) ketika salah satu dari mereka menikah. Sampai suatu hari, entah siapa yang ngepost tentang 90an, nama mereka terselip di sana, saya lupa artikel yang mana, berhasil membuat saya menarik kembali ingatan ke mereka. Youtube, Google, Twitter, Facebook, semuanya dikerahkan untuk mencari informasi tentang mereka. Penasaran yang ditabung beberapa tahun berkumpul menit itu juga, cari tahu mengapa selama ini mereka menghilang. Ternyata mereka tetap berkarya, sayangnya album mereka tak sampai ke Indonesia. Waktunya kita main tebak-tebakan, siapakah mereka yang saya maksud? Baiklah, foto berikut petunjuk pertama.
Ini tebak-tebakan untuk penikmat musik era 90an. Seperti halnya Bee Gees atau Jackson Five, mereka tiga bersaudara yang sejak kecil sudah mengikuti berbagai festival. Untuk permulaan karir mereka hanya tampil akapela, yang paling kecil mungkin baru duduk di taman kanan-kanak, ehehehe. Namun seperti keluarga normal lainnya, sekolah bagi anak-anak tetaplah penting, sepertinya mereka harus menunda dulu kesenangan mereka.
Oke, kita skip, tak perlu panjang lebar menceritakan lebih detail. Kita melompat ketika mereka mulai beranjak remaja. Isaac yang paling besar bekerja sebagai pembawa acara/penyiar radio, Zac sibuk dengan hobinya yang lain, olahraga. Hanya Taylor yang tetap konsisten, diarahkan oleh keluarganya bernyanyi untuk 'ibadah'.
Tahun 1994, mereka mewujudkan keinginan mereka dengan menelurkan album perdana bertajuk Boomerang (beredar di kalangan terbatas/indie). Setelahnya, mereka tertantang mencoba mengasah kemampuan mereka dengan memainkan alat musik, ketiganya memang telah mahir piano, namun Isaac lebih fokus memetik gitar sedangkan Zac menggebuk drum. Jadilah mereka yang tak hanya jadi grup vokal. Lengkap sudah, mereka punya bakat, bisa membuat lagu dan menyanyikannya, bisa memainkan alat musik, mereka telah menjadi sebenar-benarnya band. MMMBop, album kedua (indie) sekaligus lagu yang membuat sebuah label rekaman melirik tiga anak muda ini. Semacam perkenalan ke penikmat musik mancanegara, lagu MMMBop dirilis kembali di album Middle of Nowhere.
Jadilah saya yang masih SD mengenal mereka. Wa, keren nih, ada band tapi personilnya remaja semua. Beberapa kali nonton video klip mereka, nyantai-nyantai saja, sampai pada suatu ketika MTv menayangkan wawancara dengan mereka (sebagai band yang lumayan fenomenal waktu itu), baru nyadar mereka semua cowok. Taylor Hanson bukanlah wanita seperti yang saya pikirkan saat itu, bahkan saya pun percaya kalau banyak orang mengira dia perempuan. What a beatifull boy! Sama halnya ketipu wajah Gil Ofarim yang juga cantik. :D
Kemudian muncul single-single berikutnya... Where's the Love, I Will Come to You. Saya baru tahu dari beberapa minggu ini, kalau sejak 2000 mereka didepak oleh Mercury, label yang menaungi dan sukses memperkenalkan mereka. Kedewasaan telah merubah suara mereka, mau tak mau mereka harus bekerja keras mencari label baru yang tertarik dengan materi calon album baru mereka.
Mereka tak mungkin "imut" terus seperti yang diharapkan label rekaman yang menolaknya. Di Film Strong Enough To Break (2006) mereka menawarkan demo rekaman dan berkali-kali gagal. Banyak hal baru yang mereka lakukan untuk menunjukkan bahwa karya mereka masih layak "didengarkan" ; bekerja sama dengan beberapa musisi untuk memperkaya musik mereka, Taylor bahkan memaksa kakaknya Isaac untuk menjadi lead vokal walau sebenarnya Isaac tidak percaya diri.
Jadilah Album This Time Around diproduksi oleh Island. Image mereka berubah, musik lebih ngerock dengan tema yang juga sudah condong ke arah (apalagi kalau bukan) cinta. Lihatlah! Zac kecil telah remaja. Kemudian kepikiran, jangan-jangan Wayang nyontek konsep mereka, ada 'drummer cilik'-nya, heheheh *peace*. Sayangnya, If Only dan Penny and Me adalah video klip mereka yang terakhir yang bisa saya nikmati lewat televisi pada saat itu. Saya kembali melek lagi tentang mereka beberapa pekan ini setelah menemukan film dokumenter mereka di chanel Youtube Hanson, Strong Enough To Break yang menampilkan kerja keras mereka, bahwa musik Hanson masih layak untuk diapresiasi.
Mungkin ini yang membedakan mereka dengan The Moffats, walau segenerasi dan lahir dari band keluarga juga. Hanson tetap 'ada', membuat otak saya kembali punya musim. Mereka yang dulu imut-imut sekarang sudah ganteng-ganteng semua. Yang paling kuingat adalah Taylor yang dulu sangat pemalu, belum lama disorot kamera pipinya langsung memerah. Zac yang paling kecil, justru sekarang punya perawakan paling besar daripada dua kakaknya. Mereka yang dulu cuek, t-shirt dan jeans gaya andalan, kini mulai fashionable. Meski masih doyan assesoris, kini Taylor sepertinya susah berpisah dengan scraf. Isaac yang selalu lengkap dengan tuxedonya. Racun, bahkan saya berani bicara nyerempet ke fashion gara-gara mereka! Walhasil, hard disk makin mendekati penuh gara-gara gambar mereka yang berdesak-desakan dengan 'masih banyak lagi' foto-foto om Bob Dylan. Heheheheh...
Btw, kalau Hanson datang lagi ke Indonesia, bagus kali yah kalau band pembukanya Sheila on 7. Dengar Hanson jadi berfikir, tiga orang ini, orang tuanya kayak apa yah, selera musiknya pasti bagus. Sama kayak ketika dengar Sheila on 7 pertama kali (SMP), setelah tahu kalau mereka dari Jogja, itulah momen-momen pertama saya kepingin ke Jogja, tempat macam apakah kota ini sehingga Sheila on 7 muncul dari sana. Hanson dan Sheila on 7, matching banget! Dasar generasi 90an. :D
nb : Selama ngetik ini sambil dengar lagu Go berkali-kali, suara Zac enak juga.
Kabar dari mereka yang berhasil singgah di channel tivi Indonesia (2000an) ketika salah satu dari mereka menikah. Sampai suatu hari, entah siapa yang ngepost tentang 90an, nama mereka terselip di sana, saya lupa artikel yang mana, berhasil membuat saya menarik kembali ingatan ke mereka. Youtube, Google, Twitter, Facebook, semuanya dikerahkan untuk mencari informasi tentang mereka. Penasaran yang ditabung beberapa tahun berkumpul menit itu juga, cari tahu mengapa selama ini mereka menghilang. Ternyata mereka tetap berkarya, sayangnya album mereka tak sampai ke Indonesia. Waktunya kita main tebak-tebakan, siapakah mereka yang saya maksud? Baiklah, foto berikut petunjuk pertama.
![]() |
| siapakah anak-anak kecil yang bertampang kucel ini? |
Ini tebak-tebakan untuk penikmat musik era 90an. Seperti halnya Bee Gees atau Jackson Five, mereka tiga bersaudara yang sejak kecil sudah mengikuti berbagai festival. Untuk permulaan karir mereka hanya tampil akapela, yang paling kecil mungkin baru duduk di taman kanan-kanak, ehehehe. Namun seperti keluarga normal lainnya, sekolah bagi anak-anak tetaplah penting, sepertinya mereka harus menunda dulu kesenangan mereka.
Oke, kita skip, tak perlu panjang lebar menceritakan lebih detail. Kita melompat ketika mereka mulai beranjak remaja. Isaac yang paling besar bekerja sebagai pembawa acara/penyiar radio, Zac sibuk dengan hobinya yang lain, olahraga. Hanya Taylor yang tetap konsisten, diarahkan oleh keluarganya bernyanyi untuk 'ibadah'.
Tahun 1994, mereka mewujudkan keinginan mereka dengan menelurkan album perdana bertajuk Boomerang (beredar di kalangan terbatas/indie). Setelahnya, mereka tertantang mencoba mengasah kemampuan mereka dengan memainkan alat musik, ketiganya memang telah mahir piano, namun Isaac lebih fokus memetik gitar sedangkan Zac menggebuk drum. Jadilah mereka yang tak hanya jadi grup vokal. Lengkap sudah, mereka punya bakat, bisa membuat lagu dan menyanyikannya, bisa memainkan alat musik, mereka telah menjadi sebenar-benarnya band. MMMBop, album kedua (indie) sekaligus lagu yang membuat sebuah label rekaman melirik tiga anak muda ini. Semacam perkenalan ke penikmat musik mancanegara, lagu MMMBop dirilis kembali di album Middle of Nowhere.
Jadilah saya yang masih SD mengenal mereka. Wa, keren nih, ada band tapi personilnya remaja semua. Beberapa kali nonton video klip mereka, nyantai-nyantai saja, sampai pada suatu ketika MTv menayangkan wawancara dengan mereka (sebagai band yang lumayan fenomenal waktu itu), baru nyadar mereka semua cowok. Taylor Hanson bukanlah wanita seperti yang saya pikirkan saat itu, bahkan saya pun percaya kalau banyak orang mengira dia perempuan. What a beatifull boy! Sama halnya ketipu wajah Gil Ofarim yang juga cantik. :D
Kemudian muncul single-single berikutnya... Where's the Love, I Will Come to You. Saya baru tahu dari beberapa minggu ini, kalau sejak 2000 mereka didepak oleh Mercury, label yang menaungi dan sukses memperkenalkan mereka. Kedewasaan telah merubah suara mereka, mau tak mau mereka harus bekerja keras mencari label baru yang tertarik dengan materi calon album baru mereka.
Mereka tak mungkin "imut" terus seperti yang diharapkan label rekaman yang menolaknya. Di Film Strong Enough To Break (2006) mereka menawarkan demo rekaman dan berkali-kali gagal. Banyak hal baru yang mereka lakukan untuk menunjukkan bahwa karya mereka masih layak "didengarkan" ; bekerja sama dengan beberapa musisi untuk memperkaya musik mereka, Taylor bahkan memaksa kakaknya Isaac untuk menjadi lead vokal walau sebenarnya Isaac tidak percaya diri.
Jadilah Album This Time Around diproduksi oleh Island. Image mereka berubah, musik lebih ngerock dengan tema yang juga sudah condong ke arah (apalagi kalau bukan) cinta. Lihatlah! Zac kecil telah remaja. Kemudian kepikiran, jangan-jangan Wayang nyontek konsep mereka, ada 'drummer cilik'-nya, heheheh *peace*. Sayangnya, If Only dan Penny and Me adalah video klip mereka yang terakhir yang bisa saya nikmati lewat televisi pada saat itu. Saya kembali melek lagi tentang mereka beberapa pekan ini setelah menemukan film dokumenter mereka di chanel Youtube Hanson, Strong Enough To Break yang menampilkan kerja keras mereka, bahwa musik Hanson masih layak untuk diapresiasi.
Mungkin ini yang membedakan mereka dengan The Moffats, walau segenerasi dan lahir dari band keluarga juga. Hanson tetap 'ada', membuat otak saya kembali punya musim. Mereka yang dulu imut-imut sekarang sudah ganteng-ganteng semua. Yang paling kuingat adalah Taylor yang dulu sangat pemalu, belum lama disorot kamera pipinya langsung memerah. Zac yang paling kecil, justru sekarang punya perawakan paling besar daripada dua kakaknya. Mereka yang dulu cuek, t-shirt dan jeans gaya andalan, kini mulai fashionable. Meski masih doyan assesoris, kini Taylor sepertinya susah berpisah dengan scraf. Isaac yang selalu lengkap dengan tuxedonya. Racun, bahkan saya berani bicara nyerempet ke fashion gara-gara mereka! Walhasil, hard disk makin mendekati penuh gara-gara gambar mereka yang berdesak-desakan dengan 'masih banyak lagi' foto-foto om Bob Dylan. Heheheheh...
![]() |
| R A C U N |
Btw, kalau Hanson datang lagi ke Indonesia, bagus kali yah kalau band pembukanya Sheila on 7. Dengar Hanson jadi berfikir, tiga orang ini, orang tuanya kayak apa yah, selera musiknya pasti bagus. Sama kayak ketika dengar Sheila on 7 pertama kali (SMP), setelah tahu kalau mereka dari Jogja, itulah momen-momen pertama saya kepingin ke Jogja, tempat macam apakah kota ini sehingga Sheila on 7 muncul dari sana. Hanson dan Sheila on 7, matching banget! Dasar generasi 90an. :D
nb : Selama ngetik ini sambil dengar lagu Go berkali-kali, suara Zac enak juga.
Minggu, 04 Agustus 2013
Leaves From The Vine
Iroh muda sebenarnya adalah calon kuat untuk menjadi raja api, tapi setelah meninggalnya Lu Ten, dia merasa semuanya tak ada artinya lagi. Jadilah kedudukan raja diberikan kepada adiknya, Ozai. Di episode The Tales of Ba Sing Se, Paman Iroh mengucapkan selamat ulang tahun buat mendiang putranya. Sangat sedih ketika melihat Paman Iroh yang selalu bijak dan tersenyum tersebut
menyanyi, berlinang air mata mengenang Lu Ten sang putra yang meninggal
di medan perang.
nb : scene ini didedikasikan khusus buat mendiang Mako Iwamatsu yang menjadi pengisi suara Iroh.
- Leaves from the vine
- Falling so slow
- Like fragile, tiny shells
- Drifting in the foam
- Little soldier boy
- Come marching home
- Brave soldier boy
- Comes marching home
nb : scene ini didedikasikan khusus buat mendiang Mako Iwamatsu yang menjadi pengisi suara Iroh.
Rabu, 31 Juli 2013
PERHATIKAN RAMBU-RAMBU LALU LINTAS
Label:
curhat picisan,
keluarga
Tak bisa menjadi Picasso. Tak mungkin menjadi Yesus. Tak bisa selamatkan
planet dgn tangan kosong. Aku hanya bisa mencuci piring.(Rachel Corrie)
Itu salah satu twit terbaru seorang teman, namanya Bang Dobby. Saya jatuh cinta, sebagai seorang yang menggemari pekerjaan cuci piring. Cuci piring bagiku adalah salah satu aktifitas mulia, hiperbolik banget yak! Ahahahah... Bahkan di rumah, tercipta kelakar kalau cuci piring itu diplesetkan menjadi "nyupir", diikuti dengan motto "karena tak ada piring tak pecah, maka patuhilah rambu-rambu lalu lintas!"
Baiklah, syndrom pulang kampung episode dua.
Itu salah satu twit terbaru seorang teman, namanya Bang Dobby. Saya jatuh cinta, sebagai seorang yang menggemari pekerjaan cuci piring. Cuci piring bagiku adalah salah satu aktifitas mulia, hiperbolik banget yak! Ahahahah... Bahkan di rumah, tercipta kelakar kalau cuci piring itu diplesetkan menjadi "nyupir", diikuti dengan motto "karena tak ada piring tak pecah, maka patuhilah rambu-rambu lalu lintas!"
Baiklah, syndrom pulang kampung episode dua.
Jumat, 19 Juli 2013
Come on Eileen
Label:
buku,
curhat picisan,
film,
keluarga,
musik
Masih dari film yang sama, The Perks of Being a Wallflower. Seperti de javu melihat adegan yang ini, ternyata pernah dengar lagu ini, tapi versi skanya oleh Safe Ferris, tahun 90an. Aslinya lebih ngepop, Dexys Midnight Runners, mewakili musik era sebelumnya, tahun 80an.
Sam : Oh my God! They're playing good music.
Patrick : Holy shit. Holy shit. They are, they're playing good music!
Sam : Living room routine?
Patrick : Living room routine, yeaaah!
Dua saudara tiri yang gila....
Saudara? Hem, jadi rindu mereka kalau puasa kayak gini. Kebanyakan teman sudah mudik padahal baru pekan kedua bulan puasa. Libur sekolah/kuliah membuat syndrom pulang kampung datang lebih awal daripada agenda mudik lebaran tiap tahunnya.
Pengen pulkam juga. Hayyuk, kita mudik. Agar kota menjadi sepi, agar kota menjadi tidak ada apa-apanya. *dendam amat tampaknya* Tapi, kerjaan di kantor terlanjur menumpuk ke tenaga yang tersisa, termasuk saya. Baiklah, dua-tiga minggu ini harus sabar melewati deadline yang berlapis-lapis, belum habis tugas pertama tugas kedua sudah menunggu. Rasanya, sangat "menyerukan".
Sam : Oh my God! They're playing good music.
Patrick : Holy shit. Holy shit. They are, they're playing good music!
Sam : Living room routine?
Patrick : Living room routine, yeaaah!
Dua saudara tiri yang gila....
Saudara? Hem, jadi rindu mereka kalau puasa kayak gini. Kebanyakan teman sudah mudik padahal baru pekan kedua bulan puasa. Libur sekolah/kuliah membuat syndrom pulang kampung datang lebih awal daripada agenda mudik lebaran tiap tahunnya.
Pengen pulkam juga. Hayyuk, kita mudik. Agar kota menjadi sepi, agar kota menjadi tidak ada apa-apanya. *dendam amat tampaknya* Tapi, kerjaan di kantor terlanjur menumpuk ke tenaga yang tersisa, termasuk saya. Baiklah, dua-tiga minggu ini harus sabar melewati deadline yang berlapis-lapis, belum habis tugas pertama tugas kedua sudah menunggu. Rasanya, sangat "menyerukan".
![]() |
| hanya di Indonesia |
Jumat, 05 Juli 2013
sederhana itu menggemaskan
Label:
artikel siluman,
ideologi sotta',
keluarga
Kalau pulkam ke rumah tante, kalau sudah maghrib, tak ada lagi bebunyian kecuali suara alam. Dengan mudah telingamu bisa menangkap suara tetangga yang sedang tertawa terbahak-bahak saling melucu di antara penghuni lainnya. Tanpa punya radio pun, kau bisa terhibur dengan suara penyanyi dangdut dari radio sebelah rumah. Tapi, sudah banyak keributan yang diada-adakan di sana, listrik sudah masuk.
Kalau malam dinginnya melebihi dinginnya ciptaan pendingin ruangan, lebih nyaman berbaring di dalam kelambu apalagi banyak serangga-serangga terbang yang mengincar. Saya paling ingat, kalau subuh tiba, Nenek menyuruh saya memunggungi punggungnya, kedua tangan saya dilipat di depan dada melawan dingin.
Alm. Bapak dulu selalu begadang untuk memenuhi order cuci fotonya (jaman foto masih pakek negatif/klise), saya sering menemaninya. Suatu dini hari dia bilang kalau dia mendengar suara kakek sebelah rumah batuk-batuk lebih parah dari biasanya. Dan benar saja, subuhnya terdengar suara anak-cucunya menangis, sang Kakek meninggal.
Jaman dulu, belum ada FB atau Twitter untuk mengisi waktu kejombloan para jomblowan/wati, jodohmu tergantung dari orang tuamu. Jika para orang tua sudah bertemu, biasanya para gadis-gadis sudah was-was. Sekarang banyak yang mengeluhkan jomblo tapi tak mau dijodohkan.
Kalau malam dinginnya melebihi dinginnya ciptaan pendingin ruangan, lebih nyaman berbaring di dalam kelambu apalagi banyak serangga-serangga terbang yang mengincar. Saya paling ingat, kalau subuh tiba, Nenek menyuruh saya memunggungi punggungnya, kedua tangan saya dilipat di depan dada melawan dingin.
Alm. Bapak dulu selalu begadang untuk memenuhi order cuci fotonya (jaman foto masih pakek negatif/klise), saya sering menemaninya. Suatu dini hari dia bilang kalau dia mendengar suara kakek sebelah rumah batuk-batuk lebih parah dari biasanya. Dan benar saja, subuhnya terdengar suara anak-cucunya menangis, sang Kakek meninggal.
Jaman dulu, belum ada FB atau Twitter untuk mengisi waktu kejombloan para jomblowan/wati, jodohmu tergantung dari orang tuamu. Jika para orang tua sudah bertemu, biasanya para gadis-gadis sudah was-was. Sekarang banyak yang mengeluhkan jomblo tapi tak mau dijodohkan.
Rabu, 12 Juni 2013
BENCInta
Label:
artikel siluman,
curhat picisan,
keluarga,
sok bijak
Seperti yang selalu kukeluhkan tiap hari. Kesal dan kadang marah kepada ponakan jika tiba-tiba mereka sulit dikendalikan, seolah saya tidak pernah jadi anak kecil, tidak pernah nakal.
Begitupun ketika melihat orang yang mengganggap dirinya telah menjadi sosok lebih bijaksana daripada orang lain, membuatnya mudah mencaci maki orang lain. Mis : orang dewasa yang bully abg labil, golongan alay dan lebay, doyannya menye-menye melulu. Seolah mereka tak pernah remaja saja, seolah mereka tak pernah melewati tahap itu walau dalam era berbeda.
Begitupun ketika melihat orang yang mengganggap dirinya telah menjadi sosok lebih bijaksana daripada orang lain, membuatnya mudah mencaci maki orang lain. Mis : orang dewasa yang bully abg labil, golongan alay dan lebay, doyannya menye-menye melulu. Seolah mereka tak pernah remaja saja, seolah mereka tak pernah melewati tahap itu walau dalam era berbeda.
![]() |
http://ilovethistee.tumblr.com/post/1197097061 |
Langganan:
Postingan (Atom)






































