Tampilkan postingan dengan label buku. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label buku. Tampilkan semua postingan
Minggu, 23 April 2017
Minggu, 03 April 2016
ditumpuk
Label:
buku,
curhat picisan,
keluarga,
neting
Buku yang judulnya tak diperlihatkan itu adalah buku yang kubeli dari bulan satu, dan belum dibaca sampai sekarang. Makin hari makin malas membaca. Di rumahku ada tiga orang yang suka menumpuk bahan bacaan, minimal dua kali dalam setahun Mak mengharuskan kami memilih mana yang harus dibuang dan disimpan. Bagi kami sih semuanya penting, tapi daripada Mak marahmarah, jadi biarlah... sedih. Mak bilang, buku hanya sekali dibaca, setelah itu tak ada gunanya lagi, hanya menuhin ruangan saja.
Buku tidak ada apaapanya sampai dibaca, bacaan dan pengetahuan pun tak ada apa-apanya jika tidak diaplikasikan ke kehidupan seharihari. Tanteku yang dari kampung akan tertawa mengejek saya seandainya bukubuku di foto tersebut buku resep memasak atau berkebun, karena saya payah dalam memasak dan Bapak dan Mak saya bukan lagi ''keturunan petani'' yang suka bercocoktanam, mereka guru dan pedagang.
Tante saya pernah bilang kalau kami ini, anaana' monri e*, tidak tahu apaapa selain sekolah, buku dan belajar. Dia pernah bilang kepada kami, mukaaalaa sikolama'tu!**
Ada benarnya, kami mah apa atuh, hanya budakbudak ilmu pengetahuan semata.
*anak zaman sekarang
**saya hanya kalah sekolah dari kalian semua
Sabtu, 02 Januari 2016
Lukisan-Lukisan Afrizal Malna
Habis baca buku OKSIGEN JAWA, Biografi Visual Hanafi. Buku ini adalah 'pendamping' pameran lukisan Hanafi, dengan judul yang sama. Di dalamnya terdapat satu bab, semacam Kata Pengantar oleh Afrizal Malna, tapi justru kelihatan kalau tulisannyalah yang paling banyak memakan tempat di antara interpretasi kata-kata akan lukisan oleh Hanafi sendiri.
Baru nyadar mengapa Afrizal Malna menjadi salah satu penyair keren yang dimilik Indonesia, mengapa saya berkata demikian? Silakan googling sendiri puisi-puisi beliau. Di dalam satu bab di Oksigen Jawa ini, Afrizal Malna memaparkan bagaimana tepatnya zaman lukisan abstrak dan realis di Indonesia.
Maka, wajarlah jika selama ini, ketika membaca puisi-puisi beliau jadi merasa sedang melihat lukisan. Ada bantal, tiba-tiba ada demo buruh, tiba-tiba bicara jemuran dan seterusnya. Hanafi mengaku sebagai teman dekat dengan Afrizal Malna, saya percaya pelukis lebih ''terasing'' daripada penyair, saya pun yakin Afrizal Malna ''penyepi'' macam begitu.
Afrizal Malna, seorang pelukis, melalui kata-kata.
*apa sih ini, gak konsisten banget, padahal postingan ssebelumnya justru apatis ma puisi. piye :P
Baru nyadar mengapa Afrizal Malna menjadi salah satu penyair keren yang dimilik Indonesia, mengapa saya berkata demikian? Silakan googling sendiri puisi-puisi beliau. Di dalam satu bab di Oksigen Jawa ini, Afrizal Malna memaparkan bagaimana tepatnya zaman lukisan abstrak dan realis di Indonesia.
Maka, wajarlah jika selama ini, ketika membaca puisi-puisi beliau jadi merasa sedang melihat lukisan. Ada bantal, tiba-tiba ada demo buruh, tiba-tiba bicara jemuran dan seterusnya. Hanafi mengaku sebagai teman dekat dengan Afrizal Malna, saya percaya pelukis lebih ''terasing'' daripada penyair, saya pun yakin Afrizal Malna ''penyepi'' macam begitu.
Afrizal Malna, seorang pelukis, melalui kata-kata.
*apa sih ini, gak konsisten banget, padahal postingan ssebelumnya justru apatis ma puisi. piye :P
Jumat, 11 Desember 2015
Book Sniffing
Label:
buku,
curhat picisan
Kalau ke Toko ATK, nemu orang yang mendekatkan wajahnya ke dalam sampel
buku tulis baru --segel telah terbuka-- , mungkin itu saya... ahahaha. Tapi bukan hanya buku baru saya senang menciumnya, buku-buku lama juga, seperti di Perpustakaan Pusat Unhas juga wangi, wanginya bukan karena parfum tapi lebih vintage, karena buku di sana buku-buku lama, mungkin sudah 70 tahunan berdekam di sana. Kalau harum 'vintage' ini, kita tak perlu sengaja untuk membuka dan menciumnya, cukup berdiri di antara rak-rak buku tersebut, baunya akan mengepung kita. Aroma macam ini juga sering saya dapati di gudang-gudag kantor, dimana banyak dokumen lama bertumpuk di sana.
Dulu, di kampung, alm. Bapak punya usaha sablon/cetak undangan. Saya dan kakak saya sering kebagian melipat dan mengelem sampul undangan. Biasanya, semakin mahal harganya semakin wangilah kertasnya, tapi yang ini lebih ke wangi parfum daripada bau kertas.
Seandainya banyak uang, pengen deh bikin parfum, variantnya terbagi dua New Book and Old Book, yang New Book mungkin baunya kayak inti pohon yang barusan di tebang, kalau yang Old Book yang harumnya vintage, hehehehe.
Dulu, di kampung, alm. Bapak punya usaha sablon/cetak undangan. Saya dan kakak saya sering kebagian melipat dan mengelem sampul undangan. Biasanya, semakin mahal harganya semakin wangilah kertasnya, tapi yang ini lebih ke wangi parfum daripada bau kertas.
Seandainya banyak uang, pengen deh bikin parfum, variantnya terbagi dua New Book and Old Book, yang New Book mungkin baunya kayak inti pohon yang barusan di tebang, kalau yang Old Book yang harumnya vintage, hehehehe.
Rabu, 19 Agustus 2015
TO LIVE/HIDUP (Yu Hua)
Label:
buku
"Komandan Kompi, kita ada di mana?"
"Kamu tanya aku, sialan, terus aku harus tanya siapa?"
(halaman 61)
(halaman 61)
Sederhana, menggelitik sekaligus membuat haru/sedih. Itulah kesan saya sepanjang membaca buku ini. Novel ini berkisah tentang seorang pemuda kaya raya di kampungnya, bernama Fugui, yang jatuh melarat karena semua harta keluarganya yang bakal jadi warisan untuknya habis di meja judi. Bagaimana selanjutnya dia menghidupi anak-istrinya?
Kisah selanjutnya bukan hanya sekedar "menjalani" kemiskinan, menjadi lebih sulit karena keluarga Fugui harus menghadapi perang, dirinya dipaksa berperang ketika mencari nafkah, dan paling berat adalah ketika harus melalui Revolusi Kebudayaan yang terjadi di Cina pada saat itu. Aturan Komune mengharuskan semua harta mereka (termasuk alat-alat masak) dikumpulkan untuk menjadi harta bersama.
Ketika sebuah topik "ideologi" digelar, maka tak perlu ditanyakan lagi, hal-hal serius, perdebatan alot akan mengikutinya, sesuatu yang menggetarkan bahkan bisa menimbulkan efek traumatik dan menyeramkan. Namun gaya bercerita sederhana membuat kita tak perlu serius mengikuti ceritanya. Yu Hua juga cerdas membayar kesedihan yang mengalir ke pembaca dengan menyelipkan lelucon-lelucon sederhana yang membuat kita akan tersenyum. Sepertinya saya akan membaca ulang novel ini. Kisah ini telah diangkat ke layar lebar tapi percayalah, versi bukunya lebih mengharukan.
Ada yang mengatakan kalau novel ini Anti-Komunis, salah satu prasangka yang membuat novel ini kontroversial di Cina sana. Tapi, saya tak menemukan "penolakan" yang berarti tentang komunis di novel ini karena novel ini hanya berkisah bagaimana Fugui menjalani hidupnya sampai tua. Kerja dari Agustinus Wibowo, terjemahan yang baik dari novel ini membuat kita tak terhambat untuk memahami novel ini.
Orang miskin, wong cilik hanya terselip di pidato-pidato orang atas. Ketika orang-orang di atas sedang berperang bahkan sampai tahap pergantian ideologi atau "sejenis apakah itu" yang sulit mereka mengerti, merekalah pihak yang paling mendapat imbasnya. Selesai tercelup pada sungai kesusahan yang satu, akan tercelup kembali ke sungai kesusahan selanjutnya. Seperti yang dilakukan Fugui, kita hanya perlu menjalaninya.
Kamis, 18 Juni 2015
Surat-Surat dari John Lennon
Kayaknya basi banget postingan kali ini yak, soalnya buku yang mau kuceritakan saya beli tahun lalu, hahaha. Tapi gak apa apa, soalnya ini adalah salah satu buku yang paling berkesan yang kubeli, kalau ada buku yang kupunya, habis baca kuhibahkan ke orang lain, tidak berlaku untuk buku ini, mau dibaca berkali-kali. Hehe... Apalagi saya waktu kecil suka dan punya mimpi sebagai perupa.
Dari beberapa artikel yang pernah saya baca, John Lennon seorang anak yang tak terlalu berprestasi di sekolah, dia lebih suka menggambar. Hobi ini membuatnya berteman baik dengan Stuart Sutchliffe, salah satu personil The Beatles awal karir. Mereka berdua bahkan berniat masuk sekolah seni. Stuart konsentrasi pada hobi seninya sedangkan John Lennon tidak jadi serius menjadi seorang seniman perupa karena dia memutuskan konsen untuk ngeband. Lagu Baby's In Black merupakan lagu yang terinspirasi dari pacar Stuart Sutchliffe, Astrid Kirchherr yang berduka karena kepergian Stuart.
Meski demikian, John Lennon yang jenaka selalu menyisipkan gambar-gambar buatan tangannya pada surat yang dibuatnya. Ohhoooo, manis banget! Itulah John Lennon, bukan Paul McCartney yang mudah memberi pujian dan mengungkapkan perasaannya secara langsung.
Rabu, 24 Desember 2014
MORRIS GLEITZMAN
Seorang teman memberi beberapa buku lucu karangan Morris Gleitzman, seorang penulis buku anak-anak dari Australia. Berikut review singkatnya.
Trims to Melao Kamisama :)
Ro adalah seorang gadis cilik yang tak pernah mengatakan
kata sepatahpun padahal bagi Ayahnya dia adalah anak paling bawel seAustralia.
Ya, Ro bisu sejak lahir. Ro justru punya kepala yang ramai akan
percakapan-percakapan imajinernya, dia bisa berbicara dengan mendiang ibu dan
mendiang sahabatnya, dengan Ayahnya, bahkan dengan perutnya sendiri. Ro
mengalami kesulitan bergaul di lingkungan barunya. Sekolah Luar Biasa, sekolah
lamanya ditutup menjadikan mereka harus pindah ke tempat baru. Ro bisa
mengatasi keterbatasan berkomunikasinya, itu bukan masalah besar. Masalah bagi
Ro justru adalah orang dewasa yang hidup dengannya, yaitu Ayahnya sendiri,
seorang lelaki penggila musik country yang selalu berkostum koboy, Ro selalu
ingin sembunyi, malu, gara-gara keramahan Ayahnya yang mengganggu orang-orang
yang baru dikenalnya.
Favorit : Ketika Ro harus menginap di rumah temannya karena
Ayahnya hilang, dia diam-diam menangis sebelum tidur malam kemudian tidur dan
dia merasa baikan sepaginya. ‘’Kurasa
kalau orang-orang bisa lebih banyak menangis dan tidur, kebutuhan aspirin dan
minuman keras di seluruh dunia bakal turun separonya.”
Ro menyelamatkan seekor kakaktua yang disiksa oleh
pemiliknya, teman sekelasnya yang selalu bikin masalah, Darryn Peck. Dengan
menyayangi hewan malang tersebut, Ro akhirnya tahu mengapa dia menumpahkan
puding spesial di pesta perpisahan dengan gurunya, Ms Dunning yang sebentar
lagi akan menjadi ibu, wanita yang sama, yang menyebabkan Ayahnya menghilang
waktu itu. Sementara Ayahnya sibuk menyiapkan segala hal untuk anggota keluarga
baru mereka nanti, Ro merasa agak diabaikan. Belum lahir saja, adiknya sudah
menyita perhatian Ayahnya, apalagi kalau sudah lahir, apalagi kalau nanti
ternyata adiknya normal, tak bisu seperti dirinya…
Favorit : Aku
menjelaskan bahwa kalau kakaktua itu boleh tinggal bersama kami, aku akan
memberinya makan, merawatnya, dan mengajarinya ke kamar mandi.
“Boleh ya, boleh ya,
boleh ya, boleh ya, boleh ya,” pintaku sampai tanganku pegal.
Saya berterusterang, ingin menangis membaca novel ini.
Bagaimana seorang anak bernama Jamal tidak kehilangan masa-masa bermainnya,
kejenakaan khas anak-anak tak terenggut darinya, padahal dia hidup di
Afganistan, sedang dalam keadaan konflik berkepanjangan. Jamal sangat menyukai
sepakbola, begitupun dengan adik perempuannya, Bibi. Masalahnya, di negaranya
perempuan punya ruang kreatifitas yang terbatas termasuk dalam olahraga ini. Sementara
itu, sekolah ilegal yang didirikan orangtua mereka terendus pemerintah
setempat, hidup mereka terancam. Mereka terpaksa meninggalkan negara tersebut,
tanah kelahiran mereka walau lebih tepatnya mereka membayar, untuk
diselundupkan ke negara lain, Australia.
Favorit : Jamal menyadari bahwa akhirnya dia adalah salah
satu anak yang menjadi yatim-piatu di pengungsian. Walau bersama Bibi, dia
tetap merasa sedih dan sendiri, tapi dia punya tekad punya masa depan cerah. Saya
suka sekali kalimat yang menggambarkan optimisnya, “Aku punya rencana. Aku akan menangis dua jam sehari dan sisanya jadi
penduduk Australia yang produktif dan ceria.”
Ditemani sahabat baiknya Tracy, Keith menyusup ke rumah
mendiang Mr. Mellish. Keith ingin mengetahui apakah penyebab utama kematian
tetangganya tersebut, yang hanya tinggal sendirian saja di rumahnya. Dia ingin
membuktikan bahwa kesepian bisa berdampak seburuk itu, ketakutan yang
menghampirinya selepas orang tuanya berpisah. Dia cemas hal serupa akan terjadi
pula pada orang tuanya, namun yang menjadi hal yang lebih dikhawatirkannya
adalah penampilan orang tuanya yang membosankan sehingga tidak ada yang
tertarik untuk mengencani mereka, kalau tetap demikian maka mereka akan tetap
kesepian.
Favorit : ‘’Kau tahu
apa yang selalu ingin kulakukan waktu liburan?” kata Bibi Bev.
“Pergi ke Nepal?’’
tebak Keith.
“Menghabiskan dua
minggu dengan perut normal seperti perut ayahmu dan rambut nyaman seperti
rambut ibumu,’’ kata Bibi Bev.
Mitch punya
malaikat pelindung bernama Doug. Masalahnya adalah hanya Mitch seorang yang
percaya bahwa Doug benar-benar ada. Padahal keluarganya sedang dalam masalah, paceklik
yang panjang ini membuat bank harus menyita banyak tanah tetangganya dan itu
akan membuat tetangganya marah kepada Ayahnya yang bertugas di bank tersebu. Semua
orang benci kepada keluarganya. Mitch berharap Doug tetap membantunya walau
semua orang mencemoohnya dan menganggap malaikat itu hanya omong kosong belaka,
karena Doug harus membantunya dengan mendatangkan air agar dia bisa jadi atlet
loncat indah, dengan begitu keluarganya tidak akan dibenci lagi.
Favorit : Lihat Dad. Dia begitu tertekan hingga
dasinya terjepit pintu lemari es. Sekarang Dad memelototi pintu lemari es
seolah-olah bermaksud menulis laporan tentang benda itu.
Untuk memperbaiki
nilainya, Mark, Pino, Annie, Rufus diharuskan membuat surat seolah mereka seorang
tokoh/orang terkenal. Bagaimana caranya mereka membuat dirinya tokoh terkenal
jika menjadi orang terkenal di sekolah pun mereka tidak bisa. Dari sinilah
muncullah ide untuk mencari siapakah mereka pada kehidupan mereka sebelumnya,
reinkarnasi. Awalnya mereka bahagia, tapi mereka akhirnya menemukan bahwa
tokoh-tokoh tersebut juga meruapakan penyebab malapetaka, seperti halnya Pino
yang kecewa setelah tahu dirinyalah penemu prinsip fisika nuklir yang digunakan
untuk membuat bom, si jenius Einstein. Anak-anak ini merasa sangat bersalah dan
harus minta maaf dengan apa yang telah mereka lakukan pada kehidupan mereka
yang sebelumnya.
Favorit : Pada buku
yang dibeli Mark dari peramal mengatakan bahwa alat yang digunakan untuk
hipnotis diri-sendiri adalah sendok.
Buku Smalley bilang
gunakan sendok, namun kenapa bukan garpu atau pisau? Itulah masalahnya dengan
orang-orang yang menulis buku, pikir Rufus, mereka merasa tahu segalanya.
Jumat, 12 Desember 2014
Le Petit Prince (2015) Trailer
Saya lahir dan tumbuh di kampung, saya tidak banyak tahu tentang banyak teknologi atau buku-buku bagus. Sampai suatu ketika, kira-kira 10 tahun lalu beberapa teman sosmed saya memajang gambar karakter kartun (kupikir kartun saat itu). Saya menanyakan, kata mereka Pangeran Kecil merupakan salah satu buku cerita anak-anak terbaik sepanjang masa. Saya belum pernah membacanya, bukunya langka. Saya hanya bisa buka internet untuk mendapatkan sedikit informasi. Dan kemarin seorang teman memposting tentang trailer film ini. Sepertinya animasinya bagus, layak untuk dinantikan, masuk daftar resolusiku untuk tahun depan. Lagu Keane yang mengiring trailernya (dinyanyikan oleh Lily Allen) bahkan bikin saya pengen nangis. Semoga tayang di bioskop Indonesia, amin! Trus kayaknya dubbingnya diganti jadi Bahasa Inggris, padahal versi Bahasa Prancisnya lebih keren, yassudahlah. Berikut trailernya... Hati-hati mengalir air mata :')
Sepertinya jadi pengarang cerita untuk anak-anak memang susah, tiba-tiba pengen jadi juri lomba cerita yang ditulis oleh anak-anak... Suatu hari mereka ingin memadamkan bulan karena ketakutan melihat purnama pertama kalinya di tengah langit yang gelap, kemudian dia meminta orang dewasa untuk meniupnya agar padam layaknya seperti lilin. Suatu hari matanya berbinar melihat gulali besar melayang di langit, suatu hari dia menyangka bayi lahir dari mulut karena terheran melihat perempuan hamil sering muntah. Suatu malam dia mengarahkan nyala senternya ke angkasa, berharap ada seorang mendapat pesan tersebut.
Jumat, 19 Juli 2013
Come on Eileen
Label:
buku,
curhat picisan,
film,
keluarga,
musik
Masih dari film yang sama, The Perks of Being a Wallflower. Seperti de javu melihat adegan yang ini, ternyata pernah dengar lagu ini, tapi versi skanya oleh Safe Ferris, tahun 90an. Aslinya lebih ngepop, Dexys Midnight Runners, mewakili musik era sebelumnya, tahun 80an.
Sam : Oh my God! They're playing good music.
Patrick : Holy shit. Holy shit. They are, they're playing good music!
Sam : Living room routine?
Patrick : Living room routine, yeaaah!
Dua saudara tiri yang gila....
Saudara? Hem, jadi rindu mereka kalau puasa kayak gini. Kebanyakan teman sudah mudik padahal baru pekan kedua bulan puasa. Libur sekolah/kuliah membuat syndrom pulang kampung datang lebih awal daripada agenda mudik lebaran tiap tahunnya.
Pengen pulkam juga. Hayyuk, kita mudik. Agar kota menjadi sepi, agar kota menjadi tidak ada apa-apanya. *dendam amat tampaknya* Tapi, kerjaan di kantor terlanjur menumpuk ke tenaga yang tersisa, termasuk saya. Baiklah, dua-tiga minggu ini harus sabar melewati deadline yang berlapis-lapis, belum habis tugas pertama tugas kedua sudah menunggu. Rasanya, sangat "menyerukan".
Sam : Oh my God! They're playing good music.
Patrick : Holy shit. Holy shit. They are, they're playing good music!
Sam : Living room routine?
Patrick : Living room routine, yeaaah!
Dua saudara tiri yang gila....
Saudara? Hem, jadi rindu mereka kalau puasa kayak gini. Kebanyakan teman sudah mudik padahal baru pekan kedua bulan puasa. Libur sekolah/kuliah membuat syndrom pulang kampung datang lebih awal daripada agenda mudik lebaran tiap tahunnya.
Pengen pulkam juga. Hayyuk, kita mudik. Agar kota menjadi sepi, agar kota menjadi tidak ada apa-apanya. *dendam amat tampaknya* Tapi, kerjaan di kantor terlanjur menumpuk ke tenaga yang tersisa, termasuk saya. Baiklah, dua-tiga minggu ini harus sabar melewati deadline yang berlapis-lapis, belum habis tugas pertama tugas kedua sudah menunggu. Rasanya, sangat "menyerukan".
![]() |
| hanya di Indonesia |
Kamis, 23 Agustus 2012
BETTER (bukan merk biskuit)
Label:
artikel siluman,
buku,
curhat picisan,
film,
ideologi sotta',
poting,
sok bijak,
tutorial
Baru satu karya Jodi Picoult yang pernah kutamatkan, My Sister Keeper : Penyelamat Kakakku, itu pun beberapa tahun yang lalu. Entahlah, semakin malas membaca.
Bercerita tentang seorang anak (Anna) yang dilahirkan untuk menolong kakaknya (Kate) yang menderita leukimia, bahkan berakibat buruk pula pada beberapa organ tubuhnya. Saya tidak menafikkan, buku ini buku terbaik yang pernah kubaca. Ayah mereka yang bekerja sebagai seorang petugas pemadam kebakaran tapi punya cita-cita terpendam sebagai astronot, selalu bercerita benda-benda luar angkasa kepada anak-anaknya. Sangat menyukai ketika mereka bertiga (Anna-Kate-Ibu) ketika berjalan-jalan di pusat perbelanjaan, kemudian memutuskan untuk membotak kepala mereka seperti kepala Kate yang memang sakit, mereka melenggang dengan ceria berjalan di tengah keramaian. Bagaimana Anna dan Kate berbagi dalam segala hal termasuk kamar agar Anna bisa membangunkan orang tua mereka jika terjadi sesuatu pada Kate. Kate yang selalu ketakutan, sehingga tiap malam dibiarkan dirinya lelap dalam terang dan selalu memarahi Anna tiap kali adiknya itu mematikan lampu. "Kau bisa menciptakan gelap, tapi aku tak bisa menciptakan terang!". Mengapa Anna harus selalu mengalah?
Dengan mengambil sudut pandang berbeda pada tiap-tiap bab secara bergantian, kita diajak menjadi ibu atau ayah atau Anna atau Kate atau Pengacara Anna atau tokoh lainnya, sehingga kita bisa memaklumi tiap karakternya. Ceritanya menjadi rumit, tak sesederhana memvonis bahwa orang tua merekalah yang salah, atau Anna yang egois karena memutuskan untuk menuntut orang tuanya. Jodi Picoult yang dikenal sebagai penulis novel psikologi, menambahkan hal-hal berbau hukum pada novelnya yang ini. Novel yang keren!
Kira-kira tahun lalu, lebih tepatnya terlambat tahu kalau novel ini telah diangkat jadi film. Salah satu penyemarak film ini, Regina Spektor. Yey, saya suka Regina Spektor! Saya juga suka video-video klip lagunya, dia memang bukan sutradara tapi sepertinya dia yang mengonsep sendiri seluruh video klipnya.
Dalam menghadapi masalah berat, terkadang masalah tersebut terlanjur menjadi racun bagi pikiran kita. Hahaha. Teringat ketika masih menyandang status mahasiswa di ujung tanduk, semua orang, walau tak kenal, walau dengan bibir mingkem sekalipun saya melihat mereka berkata "kapanko sarjana?". Kira-kira begitulah, semua yang ditemui menjelma hakim bagi kita, diri kita tersangka tunggal seluruh dunia. Saat seperti itu, kita butuh sejenak memejamkan mata, mungkin menangis, berusaha keras menemukan ribuan ketegaran dalam diri kita sendiri.
Seperti itulah sensasinya menonton video klip Regina Spektor yang satu ini :
Bercerita tentang seorang anak (Anna) yang dilahirkan untuk menolong kakaknya (Kate) yang menderita leukimia, bahkan berakibat buruk pula pada beberapa organ tubuhnya. Saya tidak menafikkan, buku ini buku terbaik yang pernah kubaca. Ayah mereka yang bekerja sebagai seorang petugas pemadam kebakaran tapi punya cita-cita terpendam sebagai astronot, selalu bercerita benda-benda luar angkasa kepada anak-anaknya. Sangat menyukai ketika mereka bertiga (Anna-Kate-Ibu) ketika berjalan-jalan di pusat perbelanjaan, kemudian memutuskan untuk membotak kepala mereka seperti kepala Kate yang memang sakit, mereka melenggang dengan ceria berjalan di tengah keramaian. Bagaimana Anna dan Kate berbagi dalam segala hal termasuk kamar agar Anna bisa membangunkan orang tua mereka jika terjadi sesuatu pada Kate. Kate yang selalu ketakutan, sehingga tiap malam dibiarkan dirinya lelap dalam terang dan selalu memarahi Anna tiap kali adiknya itu mematikan lampu. "Kau bisa menciptakan gelap, tapi aku tak bisa menciptakan terang!". Mengapa Anna harus selalu mengalah?
Dengan mengambil sudut pandang berbeda pada tiap-tiap bab secara bergantian, kita diajak menjadi ibu atau ayah atau Anna atau Kate atau Pengacara Anna atau tokoh lainnya, sehingga kita bisa memaklumi tiap karakternya. Ceritanya menjadi rumit, tak sesederhana memvonis bahwa orang tua merekalah yang salah, atau Anna yang egois karena memutuskan untuk menuntut orang tuanya. Jodi Picoult yang dikenal sebagai penulis novel psikologi, menambahkan hal-hal berbau hukum pada novelnya yang ini. Novel yang keren!
Kira-kira tahun lalu, lebih tepatnya terlambat tahu kalau novel ini telah diangkat jadi film. Salah satu penyemarak film ini, Regina Spektor. Yey, saya suka Regina Spektor! Saya juga suka video-video klip lagunya, dia memang bukan sutradara tapi sepertinya dia yang mengonsep sendiri seluruh video klipnya.
Dalam menghadapi masalah berat, terkadang masalah tersebut terlanjur menjadi racun bagi pikiran kita. Hahaha. Teringat ketika masih menyandang status mahasiswa di ujung tanduk, semua orang, walau tak kenal, walau dengan bibir mingkem sekalipun saya melihat mereka berkata "kapanko sarjana?". Kira-kira begitulah, semua yang ditemui menjelma hakim bagi kita, diri kita tersangka tunggal seluruh dunia. Saat seperti itu, kita butuh sejenak memejamkan mata, mungkin menangis, berusaha keras menemukan ribuan ketegaran dalam diri kita sendiri.
Seperti itulah sensasinya menonton video klip Regina Spektor yang satu ini :
Senin, 16 Juli 2012
LINGKARAN
Label:
artikel siluman,
buku,
ideologi sotta',
neting,
poting,
sok bijak,
sok ilmiah
![]() |
| Diagram piramida, bukan soal kuantitas, tapi kualitas kecerdasan. |
![]() |
| Lingkaran, hubungan IDIOT dan JENIUS |
Bagaimana Eropa menggulirkan isu lingkungan ini agar kita senantiasa ‘mengerti’ alam, kemudian kita mencoba untuk menanam pohon dan memeliharanya. Tapi, pemerintah dan beberapa pihak masih saja melewatkan (atau sengaja?) bahkan mengacuhkan oknum-oknum yang mengeksploitasi secara berlebihan. Kita yang setengah mati menanam dan menjaga, merekalah yang memanen untuk kepentingan dompet mereka. Yang jelas bagi saya, menjaga lingkungan adalah tugas kita bersama. Kalau mereka yang cerdas namun pesimis dan ‘cuek’, ada semacam kecerdasan yang mubazir/terbuang percuma, tapi kembali lagi itu hak mereka.
Kebanyakan orang optimis itu, selalu berpikir kalau bisa menularkan keoptimisannya kepada orang lain. Mengutip berbagai macam kalimat para motivator agar bisa mengubah si pesimis, seperti cahaya yang melabrak kegelapan, akhirnya cahaya itu sekedar lewat, ada yang berhasil tapi lebih banyak yang sia-sia. Memangnya jadi pesimis itu selamanya ‘nyampah’? Beberapa bulan lalu, saya iseng mencari, adakah seseorang yang bangga dengan kepesimisan. Memang tak ada yang secara gamblang mengatakan dirinya lebih cenderung pesimis tapi ada kalimat yang lumayan membuat saya bersyukur :
Orang optimis dan pesimis sama pentingnya.
Orang optimis membuat kapal, orang pesimis membuat pelampung.
(Pepatah Cina)
Orang optimis membuat kapal, orang pesimis membuat pelampung.
(Pepatah Cina)
Begitulah dunia diciptakan, kita tidak bisa
menerima hanya putih, namun ada juga hitam dan kemungkinan besar datang pula
abu-abu. Kita tak bisa memilih hanya satu saja, kita harus menerima ‘satu paket’
hidup ini. Kita bisa menawarkan berbagai hal kepada orang lain, namun kita tak
bisa memaksakannya. Seperti A yang mencintai B, namun B belum tentu
punya perasaan yang sama kepada A. Bagaimana kalau B ternyata lebih mencintai
si C, dan begitulah seterusnya. Konon, kita akan menerima kebaikan yang telah
kita lakukan di masa lalu, memang klise. Klise, karena memang itulah yang akan
terjadi. Saling mencintailah atau punah, nasehat Prof. Morrie kepada Mitch Albom (Buku SELASA BERSAMA MORRIE).

Kamis, 28 Juni 2012
get the cool shoeshine!
Yeah, siapa coba, itu disenandungkan NOODLE, salah satu karakter band virtual GORILLAZ. Memang tidak terlalu familiar sekarang, karena mereka sudah sering LIVE dengan menampakkan wujud aslinya.
Saya mengenal mereka sekitar tahun 2000an, MTv masih eksis di Indonesia. Dulu, kalau mau menonton MTv AMPUH, chart lagu Indonesia yah harus bangun subuh, kalau pagi sampe malam itu diisi ma musik internasional.
Orang di rumah sih sering marah-marah saya nonton MTv, katanya banyak video yang 'porno', nenekku bilang "Kau itu, Nak. Kau contohmi nanti itu. Kau belajarmi Bahasa Inggris bahasanya penjajah!" Ahaha, lucu juga sentimennya.
Soal musik saya bisa dibilang penikmat segala, ada yang terjaring di otakku sampai-sampai harus nyanyi gak jelas, hanya nyanyi bahasa inggris 'versi' apa yang didengar walau pengucapan sebenarnya salah, yang penting senang.
Ada satu, GORILLAZ, hanya ''get the cool, get the cool shoeshine"nya selalu kulafalkan, bagian lirik lain hanya nananananana doang karena nggak tahu persis liriknya. Hahaha. Video klipnya unik, saya pikir dulu ini kayak semacam trailer film kartun, ternyata ini video klip. Kayaknya mereka juga menginspirasi (baiklah, bukan mencontek) ide video klip kartun WAYANG "Jangan Kau Pergi".
Penasaran sama mereka, hingga suatu hari mereka adakan konser LIVE. Keren sih tapi malah bikin tambah penasaran, yang ada di panggung tuh hanya layar besar yang menampilkan karakter mereka secara raksasa di depan penonton. Nanti pas kuliah baru tahu kalau ini proyeknya Damon Albarn setelah pecah kongsi dengan band BLUR, kerjasama dengan sang komikus "TANK GIRL", Jamie Hewlett. Satu kata, KREATIF!
![]() |
| Rise of the Ogre (halaman 30) |
MURDOC sang bassis, karakternya dibikin slenge'an, gila perempuan, suka menganiaya teman-temannya, terutama 2D sang vokalis. Sedangkan RUSSEL, drummer, penyayang binatang dan anak-anak. Tidak terlalu dominan ditampilkan karena dia sendiri dibikin menjadi sosok misterius, beberapa kali menjelma raksasa di beberapa video klip sebagai alter egonya. Favoritku, NOODLE, satu-satunya perempuan di band ini. Dia anak perempuan asal Jepang yang telah diamnesiakan karena dia pernah dilatih untuk keperluan militer 'bawah tanah' di Jepang sana, membentuk kesatuan intel anak-anak yang mahir berperang. Karena dianggap proyek ini terlalu membahayakan akhirnya proyek ini dihentikan. 'Noodle', itulah kata pertama yang diucapkannya ketika bertemu MURDOC yang mencari gitaris untuk bandnya.
Rekomendasi lagu :
1. 19-2000
2. 5/4
3. AMARILLO
4. CLINT EASWOOD
5. DIRTY HARRY
6. FEEL GOOD INC.
7. LATIN SIMONE
8. LEFT HAND SUZUKI METHOD
9. PUNK
10. ROCK THE HOUSE
11. STARSHINE
12. THE SWAGGA
Bah, selusin, ahahaha! Masih banyak sih lagunya, tapi itu yang 'enak' menurut telingaku.
Jumat, 27 Januari 2012
MELENGKAPI NAMA
Label:
artikel siluman,
buku,
curhat picisan,
kematian,
neting,
pete-pete,
poting,
teman
Nama yang diberikan saat kita lahir selalu tidak lengkap, harus ada dr. (di depan) ataukah mis. ST (di belakang). Banyak orang merayakannya, tapi sungguh saya malah merasa makin tidak becus. Mungkin harus menambah lagi, gelar yang digariskan tuhan nanti, alm. Saya telah merasa lengkap untuk mati! Walau bagi banyak orang saya bukan sosok yang lengkap, saya tidak bisa menghargai (kata dosen), saya tidak bisa manis di depan mereka (kata saudara), mungkin saya harus belajar kepada si MUKA mALAYkat, seorang mahasiswi teman seangkatanku di fakultas. Dia begitu mudah memajang tampang manis depan dosen, seperti orang tidak berdosa, tapi justru itulah saya tidak menyukainya. Sedangkan saya, mungkin bagi beberapa dosen saya hanya perempuan misterius, si kurang kerjaan yang mengisi waktunya dengan kuliah.
Sms-sms selamat datang, tapi saya tidak tahu apa yang harus dirayakan. Tiba-tiba seorang saudara menambahkan "sayang" di smsnya ketika menyapaku setelah dosen-dosen di meja ujian menambahkan nama saya dengan dua huruf itu.
Saya enggan pulang, saya tidak mau pulang disambut sebagai pahlawan. Saya merasa seperti Zuko yang tidak tahu mengapa orang menyambutnya sebagai pahlawan negara api karena telah berhasil memusnahkan Aang. Dalam hatinya dia justru merasa tidak berguna. Seperti itulah kira-kira, ada yang dalam dirimu yang tak kau mengerti apa itu.
Seorang sahabat yang telah lama tidak bertemu, saya menghubunginya karena setelah beberapa kali lewat UNM, tempatnya kuliah, kemarin baru sadar kalau sedang ada bangunan 'keren' didirikan di sana, lebih artistik dari Baruga A.P. Pettarani punya Unhas. Hem, saya pikir boleh juga. Tujuan saya sebenarnya waktu itu ke MP buat nonton Film Jerman, tapi lagi-lagi saya tersesat di mall, ke mall mah palingan ke gramedia. Hehe. Dapat buku komik HIDUP ITU INDAH!nya AJI PRASETYO yang udah kebuka, jadilah ngakak dulu dan kelupaan kalau sebenarnya ke MP tuh buat nonton.
Oh yah kembali ke temanku tadi. Dia bilang itu namanya MENARA PINISI,nantinya tempat seluruh administrasi UNM berpusat nantinya. Masih dalam tahap pembangunan, tapi nilai arsitekturnya sudah kelihatan. Semoga gak 'sombong' setelahnya, pendidik tak boleh sombong, jika dia sombong dia akan sukar menularkan kecerdasannya :)
Alangkah bodohnya mata ini, karena begitu banyak kepentingan jadi sudah lupa meluangkan waktu untuk menikmati sekitar. Saya jadi ingat, kami berdua pas SMA. Saya adalah orang yang sungguh mengaguminya karena kesederhanaannya, sedangkan dia suka ketika saya tiba-tiba sok bijak di depannya. Saya sering menuliskan banyak kata-kata penyemangat di buku diarynya setelah dia curhat, yah kami punya buku curhat, bergilirian untuk menulisinya.
Ah, ingin sekali kukatakan padanya semua yang kutulis adalah omong kosong belaka karena saya sampai hari ini tidak becus ngapa-ngapain. Sedangkan dia sekarang telah bekerja, padahal dia yunior, dua tahun lebih muda dari saya. Tapi saya menganggapnya sahabat, kami telah terlanjur nyambung, tak peduli dia lebih mudah ataukah lebih tua.
Yah, saya merasa begitu sibuk akhir-akhir ini. Sering bolak-balik ke fotokopyan, tapi baru kemarin nyadar kalau mace yang sudah nenek-nenek yang di kantin ekonomi sudah meninggal, saya yang mencoba mencari tahu dari yang pegawai fotocopy . Saat saya bertanya dalam hati saya berharap dia belum datang atau hanya sakit, tapi mereka menjawab "dia sudah meninggal sebelum lebaran haji" dan berapa lama saya tak sadar, saya telah lama tidak menoleh dan bertukar senyum dengannya? Inna lillah, semoga beliau diterima dengan baik di sisi-NYA.
Kesibukan-kesibukan ini, yang saya lakukan agar merasa penting justru membuat saya jadi sebaliknya. Saya jadi lupa menyadari hal-hal kecil, tentang Menara Pinisi yang begitu menggugah saya walau hanya saya pandang dari pete-pete, tentang mace tua yang sudah lama tak jualan lagi atau tentang senyum-senyum 'politik' yang sudah mulai menjarah pinggir-pinggir jalan. Setelah semua itu, saya masih merasa tidak penting! Omong kosong belaka... ya sudah, segitu sajalah namaku, saya tak mau menambahnya lagi.
Sms-sms selamat datang, tapi saya tidak tahu apa yang harus dirayakan. Tiba-tiba seorang saudara menambahkan "sayang" di smsnya ketika menyapaku setelah dosen-dosen di meja ujian menambahkan nama saya dengan dua huruf itu.
Saya enggan pulang, saya tidak mau pulang disambut sebagai pahlawan. Saya merasa seperti Zuko yang tidak tahu mengapa orang menyambutnya sebagai pahlawan negara api karena telah berhasil memusnahkan Aang. Dalam hatinya dia justru merasa tidak berguna. Seperti itulah kira-kira, ada yang dalam dirimu yang tak kau mengerti apa itu.
Seorang sahabat yang telah lama tidak bertemu, saya menghubunginya karena setelah beberapa kali lewat UNM, tempatnya kuliah, kemarin baru sadar kalau sedang ada bangunan 'keren' didirikan di sana, lebih artistik dari Baruga A.P. Pettarani punya Unhas. Hem, saya pikir boleh juga. Tujuan saya sebenarnya waktu itu ke MP buat nonton Film Jerman, tapi lagi-lagi saya tersesat di mall, ke mall mah palingan ke gramedia. Hehe. Dapat buku komik HIDUP ITU INDAH!nya AJI PRASETYO yang udah kebuka, jadilah ngakak dulu dan kelupaan kalau sebenarnya ke MP tuh buat nonton.
Oh yah kembali ke temanku tadi. Dia bilang itu namanya MENARA PINISI,nantinya tempat seluruh administrasi UNM berpusat nantinya. Masih dalam tahap pembangunan, tapi nilai arsitekturnya sudah kelihatan. Semoga gak 'sombong' setelahnya, pendidik tak boleh sombong, jika dia sombong dia akan sukar menularkan kecerdasannya :)
![]() |
| MENARA PHINISI - UNM |
Alangkah bodohnya mata ini, karena begitu banyak kepentingan jadi sudah lupa meluangkan waktu untuk menikmati sekitar. Saya jadi ingat, kami berdua pas SMA. Saya adalah orang yang sungguh mengaguminya karena kesederhanaannya, sedangkan dia suka ketika saya tiba-tiba sok bijak di depannya. Saya sering menuliskan banyak kata-kata penyemangat di buku diarynya setelah dia curhat, yah kami punya buku curhat, bergilirian untuk menulisinya.
Ah, ingin sekali kukatakan padanya semua yang kutulis adalah omong kosong belaka karena saya sampai hari ini tidak becus ngapa-ngapain. Sedangkan dia sekarang telah bekerja, padahal dia yunior, dua tahun lebih muda dari saya. Tapi saya menganggapnya sahabat, kami telah terlanjur nyambung, tak peduli dia lebih mudah ataukah lebih tua.
Yah, saya merasa begitu sibuk akhir-akhir ini. Sering bolak-balik ke fotokopyan, tapi baru kemarin nyadar kalau mace yang sudah nenek-nenek yang di kantin ekonomi sudah meninggal, saya yang mencoba mencari tahu dari yang pegawai fotocopy . Saat saya bertanya dalam hati saya berharap dia belum datang atau hanya sakit, tapi mereka menjawab "dia sudah meninggal sebelum lebaran haji" dan berapa lama saya tak sadar, saya telah lama tidak menoleh dan bertukar senyum dengannya? Inna lillah, semoga beliau diterima dengan baik di sisi-NYA.
Kesibukan-kesibukan ini, yang saya lakukan agar merasa penting justru membuat saya jadi sebaliknya. Saya jadi lupa menyadari hal-hal kecil, tentang Menara Pinisi yang begitu menggugah saya walau hanya saya pandang dari pete-pete, tentang mace tua yang sudah lama tak jualan lagi atau tentang senyum-senyum 'politik' yang sudah mulai menjarah pinggir-pinggir jalan. Setelah semua itu, saya masih merasa tidak penting! Omong kosong belaka... ya sudah, segitu sajalah namaku, saya tak mau menambahnya lagi.
Kamis, 10 November 2011
HANYA INGIN SECANGKIR CAPPUCCINO
Label:
artikel siluman,
buku,
curhat picisan,
kematian,
musik,
neting,
sok bijak,
tutorial
Yap, beberapa hari ini padat akan hujan. Saya tetap saja menyenangi minuman dingin, mungkin itulah yang membuat tebal badan ini, seperti pinguin di benua beku sana yang melulu menghirup dingin. Pada dasarnya saya suka dingin, saya tak bisa tidur tanpa kipas angin walau suhu telah relatif dingin. Hey, dengar teori bodoh yang telah kubuat : “dalam keadaan dingin kau bisa menciptakan hangat hanya dengan selimut, tapi kau harus menyalakan kipas angin untuk menyegarkan dirimu jika matahari tengah menyengat.” Alangkah mahalnya dingin itu, jadi nikmati sajalah selagi alam menyediakannya dengan gratis. Hehe…. Pesanan saya telah datang! Tunggu dulu agar dinginnya merata, jadi mari kita lanjutkan dulu tulisan ini.
Beberapa bulan yang lalu, saya harus berurusan dengan kopi agar malam bisa lebih panjang dari biasanya, mata ini harus terjaga untuk mengetik skripshit. Pelan-pelan saya belajar menikmatinya, mendalami mengapa alm. Bapak menyukai minum kopi, seorang kakak laki-lakiku malah menggilai kopi. Mengapa menggilai? Karena dalam segelas, takaran kopinya bisa sampai 3 sendok penuh. Silakan terperanjat, karena saat pertama kali melihatnya membuat kopi pun saya terperanjat. Apakah ini ritual khusus bagi para pemuja Castro yang konon juga fanatik terhadap kopi, saya enggan menanyakan hal-hal berbau ideologis kepadanya. Dia abangku, telah banyak yang harus terpisah dengan yang dicintainya karena tembok yang satu itu, jadi saya tak usah menanyakannya.
Alm. Nenekku justru lebih suka teh. Yah ‘mari bicara, mari ngeteh’, sepertinya sangatlah tepat. Teh adalah minuman para pemikir yang tetap ingin tenang. Bagi mereka yang memutuskan istirahat setelah bekerja seperti biasanya, sepertinya lebih tepat menikmati teh ketimbang kopi karena kopi justru usaha untuk tetap melek, bukan istirahat. Balzac menghantam tenggorokannya dengan kepahitan kopi saat begadang menciptakan inspirasi untuk karya-karyanya. Kopi, minuman pilihan favorit bagi penggila bola, teman begadang bagi orang-orang yang bekerja tak cukup di siang hari saja. Telah banyak warkop bertebaran dimana-mana, bukan war-teh yang memang terdengar aneh, aneh tentu saja bisa kurang menjual. Begadang dan kopi, haha, sungguh baik untuk meriuhkan malam walau (konon) justru tak baik untuk kesehatan, saya bukan dokter maupun ahli gizi, saya hanya mahasiswa hukum yang telah men-D.O.-kan dirinya, yang celakanya tak mau ditanya apapun tentang hukum.
Anggap saja diriku yang mahasiswa telah mati, saya malah pernah kedapatan membaca novel di kelas daripada serius merapal pasal per pasal sebuah peraturan. Saya kedapatan oleh dosen tersebut setelah berkali-kali berhasil menipunya, dikiranya novel yang kubaca itu undang-undang mata kuliahnya. Beberapa teman menasehati tentang nasib, bahwa saya telah salah masuk fakultas. Apakah nasehat bisa memperbaiki takdir? Takdir tak semudah itu, tak seperti di film yang nasib para karakternya bisa kita tebak karena ‘t’uhannya hanya manusia biasa seperti kita. Dalam film, seorang yang akan diceritakan mati dalam beberapa jam kemudian akan (sempat) memberikan isyarat akan ‘pergi’. Sekitar sepuluh tahun sebelum alm. Nenekku ‘pulang’, dia sering sekali mengatakan bahwa sebentar lagi dia bisa saja mati. Saking seringnya, telinga kami menganggap kalimat itu terlampau biasa. Tak ada yang tahu tentang takdir, takdir selalu lihai menyembunyikan dirinya. Tak ada yang tahu tentang takdir, takdir selalu lihai menyembunyikan dirinya. Kita bisa menemukan seseorang yang nyambung, berencana menikah, menjamin kebahagiaan, tapi takdir bisa saja bicara lain. Yang mulanya bahagia berkemungkinan untuk bercerai karena 'tak cocok lagi'. Bersatu atas nama Tuhan, kemudian berpisah hanya mengatasnamakan egois. Takdir banyak membuat kaget, begitulah cara Tuhan menampar.
Saya adalah orang yang menerka takdir di benak sendiri dengan kemungkinan selalu buruk, bukannya melangkahi hak Tuhan untuk merancang hidup saya, tapi salahkah saya yang mempersiapkan kemungkinan terburuk itu? Saya termasuk manusia yang hidup dengan stok pesimis sangat banyak, mantra-mantra macam Mario Tergugah justru tak membuat saya teguh. Mengapa orang harus mencari Tuhannya melalui orang lain? Celakanya beberapa harus berbayar pula (MLM penghisap uang!). Saya benci diri ini yang punya otak tak mudah mengenakan novel semacam 5 CM, justru BILANGAN FU yang di GRAMEDIA hanya beberapa exampler begitu mudah membuat saya mengangguk-ngangguk. Kebanyakan orang sudah nyerah duluan memandang BILANGAN FU sebelum membaca, tebal bukan main. Semua orang bisa meneriakkan 'SEMANGAT!', tapi sepertinya berteriak saja tak bisa memberi ruh pada semangat itu. Yah, saya berkembang jadi pencaci, setelah 1000 kali mencaci orang lain entah mengapa malah seperti boomerang, 1.000.000 kali kembali saya mencaci diri sendiri. Saya bisa membenci orang lain dan selanjutnya saya bisa jauh lebih membenci diri saya sendiri. Seorang teman pernah menawarkan ide untuk bunuh diri, haha, kedengarannya seperti mengikuti jejak Kurt Cobain yang (katanya) jenius. Haha, tidak, diri ini terlalu bodoh untuk bunuh diri. Dunia ini memang penjara bagi orang-orang jenius. John Lennon, apakah kemungkinan dia membayar Chapman untuk membunuh dirinya. Haha, konyol. Saya ini jauh dari jenius, lagian bunuh diri bukanlah cara untuk mencintai diri. Membandingkan diri ini dengan Kurt Cobain dan John Lennon, haha, 'siapa gue?''
Saya tidak membenci hidup, saya hanya membenci diriku sendiri. Pun saya tak mau jadi orang lain, saya hanya membenci diriku sendiri…
Baiklah, surat kali ini telah terlalu panjang untuk membuat es cappuccino menunggu. Gelasnya telah terlihat menangis, semoga ada keputusan untuk mencintai diri setelah meminumnya. Kopi, bukan untuk memulai istirahat, tapi hanya jeda untuk bekerja keras kembali. Jadi setelahnya, mari melanjutkan agenda : berfikir keras untuk membenci diri lagi…
nb : info paling penting hari ini adalah ustadz Zolmed menikah besok.
Senin, 28 Juni 2010
Untuk MAK
Label:
artikel siluman,
buku,
curhat picisan,
keluarga,
kematian,
poting
Mak, tahukah kalau saya pernah dicap durhaka oleh seorang teman? Dia bertanya padaku, "Nay, kamu lebih suka Mamamu atau Bapakmu?", maka tanpa ragu saya jawab "Bapakku!". Maka dia membalasaku dengan hadist yang mendahulukan Ibu tiga kali daripada Ayah. Jiwa mudaku berkata bahwa Ibu yang baik sebenarnya takkan pernah menggelari anaknya durahaka. Pun melakukan kebalikan dari hadist itu belum pasti durhaka.
Mungkin bagimu ketika kecilku, sayalah perempuan aneh yang disisipkan di keluarga ini. Lebih banyak berbicara dengan buku-buku daripada denganmu atau kakak perempuanku. Lebih suka diam daripada harus ramah sopan santun jika ada tamu. Keinginan kita jarang termengertikan satu sama lain. Gambar-gambar lucuku yang kupajang di dinding meja belajarku sebelum ke sekolah kutemukan menjelma abu telah kau bakar karena bagimu itu sampah. Sampai saat sekarang pun saya masih merasa, kau dan Ibumu (yang juga Nenekku) masih suka membanding-bandingkanku dengan sepupu perempuanku. Aku terkadang memaki Tuhan, mengapa bukan mereka yang teralamatkan ke rahimmu, mengapa harus aku yang tersesat di situ? Kau sering membelikan baju yang sering tak kupakai, kau memang sedih. Maaf, aku bukan diriku saat mamakai baju-baju itu, sebagaimana aku tak bisa angkuh berjalan jika yang jadi alas kakiku bukan sandal jepit. Dan sekarang, kau menambal baju-baju usangmu untuk dipakai keseharian. Aku hanya bisa pura-pura baik-baik saja melihatnya agar kau tetap tegar, sabar sebagaimana yang kukenal. Betapa aku membenci kau membelikanku baju-baju cantik sedang kau sendiri masih berakraban dengan daster usang. Betapa kau mengajarkanku kesederhanaan lalu tiba-tiba kau memaksaku bermewah... Aku benci keibuanmu!
Mak, aku tak ingin apa-apa. Aku hanya ingin mengatakan terimakasih atas kesabaranmu menjadi ibuku. Jika pernah bibirmu bungkam oleh candaan seorang tetangga kita yang beristri, yang mengolok-olok status jandamu, jangan pedulikan itu. Dia hanya tak tahu bagaimana beratnya di posisimu, tak terbayangkankah jika nasib serupa akan terjadi pada istrinya atau keluarga perempuannya kelak? Sesungguhnya kemuliaanmu tak berkurang karena itu. Kau mulia karena kau telah jadi Ibu, sebuah tugas suci yang saya pun tak tahu apakah akan sampai ke sana.
Semoga kau tak akan menemukan catatan ini melalui tanganku langsung. Betapa hubunganku denganmu begitu teramat romantisnya, melebihi romantisnya hubunganku dengan lawan jenis yang begitu saya merasa suka dan saya yakin cinta maka dengan mudah saya akan katakan. Tapi tidak denganmu, betapa kau istimewa. Betapa kesulitan mengatakan hal ini yang akan memperindahnya. Seandainya layak, pikiran konyolku malah selalu berharap diam-diam "Mak, jadikan aku suamimu, walau suami bagi jiwamu!". Sebuah harapan yang hanya akan usang karena saya sadar suami bagi jiwamu hanyalah jiwa Bapakku seorang... =)
Mungkin bagimu ketika kecilku, sayalah perempuan aneh yang disisipkan di keluarga ini. Lebih banyak berbicara dengan buku-buku daripada denganmu atau kakak perempuanku. Lebih suka diam daripada harus ramah sopan santun jika ada tamu. Keinginan kita jarang termengertikan satu sama lain. Gambar-gambar lucuku yang kupajang di dinding meja belajarku sebelum ke sekolah kutemukan menjelma abu telah kau bakar karena bagimu itu sampah. Sampai saat sekarang pun saya masih merasa, kau dan Ibumu (yang juga Nenekku) masih suka membanding-bandingkanku dengan sepupu perempuanku. Aku terkadang memaki Tuhan, mengapa bukan mereka yang teralamatkan ke rahimmu, mengapa harus aku yang tersesat di situ? Kau sering membelikan baju yang sering tak kupakai, kau memang sedih. Maaf, aku bukan diriku saat mamakai baju-baju itu, sebagaimana aku tak bisa angkuh berjalan jika yang jadi alas kakiku bukan sandal jepit. Dan sekarang, kau menambal baju-baju usangmu untuk dipakai keseharian. Aku hanya bisa pura-pura baik-baik saja melihatnya agar kau tetap tegar, sabar sebagaimana yang kukenal. Betapa aku membenci kau membelikanku baju-baju cantik sedang kau sendiri masih berakraban dengan daster usang. Betapa kau mengajarkanku kesederhanaan lalu tiba-tiba kau memaksaku bermewah... Aku benci keibuanmu!
Mak, aku tak ingin apa-apa. Aku hanya ingin mengatakan terimakasih atas kesabaranmu menjadi ibuku. Jika pernah bibirmu bungkam oleh candaan seorang tetangga kita yang beristri, yang mengolok-olok status jandamu, jangan pedulikan itu. Dia hanya tak tahu bagaimana beratnya di posisimu, tak terbayangkankah jika nasib serupa akan terjadi pada istrinya atau keluarga perempuannya kelak? Sesungguhnya kemuliaanmu tak berkurang karena itu. Kau mulia karena kau telah jadi Ibu, sebuah tugas suci yang saya pun tak tahu apakah akan sampai ke sana.
Semoga kau tak akan menemukan catatan ini melalui tanganku langsung. Betapa hubunganku denganmu begitu teramat romantisnya, melebihi romantisnya hubunganku dengan lawan jenis yang begitu saya merasa suka dan saya yakin cinta maka dengan mudah saya akan katakan. Tapi tidak denganmu, betapa kau istimewa. Betapa kesulitan mengatakan hal ini yang akan memperindahnya. Seandainya layak, pikiran konyolku malah selalu berharap diam-diam "Mak, jadikan aku suamimu, walau suami bagi jiwamu!". Sebuah harapan yang hanya akan usang karena saya sadar suami bagi jiwamu hanyalah jiwa Bapakku seorang... =)
Rabu, 18 November 2009
Kepada BAHARUDDIN ISKANDAR NUR*
Label:
artikel siluman,
buku,
poting,
sok bijak,
teman
Di depan, kau selalu berhasil membenihi pikiran-pikiran kami dengan tatapanmu. Selesainya jatah mengajarmu maka akan lahirlah umpatan 'dasar guru aneh!' atau 'huhh.. numpuk tugas lagi!' dari mulut-mulut kami.
Sesekali (namun jarang) kau mendekat ke meja kami memperhatikan cara menulis atau menilik sampul buku kami(?). Mungkin bagimu, ada keterwakilan jiwa kami pada selera kami, termasuk dalam pemilihan buku tulis. Sebagaimana kau pernah mencelotehi eRos(ni) dengan Tao Ming Tse, asesoris dan bukunya full F4, masih getol-getolnya Meteor Garden waktu itu. Tapi mungkin kau heran mengapa dia bisa akur semeja denganku, si penyuka buku polos dengan kukarikaturi sendiri, baik kover maupun isinya. Tak pelak, banyak kupanen protes dari guru lain karena catatanku banyak coretan tak pentingnya. Tapi kau salah satunya tak memprotesi hal itu. Hanya manggut-manggut saat kau membuka salah satunya. Terima kasih! Ternyata ada juga yang menghargai 'ketidakpentingan'. Pantas saja, karena akhirnya saya juga tahu, kau suka membuat tugas karanganku tidak penting bagimu, dicorat-coreti olehmu dengan banyak keterangan koreksi sana-sini, begitupun dengan karangan temanku. Mirip skripsi kakakku yang dicoreng-coreng oleh pembimbingnya!
Ya, tidak penting! Kantin selalu lebih penting dari Perpustakaan. Tapi kau lebih suka berdiam di sana sambil menikmati lukisan Tuhan, sawah hijau** terbingkai apik oleh jendela Perpustakaan. Tahun pertamaku di SMA itu, kau mencuri sebagian jatah berfikirku. Apakah kau sepertiku; lebih senang dikepung buku? Maka pada suatu istirahat, aku kaget luar biasa. Seorang pembina 'teraneh' di sekolah menghampiri. Ada apa gerangan?
"Mau jadi pegawai perpustakaan? Kulihat kau sering ke perpustakaan, kau boleh mengajak temanmu yang lain!" Pegawai perpustakaan? Waowww, tawaran yang keren!
Cap-cap negatif yang mampir di telingaku satu persatu tanggal seiring kami membantumu merenovasi Perpustakaan, menata ulang buku-buku dan membuatkannya nomor katalog yang rapi. Pemanis suasana dengan musik dari tape pinjaman sekolah pun menjadi daya tarik orang-orang mampir ke Perpustakaan. Pengunjungnya bertambah pesat dari hari ke hari. Saya tak kan lupa adegan bertengkarku dengan eRos(ni). Saking semangatnya, dari rumah dia membawa kaset-kaset boybandnya. Malah saya sering interupsi bunyinya dengan kaset yang kubawa, beberapa keping kaset Iwan Fals. Tahukah kau, sempat kutangkap senyumanmu melihat kelakuan kami. Heheheh!
Senang bisa lebih mengenalmu walau sebenarnya saya sudah dikenalkan kepadamu (walau hanya lewat cerita) oleh kakakku yang juga pernah jadi salah satu muridmu. Dia bercerita tentang pementasan pertama KOCISA***. Dia yang dipercaya menjadi pengiring musiknya dengan petikan gitarnya. Dia percaya bahwa sosokmu bakalan berkilau bagiku. Waktu itu saya masih SMP. Firasat kakakku tak meleset. Hahahah!
Di bekali rasa penasaran, hari-hari pertama berseragam abu-abu, aku nekat mendaftarkan diri saat kau menawarkan Keanggotan KOCISA untuk siswa baru. Sayalah pengacung tangan pertama itu, masih ingat? Hari latihan pertama, hampir seluruh 'daun-daun hijau' CISA datang tepat waktu. Kami dihantui teror-teror senior kami bahwa kau sangat menilai orang dari kedisiplinannya. Terlambat berarti gugur seleksi selamanya.
"Sudah hadir semuanya?" Tanyamu dengan mata khas, tatapan seolah men'scan' kejujuran kami.
"Ada dua orang lagi, Pak!" Jawab Pemimpin Latihan.
"Oke, hari ini saya bisa maklumi, tapi pertemuan selanjutnya jangan terlambat lagi. Beritahu teman kalian!"
Setelahnya, kami segera berlingkaran hitam, memulai latihan yaitu berdoa dan selanjutnya latihan pernafasan dengan teriak-teriak. Satu dua orang yang mengintip di jendela ruang latihan pasti mengira kami 'gila'. Hahahaha!

Belum lama, pintu terketuk dari luar. Dua orang temanku yang terlambat mengucapkan 'permisi' agar diizinkan bisa latihan. Maka kau menyuruhnya bersudut ruangan. "Berdo'alah dulu, baru bisa bergabung dengan teman-temanmu!".
Temankupun menurut, kami melanjutkan latihan sesuai dengan arahanmu. Barulah lima menit kemudian, interupsi temanku yang terlambat tadi membuyarkan konsentrasimu melatih kami.
"Pak, kami sudah selesai berdo'a!"
"Sudah bertemu dengan Tuhan?" Ha......! Tak mengarah kepadaku tapi pertanyaan itu seolah mengunci jiwaku saat itu juga...
Ya, jiwaku sering terkunci oleh pernyataan-pernyataanmu, yang akhirnya memberanikanku untuk lebih banyak bertanya lagi kepadamu. Salah satu pertanyaan 'sensitif' kuajukan kepadamu akan menjadi semacam ajang balas dendam telah mengunciku.
"Pak, mengapa memutuskan menjadi guru? Bapak kan suka menulis, mengapa tak jadi penulis saja?" Aku was-was, ada rasa menyesal terlalu nekat bertanya seperti itu kepadamu. Tapi dengan bijak kau menjawab...
"Dengan menjadi guru, saya berharap bisa memotivasi banyak orang untuk jadi penulis. Kalau saya jadi penulis, maka saya hanya berhasil menjadi penulis 'sendirian'. Saya ingin banyak orang mencintai dunia tulis-menulis." Sama sekali tak nampak ekspresi geram di wajahmu. Maka setelah selama ini merasa terkunci, sekarang malahan merasa telah 'plus' digemboki oleh jawaban itu.
Sebuah kunci akan sosokmu telah kusimpan erat. Kutemukan saat engkau membacakan ujung sebuah cerpen yang kau hadiahkan untuk kami. "Biarlah, aku akan jadi saksi bila Navis-Navis baru terlahir kembali!" Walau akhirnya, kau menyerah karena merasa tak menemukan Navismu di tempat itu. Kau memutuskan pindah, mungkin ke tempat yang menurutmu akan lahir Navis baru, kami pun tak tahu dimana. Banyak teman-temanku dihinggapi rasa bersalah sebab sering mengumpatimu, dan aku kecewa akan ketidaksabaranmu. Tapi terima kasih, telah mengajariku membiasakan melengkapkan namaku dengan nama almarhum Bapakku : Mangkulla. Tak pernah kuberitahukan kepadamu, tapi mengapa kau tahu kalau beliau yang terpenting di hidupku? Mungkin, Bapakku lebih berterimakasihnya kepadamu. Kau telah menjadi guruku, mengajariku untuk memberinya kesempatan untuk abadi di namaku.
Hem..., jika kau menemukan surat ini, kebahagiaan bagiku jika kau membalasnya! Saya tunggu...
nb :
* Seorang Guru Bahasa dan Sastra di SMAku. Dia sekaligus pelopor Club Sastra yang diberi nama KOCISA*** (Komunitas Pencinta Sastra). SMAku sebenarnya adalah 'mantan' sawah, jadi dibelakang sekolah kami adalah hamparan laut padi yang hijau**.
Sesekali (namun jarang) kau mendekat ke meja kami memperhatikan cara menulis atau menilik sampul buku kami(?). Mungkin bagimu, ada keterwakilan jiwa kami pada selera kami, termasuk dalam pemilihan buku tulis. Sebagaimana kau pernah mencelotehi eRos(ni) dengan Tao Ming Tse, asesoris dan bukunya full F4, masih getol-getolnya Meteor Garden waktu itu. Tapi mungkin kau heran mengapa dia bisa akur semeja denganku, si penyuka buku polos dengan kukarikaturi sendiri, baik kover maupun isinya. Tak pelak, banyak kupanen protes dari guru lain karena catatanku banyak coretan tak pentingnya. Tapi kau salah satunya tak memprotesi hal itu. Hanya manggut-manggut saat kau membuka salah satunya. Terima kasih! Ternyata ada juga yang menghargai 'ketidakpentingan'. Pantas saja, karena akhirnya saya juga tahu, kau suka membuat tugas karanganku tidak penting bagimu, dicorat-coreti olehmu dengan banyak keterangan koreksi sana-sini, begitupun dengan karangan temanku. Mirip skripsi kakakku yang dicoreng-coreng oleh pembimbingnya!
Ya, tidak penting! Kantin selalu lebih penting dari Perpustakaan. Tapi kau lebih suka berdiam di sana sambil menikmati lukisan Tuhan, sawah hijau** terbingkai apik oleh jendela Perpustakaan. Tahun pertamaku di SMA itu, kau mencuri sebagian jatah berfikirku. Apakah kau sepertiku; lebih senang dikepung buku? Maka pada suatu istirahat, aku kaget luar biasa. Seorang pembina 'teraneh' di sekolah menghampiri. Ada apa gerangan?
"Mau jadi pegawai perpustakaan? Kulihat kau sering ke perpustakaan, kau boleh mengajak temanmu yang lain!" Pegawai perpustakaan? Waowww, tawaran yang keren!
Cap-cap negatif yang mampir di telingaku satu persatu tanggal seiring kami membantumu merenovasi Perpustakaan, menata ulang buku-buku dan membuatkannya nomor katalog yang rapi. Pemanis suasana dengan musik dari tape pinjaman sekolah pun menjadi daya tarik orang-orang mampir ke Perpustakaan. Pengunjungnya bertambah pesat dari hari ke hari. Saya tak kan lupa adegan bertengkarku dengan eRos(ni). Saking semangatnya, dari rumah dia membawa kaset-kaset boybandnya. Malah saya sering interupsi bunyinya dengan kaset yang kubawa, beberapa keping kaset Iwan Fals. Tahukah kau, sempat kutangkap senyumanmu melihat kelakuan kami. Heheheh!
Senang bisa lebih mengenalmu walau sebenarnya saya sudah dikenalkan kepadamu (walau hanya lewat cerita) oleh kakakku yang juga pernah jadi salah satu muridmu. Dia bercerita tentang pementasan pertama KOCISA***. Dia yang dipercaya menjadi pengiring musiknya dengan petikan gitarnya. Dia percaya bahwa sosokmu bakalan berkilau bagiku. Waktu itu saya masih SMP. Firasat kakakku tak meleset. Hahahah!
Di bekali rasa penasaran, hari-hari pertama berseragam abu-abu, aku nekat mendaftarkan diri saat kau menawarkan Keanggotan KOCISA untuk siswa baru. Sayalah pengacung tangan pertama itu, masih ingat? Hari latihan pertama, hampir seluruh 'daun-daun hijau' CISA datang tepat waktu. Kami dihantui teror-teror senior kami bahwa kau sangat menilai orang dari kedisiplinannya. Terlambat berarti gugur seleksi selamanya.
"Sudah hadir semuanya?" Tanyamu dengan mata khas, tatapan seolah men'scan' kejujuran kami.
"Ada dua orang lagi, Pak!" Jawab Pemimpin Latihan.
"Oke, hari ini saya bisa maklumi, tapi pertemuan selanjutnya jangan terlambat lagi. Beritahu teman kalian!"
Setelahnya, kami segera berlingkaran hitam, memulai latihan yaitu berdoa dan selanjutnya latihan pernafasan dengan teriak-teriak. Satu dua orang yang mengintip di jendela ruang latihan pasti mengira kami 'gila'. Hahahaha!

Belum lama, pintu terketuk dari luar. Dua orang temanku yang terlambat mengucapkan 'permisi' agar diizinkan bisa latihan. Maka kau menyuruhnya bersudut ruangan. "Berdo'alah dulu, baru bisa bergabung dengan teman-temanmu!".
Temankupun menurut, kami melanjutkan latihan sesuai dengan arahanmu. Barulah lima menit kemudian, interupsi temanku yang terlambat tadi membuyarkan konsentrasimu melatih kami.
"Pak, kami sudah selesai berdo'a!"
"Sudah bertemu dengan Tuhan?" Ha......! Tak mengarah kepadaku tapi pertanyaan itu seolah mengunci jiwaku saat itu juga...
Ya, jiwaku sering terkunci oleh pernyataan-pernyataanmu, yang akhirnya memberanikanku untuk lebih banyak bertanya lagi kepadamu. Salah satu pertanyaan 'sensitif' kuajukan kepadamu akan menjadi semacam ajang balas dendam telah mengunciku.
"Pak, mengapa memutuskan menjadi guru? Bapak kan suka menulis, mengapa tak jadi penulis saja?" Aku was-was, ada rasa menyesal terlalu nekat bertanya seperti itu kepadamu. Tapi dengan bijak kau menjawab...
"Dengan menjadi guru, saya berharap bisa memotivasi banyak orang untuk jadi penulis. Kalau saya jadi penulis, maka saya hanya berhasil menjadi penulis 'sendirian'. Saya ingin banyak orang mencintai dunia tulis-menulis." Sama sekali tak nampak ekspresi geram di wajahmu. Maka setelah selama ini merasa terkunci, sekarang malahan merasa telah 'plus' digemboki oleh jawaban itu.
Sebuah kunci akan sosokmu telah kusimpan erat. Kutemukan saat engkau membacakan ujung sebuah cerpen yang kau hadiahkan untuk kami. "Biarlah, aku akan jadi saksi bila Navis-Navis baru terlahir kembali!" Walau akhirnya, kau menyerah karena merasa tak menemukan Navismu di tempat itu. Kau memutuskan pindah, mungkin ke tempat yang menurutmu akan lahir Navis baru, kami pun tak tahu dimana. Banyak teman-temanku dihinggapi rasa bersalah sebab sering mengumpatimu, dan aku kecewa akan ketidaksabaranmu. Tapi terima kasih, telah mengajariku membiasakan melengkapkan namaku dengan nama almarhum Bapakku : Mangkulla. Tak pernah kuberitahukan kepadamu, tapi mengapa kau tahu kalau beliau yang terpenting di hidupku? Mungkin, Bapakku lebih berterimakasihnya kepadamu. Kau telah menjadi guruku, mengajariku untuk memberinya kesempatan untuk abadi di namaku.
Hem..., jika kau menemukan surat ini, kebahagiaan bagiku jika kau membalasnya! Saya tunggu...
nb :
* Seorang Guru Bahasa dan Sastra di SMAku. Dia sekaligus pelopor Club Sastra yang diberi nama KOCISA*** (Komunitas Pencinta Sastra). SMAku sebenarnya adalah 'mantan' sawah, jadi dibelakang sekolah kami adalah hamparan laut padi yang hijau**.
Langganan:
Postingan (Atom)





























