Tampilkan postingan dengan label fiksi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label fiksi. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 23 Januari 2016

Tak Ada Foto Kita Berdua

Tak ada gambar kita bersama, ini menyedihkan melihat bahwa sekarang semua hal tak ada yang luput dari mata digital. Sepertinya kita malas memanfaatkan kecanggihan zaman sekarang. Ada banyak fotomu, tapi tak ada saya di foto tersebut.

Yah, begitulah, sepertinya banyak yang akan kita lalui, secara tidak bersama.

Minggu, 29 November 2015

NORAK VS COOL



Seorang perempuan, dicap perawan tua oleh orang-orang di sekitarnya. Suatu hari seorang pemuda datang ke desanya untuk urusan pekerjaan. Pemuda ini lumayan tampan, berpendidikan dan sopan. Pemuda ini langsung mencuri perhatian perempuan tersebut, baginya pemuda itu sempurna. Bukan pertama kalinya dia menyukai seorang laki-laki, tapi baginya pemuda ini unik, tidak seperti pemuda-pemuda di desanya yang kebanyakan hanya bertani. Sepertinya rugi jika dia tidak melakukan apa-apa. Maka untuk pertama kalinya, dia mengenalkan lipstik ke bibirnya, tau-tau nanti pemuda itu lewat depan rumahnya. Tak perlu ditanya lagi, semua orang tersenyum, mungkin bagi mereka lucu, norak.

Memang, mencintai itu norak, kangen itu norak, (pantaslah Kangen Band begitu, namanya saja demikian), tapi kau tak bisa menangkisnya. Tapi mencintai diri sendiri rasanya lebih cool, lebih keren ketimbang keliatan norak. Karena mencintai diri-sendiri bukan mengenai luluhnya diri akan pesona dan karisma. Menerima diri dengan segala kebaikan dan dosa* yang telah diperbuat, bukan mengenai puji-pujian gombal lalu kemudian melayang karenanya. Tidak perduli dengan pandangan orang tentangmu, apakah yang kau lakukan baik atau buruk, itu tidak penting lagi.

Tapi sepertinya aku masih sulit melakukannya, satiap hari aku  sibuk memikirkan, aku salah apa sama orang lain, aku sibuk mencela diri sendiri daripada harus meminta maaf kepada orang itu, aku banyak mengecewakan orang-orang di sekitar saya. Tiap malam, itulah menu insomnia di kepalaku. Tapi ajaibnya, sesibuk-sibuknya aku membenci diriku sendiri, aku terkadang masih (sempat) kangen… kamu!**

Tapi buat apa mencintaimu jika mencintai diriku sendiri saja sudah membuatku puas?




*karena kita merasa pantas melakukannya, dan orang itu pantas menerimanya, tak ada manusia yang sempurna.
** “cieeee cieeee” dan pura-pura batuk itu juga norak

Senin, 28 September 2015

DI UJUNG JALAN* by SAMSONS

Selamat ulang tahun.... 

Banggakan terus golongan darahmu itu, cintai terus tanggal lahirmu itu, zodiakmu itu. Walau aku tahu banyak yang kau sembunyikan, seolah-olah dunia ini sangat butuh dirimu, seolah-olah banyak rahasia penting yang harus kau jaga baik-baik. Segitu saja, tidak berbagi, semua kau simpan untuk dirimu sendiri.

Jika bagimu ini ujian bagi orang yang menyayangimu, maaf, mungkin kau telah kelewatan. Kau tidak bisa seenaknya datang-pergi-datang ke kehidupan seorang. Semua orang menjadi tidak penting bagimu. Kau tidak peduli orang itu sedih atau tidak akan sikapmu, yang penting kau bisa bahagia dengan pergi dan datang semaumu. Hubunganmu dengan orang sebatas “membutuhkan”, kau butuh berbuat baik pada mereka, setelahnya pergi.

Saat kau menghilang, pergi tak ada kabar setelahnya, dia lelah menunggu, kau akan ''tidak ada'' baginya. Tiba-tiba kau datang, mungkin dia berusaha tetap baik terhadapmu, tapi tak akan sama lagi. Dia bukan lagi yang kau kenal dan kau bukan lagi yang dia kenal. Mungkin, kau tidak berhak lagi muncul lagi di kehidupannya, kau telah membuat kosong sebuah tempat di hatinya yang hanya diperuntukkan untukmu.

Ketika seorang bertanya, mengapa kau menyembunyikan dirimu dari dunia, “Hidupku sekarang sedang rumit!”, keluhmu. Yah, kalau rumit, hadapi. Oh, atau perlu kutambah lagi, kau juga sepertinya mencintai “masalah”mu itu. Selamat!

Kau terlalu mencintai dirimu walau hanya sesempit zodiak dan golongan darah. Jangan pernah berhenti, ataupun bosan mencintai itu semua, hal-hal remeh itu. Karena kalau kau bosan, kau tidak akan tahu siapa yang patut kau cintai. Hanya itulah yang kutahu tentang dirimu sekarang, kau telah menghentikan “perkenalan” itu tiba-tiba. Aku mengenalmu, dulu, tidak tahu sekarang.



Dari orang yang membenci semua orang, termasuk dirimu, terlebih lagi dirinya sendiri.


*interpretasi lagu

Senin, 13 Juli 2015

jomblo, THR dan pete-pete

blablablabla...

A : weh... THRmu duluwe
B : janganko tanya THR dulu, ka tidak ada ituwe kupakek mudik eee..
A : mentong kau, anak kampungko
B : kau iya? nda' mudikko?
A : buat apa mudik, kita kan anak kota.
B : hahahaha, bagus di'. sombommu. bilang saja kere, yah bagus juga, biar kere yang penting sombong, ndak berlakumi itu rendah hati sekarang di!
A : harus ituuuu.. we, bagaimanami urusanmu sama calonnu?
B : nda tahu juga bagaimana ini, habis lebaran kupikir lagi. LDR itu sebenarnya Imposible Relationship.
A : hahahaha...
B : kau iya, berapami pacarmu mudapat cinlok di pete-pete?
A : tunggu dulu kusurveyki nah, supaya valid jumlahnya berapa...
B : yayayaya... sombong lagi
A : daripada kau, makanya kembalimoko naik pete-pete lagi...

blablablablabla.....

Selasa, 07 Juli 2015

Bukan Puisi

Sudah lama rasanya tidak menulis surat cinta, rasanya bahagia sekali saat ada sesuatu yang menuntut untuk diungkapkan. Saya tidak tahu, saya semakin tidak percaya kata puitis, bagiku itu semua gombal. Jadi, maafkan jika nanti kau merasa digombal, kalau memang lebay, itulah saya sekarang. Lebay hanya cara orang lain menyalahkan kita dengan apa yang kita rasakan, menuduh dan mencap kita berlebihan, mereka hanya sedang tak merasakannya sekarang. Mereka tidak tahu, bahwa mereka akan lebay juga jika tiba pada gilirannya.

Setiap hari rasanya berat sekali, tapi ada ingatan-ingatan ini yang membuatkanku perahu senyum, penyelamat untukku sebelum ditenggelamkan berbagai macam masalah seharian. Mengingatmu, adalah hal yang paling menyenangkan akhir-akhir ini. Tak ada waktu luang lagi karena setiap jam selalu saja terngiang namamu. Tak ada yang mendengarnya, termasuk dirimu. Namamu menjelma mantra bagiku, bahwa ketika saya sedang berhadapan dengan masalah ada dirimu, yang di pikiranku, yang menyingkirkan semua itu.

Saya ingat celana jeans tuamu tiga tahun lalu. Robekan di lututnya itu menunjukkan betapa setianya dia menemanimu. Sepuluh tahun mengenalmu sebagai kenalan biasa, membuatku merasa telah berfikir salah tentangmu, bahwa kau suka tampil klimis dan rapi, saya salah. Kau tak seperti dugaan saya selama ini. Kemeja kotak-kotak hitam-biru itu juga, terlalu sering kau kenakan, beruntungnya dia, menjadi kemeja kesayanganmu.

Sepuluh tahun mengenalmu tapi mungkin baru enam bulan ini tahu, kalau ada lesung pipi yang menghiasi wajahmu. Ada dua titik tai lalat mengawal bibirmu. Hal-hal sekecil itu, entah mengapa terasa manis dan penting. Dan jangan khawatir, saya tidak ingin mendesak dan memaksa, izinkan saya mengenal dirimu sedikit demi sedikit, seperti halnya detail-detail itu. Biarkan saya menghayati semua itu, saya tidak mau terpaksa menghafal kalau ujungnya harus lupa dan itu hanya akan membuat dirimu berlalu, kau tahu, maksudku kita jadi kenalan biasa lagi. Saya tak mau.

Baru bulan lalu tahu kalau kau itu suka film drama, entah ini cute atau lucu, katakan saja saya memang usil, sering menertawai seleramu, menyepelekan lagu-lagu favoritemu. Terkadang saya berfikir, sayalah lelakinya, kaulah perempuannya. Hahaha, oke saya memang usil, kau tak mungkin mau jadi perempuan bagi saya yang lelaki. Oke, oke, saya tetap perempuannya, saya mengalah. Lalu kau tertawa menang, tak indah tawa itu karena suaramu sejujurnya cempreng, hahaha. Nah tuh usil lagi kan saya! Tapi itu yang menyenangkan karena itulah jalan yang bisa kutempuh untuk mendengar tawamu, sesering mungkin.

Saya tak mungkin lupa tempat kita berdiskusi, saling menertawakan selera musik dan film masing-masing. Saya sering duduk di situ, dengan kursi kosong tempatmu duduk, di depanku. Terbayangkan, kau di sana, ketika kita hening, kehilangan topik, kita buru-buru menengok gadget masing-masing, handphone poliponik yang tidak canggih yang entah mengapa tibatiba membuat empunya sibuk. Kau menyembunyikan apa dengan itu? Rasa canggungkah? Kalau saya, berharap ada seseorang yang ingin menculikku segera sebelum aktingku ketahuan olehmu.

Mengapa harus menyembunyikan itu semua? Karena saya tak mau mendesakmu, saya tak memaksamu mengambil keputusan, entah itu baik atau buruk untukku. Tak ada yang bisa menjamin kita akan terus menjalaninya seperti ini, melangkah lebih jauh lagi atau justru berlalu begitu saja, tidak ada yang tahu. Jadi saya tak mungkin menuntut kau atau saya akan berjanji sesuatu, hubungan ini jangan terlalu dibebani dengan hal-hal seperti itu, itupun kalau kau masih menikmati hubungan ini. Karena berjanji sehidup-semati, bersama dalam suka dan duka, kedengaran sangat gombal, ya kan? Biarkan puisi-puisi itu mewakilinya, jangan kita, kita bukan puisi. Kita, tak percaya lagi dengan itu semua. Betapa tidak romantisnya kita.

Minggu, 15 Maret 2015

ANTAGONIS

Empat jam yang lalu menyukaimu, ingin memberitahumu tentang perasaanku. Dua jam kemudian justru niatku berubah jadi ragu. Orang baik, biasanya mudah dirindukan tapi tak mau dituntut untuk melunaskannya.

Terbayang akan masa depan, kau yang melulu akan menghamparkan maaf untuk segala kesalahanku, tiba-tiba merasa jadi jahat, tiba-tiba merasa tidak pantas. Atau memang begitulah seharusnya yang terjadi? Kebaikanmu akan diuji dengan hadirnya sosok jahat seperti saya ini, begitu?

Ingin jadi jahat saja jika dengan itu bisa mencapaimu, boleh ya? Sedetik yang lalu bisa saja terjadi suatu kejadian yang merubah kita, entah menjadikan kita semakin kental atau asing. Jika hari ini tidak siap, maka selanjutnya akan semakin tidak siap, semakin tidak mengenal.

Jadi, tolong dijawab secepat mungkin, sebelum saya diombang-ambingkan lagi perasaan menjadi ragu.

Senin, 22 Desember 2014

CACAT

Sepuluh tahun lalu...
Dia yang baru kukenal dua hari, menghampiri kursi tempatku duduk dan mengambil bukuku. Didapatinya dua buah cerpenku, dua buah cerpen yang kubuat saat SMA, ‘’kamu suka nulis?’’ saya tak menjawab, dia bagiku masih orang asing, ‘’saya juga suka nulis.’’ tambahnya. Dosen masuk, kami berhamburan menemukan kursi masing-masing.

Lima tahun lalu...
‘’Sedang bikin apa?’’, sms seperti itu sering mampir di handphoneku, dari dia seorang, keluargaku pun sudah tahu kedekatan kami, demikian pun dengan teman seangkatan. Ada yang bilang kami seperti saudara, punya kemiripan wajah, ada yang beling hubungan kami sepasang kekasih. Whateverlah, orang hanya mencap, kami yang menjalaninya.

Setahun yang lalu...
Handphone saya hampir tak punya kegunaan lagi selain melihat jam, dan hanya sebuah sms penting pernah mampir, ‘’Apa kabarmu?’’, itu bunyi smsnya. Hai orang asing, tiba saatnya kita jadi kenalan biasa saja. Mungkin saya yang lelah mengenal setiap dirinya, kini muncul dirinya yang baru lagi. Semua teman dan keluarga menanyakan kabarnya, saya tak tahu harus menjawab apa. ‘’Teman macam apa kamu tak tahu apa-apa tentang temanmu?’’ Yah, teman macam apalah saya ini.

Saya tak tahu apa-apa lagi tentangnya, hubungan ini hanya punya satu kaki untuk melangkah ke depan, tak ada kaki kiri dan kanan yang bergantian di depan dan satunya menahan berat badan di belakang, pincang. Sebelahnya lagi lunglai, tak meminta pertolongan, asik menikmati kesakitannya sendiri. 

Mungkin akan ada sapaan basa-basi, dan hanya balasan ‘’hehehe’’ sekedarnya dari saya atau darinya. Seperti halnya kaki pincang tadi punya sanggahan lagi, tapi dari kayu, yang lunglai itu tetap asik di situ menghabiskan dukanya.

Senin, 11 Agustus 2014

PENGAKUAN MASHANDA

Setelah membuat beberapa video, kali ini saya membuat pengakuan tertulis.

Tidak perlu menjadi orang dewasa untuk memahani anak-anak, orang dewasa hanya peduli pada lucu atau tidaknya anak itu. Hanya anak-anak yang mengerti anak-anak. Saya sering bertengkar dengan anak-anak yang saya temui karena saya menganggap pendapat mereka pentingg, bukan seperti orang dewasa yang selalu bilang kalau “ah, sudahlah, dia kan hanya anak kecil!”

Bahkan dari penglihatanku, orang dewasa yang dipandang pendapatnya itu, kalau bukan sekolahnya tinggi, ataukah kaya, ataukah punya jabatan, tapi kebanyakan orang dewasa baru dimintai pendapatnya jika sudah menikah. Ini sangat tidak adil terutama bagi anak-anak.

Oprah Winfrey belum pernah menikah tapi dia sudah berbuat banyak kebaikan. Kebaikanlah yang membuatnya didengar, kebaikanlah yang membuatnya punya banyak keluarga, bukan dari hubungan darah ataupun perkawinan. Apa-apaan ini, saya malah menjadi anak yang antifamily. Meski demikian, saya selalu menangis jika menonton, atau mendengar kisah keluarga yang mengharukan, karena kata orang itu sudahduah naluri pemberian tuhan, jadi begitulah, saya melawan naluri pemberian tuhan (???)

Tulisan macam apa ini, tidak menginspirasi, hanya tumpahan keegoisan semata.



*Mashanda, tanpa huruf R. Masha? Masha yang ditemani beruang itu? Bisa jadi….



Minggu, 20 Juli 2014

Surat Kepada Prabowo dan Jokowi

Kepada Kandidat Nomor 1*

Sudahlah, mungkin RK bukan jodohmu, tidak usah ditangisi...



Kepada Kandidat Nomor 2**

Gosip-gosip yang nyebar, katanya RK sudah melamarmu dua kali dan belum pernah diterima. Oh, come on! Terimalah lamarannya, kalau tak, masak RK harus balik ke Kandidat Nomor 1. Kalau RK sudah gak punya perasaan ma No. 1, masak saya yang harus maju gitu jadi Kandidat Nomor 3. (cuih, ngarep!)



Catatan
RK : Ranbir Kapoor
* : Depika Padukone
** : Katrina Kaif

Rabu, 19 Februari 2014

TIM dan TOM


Ini film apa? Saya yakin blogger film juga hampir semua tak pernah melihat poster di atas. Tapi, Om yang punya lesung pipi itu, siapa dia, saya yakin banyak yang tahu. Kalau Papa Tom Hanks tak kunjung datang mengadopsi saya sebagai anaknya, baiklah, sekarang saya kenalan ma Uncle Tim Robbins.

Sabtu, 18 Januari 2014

EXPECTING RAIN

Untuk ERNISA PURBA


Sebelum kau melangkah pergi lebih jauh meninggalkan cerita-cerita sedih dan pilu yang kita bagi satu sama lain, izinkan saya menceritakan sesuatu padamu.

Hari ini kita janjian bertemu, di sebuah pantai, entah itu di kotamu, di kotaku atau bisa jadi di kota lainnya. Ranselku dipenuhi berbagai macam hal, kita berencana untuk piknik di sana. Tapi rencana tinggal rencana, mendung menyambut kita di sana.
Hujan deras, semua orang berlari untuk berteduh, kecuali kita. Entah mengapa rasanya ini lebih indah dari piknik. Entah hujan yang meresap ke dalam diri kita atau sebaliknya, sepertinya itu tak penting lagi.
Kita tetap berdiri, berpegangan tangan menghadap pantai. Rasa-rasanya tubuh ini mencair, kita menangis, tak penting lagi apakah itu tangis sedih atau senang. Kita dewasa, kita layak merayakan dan menghadapi itu semua. Tapi percayalah, dalam hatiku berdo’a, itu tangis bahagiamu.

*Anggaplah ini Pesta Bujang khayalan untukmu.

Kamis, 14 November 2013

MELUKA dan MELUKI 2

Apa yang kita dapatkan dengan hanya saling mendoakan? Apa yang kita dapatkan dengan saling merelakan? Kau masih terluka, dan aku sakit dengan keadaan itu.

Aku menyukaimu. Tak pernah kutemui orang sebaik dirimu, kau mendengar semua masalahku, dan membiarkan dirimu hanya sebuah misteri. Kau terlalu baik, kamu jahat! Kau biarkan aku menanggung beban rasa berhutang padamu.

Kau sering meminta maaf, dengan segera kumaafkan karena kutahu kau juga memaafkan semua khilafku, kita impas begitu saja, setelahnya tak ada lagi. Kau tidak punya lagi masalah denganku, tapi rasanya begitu hampa, seperti perpisahan tanpa harus mengucapkan "selamat tinggal". Rasa-rasanya dibenci olehmu lebih baik daripada harus menjalani keadaan seperti ini.

Mungkin kau merasa aku hampir tidak pernah menanyakan kabarmu, atau mungkin sama sekali kau tak memikirkanku. Kuberitahu kepadamu, diam itu berbeda dengan tidak berbuat apa-apa. Seseorang yang jarang menyapamu ini, justru orang yang paling mengkhawatirkanmu. Lalu dia, pergi kemana? Yang telah merubahmu seperti dia ; tumpul, tuli, buta, dangkal.

Seperti katamu, jarak memang membuat tuli dan buta. Jadi itu maksudmu menjauh? Mengapa kau gampang sekali menyalahkan jarak? Mengapa dengan mudahnya kau bisa berlindung di balik "jarak" itu? Tapi kali ini aku bisa membantahmu, jarak menajamkan insting dan perasaanku, sia-sia saja kau menjauh menyembunyikan sakitmu.

Aku sangat tahu kau sakit, mungkin bagimu bukanlah aku yang bertanggung jawab. Tapi kumohon beri celah sedikit untukku agar bisa menjengukmu. Mungkin benar, aku bukan obat, tapi justru dengan begitu akupun ikut terluka, kau tak mengijinkanku sembuh.

Tak adakah yang bisa kita lakukan lebih dari semua ini? Mengapa kita masih berharap bahwa kita masing-masing bisa bahagia? Nasib belum mau melepaskanmu sebagai mainannya, yah, mungkin akupun suatu hari harus ditampar oleh takdir, bahwa luka itu sudah lama sembuh oleh waktu, aku saja yang selalu dan terlanjur meraung-raung, lupa berhenti, lebih tepatnya tak mau berhenti.

Minggu, 28 Juli 2013

tak perlu diberi judul

Kita lelah bertengkar dengan jarak, lalu menyalurkan rindu dalam kata, gambar dan suara, mengendarai kabel-kabel itu. Kau mungkin membacanya, mungkin juga tidak. Mereka berpesta di sana hingga tak ada yang tersisa untuk dirindukan lagi. Ketika kita bertemu, kita hanya menyisakan diam. Jangan khawatir, saya tak menyalahkanmu. Saya sudah terlebih dahulu mengutuk diriku 'membosankan'.

Kita, bukan belia lagi. Kita pernah memandang sebuah foto, sepasang nenek-kakek duduk berdampingan, bahagia itu ada sepanjang umur. Kau mengatakan kita akan seperti mereka nanti. Namun kita bukan pemimpi lagi, kita sudah menyatu dengan kenyataan. Kita juga sudah terlalu tua untuk malu-malu karena rayuan.

Mungkin,
kita tak layak
tak butuh,
tak perlu,
tak ingin
bertemu lagi.

Rabu, 12 Juni 2013

Cinta Platonik

Saya pernah menyukai beberapa orang sebelumnya, saya pernah sangat ingin memilikinya. Tapi tidak denganmu, apakah ini pantas dikatakan cinta?  Bagitu banyak yang menghampiri dirimu, yah kau primadona. Mereka berusaha dekat, memelukmu, menciummu, entah apa lagi selanjutnya. Saya, tidak bisa berlaku seperti itu, ada banyak tembok yang harus kurobohkan agar aku bisa menemuimu.

Mereka berujar, menggambarkan pipimu yang halus, "seperti mencium pantat bayi". Saya tidak bisa menciummu, bahkan tidak ingin. Saya tidak mau merusaknya, biarkan begitu adanya. Saya tak mau menyesal di kemudian hari jika saya adalah pelaku yang telah membuatmu cacat akan pesona. Biarkan saya tetap menjadi bukan siapa-siapa untukmu.

Terkadang terasa sakit ketika kau tak pernah sekalipun menanyakan kabarku. Semua berita tentang diriku sebisa mungkin kusisipkan dimana-mana, di dunia maya, di telpon genggam dan tak lupa pula pada udara. Kau akan baru tahu ketika kita tiba pada topik itu, kau bertanya "bagaimana bisa terjadi demikian pada dirimu?", pertanyaan yang selalu terlambat.

Sebaliknya, saya mencari tahu apapun tentang dirimu, tanpa bertanya apapun padamu, saya mencari jawaban-jawaban pertanyaanku sendiri tentang dirimu. Saya mencintaimu dalam diam. Biarkan Tuhan meramu harapanku terhadapmu, tanpa kau tahu ternyata itu adalah do'aku yang terkabul untukmu.

Beberapa orang, sepertinya rela mati untukmu, mungkin bunuh diri. Kau pahlawan bagi mereka. Tapi tidak bagiku, kau bukan siapa-siapaku. Seorang teman pernah mengataiku tolol, "Kaulah yang menyelamatkan dirimu sendiri, bukan orang lain. Kau pahlawan bagi sejarahmu".

Kalimat tersebut menamparku, semua orang  bisa dengan sangat mudah bunuh diri. Kau atau apapun itu hanya jadi penyebabnya, namun tetap kaulah sendiri yang memutuskan 'jadi atau batal' bunuh diri.

Perempuan-perempuan itu berebut ingin jadi pendamping hidupmu, saya hanya butuh menyayangimu, tanpa perlu menyakitimu. Itu saja.



--- untuk CLUB 27
semoga kau mudah melewatinya :)

Kamis, 11 April 2013

24 Mei 2013

Ini tentang MELUKa dan MELUKi

Dirimu terlihat sering mengenakan topi dan kacamata hitam. Banyak yang memuji bahwa dirimu tampak menakjubkan mengenakannya. Orang-orang itu hanya tahu tentang fashion semata, mungkin saja yang menemukan kacamata hitam dan topi pertama kali adalah orang-orang yang takut terlihat, terang matahari baginya adalah musuh. Sesekali, dari jauh kau agak merunduk, seperti menyembunyikan mata dengan topi itu.

Dari dekat, kacamata itu hanya memantulkan wajahku sendiri. Kau banyak bercerita tentang kepedihan-kepedihan orang lain. Tapi saya merasainya itu adalah kesakitanmu sendiri. Kau lebih nyaman menceritakan dirimu diperankan sebagai orang lain, dengan begitu dirimu merasa tegar.

Ingin suatu waktu nanti memelukmu erat sampai saya bisa merasai kegelisahanmu juga. Pundakku siap menimang airmatamu. Kau tahu, yang membuat hidup ini terasa panjang bukanlah kegembiraan. Jadi, mari kita merayakannya dengan menangis sepuas-puasnya.

Mungkin saya salah, kau tak butuh pelukan dan menangis. Kau hanya butuh topi dan kacamata, menjadi dalang bagi cerita-cerita sedih yang kau utarakan. Lalu tiba-tiba, kisah itu adalah cuplikan dari hidupku sendiri.

Kau benar, mungkin justru sayalah yang ingin sekali bertanya padamu "bisakah aku memelukmu?"

Rabu, 02 Januari 2013

Menyapamu

Hai, sedang musim apa di sana? Sepanjang hari tadi hujan deras. Saya tidak bisa menjemur pakaian yang saya cuci dua hari ini. Hujan beberapa hari ini tak memberi kesempatan sedikitpun.

Sudah lama ya kita tidak saling menyapa padahal tiga minggu yang lalu kita bertemu. Kau tertawa riang dikelilingi orang-orang yang kurang kukenal. Saya diam memandangimu dari jarak beberapa meter, bermain tebak-tebakan dengan perasaan sendiri, apakah ada tempat kosong untukku di situ, di dekatmu? Tapi saya memilih menunggu, berkonsentrasi mengirim sinyal keberadaanku dalam sunyi.

Kau berdiri, diikuti dua orang kemudian, perbincangan yang diam-diam sejam kuikuti dari jauh telah bubar. “Hey, sori. Aku tidak melihatmu tadi. Aku duluan ya, ada urusan!” Saya bisa apa selain tersenyum, hal terbaik yang pantas kau terima dariku dalam keadaan seperti ini. Kau berlalu, saya tidak lagi bisa terdeteksi olehmu, saya telah hilang.

Namun saya berhasil menghibur diriku. Saya masih sering berbagi hal-hal lucu kepada dirimu di berbagai jejaring maya yang menghubungkan kita. Kita mungkin kehabisan topik di dunia nyata, tapi semoga saya tak renta lelucon di dunia maya. Maka saya rajin menyapamu di sana sampai empat buah gambar menggetarkanku, saya sedang merasa dalam bahaya.

Kepalamu bersandar di bahunya, bibirmu tersenyum. Saya hanya bisa memegang bahuku, membayangkan kepalamu terbaring di sana. Sambil membelai rambutmu, kita sering memperhatikan gelap perlahan-lahan menghisap senja di tepi danau itu.

Betapa beruntungnya kamera lelaki itu, bisa menangkap adegan mesra kalian. Saya tidak punya kamera atau apapun itu untuk menjelaskan betapa merananya bahu kananku ini. Apakah kau masih ingat, saya pernah mencandaimu kalau bahuku akan rendah sebelah karena seorang gadis telah menjadi langgananku, meletakkan kepalanya di salah satunya? Ah, mungkin kau telah lupa. Kepalamu telah terbuai oleh sebuah bahu yang baru dan telah ada sebuah bahu yang telah merasa kosong.

Menyapamu, mungkin adalah hal bodoh yang kulakukan malam ini, tapi tidak sepenuhnya salah. Saya menyapamu sebenarnya untuk menyadarkan diriku sendiri. Ketika kau merasa tak ada sapaan dari yang kau cintai itu artinya saatnya kau menyapa dirimu sendiri, dengan air matamu sendiri.

Semoga besok masih hujan agar tak ada yang menyiangi keramaian di pipi, dengan begitu saya tak merasa kesepian.

Kamis, 25 Oktober 2012

UNTUK AGUSTUS

Senang sekali ketika saya berhasil menemukanmu di antara ribuan pengguna dunia maya. Itu namamu, Agustus, saya tahu itu benar-benar dirimu. Tapi setelah kusapa, sepertinya saya harus kecewa. Itu ternyata Agustus yang lain, bukan dirimu. Yah, Agustus memang bukan hanya dirimu, ada banyak Agustus-Agustus yang lain. Saya mengabaikan, tapi saya tetap menyiram keyakinan itu bahwa Agustus itu adalah dirimu, temanku yang dulu. Hanya karena dia dan kau sama-sama bernama Agustus, saya memelihara kegembiraan itu walau mungkin sebenarnya tak ada gunanya.

Hingga suatu ketika, saya mengetikkan lagi namamu dan muncullah gambarmu. Saya terkejut, itu benar-benar dirimu, dengan seorang wanita, sedang memakai baju adat Palembang berwarna kuning cerah, saya tiba-tiba bahagia. Namun ternyata, alamatmu adalah alamat Agustus yang dulu, yang mengaku bukan dirimu. Saya memang marah tapi lunglai, karena kau teman baikku. Saya tidak kuasa, saya menyerah, berusaha menenangkan diri sendiri, meyakinkan diri bahwa memaafkan lebih baik.

Bohong itu memang tidak baik, tapi ada suatu waktu yang membuat kita butuh melakukannya. Saya tidak tahu mengapa tiba-tiba berpendapat seperti itu, saya juga tidak mau menduga kalau ada hal yang luntur dalam hati saya yang berkaitan dengan moral. Apakah ini pertanda dewasa? Sepertinya tidak, saya malah merasa ini tanda-tanda menuanya pemikiran saya. Saya melihat orang tua (lebih tepatnya manula) itu lebih banyak kompromi daripada harus melawan.  Kondisi dan kerentaan yang semena-mena menghabisi fisiknya, membuatnya harus menyerah.

Sampai hari ini, jika ada sahabat lama, teman sepertumbuhan yang masih mengingat saya, jika saja hati ini seperti wajah, maka kedua matanya akan menangis. Bahwa pertemanan, pekerjaan-hati yang selama ini kulakukan dari dulu berbalas. Walau menangis, tapi hati itu senang. Lebih baik menangis karena senang daripada cemberut karena sedih kan? Sayangnya yang terjadi justru yang kedua. Walau muram, tapi hati ini masih menyisakan kekuatan untuk berdo’a.

Semoga kau tersenyum walau saya tak perlu melihat untuk memastikannya. Saya bukan menganggapmu lupa akan kita, saya tak pernah menganggapmu sesepele itu. Tapi jika ada ingatan yang membuatmu bahagia daripada mengingat kita, silakan! Kau tahu? Karena itu kuanggap do’aku yang dikabulkan, do’a adalah tempat paling terlemahku karena saya masih mengingatmu dengan sungguh-sungguh.

Sehingga, kesimpulanku kali ini adalah : terkadang lupa itu membahagiakan, dan begitupun sebaliknya.



pic from link
Ikan-ikan itu pasti senang berenang di udara.
Biarlah lupa (habitat) yang penting happy.

Selasa, 09 Oktober 2012

Malaikat Gombal

"Saya berhenti jadi malaikat, saya..." katamu sambil meletakkan sayapmu di depan pintu.
Terbata kau melanjutkan, "Saya... saya mencintaimu!"

Masa Depan Jendela

Suatu hari nanti, jendela bukan lagi sesuatu yang harus dibuka-tutup. Dia hanya sebuah monitor besar yang menempel pada dinding. Semua hunian tak butuh lagi ventilasi, rumah hanya berbentuk kotak yang sudah cukup dengan jendela digital.

Kau bisa membukanya hanya dengan menyentuhnya, seperti I-Pad tahun 2000an. Atur gambar yang ditampilkan sesuai selera. Jika kau menginginkan berada di sebuah kapal selam, maka jendela itu seolah berisi air yang luas, ikan-ikan berenang di sana, ada pula ikan yang mencium jendelamu, ingin menyentuhmu.

Ada pula waktunya, kau ingin sebuah suasana romantis sesegera mungkin. Kau bisa mensetnya, membuat suasana Kota Paris zaman Revolusi Industri, ketika semua orang masih lalu lalang dengan jas panjang melewati lutut untuk melawan dingin, para wanita tampak cantik dengan gaun vintage mereka. Kau melompati zaman...

Dari jendela, kau bisa melihat Menara Effiel hanya beberapa kilometer. Menara itu menjulang berpancar warna kuning ketika malam, puncaknya seperti ingin menyobek gaun kelam langit malam itu. Padahal Menara Effiel yang asli sudah dijangkiti lumut, tempat daun-daun merambat bermimpi menjadi pohon.


Sabtu, 25 Agustus 2012

si gemuk dan si kurus

g : eh, elu kok kurus amat sih? lagi diet yah?

k : gak, tuanku kan punya dompet elektronik, nanti pas mau gunain baru ambil. tapi hebat lu yah, perut lo tebal banget...

g : (cemberut) isi gue cuman buntelan bon-bon, gak penting.


*percakapan dua dompet* :D


nb : Berita paling mengejutkan hari ini, dapat kabar kalau AKICHA transfer dari AKB48 ke JKT48. Galauuuu!