Orang orang negatif tidak semuanya mengambil pilihan terburuk
Orang orang positif tidak semuanya mudah bahagia dengan pilihan yang dipilih.
Tampilkan postingan dengan label poting. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label poting. Tampilkan semua postingan
Selasa, 26 April 2016
Senin, 29 Februari 2016
29 Februari 2016
Label:
artikel siluman,
curhat picisan,
hobi,
hujan,
poting,
sok bijak,
teman
Pernah, saya punya hubungan yang tidak baik dengan seorang senior, di media sosial. Padahal kami punya hubungan darah lumayan dekat. Suatu hari, saya berinisiatif mendatanginya, hari kedua lebaran Idul Adha. Saya mengirimkan message via fb dan dia dengan heran membalasnya ‘’Ada perlu apakik mau ketemu?’’. Saya bilang, mau ketemu saja. Sempat takut sih dia ndak mau ketemu, tapi ternyata kemudian dia membalas message saya dengan memberi alamat kantornya.
Besoknya saya datang, tak lupa membawakannya sedikit makanan Idul Adha, Mak senang dengan inisiatif saya walau dia tidak tahu kalau kami sedang musuhan. “Baguslah, apalagi dia ndak sempat pulang kampung kasiyan, pasti dia senang ko bawakan makanan”. Saya merasa beruntung bisa memanfaatkan momen ini.
Siang itu, saya masuk ke kantornya yang sejuk berAC. Dia di meja kerjanya, tersenyum. Saya mendekat dan dengan mata yang mulai berkacakaca dia mempersilakan saya duduk tepat di depan mejanya. Sambil menatap wajah saya, dia meremas tangan saya yang terlipat rapi di mejanya. Kulihat airmatanya jatuh pelanpelan, saya tersenyum dan berkata... ‘’Janganmakik menangis kak, yang berlalu jangammi diingat’’. Dia masih meremas tangan saya, saya bisa merasakan campur aduk perasaannya, antara senang bertemu dengan saya untuk pertama kalinya, dan sedih karena kami pernah punya hubungan yang tidak baik di dunia maya.
Saya kemudian meraih makanan yang saya bawakan untuknya, saya masih bisa melihat sisasisa air matanya. Tak ada perdebatan, tak ada caci maki lagi. Selanjutnya saya pulang dengan rasa lega luar biasa. Sesimpel itu minta maaf, dan saya tidak menyangka reaksi dia sangat baik terhadap saya. Setelahnya kami baik-baik saja, masih sering bertegur sapa sebagai keluarga. Salah satu kejadian yang tak bisa saya lupa.
Saat ini, saya kembali punya hubungan yang agak rumit dengan seorang teman. Saya sudah minta maaf, saya dimaafkan atau tidak, saya tak tahu. Satu hari saya habiskan untuk minta maaf kepadanya, besoknya saya pasrahkan saja, seperti yang saya katakan tadi, sesimpel itu minta maaf. Terserah dia memaafkan atau tidak.
Dia (katanya) membuat jarak dengan saya, yeah... Ada banyak spasi, dan dia berhasil. Dia diam, menyembunyikan semua akunnya, saya pun sudah lama tidak memegang nomor hpnya. Mungkin dia marahmarah di akunnya, atau bagaimana, saya tidak tahu. Walau saya maunya kita berdebat saja, kalau nantinya malah jadi musuhan itu soal belakang, tapi dia diam. Okelah, orangnya gak mau dikejar yah gak usah dikejar.
Orang-orang mengatakan kalau ‘’Tuhan saja selalu memaafkan hambaNya yang punya banyak dosa, kenapa kita ndak bisa memaafkan orang lain.’’ Tapi itu kan Tuhan, justru karena kita manusia biasa makanya kita tak bisa memaafkan orang lain dengan mudah. Memaafkan itu susah, jangan bandingbandingkan kekuatan Tuhan dengan manusia biasa. Karena saya pun sering demikian, mengucap maaf di bibir memang mudah, tapi hati akan was-was karena kita tak mungkin lupa akan kesalahan orang tersebut.
Intinya hanya mau bilang, kalau punya kesalahan ma orang lain, jangan terlalu seringlah minta maaf, nanti malah jadi annoying. Okeee, kita skip topik sok bijak ini, saya mau cerita kalau sudah sebulan ini saya pegang smartphone, barang yang bagi saya masih mewah. Apa perlu saya pajang pin BBM saya di sini... *pamer*. Hari-hari pertama saya bisa BBMan, teman-teman BBMan komplain, ‘’eh, jammoko terlalu sering ping ping kik, tassejam napingkik lagi’’, kubilang “sori, itu miscallji, masih norak bisa BBMan.’’
Handphone android ini bukan saya yang beli, tapi pemberian dari kakak laki-laki saya, salah seorang yang kukagumi di keluarga. HP bekas sih, tapi tak apalah. Hahaha... Kalau mau kubilang, dia aktif di gerakan kiri, pernah aktif di PRD, hal yang pernah membuat khawatir Mak akan keselamatannya, berbanding terbalik dengan adeknya yang anomali ini, ahahahaha.
Sebelum dia bekerja di sebuah yayasan luar negeri yang memberikan dana hibah untuk siswa SD tak mampu di sebuah kabupaten, pindahpindah lokasi kerja telah dilaluinya berkalikali, mulai LSM yang bergerak di Bidang Agraria, Pertanian, Perburuhan dan seterusnya. Ini tidak baik untuk pendidikan anak-anaknya. Maka dia dan istrinya akhirnya memutuskan untuk mencari pekerjaan yang masih bisa berjuang untuk idealismenya tanpa perlu mengorbankan anak-anaknya.
Bidang pendidikan, sebuah bidang yang baru bagi dia. Tapi selain itu, selepas bekerja dia selalu menyempatkan bertemu dengan kelompok tani di lokasi tempatnya bekerja. Pernah dia memajang status, yang sama sekali tidak kumengerti. Tapi setelah melihat potonya, saya tanya ke dia, ternyata itu air sari bambu. Tadinya, kupikir itu adalah komoditas pangan, ternyata bukan, itu nutrisi buat tanaman, setelah di fermentasi tentunya.
Terkadang, banyak jokejokenya yang ringan yang saya tahu itu jokejoke warga desa yang dia temui. Yang bagi saya, benarbenar lucu, khas obrolan orang kampung, polos, natural, tidak butuh ilmu dan pengetahuan yang wah untuk bikin orang lain tertawa, hanya modal tulus saling membantu dan menghibur. Saya juga punya sepupusepupu yang lucu sebagaimana yang saya bilang tadi, karena sebenarnya saya orang kampung.
Ada di antara mereka yang tukang ojek, pernah nanya kayak gini ke kakak saya “Dimanakikjek kita kerja, Ndik? Kalau saya lima tahunma kerja di Dinas Perhubungan tapi belumpi diangkatangkatka kasi’ jadi PNS.’’, yah yang dia maksud kerjanya sebagai tukang ojek, hehehehe. Sepanjang obrolan saya, Mak, kakak, dan semua orang yang hadir di sana tertawatawa karena celotehannya. Saat dia pulang ke rumahnya, kami pun berdiri, berjabat tangan dengannya, dia kemudian berseloroh ‘’Salamakki twe sampe Tana Marajaaa* eee, jangan lupa celak sama air zamzamnya...’’. Kami melepasnya pulang di halaman, masih dengan tertawaan yang masih tersisa.
Salah satu hal yang membuat saya berat untuk menutup akun di facebook, bukan soal medianya, tapi soal siapasiapa yang ada di sana. Musim hujan beberapa tahun yang lalu, seorang sepupu memajang poto tanamannya yang subur dengan caption, ‘’Tinggal kenangan kasi’, tenggelam dalam banjir, ndak jadi kaya kita’’, lengkap dengan komenkomen di bawahnya, dari sanak saudara yang lain, gak kalah lucu juga untuk dibaca. Saya tidak melihat kesedihan mendalam di sana, tapi justru dia membuatnya jadi penghibur untuk dirinya sendiri. Bagi orang lain, para ahli atau siapalah, banjir ada karena ada sebab, danau kampung sebelah kadang jadi kambing hitam. Tapi bagi mereka, yang susahsusah menanam, banjir bukanlah musibah, banjir ada agar mereka bisa merelakan.
Pengen juga kembali ke kampung, kayak kakak saya yang menjadi bagian dari orangorang sederhana tadi, tapi nantilah kalau saya sudah bosan di kota. Huuuuuuuuuu....apaji!
*Mekkah
Besoknya saya datang, tak lupa membawakannya sedikit makanan Idul Adha, Mak senang dengan inisiatif saya walau dia tidak tahu kalau kami sedang musuhan. “Baguslah, apalagi dia ndak sempat pulang kampung kasiyan, pasti dia senang ko bawakan makanan”. Saya merasa beruntung bisa memanfaatkan momen ini.
Siang itu, saya masuk ke kantornya yang sejuk berAC. Dia di meja kerjanya, tersenyum. Saya mendekat dan dengan mata yang mulai berkacakaca dia mempersilakan saya duduk tepat di depan mejanya. Sambil menatap wajah saya, dia meremas tangan saya yang terlipat rapi di mejanya. Kulihat airmatanya jatuh pelanpelan, saya tersenyum dan berkata... ‘’Janganmakik menangis kak, yang berlalu jangammi diingat’’. Dia masih meremas tangan saya, saya bisa merasakan campur aduk perasaannya, antara senang bertemu dengan saya untuk pertama kalinya, dan sedih karena kami pernah punya hubungan yang tidak baik di dunia maya.
Saya kemudian meraih makanan yang saya bawakan untuknya, saya masih bisa melihat sisasisa air matanya. Tak ada perdebatan, tak ada caci maki lagi. Selanjutnya saya pulang dengan rasa lega luar biasa. Sesimpel itu minta maaf, dan saya tidak menyangka reaksi dia sangat baik terhadap saya. Setelahnya kami baik-baik saja, masih sering bertegur sapa sebagai keluarga. Salah satu kejadian yang tak bisa saya lupa.
Saat ini, saya kembali punya hubungan yang agak rumit dengan seorang teman. Saya sudah minta maaf, saya dimaafkan atau tidak, saya tak tahu. Satu hari saya habiskan untuk minta maaf kepadanya, besoknya saya pasrahkan saja, seperti yang saya katakan tadi, sesimpel itu minta maaf. Terserah dia memaafkan atau tidak.
Dia (katanya) membuat jarak dengan saya, yeah... Ada banyak spasi, dan dia berhasil. Dia diam, menyembunyikan semua akunnya, saya pun sudah lama tidak memegang nomor hpnya. Mungkin dia marahmarah di akunnya, atau bagaimana, saya tidak tahu. Walau saya maunya kita berdebat saja, kalau nantinya malah jadi musuhan itu soal belakang, tapi dia diam. Okelah, orangnya gak mau dikejar yah gak usah dikejar.
Orang-orang mengatakan kalau ‘’Tuhan saja selalu memaafkan hambaNya yang punya banyak dosa, kenapa kita ndak bisa memaafkan orang lain.’’ Tapi itu kan Tuhan, justru karena kita manusia biasa makanya kita tak bisa memaafkan orang lain dengan mudah. Memaafkan itu susah, jangan bandingbandingkan kekuatan Tuhan dengan manusia biasa. Karena saya pun sering demikian, mengucap maaf di bibir memang mudah, tapi hati akan was-was karena kita tak mungkin lupa akan kesalahan orang tersebut.
Intinya hanya mau bilang, kalau punya kesalahan ma orang lain, jangan terlalu seringlah minta maaf, nanti malah jadi annoying. Okeee, kita skip topik sok bijak ini, saya mau cerita kalau sudah sebulan ini saya pegang smartphone, barang yang bagi saya masih mewah. Apa perlu saya pajang pin BBM saya di sini... *pamer*. Hari-hari pertama saya bisa BBMan, teman-teman BBMan komplain, ‘’eh, jammoko terlalu sering ping ping kik, tassejam napingkik lagi’’, kubilang “sori, itu miscallji, masih norak bisa BBMan.’’
Handphone android ini bukan saya yang beli, tapi pemberian dari kakak laki-laki saya, salah seorang yang kukagumi di keluarga. HP bekas sih, tapi tak apalah. Hahaha... Kalau mau kubilang, dia aktif di gerakan kiri, pernah aktif di PRD, hal yang pernah membuat khawatir Mak akan keselamatannya, berbanding terbalik dengan adeknya yang anomali ini, ahahahaha.
Sebelum dia bekerja di sebuah yayasan luar negeri yang memberikan dana hibah untuk siswa SD tak mampu di sebuah kabupaten, pindahpindah lokasi kerja telah dilaluinya berkalikali, mulai LSM yang bergerak di Bidang Agraria, Pertanian, Perburuhan dan seterusnya. Ini tidak baik untuk pendidikan anak-anaknya. Maka dia dan istrinya akhirnya memutuskan untuk mencari pekerjaan yang masih bisa berjuang untuk idealismenya tanpa perlu mengorbankan anak-anaknya.
Bidang pendidikan, sebuah bidang yang baru bagi dia. Tapi selain itu, selepas bekerja dia selalu menyempatkan bertemu dengan kelompok tani di lokasi tempatnya bekerja. Pernah dia memajang status, yang sama sekali tidak kumengerti. Tapi setelah melihat potonya, saya tanya ke dia, ternyata itu air sari bambu. Tadinya, kupikir itu adalah komoditas pangan, ternyata bukan, itu nutrisi buat tanaman, setelah di fermentasi tentunya.
Terkadang, banyak jokejokenya yang ringan yang saya tahu itu jokejoke warga desa yang dia temui. Yang bagi saya, benarbenar lucu, khas obrolan orang kampung, polos, natural, tidak butuh ilmu dan pengetahuan yang wah untuk bikin orang lain tertawa, hanya modal tulus saling membantu dan menghibur. Saya juga punya sepupusepupu yang lucu sebagaimana yang saya bilang tadi, karena sebenarnya saya orang kampung.
Ada di antara mereka yang tukang ojek, pernah nanya kayak gini ke kakak saya “Dimanakikjek kita kerja, Ndik? Kalau saya lima tahunma kerja di Dinas Perhubungan tapi belumpi diangkatangkatka kasi’ jadi PNS.’’, yah yang dia maksud kerjanya sebagai tukang ojek, hehehehe. Sepanjang obrolan saya, Mak, kakak, dan semua orang yang hadir di sana tertawatawa karena celotehannya. Saat dia pulang ke rumahnya, kami pun berdiri, berjabat tangan dengannya, dia kemudian berseloroh ‘’Salamakki twe sampe Tana Marajaaa* eee, jangan lupa celak sama air zamzamnya...’’. Kami melepasnya pulang di halaman, masih dengan tertawaan yang masih tersisa.
Salah satu hal yang membuat saya berat untuk menutup akun di facebook, bukan soal medianya, tapi soal siapasiapa yang ada di sana. Musim hujan beberapa tahun yang lalu, seorang sepupu memajang poto tanamannya yang subur dengan caption, ‘’Tinggal kenangan kasi’, tenggelam dalam banjir, ndak jadi kaya kita’’, lengkap dengan komenkomen di bawahnya, dari sanak saudara yang lain, gak kalah lucu juga untuk dibaca. Saya tidak melihat kesedihan mendalam di sana, tapi justru dia membuatnya jadi penghibur untuk dirinya sendiri. Bagi orang lain, para ahli atau siapalah, banjir ada karena ada sebab, danau kampung sebelah kadang jadi kambing hitam. Tapi bagi mereka, yang susahsusah menanam, banjir bukanlah musibah, banjir ada agar mereka bisa merelakan.
Pengen juga kembali ke kampung, kayak kakak saya yang menjadi bagian dari orangorang sederhana tadi, tapi nantilah kalau saya sudah bosan di kota. Huuuuuuuuuu....apaji!
*Mekkah
Jumat, 08 November 2013
DEMO BURUH Ala Gue
Label:
artikel siluman,
curhat picisan,
ideologi sotta',
neting,
poting,
teman,
untag
You have so many relationships in this life
Only one or two will last
You go through all this pain and strife
Then you turn your back and they're gone so fast
And they're gone so fast
So hold on to the ones who really care
In the end they'll be the only ones there
When you get old and start losing your hair
Can you tell me who will still care?
Yaelah, Hanson lagi, maaf… maaf… lagi musim Hanson di telingaku, salam Mmmbop, ehehehe. Seperti petikan lirik di atas, kita bisa menjalin hubungan dengan banyak orang, kita berharap semuanya berjalan lancar, kita berusaha mempertahankannya. Tapi di luar dugaan, kita akan tersandung banyak masalah yang membuat satu atau bahkan lebih hubungan yang kita jalin akan renggang, semua usai sampai hanya tertinggal satu atau dua.
Sudah setahun bekerja di tempat kerja, sampai tiba pada waktu rasa teraneh yang pernah kualami dan beberapa teman alami juga. Seorang atasan terbaik, lumayan ngemong kepada kami berhenti. Sudah sebulan tidak ada gelak ngakaknya memecah suasana serius kala rapat. Sms ancaman “deadline” darinya tidak akan ada lagi, saya sebenarnya sms beliau tapi tidak dibalas. Semoga dia segera mendapatkan kerja yang lebih layak, amin!
Ketika seseorang memasuki sebuah kantor, tugas seorang Bos untuk menjamin bahwa kita akan nyaman bekerja di bawah kepemimpinannya. Kita butuh upah dari dia, dia butuh tenaga kita, hal yang sudah lumrah. Tapi lama kelamaan, rasa nyaman itu terkikis sedikit demi sedikit. Bos yang baik seharusnya bisa mengembalikan rasa nyaman bekerja bawahannya, idealnya sih begitu. Namun, Bos juga manusia biasa, segala hal di dunia ini punya batas, termasuk rasa nyaman tadi.
Terkadang membangun rasa nyaman, terkadang orang lain menyapa kita dengan kata sapaan (bahasa pokem) agar kita seolah telah dekat dengan mereka padahal mungkin saja baru kenal, seperti beberapa teman di kantor juga. “Beib”, “Ciiint”, juga “Sayang”, saya sendiri tak biasa dan ogah mengobral sapaan seperti itu. Entahlah, kata-kata itu jadi bergeser makna setelah terlalu sering ‘disalahgunakan’. Besok-besok, kita akan berkelahi/tawuran dengan sapaan itu juga. Aneh sih, tapi mungkin saja terjadi. Semua bisa bilang sayang, kayak lagu yah. Eh, coba dengarkan “Semua Bisa Bilang Sayang” versi Balawan (hallah, kok malah promo?).
Ada yang pergi ada pula yang datang, untuk sementara ini saya masih bisa menghadirkan rasa nyaman itu. Namun, nasib teman sekantor tadi bisa saja menimpa diri saya sendiri juga. Ada terbersit keinginan untuk latah, nyaleg saja, tapi kemudian saya teringat pendapat teman, katanya saya sulit tersenyum di depan kamera, lah, bagaimana mau kepilih kalau tidak bisa pajang senyum, mungkin saya pasang emoticon saja yak! Hahaha…
Jadi ingat, saya di sekolah pernah beberapa kali jadi provokator karena benci kepada beberapa guru, bahkan kepala sekolah. Kurang ajar yah saya, ahahahah… Tapi saya hanya berhasil menggalang tenaga paling banyak tiga orang. Gak bisa demo dengan tenaga minim seperti itu, yang berhasil saya lakukan dan beberapa teman hanya meneror Pembina yang bersangkutan. Pernah bikin nangis guru, dua kali, sekali di smp, sekali di sma.
Tapi yang terakhir, saya pernah benci sama Kepala Sekolah saya sendiri. Pernah satu kali kami bolos, keliaran di dalam sekolah karena tidak ada guru. Seketika dia datang, kami berhamburan masuk kelas termasuk saya. Sementara ada beberapa teman yang ‘berkuping tebal’ tetap berdiri di taman. Di giringnya teman-teman masuk kelas satu-satu, seperti anak kecil yang dituntun. Kemudian, di depan kelas, mulutnya menamai kami dengan nama binatang. Saya sangat benci terhadap sikap kepsek saya saat itu.
Tapi saya tidak bisa apa-apa. Teman-teman yang punya andil di kelas kebanyakan anak bangsawan, kepsek saya itu dibilang dekat dengan bangsawan, bahkan ada kebijaksanaannya yang membuat saya bingung, ‘anak arung’ yang hampir menghilangkan nyawa seorang guru terbaik di sma itu dengan gampangnya naik kelas. Bahkan saya mempertanyakan lagi kebangsawanan adik kelas saya itu, orang tuanya seharusnya malu punya embel-embel Andi di depan namanya.
Kebangsawanan, sepertinya itu pulalah yang membuat teman-temanku enggan menerima sepenuhnya pendapatku untuk membenci kepsek. Arung dari kecil dituntun oleh orangtuanya untuk sopan santun, tidak bicara keras, memuliakan orang lain. Berlebihan memberlakukan aturan baku tersebut membuat banyak bangsawan mengubur kekritisannya.
Jadi saya tak bisa apa-apa selain memaklumi kepsek yang baru menjabat di sekolahku baru setahun saat itu, apalagi saya teringat cerita Bapakku sendiri ketika menolak ditawari olehnya menjadi Ketua Komite. Sehingga tak aneh lagi bagi saya, ketika keputusan membangun masjid sekolah padahal sudah ada masjid yang berdiri di depan sekolah. Dia pun berlindung pada hadis Nabi untuk menghalalkan keputusan aneh itu, ketika seorang muslim tiba pada suatu tempat maka perbuatan yang paling mulia baginya adalah membangun masjid. Ya Allah, maafkan dia!
Baiklah, itu saja dulu curhatan/demo saya, berdo’a di lanjutkan! Jika banyak yang mencaci kalian berdo’a di socmed, abaikan saja, itu hak kalian. Bukan hanya kalian yang salah karena cengeng dan kelihatan ‘salah tempat’, mereka juga salah kok, perhatian banget mereka sama kalian yang masang status kayak gitu. Kalau Tuhan enggan mengabulkan do’a itu, paling tidak ada si nyinyir tadi yang dengar. Tuhan tidak butuh bikin akun di FB atau twitter untuk mengetahui apa isi doa di statusmu, dia (si nyinyir) yang manusia biasa bisa baca statusmu apalagi Tuhan yang Maha Mengetahui. Ini seperti mempermasalahkan, mengapa sinetron yang tokoh-tokohnya bisa pakek kata “dalam hati”, itu hak sutradaranya. Tapi tak apalah mereka yang nynyir hadir, paling tidak kita bisa berfikir, dan akhirnya kita bisa memilih untuk tetap “bodoh” atau menjadi “cerdas”.
Berdo’a dilanjutkan kembali…. Karena sudah terlalu panjang, maka ini doa terakhir di note ini. Hindarkanlah kami dari bos yang koro-koroang*. Amin!
Nb : Dibikin untuk turut memeriahkan demo buruh yang sudah berlangsung kurang lebih dua pekan ini.
* Koro-koroang (Makassar) : khawatir berlebihan
Only one or two will last
You go through all this pain and strife
Then you turn your back and they're gone so fast
And they're gone so fast
So hold on to the ones who really care
In the end they'll be the only ones there
When you get old and start losing your hair
Can you tell me who will still care?
Yaelah, Hanson lagi, maaf… maaf… lagi musim Hanson di telingaku, salam Mmmbop, ehehehe. Seperti petikan lirik di atas, kita bisa menjalin hubungan dengan banyak orang, kita berharap semuanya berjalan lancar, kita berusaha mempertahankannya. Tapi di luar dugaan, kita akan tersandung banyak masalah yang membuat satu atau bahkan lebih hubungan yang kita jalin akan renggang, semua usai sampai hanya tertinggal satu atau dua.
Sudah setahun bekerja di tempat kerja, sampai tiba pada waktu rasa teraneh yang pernah kualami dan beberapa teman alami juga. Seorang atasan terbaik, lumayan ngemong kepada kami berhenti. Sudah sebulan tidak ada gelak ngakaknya memecah suasana serius kala rapat. Sms ancaman “deadline” darinya tidak akan ada lagi, saya sebenarnya sms beliau tapi tidak dibalas. Semoga dia segera mendapatkan kerja yang lebih layak, amin!
Ketika seseorang memasuki sebuah kantor, tugas seorang Bos untuk menjamin bahwa kita akan nyaman bekerja di bawah kepemimpinannya. Kita butuh upah dari dia, dia butuh tenaga kita, hal yang sudah lumrah. Tapi lama kelamaan, rasa nyaman itu terkikis sedikit demi sedikit. Bos yang baik seharusnya bisa mengembalikan rasa nyaman bekerja bawahannya, idealnya sih begitu. Namun, Bos juga manusia biasa, segala hal di dunia ini punya batas, termasuk rasa nyaman tadi.
Terkadang membangun rasa nyaman, terkadang orang lain menyapa kita dengan kata sapaan (bahasa pokem) agar kita seolah telah dekat dengan mereka padahal mungkin saja baru kenal, seperti beberapa teman di kantor juga. “Beib”, “Ciiint”, juga “Sayang”, saya sendiri tak biasa dan ogah mengobral sapaan seperti itu. Entahlah, kata-kata itu jadi bergeser makna setelah terlalu sering ‘disalahgunakan’. Besok-besok, kita akan berkelahi/tawuran dengan sapaan itu juga. Aneh sih, tapi mungkin saja terjadi. Semua bisa bilang sayang, kayak lagu yah. Eh, coba dengarkan “Semua Bisa Bilang Sayang” versi Balawan (hallah, kok malah promo?).
Ada yang pergi ada pula yang datang, untuk sementara ini saya masih bisa menghadirkan rasa nyaman itu. Namun, nasib teman sekantor tadi bisa saja menimpa diri saya sendiri juga. Ada terbersit keinginan untuk latah, nyaleg saja, tapi kemudian saya teringat pendapat teman, katanya saya sulit tersenyum di depan kamera, lah, bagaimana mau kepilih kalau tidak bisa pajang senyum, mungkin saya pasang emoticon saja yak! Hahaha…
Jadi ingat, saya di sekolah pernah beberapa kali jadi provokator karena benci kepada beberapa guru, bahkan kepala sekolah. Kurang ajar yah saya, ahahahah… Tapi saya hanya berhasil menggalang tenaga paling banyak tiga orang. Gak bisa demo dengan tenaga minim seperti itu, yang berhasil saya lakukan dan beberapa teman hanya meneror Pembina yang bersangkutan. Pernah bikin nangis guru, dua kali, sekali di smp, sekali di sma.
Tapi yang terakhir, saya pernah benci sama Kepala Sekolah saya sendiri. Pernah satu kali kami bolos, keliaran di dalam sekolah karena tidak ada guru. Seketika dia datang, kami berhamburan masuk kelas termasuk saya. Sementara ada beberapa teman yang ‘berkuping tebal’ tetap berdiri di taman. Di giringnya teman-teman masuk kelas satu-satu, seperti anak kecil yang dituntun. Kemudian, di depan kelas, mulutnya menamai kami dengan nama binatang. Saya sangat benci terhadap sikap kepsek saya saat itu.
Tapi saya tidak bisa apa-apa. Teman-teman yang punya andil di kelas kebanyakan anak bangsawan, kepsek saya itu dibilang dekat dengan bangsawan, bahkan ada kebijaksanaannya yang membuat saya bingung, ‘anak arung’ yang hampir menghilangkan nyawa seorang guru terbaik di sma itu dengan gampangnya naik kelas. Bahkan saya mempertanyakan lagi kebangsawanan adik kelas saya itu, orang tuanya seharusnya malu punya embel-embel Andi di depan namanya.
Kebangsawanan, sepertinya itu pulalah yang membuat teman-temanku enggan menerima sepenuhnya pendapatku untuk membenci kepsek. Arung dari kecil dituntun oleh orangtuanya untuk sopan santun, tidak bicara keras, memuliakan orang lain. Berlebihan memberlakukan aturan baku tersebut membuat banyak bangsawan mengubur kekritisannya.
Jadi saya tak bisa apa-apa selain memaklumi kepsek yang baru menjabat di sekolahku baru setahun saat itu, apalagi saya teringat cerita Bapakku sendiri ketika menolak ditawari olehnya menjadi Ketua Komite. Sehingga tak aneh lagi bagi saya, ketika keputusan membangun masjid sekolah padahal sudah ada masjid yang berdiri di depan sekolah. Dia pun berlindung pada hadis Nabi untuk menghalalkan keputusan aneh itu, ketika seorang muslim tiba pada suatu tempat maka perbuatan yang paling mulia baginya adalah membangun masjid. Ya Allah, maafkan dia!
Baiklah, itu saja dulu curhatan/demo saya, berdo’a di lanjutkan! Jika banyak yang mencaci kalian berdo’a di socmed, abaikan saja, itu hak kalian. Bukan hanya kalian yang salah karena cengeng dan kelihatan ‘salah tempat’, mereka juga salah kok, perhatian banget mereka sama kalian yang masang status kayak gitu. Kalau Tuhan enggan mengabulkan do’a itu, paling tidak ada si nyinyir tadi yang dengar. Tuhan tidak butuh bikin akun di FB atau twitter untuk mengetahui apa isi doa di statusmu, dia (si nyinyir) yang manusia biasa bisa baca statusmu apalagi Tuhan yang Maha Mengetahui. Ini seperti mempermasalahkan, mengapa sinetron yang tokoh-tokohnya bisa pakek kata “dalam hati”, itu hak sutradaranya. Tapi tak apalah mereka yang nynyir hadir, paling tidak kita bisa berfikir, dan akhirnya kita bisa memilih untuk tetap “bodoh” atau menjadi “cerdas”.
Berdo’a dilanjutkan kembali…. Karena sudah terlalu panjang, maka ini doa terakhir di note ini. Hindarkanlah kami dari bos yang koro-koroang*. Amin!
Nb : Dibikin untuk turut memeriahkan demo buruh yang sudah berlangsung kurang lebih dua pekan ini.
* Koro-koroang (Makassar) : khawatir berlebihan
Kamis, 04 Juli 2013
JKT48 - YUUHI WO MITEIRUKA
Memandang-mandangi senyum-senyum Hohe, atau mendengar sesekali lagu JKT48 adalah penyeimbang dari pikiran-pikiran buruk yang lebih mendominasi pemikiran saya. Saya tidak suka Cherrybelle, jadi apa salah! JKT48 yang lagunya lebih sedikit dari daftar lagu-lagu yang menghuni hard disk bisa dikatakan penyeimbang. Sebatas itu... Sekali lagi, suka bikinan lirik bikinan Akimoto Yasushi.
Seperti apa hari ini
yang telah di lewati
Pasti terfikir saat di jalan pulang
Meski ada hal sedih,
ataupun hal yang memberatkan
Tak apa asal yang bahagia lebih banyak
Karena tidak mau membuat
keluarga dan teman
Dan orang di sekitar jadi khawatir
Kau paksakan tersenyum
dan membuat kebohongan sedikit
Janganlah kau pendam
semuanya di dalam hati…
Merasakan angin di saat musim berganti
Dan menyadari bunga di sebelah kaki
Jika dapat mensyukuri keberadaan kecil itu
Kita dapat rasakan kebahagian
Reff 1:
Apakah kau melihat langit mentari senja?
Waktupun berlalu dan sosoknya
terlihat begitu indah, Yeas!
Begitulah hari ini berakhir
Malam yang mengulang baru
semua telah datang
Kau bergegas di jalan pulang seorang diri
Kenapa tidak hargai dirimu sendiri sedikit lagi
Yuk! Mari lihat sedikit lebih baik
Supaya kau dapat hidup jadi diri sendiri
Hubungan antar manusia
memang merepotkan,
Tapi kita tidak bisa hidup sendiri
Setiap manusia merupakan makhluk yang lemah
Kita haruslah
hidup saling membantu
Dan kadang kadang
keluar ucapan kasar,
Tak sengaja
menginjak kaki seseorang
Atau salah paham
Dan berbagai hal yang telah terjadi
Tetapi selalu penuh harapan
Apakah kau melihat langit mentari senja?
Mengajar untuk menerima keadaan saat ini dan terus maju
Dan bila kehilangan sesuatu
Pastilah suatu saat nanti hal itu akan tercapai
Langit hitam mulai berubah menjadi gelap
Di hias oleh titik garis yang terbentuk dari bintang bintang
Sampai hari esok tibalah nanti
Lihatlah mimpi seperti dirimu sendiri
*back to reff 1
Rabu, 03 April 2013
PARASITAMOL
Label:
curhat picisan,
keluarga,
poting,
sok bijak
Seminggu menipu tenggorokan dengan air es, seminggu menipu badan dengan cuaca buatan kipas angin. Akhirnya fisik ngambek, ambruk tak bisa kemana-mana, tahanan di tempat tidur sendiri. Terima kasih Paracetamol, mungkin sebenarnya namamu Parasitamol, kalian kubiarkan hidup sementara ini di tubuhku, mengusir demam yang pergi-datang.
Tapi ketika sakit begini, justru yang paling nyaman adalah sentuhan telapak tangan ibu sendiri di kening. Mungkin karena derajatnya tak pakek celcius, pengukur suhunya pakek hati. :D
Tapi ketika sakit begini, justru yang paling nyaman adalah sentuhan telapak tangan ibu sendiri di kening. Mungkin karena derajatnya tak pakek celcius, pengukur suhunya pakek hati. :D
Rabu, 16 Januari 2013
Kado ulang tahun dari ALIEN
Label:
artikel siluman,
curhat picisan,
poting,
sok bijak
Di kamar sendirian, yasinan.
Menangisi si ZYREX yang lagi meregang nyawa. Seteleh beberapa bulan tidak bisa membaca warna kuning, akhirnya dia benar-benar telah menutup "mata", tapi untunglah karena dia masih bisa bersuara. Okelah, untuk sementara dia harus tidur dalam tasku. Kasiyan juga, dia sendirian di sana kedinginan menghabiskan musim hujan kali ini. Dia harus bersabar sampai saya dapat dana cukup untuk memperbaikinya. Ada sih netbook kakak ipar yang bisa dipakai buat dugem, tapi sama saja, bukan karena yang mpunya tidak mau meminjamkan, masalahnya itu netbook biar made in china tapi pintarnya bahasa arab doang, tidak bisa dipinjam dalam kurung. Baiklah, tak ada lagi suasana tengah malam di kamar dengan lampu-lampu dari netbook yang kedap-kedip, tapi tetap saja tidur sering diinterupsi banyak hal. Entahlah, lebih enak tidur dengan udara panas dengan menyalakan kipas angin daripada terbangun dengan kemeriahan hujan yang datang tengah malam. Semoga bisa secepatnya beradaptasi dengan kemeriahan yang baru ini.
Kalau netbookku kehilangan warna kuning, lain lagi dengan televisi di rumah. Sudah beberapa tahun bertahan hanya dengan dua warna : biru dan kuning. Sekeluarga sudah beberapa tahun menonton alien di televisi. Entah apa yang menghisap warna merahnya. Ahahahaha! Jangan-jangan nih televisi akan diklaim ma alien. Tunggu dulu, netbookku kehilangan warna kuning sedangkan televisi keluargaku di rumah hanya ada warna biru-kuning. Jangan-jangan sedang ada dua kekuatan alien yang berbeda, menyerang rumah kami, yang mereka jadikan medan perangnya.
Jangan-jangan, gara-gara hobi saya waktu bocah, saya diam-diam berharap alien itu benar-benar ada. Menjelang tidur, sesudah mematikan lampu kamar, saya sering mengarahkan cahaya lampu senter ke atas, ke langit. Saya merasa sedang berkomunikasi dengan mereka. Sudah ada dua tanda-tanda besar sang alien memperkenalkan dirinya kepada keluargaku. Jadi, suatu waktu saya menghilang ke angkasa, mereka (keluargaku di bumi) sudah tidak kaget lagi.
Ketidaktahuan memang terkadang membahagiakan. Benar atau tidaknya, itu tergantung keyakinanmu dan selamat merayakannya dengan imajinasi!
Menangisi si ZYREX yang lagi meregang nyawa. Seteleh beberapa bulan tidak bisa membaca warna kuning, akhirnya dia benar-benar telah menutup "mata", tapi untunglah karena dia masih bisa bersuara. Okelah, untuk sementara dia harus tidur dalam tasku. Kasiyan juga, dia sendirian di sana kedinginan menghabiskan musim hujan kali ini. Dia harus bersabar sampai saya dapat dana cukup untuk memperbaikinya. Ada sih netbook kakak ipar yang bisa dipakai buat dugem, tapi sama saja, bukan karena yang mpunya tidak mau meminjamkan, masalahnya itu netbook biar made in china tapi pintarnya bahasa arab doang, tidak bisa dipinjam dalam kurung. Baiklah, tak ada lagi suasana tengah malam di kamar dengan lampu-lampu dari netbook yang kedap-kedip, tapi tetap saja tidur sering diinterupsi banyak hal. Entahlah, lebih enak tidur dengan udara panas dengan menyalakan kipas angin daripada terbangun dengan kemeriahan hujan yang datang tengah malam. Semoga bisa secepatnya beradaptasi dengan kemeriahan yang baru ini.
Kalau netbookku kehilangan warna kuning, lain lagi dengan televisi di rumah. Sudah beberapa tahun bertahan hanya dengan dua warna : biru dan kuning. Sekeluarga sudah beberapa tahun menonton alien di televisi. Entah apa yang menghisap warna merahnya. Ahahahaha! Jangan-jangan nih televisi akan diklaim ma alien. Tunggu dulu, netbookku kehilangan warna kuning sedangkan televisi keluargaku di rumah hanya ada warna biru-kuning. Jangan-jangan sedang ada dua kekuatan alien yang berbeda, menyerang rumah kami, yang mereka jadikan medan perangnya.
Jangan-jangan, gara-gara hobi saya waktu bocah, saya diam-diam berharap alien itu benar-benar ada. Menjelang tidur, sesudah mematikan lampu kamar, saya sering mengarahkan cahaya lampu senter ke atas, ke langit. Saya merasa sedang berkomunikasi dengan mereka. Sudah ada dua tanda-tanda besar sang alien memperkenalkan dirinya kepada keluargaku. Jadi, suatu waktu saya menghilang ke angkasa, mereka (keluargaku di bumi) sudah tidak kaget lagi.
Ketidaktahuan memang terkadang membahagiakan. Benar atau tidaknya, itu tergantung keyakinanmu dan selamat merayakannya dengan imajinasi!
![]() |
| mereka menertawakan teknologi! link |
Kamis, 30 Agustus 2012
TEDx - Ridwan Kamil
Label:
poting
![]() |
| sepertinya, ini surat untuk putrinya |
"Kota yang baik adalah kota yang merayakan kebudayaannya."
Kalimat yang dikatakannya di sebuah acara stasiun televisi beberapa tahun yang lalu. Kalimat ini yang membuat saya tidak mudah melupakan sosok ini, sejak beberapa tahun yang lalu. Ridwan Kamil, seorang arsitek, yang bekerja dan menginspirasi di bidangnya, penggiat INDONESIA BERKEBUN.
Keren sekali ini Bapak, hiks!
Kamis, 23 Agustus 2012
BETTER (bukan merk biskuit)
Label:
artikel siluman,
buku,
curhat picisan,
film,
ideologi sotta',
poting,
sok bijak,
tutorial
Baru satu karya Jodi Picoult yang pernah kutamatkan, My Sister Keeper : Penyelamat Kakakku, itu pun beberapa tahun yang lalu. Entahlah, semakin malas membaca.
Bercerita tentang seorang anak (Anna) yang dilahirkan untuk menolong kakaknya (Kate) yang menderita leukimia, bahkan berakibat buruk pula pada beberapa organ tubuhnya. Saya tidak menafikkan, buku ini buku terbaik yang pernah kubaca. Ayah mereka yang bekerja sebagai seorang petugas pemadam kebakaran tapi punya cita-cita terpendam sebagai astronot, selalu bercerita benda-benda luar angkasa kepada anak-anaknya. Sangat menyukai ketika mereka bertiga (Anna-Kate-Ibu) ketika berjalan-jalan di pusat perbelanjaan, kemudian memutuskan untuk membotak kepala mereka seperti kepala Kate yang memang sakit, mereka melenggang dengan ceria berjalan di tengah keramaian. Bagaimana Anna dan Kate berbagi dalam segala hal termasuk kamar agar Anna bisa membangunkan orang tua mereka jika terjadi sesuatu pada Kate. Kate yang selalu ketakutan, sehingga tiap malam dibiarkan dirinya lelap dalam terang dan selalu memarahi Anna tiap kali adiknya itu mematikan lampu. "Kau bisa menciptakan gelap, tapi aku tak bisa menciptakan terang!". Mengapa Anna harus selalu mengalah?
Dengan mengambil sudut pandang berbeda pada tiap-tiap bab secara bergantian, kita diajak menjadi ibu atau ayah atau Anna atau Kate atau Pengacara Anna atau tokoh lainnya, sehingga kita bisa memaklumi tiap karakternya. Ceritanya menjadi rumit, tak sesederhana memvonis bahwa orang tua merekalah yang salah, atau Anna yang egois karena memutuskan untuk menuntut orang tuanya. Jodi Picoult yang dikenal sebagai penulis novel psikologi, menambahkan hal-hal berbau hukum pada novelnya yang ini. Novel yang keren!
Kira-kira tahun lalu, lebih tepatnya terlambat tahu kalau novel ini telah diangkat jadi film. Salah satu penyemarak film ini, Regina Spektor. Yey, saya suka Regina Spektor! Saya juga suka video-video klip lagunya, dia memang bukan sutradara tapi sepertinya dia yang mengonsep sendiri seluruh video klipnya.
Dalam menghadapi masalah berat, terkadang masalah tersebut terlanjur menjadi racun bagi pikiran kita. Hahaha. Teringat ketika masih menyandang status mahasiswa di ujung tanduk, semua orang, walau tak kenal, walau dengan bibir mingkem sekalipun saya melihat mereka berkata "kapanko sarjana?". Kira-kira begitulah, semua yang ditemui menjelma hakim bagi kita, diri kita tersangka tunggal seluruh dunia. Saat seperti itu, kita butuh sejenak memejamkan mata, mungkin menangis, berusaha keras menemukan ribuan ketegaran dalam diri kita sendiri.
Seperti itulah sensasinya menonton video klip Regina Spektor yang satu ini :
Bercerita tentang seorang anak (Anna) yang dilahirkan untuk menolong kakaknya (Kate) yang menderita leukimia, bahkan berakibat buruk pula pada beberapa organ tubuhnya. Saya tidak menafikkan, buku ini buku terbaik yang pernah kubaca. Ayah mereka yang bekerja sebagai seorang petugas pemadam kebakaran tapi punya cita-cita terpendam sebagai astronot, selalu bercerita benda-benda luar angkasa kepada anak-anaknya. Sangat menyukai ketika mereka bertiga (Anna-Kate-Ibu) ketika berjalan-jalan di pusat perbelanjaan, kemudian memutuskan untuk membotak kepala mereka seperti kepala Kate yang memang sakit, mereka melenggang dengan ceria berjalan di tengah keramaian. Bagaimana Anna dan Kate berbagi dalam segala hal termasuk kamar agar Anna bisa membangunkan orang tua mereka jika terjadi sesuatu pada Kate. Kate yang selalu ketakutan, sehingga tiap malam dibiarkan dirinya lelap dalam terang dan selalu memarahi Anna tiap kali adiknya itu mematikan lampu. "Kau bisa menciptakan gelap, tapi aku tak bisa menciptakan terang!". Mengapa Anna harus selalu mengalah?
Dengan mengambil sudut pandang berbeda pada tiap-tiap bab secara bergantian, kita diajak menjadi ibu atau ayah atau Anna atau Kate atau Pengacara Anna atau tokoh lainnya, sehingga kita bisa memaklumi tiap karakternya. Ceritanya menjadi rumit, tak sesederhana memvonis bahwa orang tua merekalah yang salah, atau Anna yang egois karena memutuskan untuk menuntut orang tuanya. Jodi Picoult yang dikenal sebagai penulis novel psikologi, menambahkan hal-hal berbau hukum pada novelnya yang ini. Novel yang keren!
Kira-kira tahun lalu, lebih tepatnya terlambat tahu kalau novel ini telah diangkat jadi film. Salah satu penyemarak film ini, Regina Spektor. Yey, saya suka Regina Spektor! Saya juga suka video-video klip lagunya, dia memang bukan sutradara tapi sepertinya dia yang mengonsep sendiri seluruh video klipnya.
Dalam menghadapi masalah berat, terkadang masalah tersebut terlanjur menjadi racun bagi pikiran kita. Hahaha. Teringat ketika masih menyandang status mahasiswa di ujung tanduk, semua orang, walau tak kenal, walau dengan bibir mingkem sekalipun saya melihat mereka berkata "kapanko sarjana?". Kira-kira begitulah, semua yang ditemui menjelma hakim bagi kita, diri kita tersangka tunggal seluruh dunia. Saat seperti itu, kita butuh sejenak memejamkan mata, mungkin menangis, berusaha keras menemukan ribuan ketegaran dalam diri kita sendiri.
Seperti itulah sensasinya menonton video klip Regina Spektor yang satu ini :
Senin, 16 Juli 2012
LINGKARAN
Label:
artikel siluman,
buku,
ideologi sotta',
neting,
poting,
sok bijak,
sok ilmiah
![]() |
| Diagram piramida, bukan soal kuantitas, tapi kualitas kecerdasan. |
![]() |
| Lingkaran, hubungan IDIOT dan JENIUS |
Bagaimana Eropa menggulirkan isu lingkungan ini agar kita senantiasa ‘mengerti’ alam, kemudian kita mencoba untuk menanam pohon dan memeliharanya. Tapi, pemerintah dan beberapa pihak masih saja melewatkan (atau sengaja?) bahkan mengacuhkan oknum-oknum yang mengeksploitasi secara berlebihan. Kita yang setengah mati menanam dan menjaga, merekalah yang memanen untuk kepentingan dompet mereka. Yang jelas bagi saya, menjaga lingkungan adalah tugas kita bersama. Kalau mereka yang cerdas namun pesimis dan ‘cuek’, ada semacam kecerdasan yang mubazir/terbuang percuma, tapi kembali lagi itu hak mereka.
Kebanyakan orang optimis itu, selalu berpikir kalau bisa menularkan keoptimisannya kepada orang lain. Mengutip berbagai macam kalimat para motivator agar bisa mengubah si pesimis, seperti cahaya yang melabrak kegelapan, akhirnya cahaya itu sekedar lewat, ada yang berhasil tapi lebih banyak yang sia-sia. Memangnya jadi pesimis itu selamanya ‘nyampah’? Beberapa bulan lalu, saya iseng mencari, adakah seseorang yang bangga dengan kepesimisan. Memang tak ada yang secara gamblang mengatakan dirinya lebih cenderung pesimis tapi ada kalimat yang lumayan membuat saya bersyukur :
Orang optimis dan pesimis sama pentingnya.
Orang optimis membuat kapal, orang pesimis membuat pelampung.
(Pepatah Cina)
Orang optimis membuat kapal, orang pesimis membuat pelampung.
(Pepatah Cina)
Begitulah dunia diciptakan, kita tidak bisa
menerima hanya putih, namun ada juga hitam dan kemungkinan besar datang pula
abu-abu. Kita tak bisa memilih hanya satu saja, kita harus menerima ‘satu paket’
hidup ini. Kita bisa menawarkan berbagai hal kepada orang lain, namun kita tak
bisa memaksakannya. Seperti A yang mencintai B, namun B belum tentu
punya perasaan yang sama kepada A. Bagaimana kalau B ternyata lebih mencintai
si C, dan begitulah seterusnya. Konon, kita akan menerima kebaikan yang telah
kita lakukan di masa lalu, memang klise. Klise, karena memang itulah yang akan
terjadi. Saling mencintailah atau punah, nasehat Prof. Morrie kepada Mitch Albom (Buku SELASA BERSAMA MORRIE).

Sabtu, 30 Juni 2012
celana
Di rumah, ada dua anak malas sekali pakai celana. Kalau mau pakaikan celana sama mereka harus kejar-kejaran dulu dan setelahnya menahan tangannya agar tangannya tidak gerayangan membuka celananya. Tapi begitulah anak-anak, kita bisa 'tak menyangka' melihat keajaiban setiap hari dengan merawatnya.
Suatu malam, mereka semua sudah tidur. Saya harus menahan tawa, ketika mendapatkan boneka TIGER mereka pakekan celana punya adeknya yang baru berumur tiga bulan.
Pernah mati lampu, saya mengajaknya ke halaman dan kebetulan bulan purnama.
Saya tanyakan kepada mereka. "Apa itu di langit?" sambil nunjuk bulan
penuh. Mereka sebenarnya takut maka mereka menjawab :
Yang besar bilang "Matikangngi!"
Yang kecil bilang "Ciuuuup, ciiiuuup!"Yah begitulah anak-anak, memakai sandal masuk rumah, corat-coret dinding rumah, bikin laptopku kalau dibuka kayak orang manggut-manggut, anarkis sama kucing, dan sederet lagi ulahnya yang meramaikan rumahku. Hahahah!
Kamis, 28 Juni 2012
get the cool shoeshine!
Yeah, siapa coba, itu disenandungkan NOODLE, salah satu karakter band virtual GORILLAZ. Memang tidak terlalu familiar sekarang, karena mereka sudah sering LIVE dengan menampakkan wujud aslinya.
Saya mengenal mereka sekitar tahun 2000an, MTv masih eksis di Indonesia. Dulu, kalau mau menonton MTv AMPUH, chart lagu Indonesia yah harus bangun subuh, kalau pagi sampe malam itu diisi ma musik internasional.
Orang di rumah sih sering marah-marah saya nonton MTv, katanya banyak video yang 'porno', nenekku bilang "Kau itu, Nak. Kau contohmi nanti itu. Kau belajarmi Bahasa Inggris bahasanya penjajah!" Ahaha, lucu juga sentimennya.
Soal musik saya bisa dibilang penikmat segala, ada yang terjaring di otakku sampai-sampai harus nyanyi gak jelas, hanya nyanyi bahasa inggris 'versi' apa yang didengar walau pengucapan sebenarnya salah, yang penting senang.
Ada satu, GORILLAZ, hanya ''get the cool, get the cool shoeshine"nya selalu kulafalkan, bagian lirik lain hanya nananananana doang karena nggak tahu persis liriknya. Hahaha. Video klipnya unik, saya pikir dulu ini kayak semacam trailer film kartun, ternyata ini video klip. Kayaknya mereka juga menginspirasi (baiklah, bukan mencontek) ide video klip kartun WAYANG "Jangan Kau Pergi".
Penasaran sama mereka, hingga suatu hari mereka adakan konser LIVE. Keren sih tapi malah bikin tambah penasaran, yang ada di panggung tuh hanya layar besar yang menampilkan karakter mereka secara raksasa di depan penonton. Nanti pas kuliah baru tahu kalau ini proyeknya Damon Albarn setelah pecah kongsi dengan band BLUR, kerjasama dengan sang komikus "TANK GIRL", Jamie Hewlett. Satu kata, KREATIF!
![]() |
| Rise of the Ogre (halaman 30) |
MURDOC sang bassis, karakternya dibikin slenge'an, gila perempuan, suka menganiaya teman-temannya, terutama 2D sang vokalis. Sedangkan RUSSEL, drummer, penyayang binatang dan anak-anak. Tidak terlalu dominan ditampilkan karena dia sendiri dibikin menjadi sosok misterius, beberapa kali menjelma raksasa di beberapa video klip sebagai alter egonya. Favoritku, NOODLE, satu-satunya perempuan di band ini. Dia anak perempuan asal Jepang yang telah diamnesiakan karena dia pernah dilatih untuk keperluan militer 'bawah tanah' di Jepang sana, membentuk kesatuan intel anak-anak yang mahir berperang. Karena dianggap proyek ini terlalu membahayakan akhirnya proyek ini dihentikan. 'Noodle', itulah kata pertama yang diucapkannya ketika bertemu MURDOC yang mencari gitaris untuk bandnya.
Rekomendasi lagu :
1. 19-2000
2. 5/4
3. AMARILLO
4. CLINT EASWOOD
5. DIRTY HARRY
6. FEEL GOOD INC.
7. LATIN SIMONE
8. LEFT HAND SUZUKI METHOD
9. PUNK
10. ROCK THE HOUSE
11. STARSHINE
12. THE SWAGGA
Bah, selusin, ahahaha! Masih banyak sih lagunya, tapi itu yang 'enak' menurut telingaku.
Sabtu, 10 Maret 2012
GALERI ZIYA
Label:
artikel siluman,
curhat picisan,
poting
Semua pernah mengalami mimpi buruk dalam tidur, tapi bagi saya mimpi terburuk justru terselip di kehidupan nyata. Saya pernah dua kali merasakan, memaksakan bahwa itu tidur tapi tidak, ternyata bukan! Sebelum sekolah, saya pernah 'bermimpi' mengejar dengan-setengah-mati banyak anak laki-laki, sekawanan teman kakak saya yang sudah SD bersorak-sorak, menggiring seekor kucing peliharaan saya, mereka akan membuangnya entah dimana. Saya mengejar mereka sambil menangis, saya tak akan pernah lupa kejadian itu walau saya tak ingat dengan detail kronologis kejadiannya.
'Mimpi buruk' kedua, seperti biasa, saya menggambar saat waktu senggang, saat PR telah selesai semua. Saya begitu ingat, sebelum SD saya tak pernah diizinkan meminjam peralatan menggambar saudara yang lebih tua namun sekarang saya salah satu orang yang telah memiliki mereka. Saya yang tak punya kamar dan meja sendiri, menempelkan karyaku malam itu di kamar orang tua, tempat peralatan sekolah dan segala mainanku menumpang. Saya sudah tak ingat betul, gambar apakah gerangan di kertas tersebut sehingga membuat saya sangat bangga memajangnya. Keesokan siangnya, sepulang dari sekolah, seperti biasa saya selalu antusias, mengerjakan PR matematika, saya suka berhitung waktu awal-awal sekolah, justru menjadi pelajaran favorit waktu itu. Tapi, sesuatu hilang, tidak ada di tempatnya dan tak mungkin dinding itu yang menelan gambarku.
Saya bertanya kepada Mak yang sedang sibuk di dapur, ternyata telah dibuang, bentuknya telah kucel di tempat sampah. Saya lagi-lagi merasa mati, kecuali mata saya yang mengalirkan airmata. Sejak hari itu, saya tahu bahwa kebanyakan orang di rumah tak suka saya menggambar. Saya tak berhenti menggambar sampai SMP, dengan catatan saya simpan baik-baik mereka. Tapi tiap kali menggambar, nada peringatan dari orang rumahpun tak berhenti. "Belajar, jangan hanya menggambar saja kerjamu!". Saya merasa perlu membeli buku, meski buku catatan biasa, bakal calon diari. Jadilah pelajaran mengarang menyingkirkan jauh-jauh posisi 'betapa menariknya' perhitungan di kepalaku.
Tapi, dari akun seorang teman FB, saya mengenal putrinya bernama Azka Zahra Maziya (6 tahun). Saya begitu bersemangat ketika ibunya mentagkan karya Ziya ke wall saya, saya bisa bahagia karena saya merasa mimpi saya hidup di tangan kecilnya. Betapa beruntungnya Ziya punya bunda yang pengertian dan betapa beruntungnya bundanya punya anak berbakat seperti Ziya. :)
Seorang dosen pernah menganjurkan saya untuk menyudahi kegiatan berfacebook, dalam hati saya menjawab "Tidak mungkin, Pak!". Bersosial network membuat saya merasa beruntung, menemukan banyak mimpi menembus dunia ilusi menjadi kenyataan :)
Dasar anak-anak, imajinasinya selalu keren! Mereka masih belajar tentang semua hal-hal dasar, ucapkanlah satu kata yang asing baginya, yang tak pernah mereka lihat dan mereka dengar, maka otaknya akan membentuk 'sesuatu' tersebut sesuai imajinasinya. Yah, hanya dengan imajinasi saja, setiap anak telah sanggup membangun dunia versi mereka,. Seperti saat kecil saya merasa awan itu kembang gula yang melayang di langit, saat saya masih percaya kita butuh banyak menghembuskan udara saat bernafas daripada menarik nafas di cuaca panas agar mereka kembali menjadi angin penyejuk. Setiap kali makan buah, saya membayangkan saya nanti akan panen karena telah memakan berbagai biji buah-buahan layak telan. Saat pertamakali saya pernah melihat seorang wanita muntah-muntah (mengidam), Mak bilang itu karena dia tengah hamil tapi bayi dalam perutnya masih kecil, seketika itu saya berpendapat bahwa "Oh, mungkinkah bayi itu lahir melalui mulut?" :P
'Mimpi buruk' kedua, seperti biasa, saya menggambar saat waktu senggang, saat PR telah selesai semua. Saya begitu ingat, sebelum SD saya tak pernah diizinkan meminjam peralatan menggambar saudara yang lebih tua namun sekarang saya salah satu orang yang telah memiliki mereka. Saya yang tak punya kamar dan meja sendiri, menempelkan karyaku malam itu di kamar orang tua, tempat peralatan sekolah dan segala mainanku menumpang. Saya sudah tak ingat betul, gambar apakah gerangan di kertas tersebut sehingga membuat saya sangat bangga memajangnya. Keesokan siangnya, sepulang dari sekolah, seperti biasa saya selalu antusias, mengerjakan PR matematika, saya suka berhitung waktu awal-awal sekolah, justru menjadi pelajaran favorit waktu itu. Tapi, sesuatu hilang, tidak ada di tempatnya dan tak mungkin dinding itu yang menelan gambarku.
Saya bertanya kepada Mak yang sedang sibuk di dapur, ternyata telah dibuang, bentuknya telah kucel di tempat sampah. Saya lagi-lagi merasa mati, kecuali mata saya yang mengalirkan airmata. Sejak hari itu, saya tahu bahwa kebanyakan orang di rumah tak suka saya menggambar. Saya tak berhenti menggambar sampai SMP, dengan catatan saya simpan baik-baik mereka. Tapi tiap kali menggambar, nada peringatan dari orang rumahpun tak berhenti. "Belajar, jangan hanya menggambar saja kerjamu!". Saya merasa perlu membeli buku, meski buku catatan biasa, bakal calon diari. Jadilah pelajaran mengarang menyingkirkan jauh-jauh posisi 'betapa menariknya' perhitungan di kepalaku.
Tapi, dari akun seorang teman FB, saya mengenal putrinya bernama Azka Zahra Maziya (6 tahun). Saya begitu bersemangat ketika ibunya mentagkan karya Ziya ke wall saya, saya bisa bahagia karena saya merasa mimpi saya hidup di tangan kecilnya. Betapa beruntungnya Ziya punya bunda yang pengertian dan betapa beruntungnya bundanya punya anak berbakat seperti Ziya. :)
Seorang dosen pernah menganjurkan saya untuk menyudahi kegiatan berfacebook, dalam hati saya menjawab "Tidak mungkin, Pak!". Bersosial network membuat saya merasa beruntung, menemukan banyak mimpi menembus dunia ilusi menjadi kenyataan :)
![]() |
| "Perasaan Senang Membuat Semua Menjadi Manis Indah dan Melayang di Angkasa" |
![]() |
| "Koran Yotsuba Kazi" |
![]() |
| Dia melukis salah satu mimpi dalam tidurnya |
Dasar anak-anak, imajinasinya selalu keren! Mereka masih belajar tentang semua hal-hal dasar, ucapkanlah satu kata yang asing baginya, yang tak pernah mereka lihat dan mereka dengar, maka otaknya akan membentuk 'sesuatu' tersebut sesuai imajinasinya. Yah, hanya dengan imajinasi saja, setiap anak telah sanggup membangun dunia versi mereka,. Seperti saat kecil saya merasa awan itu kembang gula yang melayang di langit, saat saya masih percaya kita butuh banyak menghembuskan udara saat bernafas daripada menarik nafas di cuaca panas agar mereka kembali menjadi angin penyejuk. Setiap kali makan buah, saya membayangkan saya nanti akan panen karena telah memakan berbagai biji buah-buahan layak telan. Saat pertamakali saya pernah melihat seorang wanita muntah-muntah (mengidam), Mak bilang itu karena dia tengah hamil tapi bayi dalam perutnya masih kecil, seketika itu saya berpendapat bahwa "Oh, mungkinkah bayi itu lahir melalui mulut?" :P
Sabtu, 28 Januari 2012
NIA, kau cantik malam ini!
Label:
artikel siluman,
curhat picisan,
fiksi,
keluarga,
malam,
poting
Insomnia yah tetap insomnia, selalu tidak bisa memejamkan mata lebih 'malam', ngantuknya nanti datang pas dinihari, tak peduli dia sudah berdandan cantik atau tidak. Tapi lumayanlah hari ini, saya ke rumah dua orang dosen dengan jalan kaki, tapi kasihan sih, daeng becaknya tak berjodoh dengan uangku. Tapi tak apalah, sudah lama tak 'menghayati' kegiatan satu ini, beberapa bulan ini saya jalan kaki selalu buru-buru ke tujuan, sudah lama tidak mengamati apa-apa yang kulewati. Saya melewati Pasar Terong. Serasa di kampung sendiri, kebanyakan penjual di sana saling beramah tamah dengan bahasa bugis. Sayang saya tak punya kamera, saya menemukan seorang bayi dalam keadaan tengkurap di ayunan melihat Ibunya sibuk merapikan dagangannya. Sepertinya telah lama tidak mengalami 'rekreasi hidup' seperti ini, yang kutatap akhir-akhir ini hanya setumpuk buku dan kertas yang mengurungku dalam teori-teori.
Saya memperlambat jalan, menikmati sekitar sampai saya di tujuan. Saya mengembalikan buku seorang dosen yang saya janjikan untuk dikembalikan sore ini. Tujuan berikutnya Jalan Pettarani, lagi menjumpai pasar. Masuk ke rumah dosen saya yang satu ini lagi-lagi harus melalui pasar. Saya iseng menyetel radio melalui hape, kejutan! Ada OPA (nama udara seorang penyiar di Tellstar-FM Makassar) yang membawakan acara STDK (Secangkir Teh dan Kenangan), lagu-lagu yang disajikan pun tahun-tahun 60an, musik yang tak secemerlang sekarang tapi justru itu yang membuat musik-musik jadul jadi manis. Dia merekam 'keseluruhan', bukan hanya yang 'dibutuhkan'.
Selesai berjabat tangan dengan dosen yang kedua, ada beban yang serasa terangkat. Terus terang saya makin tidak bisa tidur karena kekhilafan saya sendiri kepada beliau, tapi sore ini telah berbeda. "Terima kasih, Pak!". Acara jalan kakinya pun dilanjutkan, dari rumah dosenku tersebut menuju ke jalan tol, merasai bau amis ikan-ikan di pasar, di kepung polusi kendaraan di jalan raya, ternyata hidung saya masih hidup. Hehe.
Saya menunda pulang walau orang di rumah sudah mewanti-wanti agar pulang lebih pagi, saya ingin singgah di warnet, tempatku dulu menggantungkan nasib dompetku. Saya ingin menjenguk masa lalu saya, mereka, teman-teman saya di sana yang selama ini hanya bisa saling menyapa via hp atau dunia maya. Saya merindukan kaliaaaaaaaaan. Walau Mak marah-marah, tapi rindu telah ditunaikan, insomnia malam ini lumayan cantik!
Jumat, 27 Januari 2012
MELENGKAPI NAMA
Label:
artikel siluman,
buku,
curhat picisan,
kematian,
neting,
pete-pete,
poting,
teman
Nama yang diberikan saat kita lahir selalu tidak lengkap, harus ada dr. (di depan) ataukah mis. ST (di belakang). Banyak orang merayakannya, tapi sungguh saya malah merasa makin tidak becus. Mungkin harus menambah lagi, gelar yang digariskan tuhan nanti, alm. Saya telah merasa lengkap untuk mati! Walau bagi banyak orang saya bukan sosok yang lengkap, saya tidak bisa menghargai (kata dosen), saya tidak bisa manis di depan mereka (kata saudara), mungkin saya harus belajar kepada si MUKA mALAYkat, seorang mahasiswi teman seangkatanku di fakultas. Dia begitu mudah memajang tampang manis depan dosen, seperti orang tidak berdosa, tapi justru itulah saya tidak menyukainya. Sedangkan saya, mungkin bagi beberapa dosen saya hanya perempuan misterius, si kurang kerjaan yang mengisi waktunya dengan kuliah.
Sms-sms selamat datang, tapi saya tidak tahu apa yang harus dirayakan. Tiba-tiba seorang saudara menambahkan "sayang" di smsnya ketika menyapaku setelah dosen-dosen di meja ujian menambahkan nama saya dengan dua huruf itu.
Saya enggan pulang, saya tidak mau pulang disambut sebagai pahlawan. Saya merasa seperti Zuko yang tidak tahu mengapa orang menyambutnya sebagai pahlawan negara api karena telah berhasil memusnahkan Aang. Dalam hatinya dia justru merasa tidak berguna. Seperti itulah kira-kira, ada yang dalam dirimu yang tak kau mengerti apa itu.
Seorang sahabat yang telah lama tidak bertemu, saya menghubunginya karena setelah beberapa kali lewat UNM, tempatnya kuliah, kemarin baru sadar kalau sedang ada bangunan 'keren' didirikan di sana, lebih artistik dari Baruga A.P. Pettarani punya Unhas. Hem, saya pikir boleh juga. Tujuan saya sebenarnya waktu itu ke MP buat nonton Film Jerman, tapi lagi-lagi saya tersesat di mall, ke mall mah palingan ke gramedia. Hehe. Dapat buku komik HIDUP ITU INDAH!nya AJI PRASETYO yang udah kebuka, jadilah ngakak dulu dan kelupaan kalau sebenarnya ke MP tuh buat nonton.
Oh yah kembali ke temanku tadi. Dia bilang itu namanya MENARA PINISI,nantinya tempat seluruh administrasi UNM berpusat nantinya. Masih dalam tahap pembangunan, tapi nilai arsitekturnya sudah kelihatan. Semoga gak 'sombong' setelahnya, pendidik tak boleh sombong, jika dia sombong dia akan sukar menularkan kecerdasannya :)
Alangkah bodohnya mata ini, karena begitu banyak kepentingan jadi sudah lupa meluangkan waktu untuk menikmati sekitar. Saya jadi ingat, kami berdua pas SMA. Saya adalah orang yang sungguh mengaguminya karena kesederhanaannya, sedangkan dia suka ketika saya tiba-tiba sok bijak di depannya. Saya sering menuliskan banyak kata-kata penyemangat di buku diarynya setelah dia curhat, yah kami punya buku curhat, bergilirian untuk menulisinya.
Ah, ingin sekali kukatakan padanya semua yang kutulis adalah omong kosong belaka karena saya sampai hari ini tidak becus ngapa-ngapain. Sedangkan dia sekarang telah bekerja, padahal dia yunior, dua tahun lebih muda dari saya. Tapi saya menganggapnya sahabat, kami telah terlanjur nyambung, tak peduli dia lebih mudah ataukah lebih tua.
Yah, saya merasa begitu sibuk akhir-akhir ini. Sering bolak-balik ke fotokopyan, tapi baru kemarin nyadar kalau mace yang sudah nenek-nenek yang di kantin ekonomi sudah meninggal, saya yang mencoba mencari tahu dari yang pegawai fotocopy . Saat saya bertanya dalam hati saya berharap dia belum datang atau hanya sakit, tapi mereka menjawab "dia sudah meninggal sebelum lebaran haji" dan berapa lama saya tak sadar, saya telah lama tidak menoleh dan bertukar senyum dengannya? Inna lillah, semoga beliau diterima dengan baik di sisi-NYA.
Kesibukan-kesibukan ini, yang saya lakukan agar merasa penting justru membuat saya jadi sebaliknya. Saya jadi lupa menyadari hal-hal kecil, tentang Menara Pinisi yang begitu menggugah saya walau hanya saya pandang dari pete-pete, tentang mace tua yang sudah lama tak jualan lagi atau tentang senyum-senyum 'politik' yang sudah mulai menjarah pinggir-pinggir jalan. Setelah semua itu, saya masih merasa tidak penting! Omong kosong belaka... ya sudah, segitu sajalah namaku, saya tak mau menambahnya lagi.
Sms-sms selamat datang, tapi saya tidak tahu apa yang harus dirayakan. Tiba-tiba seorang saudara menambahkan "sayang" di smsnya ketika menyapaku setelah dosen-dosen di meja ujian menambahkan nama saya dengan dua huruf itu.
Saya enggan pulang, saya tidak mau pulang disambut sebagai pahlawan. Saya merasa seperti Zuko yang tidak tahu mengapa orang menyambutnya sebagai pahlawan negara api karena telah berhasil memusnahkan Aang. Dalam hatinya dia justru merasa tidak berguna. Seperti itulah kira-kira, ada yang dalam dirimu yang tak kau mengerti apa itu.
Seorang sahabat yang telah lama tidak bertemu, saya menghubunginya karena setelah beberapa kali lewat UNM, tempatnya kuliah, kemarin baru sadar kalau sedang ada bangunan 'keren' didirikan di sana, lebih artistik dari Baruga A.P. Pettarani punya Unhas. Hem, saya pikir boleh juga. Tujuan saya sebenarnya waktu itu ke MP buat nonton Film Jerman, tapi lagi-lagi saya tersesat di mall, ke mall mah palingan ke gramedia. Hehe. Dapat buku komik HIDUP ITU INDAH!nya AJI PRASETYO yang udah kebuka, jadilah ngakak dulu dan kelupaan kalau sebenarnya ke MP tuh buat nonton.
Oh yah kembali ke temanku tadi. Dia bilang itu namanya MENARA PINISI,nantinya tempat seluruh administrasi UNM berpusat nantinya. Masih dalam tahap pembangunan, tapi nilai arsitekturnya sudah kelihatan. Semoga gak 'sombong' setelahnya, pendidik tak boleh sombong, jika dia sombong dia akan sukar menularkan kecerdasannya :)
![]() |
| MENARA PHINISI - UNM |
Alangkah bodohnya mata ini, karena begitu banyak kepentingan jadi sudah lupa meluangkan waktu untuk menikmati sekitar. Saya jadi ingat, kami berdua pas SMA. Saya adalah orang yang sungguh mengaguminya karena kesederhanaannya, sedangkan dia suka ketika saya tiba-tiba sok bijak di depannya. Saya sering menuliskan banyak kata-kata penyemangat di buku diarynya setelah dia curhat, yah kami punya buku curhat, bergilirian untuk menulisinya.
Ah, ingin sekali kukatakan padanya semua yang kutulis adalah omong kosong belaka karena saya sampai hari ini tidak becus ngapa-ngapain. Sedangkan dia sekarang telah bekerja, padahal dia yunior, dua tahun lebih muda dari saya. Tapi saya menganggapnya sahabat, kami telah terlanjur nyambung, tak peduli dia lebih mudah ataukah lebih tua.
Yah, saya merasa begitu sibuk akhir-akhir ini. Sering bolak-balik ke fotokopyan, tapi baru kemarin nyadar kalau mace yang sudah nenek-nenek yang di kantin ekonomi sudah meninggal, saya yang mencoba mencari tahu dari yang pegawai fotocopy . Saat saya bertanya dalam hati saya berharap dia belum datang atau hanya sakit, tapi mereka menjawab "dia sudah meninggal sebelum lebaran haji" dan berapa lama saya tak sadar, saya telah lama tidak menoleh dan bertukar senyum dengannya? Inna lillah, semoga beliau diterima dengan baik di sisi-NYA.
Kesibukan-kesibukan ini, yang saya lakukan agar merasa penting justru membuat saya jadi sebaliknya. Saya jadi lupa menyadari hal-hal kecil, tentang Menara Pinisi yang begitu menggugah saya walau hanya saya pandang dari pete-pete, tentang mace tua yang sudah lama tak jualan lagi atau tentang senyum-senyum 'politik' yang sudah mulai menjarah pinggir-pinggir jalan. Setelah semua itu, saya masih merasa tidak penting! Omong kosong belaka... ya sudah, segitu sajalah namaku, saya tak mau menambahnya lagi.
Rabu, 18 Januari 2012
I Start A Revolution From My Bed
Label:
artikel siluman,
curhat picisan,
malam,
musik,
poting,
sok bijak,
tutorial
Judul di atas adalah petikan lirik dari lagu Oasis "Don't Look Back In Anger", sepertinya Noel Gallagher sang pencipta lagu memang mengkhususkan lagu ini tentang John Lennon walau pada bagian reffnya bisa dibilang tak berhubungan sama sekali dengan sang legendaris. Tak ada yang bisa menafikkan, bagaimana intro pembuka lagu ini mengingatkan kita pada lagu "Imagine".
Apa yang dilakukan seseorang di tempat tidur sehingga harus menyinggung kata revolusi segala? Revolusi bukannya dengan demonstrasi, atau perang? Tapi tidak bagi John Lennon yang bisa dibilang orangnya pemalas, namun 'jenius'. Maka berhati-hatilah kalian orang yang rajin, jika sang pemalas mempergunakan sedikit saja otaknya maka bisa akan mengalahkan seluruh usaha yang telah kalian lakukan. Haha! Sok tahu, tapi saya bukan jenius yah, saya hanya pemalas biasa tanpa embel-embel.
Maka, kamar hotel biasa yang dia tempati tak sepi akan penggemar, pendukung, wartawan yang meliput, dunia begitu memperdulikan aksi ini.
John Lennon yang baru saja menikah dengan Yoko Ono berbulan madu, tapi ini bukan bulan madu biasa. Selama sepekan, mereka tetap hanya duduk dan tidur-tiduran di kamar hotel. "I'm gonna start a revolution from my bed, cause you said the brains I had went to my head." Begitulah sebuah petikan wawancara dengan John Lennon. Mungkin dia pernah muak akan kepopularitasan sisa-sisa keBeatlesannya, tapi tidak, dia kemudian sadar harus berbuat sesuatu selama dunia masih menganggapnya seorang yang harus didengar dunia. Daripada pergi berbuat kekacauan, pengrusakan, perang lebih baik duduk, diam, tidur-tiduran di atas kasur. Yah, bisa menjurus ke make love no war.
Saya pernah begitu membenci Yoko Ono, bagi saya dia itu wanita aneh dan mengapa bisa John Lennon mencintainya? Dia adalah salah satu penyebab bubarnya The Beatles. Itu dulu, dan sekarang saya justru maklum. Betapa kau butuh seseorang yang mendampingimu, mengerti dirimu, menemanimu mewujudkan mimpi-mimpi gila. Dunia bisa saja menghina akan pilihan itu tapi kau yakin dia orang yang tepat! Saat John Lennon telah muak akan popularitasnya, maka mengliarlah mereka berdua, pada mulanya semua mencaci, tapi seiring waktu mereka bisa membuktikan justru mereka adalah dua orang yang bersatu yang layak didengarkan dunia!
Lalu apa yang bisa saya lakukan di tempat tidur. Sebelum tidur, saya hanya memuaskan birahi insomniaku yang menunya telah tersusun panjang, bahkan tiap hari makin bertambah. Saya mengingat orang-orang yang pernah marah dan kecewa kepada saya, saya mengingat orang-orang yang menuntut saya membahagiakan mereka dengan brebagai macam cara, saya mengingat ambisi-ambisi yang tak terwujud. Gambar-gambar yang kubuat semasa kecil, yang telah almarhum dimangsa api tempat sampah di rumahku dulu... Garis-garisnya terus menghantui pikiranku, mereka seolah-olah meminta untuk digambarkan kembali.
Mau tak mau, justru insomnialah yang jadi ninabobo saya tiap malam. Saya sudah terbiasa tidur jam empat pagi, terkadang menunggu adzan subuh dulu, itu penanda pagi bagi saya karena jam hape dan laptop sering kubuat tak konsisten dengan waktu sebenarnya. Jika beruntung saya harus tidur walau beberapa jam, beruntunglah lebih banyak hari untung daripada buntungnya. Jika buntung, saya tak akan tidur karena saya tidak boleh bangun telat, biasa ada agenda pagi dan jadinya berjalan kayak orang mabuk, perasaan seperti hantu (melayang-layang di udara), mencicil-cicil ngantuk di atas angkot. Lalu apa relevansinya dengan John Lennon dan judul di atas?
Mungkin tak ada, saya hanya mau bilang kalau saya harus tidur. Biasanya kalau saya tidak tidur, kegiatan 'menabung' saya terhambat. Itu saja, maka itu saya harus tidur kalau tidak bisa kewalahan mencari WC di jalan. Hehe! Nda' penting kan? Ini bukan revolusi sama sekali, ini hanya semacam rekreasi kenangan akan lagu ini, saat Oasis masih sering muncul di MTv, saat saya masih SD. Dengan begitu bisa tertawa minimal tersenyum, itu saja. :)
Apa yang dilakukan seseorang di tempat tidur sehingga harus menyinggung kata revolusi segala? Revolusi bukannya dengan demonstrasi, atau perang? Tapi tidak bagi John Lennon yang bisa dibilang orangnya pemalas, namun 'jenius'. Maka berhati-hatilah kalian orang yang rajin, jika sang pemalas mempergunakan sedikit saja otaknya maka bisa akan mengalahkan seluruh usaha yang telah kalian lakukan. Haha! Sok tahu, tapi saya bukan jenius yah, saya hanya pemalas biasa tanpa embel-embel.
Maka, kamar hotel biasa yang dia tempati tak sepi akan penggemar, pendukung, wartawan yang meliput, dunia begitu memperdulikan aksi ini.
John Lennon yang baru saja menikah dengan Yoko Ono berbulan madu, tapi ini bukan bulan madu biasa. Selama sepekan, mereka tetap hanya duduk dan tidur-tiduran di kamar hotel. "I'm gonna start a revolution from my bed, cause you said the brains I had went to my head." Begitulah sebuah petikan wawancara dengan John Lennon. Mungkin dia pernah muak akan kepopularitasan sisa-sisa keBeatlesannya, tapi tidak, dia kemudian sadar harus berbuat sesuatu selama dunia masih menganggapnya seorang yang harus didengar dunia. Daripada pergi berbuat kekacauan, pengrusakan, perang lebih baik duduk, diam, tidur-tiduran di atas kasur. Yah, bisa menjurus ke make love no war.
![]() |
| Bed-Ins for Peace |
Lalu apa yang bisa saya lakukan di tempat tidur. Sebelum tidur, saya hanya memuaskan birahi insomniaku yang menunya telah tersusun panjang, bahkan tiap hari makin bertambah. Saya mengingat orang-orang yang pernah marah dan kecewa kepada saya, saya mengingat orang-orang yang menuntut saya membahagiakan mereka dengan brebagai macam cara, saya mengingat ambisi-ambisi yang tak terwujud. Gambar-gambar yang kubuat semasa kecil, yang telah almarhum dimangsa api tempat sampah di rumahku dulu... Garis-garisnya terus menghantui pikiranku, mereka seolah-olah meminta untuk digambarkan kembali.
Mau tak mau, justru insomnialah yang jadi ninabobo saya tiap malam. Saya sudah terbiasa tidur jam empat pagi, terkadang menunggu adzan subuh dulu, itu penanda pagi bagi saya karena jam hape dan laptop sering kubuat tak konsisten dengan waktu sebenarnya. Jika beruntung saya harus tidur walau beberapa jam, beruntunglah lebih banyak hari untung daripada buntungnya. Jika buntung, saya tak akan tidur karena saya tidak boleh bangun telat, biasa ada agenda pagi dan jadinya berjalan kayak orang mabuk, perasaan seperti hantu (melayang-layang di udara), mencicil-cicil ngantuk di atas angkot. Lalu apa relevansinya dengan John Lennon dan judul di atas?
Mungkin tak ada, saya hanya mau bilang kalau saya harus tidur. Biasanya kalau saya tidak tidur, kegiatan 'menabung' saya terhambat. Itu saja, maka itu saya harus tidur kalau tidak bisa kewalahan mencari WC di jalan. Hehe! Nda' penting kan? Ini bukan revolusi sama sekali, ini hanya semacam rekreasi kenangan akan lagu ini, saat Oasis masih sering muncul di MTv, saat saya masih SD. Dengan begitu bisa tertawa minimal tersenyum, itu saja. :)
Jumat, 06 Januari 2012
TWO OF US
Label:
artikel siluman,
musik,
neting,
poting
![]() |
| David Bailey |
Paul, ambil remah-remah ini, ambil ilusi ini, ambil ketenaran ini, karena aku akan meninggalkanmu.
--- John Lennon, September 1980John beruntung, ia bisa mengeluarkan semua rasa sakit hatinya. Sifatku berbeda. Masih banyak kepedihan dalam diriku yang harus dibereskan.
--- Paul McCartney, Oktober 1986
Senin, 12 Desember 2011
batal ngantuk
Label:
artikel siluman,
malam,
musik,
poting
lima menit yang lalu merencanakan menunaikan tidur, tapi tiba-tiba menemukan gambar ini... ngantuk entah pergi kemana, mungkin pulang pagi lagi.
*langsung meluncur ke belantara file nyari mp3 'One More Cup Of Coffee (Valley Below)'
![]() |
| mungkin bilang "mari berbincang, ada dua cangkir di sini!" =P |
*langsung meluncur ke belantara file nyari mp3 'One More Cup Of Coffee (Valley Below)'
Sabtu, 03 Desember 2011
Kalimat Paling Sedih : "Jangan Lupakan Aku!"
Label:
artikel siluman,
film,
musik,
poting
The sweetest songs are sung by lovers in the moonlight,
The sweetest days are the days that used to be.
The saddest words I ever heard were words of parting
When you said "Sweetheart, remember me."
Remember me when the candle lights are gleamin',
Remember me at the close of a long, long day.
Just be so sweet when all alone you're dreamin'
Just to know you still remember me.
Remember Me (When The Candlelights Are Gleamin'), salah satu lagu yang dinyanyikan Bob Dylan dengan Joan Baez di hotel saat mereka dan teman-temannya tengah istirahat. Video ini merupakan cuplikan dari bonus dokumenter DON'T LOOK BACK (1967), yang hanya bisa didapatkan dengan membeli edisi re-releasednya (2007). Tapi beruntunglah, tim yutub tidak memblok video ini, so sudah disedot sebelum terlanjur dihapus sama yutub. Huahaha!
Bagusnya! Sepertinya lagu ini tepat sebagai ost. kalimat selamat datang di blog gadissurat ini : "Tenanglah... Aku hanya meninggalkanmu, bukan melupakanmu..." Jiaaaah.
The sweetest days are the days that used to be.
The saddest words I ever heard were words of parting
When you said "Sweetheart, remember me."
Remember me when the candle lights are gleamin',
Remember me at the close of a long, long day.
Just be so sweet when all alone you're dreamin'
Just to know you still remember me.
Remember Me (When The Candlelights Are Gleamin'), salah satu lagu yang dinyanyikan Bob Dylan dengan Joan Baez di hotel saat mereka dan teman-temannya tengah istirahat. Video ini merupakan cuplikan dari bonus dokumenter DON'T LOOK BACK (1967), yang hanya bisa didapatkan dengan membeli edisi re-releasednya (2007). Tapi beruntunglah, tim yutub tidak memblok video ini, so sudah disedot sebelum terlanjur dihapus sama yutub. Huahaha!
Bagusnya! Sepertinya lagu ini tepat sebagai ost. kalimat selamat datang di blog gadissurat ini : "Tenanglah... Aku hanya meninggalkanmu, bukan melupakanmu..." Jiaaaah.
Rabu, 30 November 2011
PERAHU SENYUM
Label:
artikel siluman,
curhat picisan,
fiksi,
poting,
sok bijak,
tutorial
Jika seorang teman pernah mengataiku Kuda Nil, kerjanya menguap melulu di kelas...
Jika seorang teman pernah menggelariku Badak karena lebih suka jalan kaki mengitari unhas...
Kali ini saya ingin punya telinga gajah, mengibas-ngibas untuk mengusir serangga dan (mungkin) mengatup untuk tak mendengarkan yang tak mau didengarkannya. Haha, semuanya harus lucu!
Hari ini, tak berhasil bertemu PD1. Dalam keadaan darurat seperti ini, ngemis untuk diberi kesempatan menjadi mahasiswa satu semester lagi adalah ide satu-satunya. Tiga rumahnya kudatangi, tak satupun berisi dirinya, tolong, saya bukan Ayu TingTing. HPnya tak bersamanya, yang ngangkat seorang putrinya. Skenario-Mu memang canggih, Tuhan! Saya hanya bisa sok bijak, kalau ingin mendengar kabar baik harus keliling kota dulu. Sudah pengen nangis sih, saya termasuk mudah nangis, tapi tiba-tiba saya memikirkan sesuatu...
Sebelum matamu pecah, menumpahkan airnya, paksakan dirimu tersenyum. Sebelum kau tak bisa bernafas lagi karena telah tenggelam, secepat mungkin mekarkan senyummu, jadikan perahu untuk menyelamatkanmu sebelum kau benar-benar sudah tidak bisa menyelamatkan diri.
Haha, ini bukan tips, ini hanya sekedar ide konyol yang tiba-tiba bercokol di kepalaku tadi siang. Dalam hal ini, kayaknya harus sering-sering melototin gambar Joker, yang punya banyak 'perahu', banyak joke-joke menyedihkan yang dia lontarkan agar terpaksa lucu.
Jika dunia nyata telah terlalu banyak melukai, saya harus segera mengungsi, ke dunia maya. Segera mencari warkop karena si SHIRO lagi malas berlari, sudah lama tidak memberinya nutrisi, uang habis buat keliling kota jadi tidak ada tersimpan buat beli pulsa untuk SHIRO. Power laptop tinggal 10%, sudah bunyi-bunyi kayak alat pendeteksi detak jantung di ruang ICU. Colokannya segera dihubungkan, dan... baterainya tak terbaca sedang dicharge. Saya ulangi sampai tiga kali pada colokan yang berbeda di warkop tersebut, pun sama. Lunglaaaaaaai! Laptop buluk ini tak membaca aliran listrik, mau disubsidi pakek apa lu, hah? Pakek ciuman? Jangan sampai penjaga warkopnya ngira saya gila dan dengan segera memberiku nama : Plankton. Cappuccino pun tak sempat kuhayati, di luar sudah gelap dan warkop ini telah rame akan nyamuk. Baiklah, ini sepertinya pertanda untuk pulang lebih cepat dari biasanya.
Langsung mengagendakan ke MTC besok nyari charger baru. Tak jauh dari tempat itu pun beberapa hari yang lalu si MUHRIM terpisah denganku, tersesat di tangan pencuri. Saya jadi begidik sendiri, jangan-jangan ini penolakan dari zaman digital terhadap diri ini. Pelan-pelan, sepertinya diri ini dijauhi teknologi satu-persatu. Naik pete-pete, dapat kursi paling belakang, dengan perasaan yang aneh sambil mandang lampu-lampu mobil/motor yang ngantri di belakang. Jangan-jangan itu bukan mobil, jangan-jangan mereka itu sekelompok harimau liar yang matanya bisa bersinar dalam gelap. Seraaaaaaam! Makin horor karena membayangkan diri ini menggigit-gigit kaki sendiri dalam mobil, gara-gara tadi digempur sama nyamuk pengen ngegaruk tapi tadi pagi sudah potong kuku.
Berleha-leha di jalan menuju rumah, gaya jalan kayak orang mabuk padahal hanya neguk air minum biasa bekal dari rumah dari tadi siang. Suasana kompleks juga lagi sepi, hanya kodok yang kedengaran kayak membunyikan terompet satu sama lain, sambil memikirkan dimana bisa kucuri benda yang bernama 'telinga gajah' (daun telinga yang lebar, bukan Telinga Gajah yang krupuk!) dan membayangkan dari colokan listrik di rumah nanti keluar ranting-ranting lunak pohon yang pelan-pelan mencekik sekujur badan.
Sampai di rumah, buru-buru cobain cargher laptop, dan................ berhasil! Alhamdulillah, akhirnya gak jadi menjadi manusia purba yang kesasar di era digital. Tiba-tiba kepikiran untuk membuat bahagia diri sendiri. Setiap hari, setiap bangun pagi, saya harus membuat kabar baik untuk diri sendiri : D.O. memang tidak keren, tapi D.O. itu tidak selalu buruk, Nay!
Jika seorang teman pernah menggelariku Badak karena lebih suka jalan kaki mengitari unhas...
Kali ini saya ingin punya telinga gajah, mengibas-ngibas untuk mengusir serangga dan (mungkin) mengatup untuk tak mendengarkan yang tak mau didengarkannya. Haha, semuanya harus lucu!
Hari ini, tak berhasil bertemu PD1. Dalam keadaan darurat seperti ini, ngemis untuk diberi kesempatan menjadi mahasiswa satu semester lagi adalah ide satu-satunya. Tiga rumahnya kudatangi, tak satupun berisi dirinya, tolong, saya bukan Ayu TingTing. HPnya tak bersamanya, yang ngangkat seorang putrinya. Skenario-Mu memang canggih, Tuhan! Saya hanya bisa sok bijak, kalau ingin mendengar kabar baik harus keliling kota dulu. Sudah pengen nangis sih, saya termasuk mudah nangis, tapi tiba-tiba saya memikirkan sesuatu...
Sebelum matamu pecah, menumpahkan airnya, paksakan dirimu tersenyum. Sebelum kau tak bisa bernafas lagi karena telah tenggelam, secepat mungkin mekarkan senyummu, jadikan perahu untuk menyelamatkanmu sebelum kau benar-benar sudah tidak bisa menyelamatkan diri.
Haha, ini bukan tips, ini hanya sekedar ide konyol yang tiba-tiba bercokol di kepalaku tadi siang. Dalam hal ini, kayaknya harus sering-sering melototin gambar Joker, yang punya banyak 'perahu', banyak joke-joke menyedihkan yang dia lontarkan agar terpaksa lucu.
Jika dunia nyata telah terlalu banyak melukai, saya harus segera mengungsi, ke dunia maya. Segera mencari warkop karena si SHIRO lagi malas berlari, sudah lama tidak memberinya nutrisi, uang habis buat keliling kota jadi tidak ada tersimpan buat beli pulsa untuk SHIRO. Power laptop tinggal 10%, sudah bunyi-bunyi kayak alat pendeteksi detak jantung di ruang ICU. Colokannya segera dihubungkan, dan... baterainya tak terbaca sedang dicharge. Saya ulangi sampai tiga kali pada colokan yang berbeda di warkop tersebut, pun sama. Lunglaaaaaaai! Laptop buluk ini tak membaca aliran listrik, mau disubsidi pakek apa lu, hah? Pakek ciuman? Jangan sampai penjaga warkopnya ngira saya gila dan dengan segera memberiku nama : Plankton. Cappuccino pun tak sempat kuhayati, di luar sudah gelap dan warkop ini telah rame akan nyamuk. Baiklah, ini sepertinya pertanda untuk pulang lebih cepat dari biasanya.
Langsung mengagendakan ke MTC besok nyari charger baru. Tak jauh dari tempat itu pun beberapa hari yang lalu si MUHRIM terpisah denganku, tersesat di tangan pencuri. Saya jadi begidik sendiri, jangan-jangan ini penolakan dari zaman digital terhadap diri ini. Pelan-pelan, sepertinya diri ini dijauhi teknologi satu-persatu. Naik pete-pete, dapat kursi paling belakang, dengan perasaan yang aneh sambil mandang lampu-lampu mobil/motor yang ngantri di belakang. Jangan-jangan itu bukan mobil, jangan-jangan mereka itu sekelompok harimau liar yang matanya bisa bersinar dalam gelap. Seraaaaaaam! Makin horor karena membayangkan diri ini menggigit-gigit kaki sendiri dalam mobil, gara-gara tadi digempur sama nyamuk pengen ngegaruk tapi tadi pagi sudah potong kuku.
Berleha-leha di jalan menuju rumah, gaya jalan kayak orang mabuk padahal hanya neguk air minum biasa bekal dari rumah dari tadi siang. Suasana kompleks juga lagi sepi, hanya kodok yang kedengaran kayak membunyikan terompet satu sama lain, sambil memikirkan dimana bisa kucuri benda yang bernama 'telinga gajah' (daun telinga yang lebar, bukan Telinga Gajah yang krupuk!) dan membayangkan dari colokan listrik di rumah nanti keluar ranting-ranting lunak pohon yang pelan-pelan mencekik sekujur badan.
Sampai di rumah, buru-buru cobain cargher laptop, dan................ berhasil! Alhamdulillah, akhirnya gak jadi menjadi manusia purba yang kesasar di era digital. Tiba-tiba kepikiran untuk membuat bahagia diri sendiri. Setiap hari, setiap bangun pagi, saya harus membuat kabar baik untuk diri sendiri : D.O. memang tidak keren, tapi D.O. itu tidak selalu buruk, Nay!
Langganan:
Postingan (Atom)




























