Tampilkan postingan dengan label malam. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label malam. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 05 Oktober 2013

5 Oktober 2013 itu Malam Minggu




Biasanya sakit kepala kalau harus di lokasi dari pagi sampai sore. “Mulai lapaaaar, mulai lapaaar!” saya rasa inilah joke paling-in sekarang 'dia mulai lapar'. Masih ada gitu yang menganggap jomblo itu nista dan patut ditertawakan? Jomblo dirayakan sajalah, kapan lagi jomblo kalau bukan sekarang. Yang mengeluhkan jomblo hanyalah orang-orang yang tidak punya kegiatan.

Bulan ini, di kantor pontang-panting gara-gara misi Red Warrior, samplingnya lebih banyak dari yang sebelumnya, sampai-sampai harus ke luar kota Makassar (Gowa dan Maros), bahkan Papua. Saya salah satu yang diutus (ceilah) ke “planet” lain itu berhubung saya tinggal di Sudiang. Gila, kirain hanya Sudiang yang kayak planet lain gitu, ini pengalaman pertama ada misi ke pedesaan (Maros). Akses ke tempat tersebut hanya sampai magrib, seperti halnya Sudiang yang terisolasi pada jam-jam tertentu.

Dari pagi belum ketemu nasi, pulang jam 8 malam, lapar menggila. Pulang ke rumah hanya disisakan piring kotor. Mampir dah ke Bakso Mas Hari 151, bakso terenak di Sudiang. Jangan mampir kalau hanya mau ngemil, tapi kau bisa memesan bakso tusuk saja sama mbak-mbaknya. Btw, makan bakso di Makassar (Sulawesi pada umumnya) gak laku saus/kecap bermerk. Pakai saus/kecap buatan lokal (seperti di gambar) lebih wenak.



tiga serangkai


Siang tak mampu menampung panasnya kemarau, hingga gerah tumpah pula ke malam. Tapi biasanya kalau habis makan pedas dan daging, tidur memang gak nyenyak kalau malam. Bahkan jam 6 pagi bisa merasakan wangi handbody dan parfum si Nunung yang mau ke sekolah. Lebih enakan menghirup asap rokok atau polusi di jalan raya daripada harus tercekik wangi berlebihan kayak gini. Nunung yang baru bisa mengenal FB, mungkin pula telah dapat pacar di sana walau sebenarnya dia adalah teman skampungnya. Dia yang dulu pendiam dan selalu datar, kini sering tersenyum kala menatap handphonenya. Dia terlihat begitu bahagia membuat akun di FB, (dikiranya) dengan curhat di sana, dunia memperhatikannya. Dia terlihat begitu bahagia membuat akun di FB, (dikiranya) dengan curhat di sana, dunia memperhatikannya. Kalau dulunya jam 8 malam dia sudah menutup mata dalam kelambu, sekarang di jam 11 malam masih terdengar jarinya memijit-mijit hapenya. Kebiasaan bangun paginya pun sudah dimolorin, dari yang dulu jam setengah 5 pagi sudah beberes, sekarang jam 6 langsung meluncur ke kamar mandi. Untungnya dia gak pernah terlambat, semoga prestasinya di sekolah tetap terjaga.

Nah jika tidak bisa tidak tidur kayak gini, biasanya habisin pulsa 2000 buat paket midnight sambil edit kerjaan sebelum deadline dimolor-molorin, menghindari bosnya bos marah. Capek juga lihat monitor laptop mulu. Sambil ngedit, yah buka youtube. Dengar musik tidak cocok, takut malah jadi kacau editannya. Gak mungkin dengar Across The Universe sambil ngedit, nanti kerjaannya malah jadi abstrak. Hasilnya, ngantuk nyicil di angkot. Saya suka membuka lebar jendela pete-pete, saya suka ketika angin merusak bentuk “cocor” kerudungku. Sepertinya memang belum minat membeli motor walau sudah banyak orang yang menyarankan. Gak mungkin saya kemudikan motor sambil tidur kan? Pagi sampai siang dinas di rumah, siang sampe malam kerja, malam hingga kadang-kadang sampai pagi edit kerjaan. Durasi tidur hanya berkisar 2 sampe 4 jam.

Untuk menghambat kantuk terkadang buka Youtube, kalau bukan cari OVJ, Prime Time Trans TV atau ExtraVaganza (de rahma, jeng kellin, mang kok, srikiti, dkknya). Buat saya, OVJ masih lucu, walau sudah banyak orang yang meremehkannya. Terdengar congkak bagi saya, hanya karena ada acara “bercerita lucu” yang diadopsi dari luar negri dan dengan maturnya langsung menjudge kalau acara semacam OVJ kampungan. Sebenarnya keduanya tidak banyak perbedaan, saling mengejek agar ada pihak/obyek tertawaan. Stand Up Comedy juga sama kok buat saya, mereka saling menjelek-jelekan diri mereka sendiri di depan banyak penonton agar penonton bisa tertawa. Yang melakoni, para wayang dan para comic sih damai-damai saja, justru penggemarlah yang suka menyulut fanwar. Nah, yang selera kampungan dan selera humornya ngintelek, sama saja kan?

Kata orang, kalau kurang tidur, mukanya kayak pocong/panda, ada lingkaran hitam di sekitar mata. Tidur konon penting untuk kecantikan. Saya sih antara percaya dan tidak percaya, kalau jelek terus tidur gak mungkin langsung berubah menjadi putri kayak di dongeng. Ayolah, tak ada namanya sleeping beauty, bagaimana bisa seseorang terlihat cantik jika tidur sementara kesadarannya sedang berkelana entah kemana. Yang ada malah jika seseorang tidur nyenyak, mukanya jadi jelek terkadang mulut mangap, rambut acak-acakan. Jangan-jangan sleeping beauty itu justru istilah untuk menggambarkan tidur dengan was-was. Yah seperti dongeng Putri Tidur, yang 'pura-pura' tidur (karena tetap cantik). Jika yang datang lelaki buruk rupa, mungkin dia langsung menampar laki-laki itu sehingga tidak jadi menciumnya. Hahahaha…


fungsinya seperti kaca spion. link



Btw, kemarin habis nonton GRAVITY. Ryan Stone (Sandra Bullock), seorang dokter yang bosan dengan keriuhan ingin mencicipi keheningan di luar angkasa sana. Dia memutuskan untuk menjadi salah satu astronot sebagai tenaga medis dalam sebuah misi. Tapi di luar dugaannya, ini hal sangat sulit dilewati, dirinya yang gampang panikan bisa membakar (menghabiskan) banyak oksigen, belum lagi serbuan meteor bisa tiba-tiba datang. Matt Kowalsky (George Clooney) yang pelan-pelan menghilang di kejauhan, betapa kecilnya, sehingga kita tak bisa membedakannya dengan bintang. Kita bisa melihat airmata Ryan melayang setelah lepas dari matanya, dia hampir tiba pada titik paling putus asa dan menangis. Dari film ini juga baru tahu kalau kostum astronot dilengkapi dengan cermin yang disematkan di pergelangan tangan seperti halnya jam tangan. Hanya bisa menggambarkan film ini dalam satu kata : MENEGANGKAN! Sekian, nanti malah tambah spoiler… :D

* Tema tulisan terlalu banyak, ahahaha, tidak konsisten, bingung mau kasih judul apa.
* Nunung, bukan nama sebenarnya.

Kamis, 16 Agustus 2012

Lebaran, suci seperti terlahir kembali...


Olimpiade 2012 memang telah selesai, tapi di rumah saya masih tetap atlit, walau sampai sekarang belum diakui oleh dunia sebagai sebuah cabang olahraga : MENGAYUN. Di rumah ada tiga manusia kecil yang bergantian diayun setiap hari, mereka lumayan aktif jadi rasa ngantuk di mata mereka butuh dipancing dengan mengayun mereka, yaitu dengan menidurkan mereka pada sebuah kain yang sudah dikaitkan dengan per yang digantung, tapi tidak usahlah saya menjelaskannya secara mendetail karena hanya orang yang keterlaluan modernnya yang tak tahu bagaimana penampakannya. Begitulah, saya merasa jadi “polisi tidur” yang harus mengamankan setiap mimpi mereka, maka menu insomniaku bertambah lagi. Apalagi setelah setahun lebih fokus menyelesaikan tugas akhir, tiap bangun pagi siang saya mencek warna kelopak mata bawah bagian dalam di cermin. Bayangan di cermin seperti mengolok-olok, saya (yang di cermin) tinggal menjulurkan lidah. Tiap hari berjalan ke kampus seperti orang mabuk, ngefly itu murah ternyata, tidak butuh obat atau minuman keras, cukup dengan sering-sering begadang.

Tapi setelah ramadhan dan kebetulan urusan kampus sudah tamat, saya menganjurkan diri saya lebih banyak di rumah. Saya bercerita kalau mengayun ponakan beresiko insomnia, kebalikannya jika tugas itu pas pagi/siang hari, apalagi ramadhan, teler jadinya. Tidur, sepertinya ibadah paling banyak yang kulakukan ramadhan ini, balas dendam. Terlalu banyak tidur dan dendam, makruh pangkat dualah puasa ini. Jadwal tidur saya bahkan bisa menyamai jadwal tidur ponakan yang paling kecil yang baru berumur empat bulan, yang terbangun hanya karena lapar atau pipis. Lebaran nanti, saya benar-benar kembali jadi fitrah bayi. Lega rasanya, menjadi manusia lagi, bukan burung yang terbang atau hantu yang melayang ketika berjalan kaki.

Selasa, 19 Juni 2012

KLAIM

Jam sepuluh malam, baru tiba di rumah. Begitulah tiap hari, semua orang di rumah sudah terlelap. Lapar dan mengantuk, padahal tidak ada makanan yang tersedia. Alangkah beruntungnya tikus yang terdengar mengais-ngais di bawah lemari tiap malam, dia kesana kemari mencari makanan, bagi saya merekalah “pemakan segala” sejati, sabun, kertas, semua diembat. Tapi kemudian saya kecewa, mendapatkan fakta bahwa tikus adalah hewan pengerat, dalam artian mereka punya gigi seri yang terus bertumbuh. Jika tidak sering menggigit maka gigi tersebut ukurannya akan tidak seimbang dengan tubuh  mereka malah bisa-bisa menyakiti tubuh mereka sendiri. Jadi teringat ponakan-ponakanku, saya selalu pura-pura jadi tikus kalau tiba-tiba ada sesuatu yang menginterupsi lelap tidurnya.

Jam sepuluh malam, dengan gontai saya merapikan mobil satu persatu. Remang-remang cahaya, kuberfikir sambil memegang mobil mini mainan ponakanku. Seandainya mobil ini sungguhan, saya tak perlu lagi beli mp3 player untuk menyingkirkan gonggongan anjing depan kompleks, tak butuh lagi jalan buru-buru karena berisik akan petikan gitar para remaja di jalan kompleks, saya tak perlu ditatap dengan penuh curiga oleh penjual nasi goreng, seolah saya bertanggungjawab atas semua kejelekan yang dilekatkan pada malam. Salahkan para pencuri, salahkan para hidung belang, salahkan para pelaku pelecehan seksual yang mengeksploitasi gelap untuk berulah, bukan sayaaaa! Dan… saya tak perlu menyetop beberapa pete-pete yang sopirnya menggeleng saat saya bertanya “Sudiang, Pak?”. Tapi jika saya punya mobil yang saya kemudikan sendiri, maka saya tak bisa lagi tidur di perjalanan dan nanti terbangun ketika pete-petenya bergoyang melalui jalan yang buruk rupa, yang kalau hujan menyerupai empang. Jika jalanan sudah terasa melalui ombak, maka tak salah lagi, kompleks tempatku tinggal sudah dekat.




Ketika jam sepuluh malam, apa yang salah dengan Sudiang? Sebegitu terpencilnyakah sampai-sampai seorang teman bercanda kepada saya “Du, jauhmu dek! Jauh dari peradaban memang tempatmu tinggal.” Saya hanya bisa tersenyum saja, tak bisa tertawa karena bagaimanapun saya telah bernafas di sini selama tujuh tahun terakhir. Seolah Sudiang itu area aneh, menghilang setelah jam sepuluh malam. Saya tidak bisa banyak bekerja di rumah karena banyak pengganggu, terutama dua ponakan yang sepertinya selalu percaya netbookku ini mempunyai daerah rahasia untuk menyembunyikan berbagai hal kesukaan mereka, entah gambar SpongeBob dan kawan-kawannya, iklan lucu, video klip kartun dan semacamnya. Monitor netbookku sudah seperti kepala yang manggut-manggut jika dibuka akibat keanarkisan mereka. Tempat paling aman dan nyaman untuk bekerja yakni di warkop yang ada fasilitas wi-finya. Karena saya masih menganggur, saya berusaha menghemat, dari yang tadinya sangat menyukai cappuccino dingin kini berusaha belajar menyenangi kopi hitam. Mau diapalagi, itulah menu yang paling murah. Orang kaya memesan menu yang paling enak, orang kere memesan menu yang paling murah, begitu kan? Asyik juga ternyata, racikan kopi ala warkop langganan saya lebih pekat daripada yang biasa saya bikin di rumah, lumayan pahit dan justru karena rasanya itulah saya tidak bisa meneguknya seketika itu pula habis.

Akhir-akhir ini jadi sering-sering nonton berita gara-gara Liga EURO, maklum manusia-manusia yang bermukim di rumahku tidak ramah bagi orang yang hobi begadang jadi saya hanya kebagian beritanya saja di keesokan harinya. JERMAN, saya percaya, saya menonton ataupun tidak menonton, kalian (harus) menang!Dua-tiga hari ini, Indonesia gempar lagi akan berita diklaimnya Tari Tor-Tor oleh Malaysia sebagai warisan budaya. Saya kemudian berfikir, tak maukah Malaysia mengklaim Sudiang sebagai wilayahnya? Sayang, Sudiang bukan area perbatasan padahal ada GOR atau Bandara Hasanuddin yang bisa membuatnya menonjol. Hahaha, saya selalu mengira saya sedang berada di sebuah daerah konflik ketika ada pesawat yang lewat di atas kami. Serasa ingin teriak “tiaraaaaaaap!” seperti di film-film perang, serasa masih zaman penjajahan. Suatu malam, saya berharap ada sekelompok alien yang mengamati Sudiang ini dari planet mereka, sebuah daerah ajaib tempatnya akan mendarat kemudian mengklaim daerah ini. Sudiang akan sangat bersinar di malam hari jika dilihat dari atas langit karena bergelimangan teknologi canggih sehingga membuat daerah lainnya iri. Hoaaahm. Maaf, saya mengantuk!

Minggu, 26 Februari 2012

PELIHARA

Bintang itu binatang, hanya menambahkan huruf 'a' saja kan? Walau tak semua begitu, tapi selalu ada kemungkinan untuk begitu, kau ingat kan pesanku itu?

Kau sering kudapati menggambar bintang, seseorang pernah mengatakan kepadaku, kita menggambar/menulis harapan-harapan kita. Lalu kau tersentak dan mengelak dengan segera, "Ah, tidak, sedang boring saja!".

Terlalu sering... Kemudian kau mengakuinya, bahwa kau sedang mendekati seseorang yang jauh, ini bukan soal jarak katamu. Ini soal perbedaan, dia yang bercahaya sedangkan kau hanya bisa memandangnya. Kau ingin mendekatinya dan meraihnya!

Kau mengejarnya, kau disapa olehnya sesekali, memberi hidup pada harapan yang selalu kau bisikkan kepada sunyi itu. Dan hari ini kau datang menangis di hadapanku...

Jadi, kau masih betah memelihara binatang itu?

Sabtu, 25 Februari 2012

AKU dan DIA


Bagimu, sayalah biang keroknya, yang justru membuatmu akan semakin mencintainya saja. Kau memasak tiap hari untuk saya tapi saya tak berselera lagi makan di rumah, saya telah kenyang akan pemaparanmu tentang ketidakpercayaanmu kepada saya.

Saya sebenarnya sedih tiap kali kau mempertanyakan tentang ketulusan perasaanku, saya hanya punya rasa walau saya masih tak punya bukti untuk itu. Saya sedih, terkadang saya merasa butuh seseorang, untuk bercerita, bersandar, bahkan untuk menggantikanmu. Namun, karena rasa ini telah mengungkungku, saya telah lama menjadi lelaki sekaligus perempuan bagi diri saya sendiri, saya tak butuh siapa-siapa. Kesepian ini,lebih dari cukup sebagai teman untuk menghabiskan sisa hidup ini.

Ada tiga kali panggilan tak terjawab dan satu sms, semuanya darimu. Pesan itu berisi pesanmu agar saya bisa pulang lebih awal. Maaf, telah lama saya jarang menjenguk hp, jika tiba-tiba kau menelponku, meminta tolong karena sesuatu terjadi, mungkin saya tak akan datang. Saya bukan kebahagiaanmu, tak usah mengharapkan saya datang, hanya akan membuatmu sakit saja. 

Kalau orang takut pulang malam, mengapa saya harus dipaksa seragam dengan mereka? Kita sama sekali tak bertanggung jawab atas tercemarnya malam oleh dosa-dosa, bukan kita yang berbuat kesalahan-kesalahan itu, jadi buat apa takut? Lalu mengapa saya masih pulang? Masih adakah yang patut kubuktikan darimu? Saya mengingatmu, saya mencintaimu, walau kau tak beranggapan seperti itu! Saya tak bisa menyangkal mencintaimu walau kau lebih mencintainya…

Sabtu, 28 Januari 2012

NIA, kau cantik malam ini!

Insomnia yah tetap insomnia, selalu tidak bisa memejamkan mata lebih 'malam', ngantuknya nanti datang pas dinihari, tak peduli dia sudah berdandan cantik atau tidak. Tapi lumayanlah hari ini, saya ke rumah dua orang dosen dengan jalan kaki, tapi kasihan sih, daeng becaknya tak berjodoh dengan uangku. Tapi tak apalah, sudah lama tak 'menghayati' kegiatan satu ini, beberapa bulan ini saya jalan kaki selalu buru-buru ke tujuan, sudah lama tidak mengamati apa-apa yang kulewati. Saya melewati Pasar Terong. Serasa di kampung sendiri, kebanyakan penjual di sana saling beramah tamah dengan bahasa bugis. Sayang saya tak punya kamera, saya menemukan seorang bayi dalam keadaan tengkurap di ayunan melihat Ibunya sibuk merapikan dagangannya. Sepertinya telah lama tidak mengalami 'rekreasi hidup' seperti ini, yang kutatap akhir-akhir ini hanya setumpuk buku dan kertas yang mengurungku dalam teori-teori.

Saya memperlambat jalan, menikmati sekitar sampai saya di tujuan. Saya mengembalikan buku seorang dosen yang saya janjikan untuk dikembalikan sore ini. Tujuan berikutnya Jalan Pettarani, lagi menjumpai pasar. Masuk ke rumah dosen saya yang satu ini lagi-lagi harus melalui pasar. Saya iseng menyetel radio melalui hape, kejutan! Ada OPA (nama udara seorang penyiar di Tellstar-FM Makassar) yang membawakan acara STDK (Secangkir Teh dan Kenangan), lagu-lagu yang disajikan pun tahun-tahun 60an, musik yang tak secemerlang sekarang tapi justru itu yang membuat musik-musik jadul jadi manis. Dia merekam 'keseluruhan', bukan hanya yang 'dibutuhkan'.

Selesai berjabat tangan dengan dosen yang kedua, ada beban yang serasa terangkat. Terus terang saya makin tidak bisa tidur karena kekhilafan saya sendiri kepada beliau, tapi sore ini telah berbeda. "Terima kasih, Pak!". Acara jalan kakinya pun dilanjutkan, dari rumah dosenku tersebut menuju ke jalan tol, merasai bau amis ikan-ikan di pasar, di kepung polusi kendaraan di jalan raya, ternyata hidung saya masih hidup. Hehe.

Saya menunda pulang walau orang di rumah sudah mewanti-wanti agar pulang lebih pagi, saya ingin singgah di warnet, tempatku dulu menggantungkan nasib dompetku. Saya ingin menjenguk masa lalu saya, mereka, teman-teman saya di sana yang selama ini hanya bisa saling menyapa via hp atau dunia maya. Saya merindukan kaliaaaaaaaaan. Walau Mak marah-marah, tapi rindu telah ditunaikan, insomnia malam ini lumayan cantik!

Rabu, 18 Januari 2012

I Start A Revolution From My Bed

Judul di atas adalah petikan lirik dari lagu Oasis "Don't Look Back In Anger", sepertinya Noel Gallagher sang pencipta lagu memang mengkhususkan lagu ini tentang John Lennon walau pada bagian reffnya bisa dibilang tak berhubungan sama sekali dengan sang legendaris. Tak ada yang bisa menafikkan, bagaimana intro pembuka lagu ini mengingatkan kita pada lagu "Imagine".

Apa yang dilakukan seseorang di tempat tidur sehingga harus menyinggung kata revolusi segala? Revolusi bukannya dengan demonstrasi, atau perang? Tapi tidak bagi John Lennon yang bisa dibilang orangnya pemalas, namun 'jenius'. Maka berhati-hatilah kalian orang yang rajin, jika sang pemalas mempergunakan sedikit saja otaknya maka bisa akan mengalahkan seluruh usaha yang telah kalian lakukan. Haha! Sok tahu, tapi saya bukan jenius yah, saya hanya pemalas biasa tanpa embel-embel.

Maka, kamar hotel biasa yang dia tempati tak sepi akan penggemar, pendukung, wartawan yang meliput, dunia begitu memperdulikan aksi ini.

 John Lennon yang baru saja menikah dengan Yoko Ono berbulan madu, tapi ini bukan bulan madu biasa. Selama sepekan, mereka tetap hanya duduk dan tidur-tiduran di kamar hotel. "I'm gonna start a revolution from my bed, cause you said the brains I had went to my head." Begitulah sebuah petikan wawancara dengan John Lennon. Mungkin dia pernah muak akan kepopularitasan sisa-sisa keBeatlesannya, tapi tidak, dia kemudian sadar harus berbuat sesuatu selama dunia masih menganggapnya seorang yang harus didengar dunia. Daripada pergi berbuat kekacauan, pengrusakan, perang lebih baik duduk, diam, tidur-tiduran di atas kasur. Yah, bisa menjurus ke make love no war.

Bed-Ins for Peace
Saya pernah begitu membenci Yoko Ono, bagi saya dia itu wanita aneh dan mengapa bisa John Lennon mencintainya? Dia adalah salah satu penyebab bubarnya The Beatles. Itu dulu, dan sekarang saya justru maklum. Betapa kau butuh seseorang yang mendampingimu, mengerti dirimu, menemanimu mewujudkan mimpi-mimpi gila. Dunia bisa saja menghina akan pilihan itu tapi kau yakin dia orang yang tepat! Saat John Lennon telah muak akan popularitasnya, maka mengliarlah mereka berdua, pada mulanya semua mencaci, tapi seiring waktu mereka bisa membuktikan justru mereka adalah dua orang yang bersatu yang layak didengarkan dunia!

Lalu apa yang bisa saya lakukan di tempat tidur. Sebelum tidur, saya hanya memuaskan birahi insomniaku yang menunya telah tersusun panjang, bahkan tiap hari makin bertambah. Saya mengingat orang-orang yang pernah marah dan kecewa kepada saya, saya mengingat orang-orang yang menuntut saya membahagiakan mereka dengan brebagai macam cara, saya mengingat ambisi-ambisi yang tak terwujud. Gambar-gambar yang kubuat semasa kecil, yang telah almarhum dimangsa api tempat sampah di rumahku dulu... Garis-garisnya terus menghantui pikiranku, mereka seolah-olah meminta untuk digambarkan kembali.

Mau tak mau, justru insomnialah yang jadi ninabobo saya tiap malam. Saya sudah terbiasa tidur jam empat pagi, terkadang menunggu adzan subuh dulu, itu penanda pagi bagi saya karena jam hape dan laptop sering kubuat tak konsisten dengan waktu sebenarnya. Jika beruntung saya harus tidur walau beberapa jam, beruntunglah lebih banyak hari untung daripada buntungnya. Jika buntung, saya tak akan tidur karena saya tidak boleh bangun telat, biasa ada agenda pagi dan jadinya berjalan kayak orang mabuk, perasaan seperti hantu (melayang-layang di udara), mencicil-cicil ngantuk di atas angkot. Lalu apa relevansinya dengan John Lennon dan judul di atas?

Mungkin tak ada, saya hanya mau bilang kalau saya harus tidur. Biasanya kalau saya tidak tidur, kegiatan 'menabung' saya terhambat. Itu saja, maka itu saya harus tidur kalau tidak bisa kewalahan mencari WC di jalan. Hehe! Nda' penting kan? Ini bukan revolusi sama sekali, ini hanya semacam rekreasi kenangan akan lagu ini, saat Oasis masih sering muncul di MTv, saat saya masih SD. Dengan begitu bisa tertawa minimal tersenyum, itu saja. :)

Senin, 12 Desember 2011

batal ngantuk

lima menit yang lalu merencanakan menunaikan tidur, tapi tiba-tiba menemukan gambar ini... ngantuk entah pergi kemana, mungkin pulang pagi lagi.

mungkin bilang "mari berbincang, ada dua cangkir di sini!" =P























*langsung meluncur ke belantara file nyari mp3 'One More Cup Of Coffee (Valley Below)'

Minggu, 20 November 2011

in memoriam si MUHRIM


MUHRIM*, setahunan bersamaku. Kuberi nama MUHRIM karena Makku telah menitipkan saya kepadanya, katanya kalau saya di luar sulit dihubungi. Maka setelah si CORA** dimuseumkan, tugas-tugasnya beralih ke si MUHRIM ini, fungsi paling utamanya adalah tempat Makku berteriak di telingaku jika saya lupa pulang, menghilang di belantara malam.
Telah dua jam MUHRIM tak menemaniku. Hiks! Foto di atas, adalah momen terindah selama bersamanya, saat semua ruangan digelapkan agar seisi rumah bisa terlelap, saya masih bermain-main menggunakan senternya, poto-potoan pakek kamera laptop alakadarnya. Hehe
MUHRIM, bagaimana kabarmu? Rindu menengokmu setiap setengah jam...


nb : menemukan video ini di tengah kehilangan MUHRIM




"Somebody else could have replicated the Stones. Nobody could have been Dylan or the Beatles." Steve Jobs benar-benar menyukai Bob Dylan dan The Beatles, yeeeah!




*NOKIA 1202
**NOKIA Express Music 5220

Kamis, 18 Agustus 2011

(SEMOGA) MALAM-MALAM SELALU AJAIB

Malam, pinjamkan telingamu sejenak kepada Ayahku!

Kau mendengarku, Ayah? Kau berada di sini? Aku sedang sangat mengingatmu, sedang butuh pertolonganmu.

Aku hanya memohon kau sejenak bisa menyisip ke mimpinya, memberitahukan bahwa yang sedang kulakukan kepada Ibu adalah ‘hanya’ membahagiakannya, seburuk apapun usahaku itu. Aku ingin mengabdi dengan caraku sendiri, bukan dengan memberinya materi, tapi mencintainya dengan diam, dengan menangis tiap malam sebagai upayaku untuk sedikit mencicil semua rasa bersalah itu.

Yah, aku merasa tugas membahagiakannya telah merambat kepadaku setelah kau tak ada di sini. Yah, memang telah lama saya menyangka diri ini telah menjadi teman bercerita yang membosankan bagi semua orang. Seorang teman mengaku sebagian besar tema percakapan dan isi goresan penaku melulu tentang kalian berdua, bukan soal pacar yang bisa dibanggakan, bukan pula tentang soal prestasi seperti orang lain pamerkan. Cerita-ceritaku yang sebetulnya tak bisa membahagiakan kalian secuilpun. Tapi beginilah caraku.

Kutanggung dosa itu dengan asin yang mengalir dari kedua mataku. Semoga sebagian kecilnya menguap, bergabung dengan udara malam, menjelma sebuah bumbu rahasia. Semoga kelam bersedia meramunya menjadi masakan yang super rahasia karena dimasak dalam lindungan gelap, saat semuanya justru sedang dipermainkan mimpi. Dan saat Ibu mencicipi wangi ramuan ‘udara pagi’ ketika dia membuka pintu awal hari, semoga aromanya akan membuatnya bahagia. Walau aku sendiri masih tidur dengan asinan mataku yang bengkak.

Begitulah caraku membahagiakannya Ayah, maafkan aku karena telah berkali-kali merasa gagal.


*sambil dengar The Beatles ~hey , you've got to hide your love away!

Senin, 06 Juni 2011

cacat

Surga tak cukup menjadi motivasi hidupku jika kau masih terus meragukan semua yang kulakukan!
Surga itu cacat, dan mantra Mario Teguh itu tak pernah ampuh. Aku menelankan diri ke dalam gelap pun agar bisa dipanggil olehmu untuk pulang...

Selasa, 19 April 2011

TABUNGAN RINDU (1)

Ada begitu banyak sosok terpendam dalam diri seseorang, muncul satu persatu secara pelan-pelan. Hal itu terjadi sebagai respon kita saat berkenalan atau lebih dari sekedar itu seperti sebuah kejadian kehilangan seorang yang dicintai. Jadi, jangan khawatir jika ada yang membenci, itu artinya kita telah memberi kesempatan orang itu mengenal salah satu karakternya lagi. Sikapnya tiba-tiba berubah drastis, terbawa arus akan kebenciannya, sementara usahanya untuk terlihat “baik” terabaikan, padahal itulah yang selama ini dia coba untuk perlihatkan. Hem, maaf! Mungkin ini hanya satu paragraf teori bikinan saya, entah setuju atau tidak setuju, itu terserah Anda.

Kami memang harus bertemu, tujuh tahun lalu…
Saya berkenalan dengannya saat malam terakhir ospek. Sebelum-sebelumnya, saya hanya menganggapnya calon teman kuliah yang baik. Dia mengajakku untuk ‘lari’ dari hukuman senior dengan berlama-lama di mushollah, sementara teman-teman yang mengaku sedang halangan akan disuruh mijit-mijit senior. Malam itu, dia tak bisa lari dari ketakutannya, ruangan remang sehingga mendatangkan rasa harap-harap cemas bagi maba. Malam paling tersangka, disuruh menunduk terus-menerus, seolah paling bersalah sedunia, mereka meneriakkan “Bantai saja!”. Dia menggenggam tanganku, mengalirkan ketakutannya. Saya meyakinkannya, bahwa ini hanya pura-pura, dia masih terus ketakutan sampai acaranya selesai.


Hari ke hari, kami saling menggiring satu sama lain, entah kepada kebaikan atau keusilan (semoga tak tergolong jahat sekali! :P). Selesai kuliah, kami akan berjalan dari fakultas ke pintu satu universitas. Kemana-mana kami sering sama-sama, sampai banyak yang mengira kami punya hubungan keluarga, seorang teman malah menyangka kami punya hubungan terlampau serius. Dia senang mengajakku ke kamarnya, mengenalkan dengan tetangga-tetangganya dan memperlihatkan hadiah-hadiah dari temannya lengkap dengan nilai historikalnya. Dari situ saya tahu, dia orang yang sangat menghargai teman. Sebuah boneka beruang pink menghuni tasnya kemanapun dia pergi, katanya itu hadiah dari sahabatnya. Saya sampai-sampai punya ide untuk menggelarinya Ms. BEAN. Dia punya banyak kisah yang diceritakan, bisa kukatakan dia tergolong cerewet. Saya malah diperkenalkan dengan sahabatnya yang tadi lebih banyak lewat cerita daripada bertemu langsung. Dan tanpa disengaja, saya dan sahabatnya saling mengagumi satu sama lain gara-gara dia. Heheheh…

Dia juga pernah bercerita, punya seorang sahabat namun keakraban itu telah hilang. Sahabatnya telah memilih jalan sendiri, punya pandangan sendiri soal hidup. Begitulah idealisme dengan kejam mengkotak-kotakkan kita. Membuat kita terlalu banyak hati-hati bergaul, membuat kita membangun benteng untuk melindungi diri kita dari sesuatu yang mungkin bukan bahaya. Tapi beruntunglah, saya dan dia bukan orang-orang yang suka mencari nama di organisasi, memang tidak demen. Menjadi orang yang berguna bagi banyak orang tak perlu punya muka dulu kan? Jadilah, kami tak menjadi apa-apa, sementara teman sebaya sibuk dengan organisasi, ikut lomba dan semacamnya. Kami lebih senang membincangkan hal-hal ringan, tentang seorang ‘mace’ yang lansia namun selalu mudah tersenyum, atau tentang dosen yang terlambat ngajar karena keranjingan memenuhi hobi nonton acara gossip dulu, sampai pergaulan dunia maya yang menyihir kami juga untuk segera ingin menjadi salah satu penghuninya.

Terkadang dia bercerita dengan sangat bersemangat padahal itu cerita ulangan darinya. Mungkin, karena kebiasaannya ini, kemana-mana mungkin dia merasa aneh jika pergi sendirian. Dia selalu butuh telinga untuk menumpahkan ceritanya. Beruntunglah, saya salah satunya. Selain telingamu akan kenyang akan ceritanya, kau tak perlu khawatir kelaparan walau tugasmu hanya berkata “O, iyakah?”, karena sebenarnya perutnya lebih duluan dibajak kelaparan daripada perutmu. Bercerita butuh banyak energi daripada hanya mendengar, bukan begitu? Hehehe. Kadangkala saya digiring olehnya untuk berdebat, saya lebih banyak mengalah, saya tidak tahu mengapa harus mengalah dengan tulus (bukan karena traktirannya), mungkin karena saya merasa memang pantas saya menyenangkannya. Latoh, pada kenyataannya nanti dia akan mempertanyakan lagi kemenangannya. “Betul apa yang kau bilang dulu, Nay!”. Begitulah, keadaan tak bisa diajak berdebat, kenyataan tetap jadi pemenang.

Semua keseruan itu terjadi sampai suatu malam, saya bertemu seorang laki-laki yang mengaku temannya. Saya curiga, mungkin dia telah lebih dari sekedar teman. Saya diam-diam tidak menyukai keadaan ini. Dan benar saja, jadwal kami tak sama lagi. Dia telah banyak buru-buru, saat dihubungi dia banyak menolak karena sudah punya janjian. Bisa dikatakan saya cemburu… Kami bertiga pernah bertemu malam di pinggir jalan. Mereka berdua sedang makan, sedang saya dari bergentayangan dari Biblioholic sampai mampir ke warnet, kuliah-ran malam, sendiri! Saya merasa aneh berjalan sendiri, tanpa sengaja saya merasa tergantung untuk menemani. Ada ruangan yang telah dibuat karena selalu akan diisi, dan hari ini ruangan itu serasa mubazir. Dan begitulah! Kita tak selamanya harus punya, pada akhirnya hanya ada peng’rela’an, melepaskan! Ya, dan benar terjadi pada hubungan mereka jugas, dia melepaskan diri dari hubungan itu. Setengah mati saya membujuknya untuk berhenti merasa bersalah, tapi dunia tetap dijadikan sebagai musuhnya. Saya lumayan membenci lelaki yang telah membuat teman saya hilang, dan celakanya tak berhasil mengembalikannya seperti dulu.

Tapi, tidak. Itu setahun yang lalu. Sekarang dia sedang menjalani proses penyembuhan. Tiap malam begadang mengisi pikirannya dengan membaca buku-buku teori , melanjutkan kuliahnya sebagai pelaksanaan misinya yang lebih penting :: menyelamatkan dunia! Hahahah… Saya hanya mendo’akan semoga dunia bisa membalasmu sebaik-baiknya imbalan. Saya tak bisa mentraktirmu (mengenalkanmu-lah :P)seorang lelaki yang bisa membuatmu mengecek lagi list-list pasangan idaman di dalam hatimu. Saya hanya mengulurkan harap kepada DIA, yang tahu yang terbaik, karena… saya hanya temanmu!

Hem, semoga kereta api kata-kata ini tak mengganggu malam khusyukmu dengan si DJ. Pesanku “Jaga baik-baik nama ‘negeri’ Makassar di luar negeri, Nak!”

Rabu, 23 Maret 2011

MALAM “TUMBEN” INSAF

Malam selalu harus berdurasi panjang, ada banyak cerita yang menggelayut di kepala meminta untuk diceritakan. Begini, saya hanya ingin memberitahukan bahwa saya sudah jarang pulang kampung. Saat nenek saya masih hidup dan sehat, beliau sering bercerita tentang masa kecil kami, masa lalunya dia, atau tentang dongeng-dongeng yang tak bisa dijangkau jamannya bahkan (mungkin) oleh kakeknya sendiri. Kampung, dalam pikiran saya tahun-tahun terakhir ini hanya berbentuk cerita, salah satunya melalui cerita Mak kepada saya jika beliau menghadiri acara keluarga.


Teman-temanku mungkin mencapku sombong, anak desa yang telah durhaka karena jarang berkumpul lagi dengan mereka. Saya lebih senang menyebutnya ‘menabung rindu’. Pun sedikit kecewa juga, keindahan desa yang kurasakan hanya terbingkai oleh dongeng-dongeng para orang tua. Desa-desa kini telah mengkhianati kesederhanaannya, yang dipaksa menjadi kota oleh penghuninya. Jadi, bukannya tak ingin pulang, hanya merasa tak ada perbedaan. Dari kota pulang ke desa yang ‘nanggung’ jadi kota.


Saya jadi ingat seorang teman sekelas, dia seorang siswi lumayan rupawan. Pun kepintarannya jangan diragukan, jika ujian tiba dia akan begadang untuk menghapal satu buku demi sebuah nilai yang bagus. Heheheheh… Namun, yang sangat jadi perhatiannya adalah poninya, sepertinya dunia akan jungkir balik kalau dia belum menjenguk mukanya sesekali di cermin membetulkan kemiringan poninya!


Suatu pagi, saya dengan beberapa teman duduk di halaman sekolah. Sepertinya Tuhan membuatku harus berfikir tanpa harus belajar di kelas pagi ini, sebuah kejadian kecil membuat saya kecewa. Kebetulan La Kato’, seorang penjual *roti otti di kampungku lewat. Segera kupanggil karena memang pagi itu saya belum sempat sarapan. Beberapa teman yang sudah mengenalnya segera mendekat untuk membeli juga. La Kato’ segera memarkir sepedanya.


Saya mengajak si Bintang Kelas ini turut merasakan enaknya jajanan yang satu ini, dia langsung memperlihatkan wajah jijik melihat La Kato’.


“Enak lo!” kata saya.


“Ah, janganmi! Tidak jijikko Nay lihat mukanya? Ih….!” Dia meludah.


Semua hal-hal yang bagus selama ini kulihat padanya berguguran. Saya tak melihatnya lagi sebagai salah seorang siswi pintar di kelasku, tapi hanya seorang budak nilai. Saya berbalik mengucilkannya, bahwa dengan mudah dia menganggap najis seseorang hanya karena fisiknya, hanya dengan melihat mata La Kato’ yang tak lagi sempurna, hanya karena dia jijik kepada giginya yang tak rapi. Saya malah menyesal mengapa pernah mengakui bahwa dia pintar.


La Kato’, selain tiap paginya keliling kampung bersepeda untuk menjual roti buatan Maknya yang sudah janda, dia juga bekerja sebagai penjaga salah satu masjid yang lumayan besar di kampungku. Setiap harinya dia bertugas mengecek sound system, menyapu lantai, membersihkan tempat wudhu, dan mengatur sandal para jema’ah. Dia hidup dari ucapan “terima kasih” para jama’ah. Malah saya pernah mencandainya, kebetulan dia memang orang yang dikenal humoris dan mudah bergaul.


“Wey, PNS betulanmi La Kato’je’, pake pakaian dinas terus ke masjid!”, dia tertawa menanggapi bercandaanku sambil meneruskan tugas menyapunya. Banyak warga yang memberinya baju, mungkin banyak baju dinas PNS, maka dia jadikan semacam seragam kerja saat bertugas.

Semoga orang-orang macam dia tak ditumbuhkan kekesalan akan hujat terhadap fisiknya. Seandainya saya yang dihidupkan Tuhan dengan jalan hidup seperti itu, mungkin saya akan lebih banyak putus asa. Tapi tidak dengan dirinya, dia tahu bahwa banyak orang yang tak bisa menerima kekurangannya. Maka dia mencari tempat-tempat yang bisa menerimanya, yah masjid! Diapun menampilkan dirinya sebaik mungkin, sesopan mungkin menghormati orang lain bahwa dia pun layak berarti buat orang banyak.


Maka, saya pun teringat seseorang. Banyak yang mengatakan bahwa dia, memang seorang lelaki dengan terbelakang mental. Kehidupannya hanya berkisar dari suatu hajatan ke hajatan yang lain. Orang di kampungku memanggilnya La Bandung. Saya tidak tahu mengapa dia dinamai demikian. Mukanyapun sering jadi bahan tertawaan karena dianggap idiot. Dengan pakaian lusuhnya yang seolah melecehkan sebuah pesta yang dikerumuni dengan baju-baju kerlap-kerlip dan makanan mewah, dia berkali-kali lalu lalang di tengah tamu untuk mengumpulkan piring-piring kotor, pekerjaan yang mungkin orang-orang gengsi untuk melakukannya. Jika saja tidak ada La Bandung, maka piring untuk menjamu tamu akan habis. Di sela-sela kewajibannya, sejenak dia menuju ke depan pengiring musik pesta tersebut. Dia akan bergoyang di depan panggung, dan orang-orang masih akan menertawakan ulahnya itu. Dia mungkin tak peduli, dia terus bergoyang mendengar musik karena begitulah caranya menikmati hidup.


Maka, malam ini saya telah menguliahi diri sendiri. Mereka berdua tak perlu dilabeli pahlawan, mereka tak perlu. Jikapun diberi, mereka tak tahu untuk menjadikannya suatu kebanggaan, pikiran mereka terlalu sederhana. Mereka tak perlu diundang ke acara semacam KICK ANDY untuk menyiarkan apa yang telah mereka perbuat untuk orang banyak. Tak perlu membayar mahal-mahal seminar ESQ di hotel mewah hanya untuk memikirkan : bukan apa yang telah kita terima semasa hidup, tapi apa yang telah kita berikan kepada orang lain, walau posisi kita seorang idiot sekalipun!


Satu hal, kita telah hilang kesederhanaan. Kita terlalu banyak mengejar, berlari menuju tujuan yang menawarkan kemewahan sehingga kita menghiraukan berbagai ragam keindahan yang banyak disisipkan di perjalanan. Rasa-rasanya banyak hal yang harus kita lewati namun kita telah melompatinya. Mungkin, kita telah lupa menjadi sederhana!


Salam KUPER, Luwwwaarrr biasa….!!! =P




*Roti otti : kue tradisional bugis terbuat dari tepung beras dan pisang, biasa juga disebut roti berre'

Kamis, 24 Februari 2011

SIAPAKAH YANG SEBAGAI ENGKAU?

Senyummukah yang bereinkarnasi di bibirnya? Bersinar menyilaukan hatiku, seperti sesuatu yang tak pantas kumiliki. Seseorang yang cukup hanya kulihat dari jauh, seperti rasa ketika aku hanya telah merasa lebih dari cukup saat dipunggungi olehmu. Dan muncul lagi sebuah perang dahsyat, antara pikiran dan hati. Namun, lagi-lagi akulah yang jadi korban... Seseorang di kepalaku berkata, kebodohankulah yang menerjemahkan dia adalah kau dalam bentuk lain.

Hah, malam ini kembali kenanganmu mempermainkan diriku, rasanya seperti telah muak bermain komediputar namun permainannya tak bisa berhenti, mengulang-ulang kenangan, seolah sayalah yang jadi bahan tontonan.

~ ~ ~

Apakah di sana ada waktu lowong untuk menghayal, mengdamparkan diri pada masa lalu? Apakah arwahmu terlalu sibuk tidur tanpa bermimpi? Apakah kau pernah mengingat pertemuan terakhir kita?

Kau memintaku datang karena katamu baru hanya padaku kau bilang sedang sakit. Aku sangat mengerti karena begitulah kau, tak ingin membuat orang lain resah. Kau meminta dibawakan sejumlah obat herbal, katamu "sapa tahu ampuh!", jangan khawatir. Saya malah membawa diriku pula sebagai obat untuk hatimu...

"Jangan kaget jika bertemu nanti!" sms darimu. Jangan khawatir, saya punya banyak persediaan airmata untuk memaklumi keadaanmu, bagaimanapun dirimu nanti. Setiap orang yang keluar dari pintu hotel itu, kupandangi kakinya melangkah, was-was kalau itu dirimu.

Sweater abu-abu, mana mungkin aku lupa. Apalagi setelah seorang perempuan di kemudian hari menghubungiku bahwa sweater itu pemberiannya. Lalu, bagaimana dengan nasib buku-buku kirimanku? Apakah isinya kau kenakan dengan baik di pikiranmu? Fakta yang membuatku seperti jatuh ke dalam jurang, semakin jauh darimu.

"Ayo, kita ke sana!" katamu menunjuk sebuah swalayan kecil di ujung jalan. Di sini terlalu ramai, mungkin kau membaca ketidaknyamananku. "Jangan terlalu cepat jalannya, saya cepat lelah!" Bahkan kau tak tahu, saya selalu bersedia mengalah, demi untuk dipunggungi olehmu. saya selalu di belakangmu. Aku selalu harus melihatmu. Kita melangkah, sampai mendapatkan sebuah kursi panjang.

Waktu yang terus mengejar malam, kendaraan yang berlalu, manusia-manusia yang lalu lalang, semuanya berlari. Hanya kita berdua yang melambat seolah kau memberi kesempatan diriku menyimpan momen ini sedetail-detailnya.

Kau tahukah? Saya selalu pulang pada kenangan ini, hatiku selalu berhasil memperbaharuinya, sesekali mengulangi langkah-langkah lambat kita di jalan ini. Aku mengulang langkahku, lalu siapakah yang memerankan dirimu? Jika kau berganti oleh yang lain, haruskah pula aku menjelma yang lain? Siapa sebagai engkau?

Malam kali ini berdurasi lumayan panjang karena harus menonton kenangan kita...

Kamis, 21 Oktober 2010

KOPI, ASAP ROKOK dan (jangan lupa meng)SMSKU!



Apa yang kau dapat dari menghidupi idealismemu? Kulitmu hitam legam berperang dengan matahari di jalan berteriak-teriak, diinapkan di kantor polisi pun sudah, kekayaan materi sepertinya masih jauh. Isap, isap terus dalam-dalam rokok itu. Pun kopi yang kau buat, lebih ke pahit daripada enak. Serupakah rasanya dengan hidupmu?
Baiklah, pergilah! Kau telah merelakan dirimu menjadi milik semua orang, bukan sekedar abangku lagi. Tapi, maaf! Saya merinduimu sekarang...

nb : Seperti biasa, kau jangan lupa mengganggu tidurku dengan pesanmu. Aku jauh, tapi percayalah! Telingaku ada berada di dekat hatimu... Berceritalah! Saya bukan cangkir yang bisa pecah, saya pun bukan asap rokok yang bisa ditelan gelap... Saya adikmu! =)









Senin, 21 Juli 2008

KEPADA PEREMPUAN-PEREMPUANKU
Maaf, penghasilanku kali ini kupotong 40%. Kutukarkan sebuah kotak musik kecil yang hanya dapat kudengarkan sendiri. Saya sudah jenuh mendengar nyanyian selamat datang anjing depan kompleks saat aku berpaling dari malam. Lebih kuharapkan kotak ini sebagai penolak mantra kekesalan kalian. Semacam jimat : agar tidak berhasil masuk ke dalam telingaku sehingga jampinya gagal menjelmakanku menjadi orang paling bersalah. Hah, dalam hal ini ternyata musik lebih mengerti daripada kalian tentangku. Mengertilah, pagi sampai soreku hanya untuk berusaha menjangkau medali kebanggaan di hati kalian masing-masing. Tak bisakah sisakan malam untukku? Saya berusaha mewujudkan harapan kalian, tak bisakah aku punya mimpi untuk diriku sendiri?
Kalian telah membuatku menjadi orang yang menyesali masa kecilku. Terkadang saya berkeinginan menjadi pencuri waktu. Menggenggam lagi masa kecilku, kala mimpi itu baru benih. Jari-jari kecil itu menari menjejakkan garis jiwa begitu merdeka dan kata hati yang polos.
Lalu untuk apa kotak musik itu? Kau sudah gila jika membeli sebuah kotak musik berfungsi ganda sebagai mesin waktu…
Memang tak bisa kuulur kembali ke masa lalu. Tapi dengan kotak ini paling tidak dapat kuselami kekecewaanku tanpa umpatan dari kalian.
Bersyukurlah kalian, seandainya betul ada mesin waktu maka aku akan kembali ke masa lalu dan jangan pernah berharap kembaliku…

KEPADA LELAKI-LELAKIKU
Sebuah pesan mampir...
Cie yg sdh jd senior(ampunG seniorrrrr!!!)
Sthn jd mhsw bgmn rasax?
Pkh hobi gmbrmu kw bgn kmbl?
Sdh brp tlsnmu yg tmuat?
Jgn smpai pnglmn mngelola bultinmu
hx mpe SMA sj

Bukan kalian saja yang bertanya seperti itu. Teman-teman masa laluku juga melontarkan pertanyaan hampir serupa kepadaku. Saya pangling, sama bingungnya saya mau balas smsmu dengan kata apa. Pertanyaan itu termaknakan oleh otakku : ‘jangan kecewakan kami!’. Sungguh berat!
Kini, saya sudah sangat mengerti mengapa jiwa muda kalian tak betah di rumah. Memang ada jendela dan pintu, tapi tak ada lubang sekecil apapun yang bisa mengeluarkan keterkungkungan dari mereka.
Harapan-harapan yang didoakan berbunga indah tercekik mati. Itulah mengapa kalian mencari udara di luar. Sayang, umur sedewasa apapun kalian tetap anak kecil bagi mereka. Membantah berarti mengundang roh paling jahat di dunia masuk ke dalam tubuh mereka. Tak bisa dihindari, hinaan menghujani, mengaliri telinga, berhulu ke pikiran dan memvonis bahwa kalian adalah tak ada benarnya sedikit pun. Tak pelak lagi hukuman penjara lagi dibebankan. Bahkan tanpa ketukan palu pun keputusan itu sudah mengikat seakan sampai mati.
Kami pun ingin jadi orang baik-baik, lebih baik dari orang yang menghina kami… kukutip dari (sepertinya) catatan harian sang Seniman Kere, Februari 1993. Saya mengaminkan (dengan suara yang keras!).