Tampilkan postingan dengan label sok bijak. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label sok bijak. Tampilkan semua postingan

Senin, 29 Februari 2016

29 Februari 2016

Pernah, saya punya hubungan yang tidak baik dengan seorang senior, di media sosial. Padahal kami punya hubungan darah lumayan dekat. Suatu hari, saya berinisiatif mendatanginya, hari kedua lebaran Idul Adha. Saya mengirimkan message via fb dan dia dengan heran membalasnya ‘’Ada perlu apakik mau ketemu?’’. Saya bilang, mau ketemu saja. Sempat takut sih dia ndak mau ketemu, tapi ternyata kemudian dia membalas message saya dengan memberi alamat kantornya.

Besoknya saya datang, tak lupa membawakannya sedikit makanan Idul Adha, Mak senang dengan inisiatif saya walau dia tidak tahu kalau kami sedang musuhan. “Baguslah, apalagi dia ndak sempat pulang kampung kasiyan, pasti dia senang ko bawakan  makanan”. Saya merasa beruntung bisa memanfaatkan momen ini.

Siang itu, saya masuk ke kantornya yang sejuk berAC. Dia di meja kerjanya, tersenyum. Saya mendekat dan dengan mata yang mulai berkacakaca dia mempersilakan saya duduk tepat di depan mejanya. Sambil menatap wajah saya, dia meremas tangan saya yang terlipat rapi di mejanya. Kulihat airmatanya jatuh pelanpelan, saya tersenyum dan berkata... ‘’Janganmakik menangis kak, yang berlalu jangammi diingat’’. Dia masih meremas tangan saya, saya bisa merasakan campur aduk perasaannya, antara senang bertemu dengan saya untuk pertama kalinya, dan sedih karena kami pernah punya hubungan yang tidak baik di dunia maya.

Saya kemudian meraih makanan yang saya bawakan untuknya, saya masih bisa melihat sisasisa air matanya. Tak ada perdebatan, tak ada caci maki lagi. Selanjutnya saya pulang dengan rasa lega luar biasa. Sesimpel itu minta maaf, dan saya tidak menyangka reaksi dia sangat baik terhadap saya. Setelahnya kami baik-baik saja, masih sering bertegur sapa sebagai keluarga. Salah satu kejadian yang tak bisa saya lupa.

Saat ini, saya kembali punya hubungan yang agak rumit dengan seorang teman. Saya sudah minta maaf, saya dimaafkan atau tidak, saya tak tahu. Satu hari saya habiskan untuk minta maaf kepadanya, besoknya saya pasrahkan saja, seperti yang saya katakan tadi, sesimpel itu minta maaf. Terserah dia memaafkan atau tidak.

Dia (katanya) membuat jarak dengan saya, yeah... Ada banyak spasi, dan dia berhasil. Dia diam, menyembunyikan semua akunnya, saya pun sudah lama tidak memegang nomor hpnya. Mungkin dia marahmarah di akunnya, atau bagaimana, saya tidak tahu. Walau saya maunya kita berdebat saja, kalau nantinya malah jadi musuhan itu soal belakang, tapi dia diam. Okelah, orangnya gak mau dikejar yah gak usah dikejar.

Orang-orang mengatakan kalau ‘’Tuhan saja selalu memaafkan hambaNya yang punya banyak dosa, kenapa kita ndak bisa memaafkan orang lain.’’ Tapi itu kan Tuhan, justru karena kita manusia biasa makanya kita tak bisa memaafkan orang lain dengan mudah. Memaafkan itu susah, jangan bandingbandingkan kekuatan Tuhan dengan manusia biasa. Karena saya pun sering demikian, mengucap maaf di bibir memang mudah, tapi hati akan was-was karena kita tak mungkin lupa akan kesalahan orang tersebut.

Intinya hanya mau bilang, kalau punya kesalahan ma orang lain, jangan terlalu seringlah minta maaf, nanti malah jadi annoying. Okeee, kita skip topik sok bijak ini, saya mau cerita kalau sudah sebulan ini saya pegang smartphone, barang yang bagi saya masih mewah. Apa perlu saya pajang pin BBM saya di sini... *pamer*. Hari-hari pertama saya bisa BBMan, teman-teman BBMan komplain, ‘’eh, jammoko terlalu sering ping ping kik, tassejam napingkik lagi’’, kubilang “sori, itu miscallji, masih norak bisa BBMan.’’

Handphone android ini bukan saya yang beli, tapi pemberian dari kakak laki-laki saya, salah seorang yang kukagumi di keluarga. HP bekas sih, tapi tak apalah. Hahaha... Kalau mau kubilang, dia aktif di gerakan kiri, pernah aktif di PRD, hal yang pernah membuat khawatir Mak akan keselamatannya, berbanding terbalik dengan adeknya yang anomali ini, ahahahaha.

Sebelum dia bekerja di sebuah yayasan luar negeri yang memberikan dana hibah untuk siswa SD tak mampu di sebuah kabupaten, pindahpindah lokasi kerja telah dilaluinya berkalikali, mulai LSM yang bergerak di Bidang Agraria, Pertanian, Perburuhan dan seterusnya. Ini tidak baik untuk pendidikan anak-anaknya. Maka dia dan istrinya akhirnya memutuskan untuk mencari pekerjaan yang masih bisa berjuang untuk idealismenya tanpa perlu mengorbankan anak-anaknya.





Bidang pendidikan, sebuah bidang yang baru bagi dia. Tapi selain itu, selepas bekerja dia selalu menyempatkan bertemu dengan kelompok tani di lokasi tempatnya bekerja. Pernah dia memajang status, yang sama sekali tidak kumengerti. Tapi setelah melihat potonya, saya tanya ke dia, ternyata itu air sari bambu. Tadinya, kupikir itu adalah komoditas pangan, ternyata bukan, itu nutrisi buat tanaman, setelah di fermentasi tentunya.

Terkadang, banyak jokejokenya yang ringan yang saya tahu itu jokejoke warga desa yang dia temui. Yang bagi saya, benarbenar lucu, khas obrolan orang kampung, polos, natural, tidak butuh ilmu dan pengetahuan yang wah untuk bikin orang lain tertawa, hanya modal tulus saling membantu dan menghibur. Saya juga punya sepupusepupu yang lucu sebagaimana yang saya bilang tadi, karena sebenarnya saya orang kampung.

Ada di antara mereka yang tukang ojek, pernah nanya kayak gini ke kakak saya “Dimanakikjek kita kerja, Ndik? Kalau saya lima tahunma kerja di Dinas Perhubungan tapi belumpi diangkatangkatka kasi’ jadi PNS.’’, yah yang dia maksud kerjanya sebagai tukang ojek, hehehehe. Sepanjang obrolan saya, Mak, kakak, dan semua orang yang hadir di sana tertawatawa karena celotehannya. Saat dia pulang ke rumahnya, kami pun berdiri, berjabat tangan dengannya, dia kemudian berseloroh ‘’Salamakki twe sampe Tana Marajaaa* eee, jangan lupa celak sama air zamzamnya...’’. Kami melepasnya pulang di halaman, masih dengan tertawaan yang masih tersisa.

Salah satu hal yang membuat saya berat untuk menutup akun di facebook, bukan soal medianya, tapi soal siapasiapa yang ada di sana. Musim hujan beberapa tahun yang lalu, seorang sepupu memajang poto tanamannya yang subur dengan caption, ‘’Tinggal kenangan kasi’, tenggelam dalam banjir, ndak jadi kaya kita’’, lengkap dengan komenkomen di bawahnya, dari sanak saudara yang lain, gak kalah lucu juga untuk dibaca. Saya tidak melihat kesedihan mendalam di sana, tapi justru dia membuatnya jadi penghibur untuk dirinya sendiri. Bagi orang lain, para ahli atau siapalah, banjir ada karena ada sebab, danau kampung sebelah kadang jadi kambing hitam. Tapi bagi mereka, yang susahsusah menanam, banjir bukanlah musibah, banjir ada agar mereka bisa merelakan.

Pengen juga kembali ke kampung, kayak kakak saya yang menjadi bagian dari orangorang sederhana tadi, tapi nantilah kalau saya sudah bosan di kota. Huuuuuuuuuu....apaji!

*Mekkah









Rabu, 12 Juni 2013

BENCInta

Seperti yang selalu kukeluhkan tiap hari. Kesal dan kadang marah kepada ponakan jika tiba-tiba mereka sulit dikendalikan, seolah saya tidak pernah jadi anak kecil, tidak pernah nakal.

Begitupun ketika melihat orang yang mengganggap dirinya telah menjadi sosok lebih bijaksana daripada orang lain, membuatnya mudah mencaci maki orang lain. Mis : orang dewasa yang bully abg labil, golongan alay dan lebay, doyannya menye-menye melulu. Seolah mereka tak pernah remaja saja, seolah mereka tak pernah melewati tahap itu walau dalam era berbeda.




http://ilovethistee.tumblr.com/post/1197097061







Rabu, 03 April 2013

PARASITAMOL

Seminggu menipu tenggorokan dengan air es, seminggu menipu badan dengan cuaca buatan kipas angin. Akhirnya fisik ngambek, ambruk tak bisa kemana-mana, tahanan di tempat tidur sendiri. Terima kasih Paracetamol, mungkin  sebenarnya namamu Parasitamol, kalian kubiarkan hidup sementara ini di tubuhku, mengusir demam yang pergi-datang.

Tapi ketika sakit begini, justru yang paling nyaman adalah sentuhan telapak tangan ibu sendiri di kening. Mungkin karena derajatnya tak pakek celcius, pengukur suhunya pakek hati. :D

Rabu, 16 Januari 2013

Kado ulang tahun dari ALIEN

Di kamar sendirian, yasinan.

Menangisi si ZYREX yang lagi meregang nyawa. Seteleh beberapa bulan tidak bisa membaca warna kuning, akhirnya dia benar-benar telah menutup "mata", tapi untunglah karena dia masih bisa bersuara. Okelah, untuk sementara dia harus tidur dalam tasku. Kasiyan juga, dia sendirian di sana kedinginan menghabiskan musim hujan kali ini. Dia harus bersabar sampai saya dapat dana cukup untuk memperbaikinya. Ada sih netbook kakak ipar yang bisa dipakai buat dugem, tapi sama saja, bukan karena yang mpunya tidak mau meminjamkan, masalahnya itu netbook biar made in china tapi pintarnya bahasa arab doang, tidak bisa dipinjam dalam kurung. Baiklah, tak ada lagi suasana tengah malam di kamar dengan lampu-lampu dari netbook yang kedap-kedip, tapi tetap saja tidur sering diinterupsi banyak hal. Entahlah, lebih enak tidur dengan udara panas dengan menyalakan kipas angin daripada terbangun dengan kemeriahan hujan yang datang tengah malam. Semoga bisa secepatnya beradaptasi dengan kemeriahan yang baru ini.

Kalau netbookku kehilangan warna kuning, lain lagi dengan televisi di rumah. Sudah beberapa tahun bertahan hanya dengan dua warna : biru dan kuning. Sekeluarga sudah beberapa tahun menonton alien di televisi. Entah apa yang menghisap warna merahnya. Ahahahaha! Jangan-jangan nih televisi akan diklaim ma alien. Tunggu dulu, netbookku kehilangan warna kuning sedangkan televisi keluargaku di rumah hanya ada warna biru-kuning. Jangan-jangan sedang ada dua kekuatan alien yang berbeda, menyerang rumah kami, yang mereka jadikan medan perangnya.

Jangan-jangan, gara-gara hobi saya waktu bocah, saya diam-diam berharap alien itu benar-benar ada. Menjelang tidur, sesudah mematikan lampu kamar, saya sering mengarahkan cahaya lampu senter ke atas, ke langit. Saya merasa sedang berkomunikasi dengan mereka. Sudah ada dua tanda-tanda besar sang alien memperkenalkan dirinya kepada keluargaku. Jadi, suatu waktu saya menghilang ke angkasa, mereka (keluargaku di bumi) sudah tidak kaget lagi.

Ketidaktahuan memang terkadang membahagiakan. Benar atau tidaknya, itu tergantung keyakinanmu dan selamat merayakannya dengan imajinasi!

mereka menertawakan teknologi! link

Kamis, 23 Agustus 2012

BETTER (bukan merk biskuit)

Baru satu karya Jodi Picoult yang pernah kutamatkan, My Sister Keeper : Penyelamat Kakakku, itu pun beberapa tahun yang lalu. Entahlah, semakin malas membaca.


Bercerita tentang seorang anak (Anna) yang dilahirkan untuk menolong kakaknya (Kate) yang menderita leukimia, bahkan berakibat buruk pula pada beberapa organ tubuhnya. Saya tidak menafikkan, buku ini buku terbaik yang pernah kubaca. Ayah mereka yang bekerja sebagai seorang petugas pemadam kebakaran tapi punya cita-cita terpendam sebagai astronot, selalu bercerita benda-benda luar angkasa kepada anak-anaknya. Sangat menyukai ketika mereka bertiga (Anna-Kate-Ibu) ketika berjalan-jalan di pusat perbelanjaan, kemudian memutuskan untuk membotak kepala mereka seperti kepala Kate yang memang sakit, mereka melenggang dengan ceria berjalan di tengah keramaian. Bagaimana Anna dan Kate berbagi dalam segala hal termasuk kamar agar Anna bisa membangunkan orang tua mereka jika terjadi sesuatu pada Kate. Kate yang selalu ketakutan, sehingga tiap malam dibiarkan dirinya lelap dalam terang dan selalu memarahi Anna tiap kali adiknya itu mematikan lampu. "Kau bisa menciptakan gelap, tapi aku tak bisa menciptakan terang!". Mengapa Anna harus selalu mengalah?

Dengan mengambil sudut pandang berbeda pada tiap-tiap bab secara bergantian, kita diajak menjadi ibu atau ayah atau Anna atau Kate atau Pengacara Anna atau tokoh lainnya, sehingga kita bisa memaklumi tiap karakternya. Ceritanya menjadi rumit, tak sesederhana memvonis bahwa orang tua merekalah yang salah, atau Anna yang egois karena memutuskan untuk menuntut orang tuanya. Jodi Picoult yang dikenal sebagai penulis novel psikologi, menambahkan hal-hal berbau hukum pada novelnya yang ini. Novel yang keren!

Kira-kira tahun lalu, lebih tepatnya terlambat tahu kalau novel ini telah diangkat jadi film. Salah satu penyemarak film ini, Regina Spektor. Yey, saya suka Regina Spektor! Saya juga suka video-video klip lagunya, dia memang bukan sutradara tapi sepertinya dia yang mengonsep sendiri seluruh video klipnya.


Dalam menghadapi masalah berat, terkadang masalah tersebut terlanjur menjadi racun bagi pikiran kita. Hahaha. Teringat ketika masih menyandang status mahasiswa di ujung tanduk, semua orang, walau tak kenal, walau dengan bibir mingkem sekalipun saya melihat mereka berkata "kapanko sarjana?". Kira-kira begitulah, semua yang ditemui menjelma hakim bagi kita, diri kita tersangka tunggal seluruh dunia. Saat seperti itu, kita butuh sejenak memejamkan mata, mungkin menangis, berusaha keras menemukan ribuan ketegaran dalam diri kita sendiri.

Seperti itulah sensasinya menonton video klip Regina Spektor yang satu ini :


Senin, 16 Juli 2012

LINGKARAN

Memandang bulan sabit itu, terkadang melihatnya seperti sebuah bibir yang tersenyum. Namun, suatu saat pula dia jungkir-balik, bibir itu cemberut. Serupa menikmati indahnya warna-warna pelangi, kita tak bisa memberi batas antara warna yang satu dengan yang lainnya. Seperti saat kita demam, tubuh kita tak seluruhnya berasa hangat. Demam mengiris-ngiris tubuh kita dalam bagian tubuh yang panas dan dingin, dan kita tak tahu di titik tubuh bagian manakah suhu netral itu berada. Kita berselimut untuk mengusir gigil, di sisi lain ada panas yang serasa ingin meledak dari dalam tubuh kita.

Seperti saya, yang akhir-akhir ini justru tak bisa membedakan antara jenius dan idiot. Banyak orang yang beranggapan bahwa jenius itu tingkat kecerdasan yang paling atas, sedangkan yang paling di bawah itu idiot. Tingkah laku orang-orang (yang katanya) jenius dan orang (katanya) idiot tak ada lagi bedanya bagi saya. Kemudian, di dalam kepalaku, idiot dan jenius bukan lagi mempunyai hubungan ‘lawan’, mereka adalah dua orang yang bergandengan tangan dengan tingkat kecerdasan lain membentuk lingkaran.



Diagram piramida, bukan soal kuantitas, tapi kualitas kecerdasan.



Lingkaran, hubungan IDIOT dan JENIUS



Saya pun kemudian khawatir, tak bisa membedakan antara tulus dan bodoh. Ketika mayoritas Ilmuwan Eropa yakin bahwa perubahan iklim itu benar-benar terjadi, yang lebih dikenal dengan istilah global warming, banyak aktivis lingkungan kemudian muncul menyerukan untuk peduli kepada alam dan lingkungan. Namun ada beberapa orang (yang konon lebih cerdas) percaya bahwa itu hanya konspirasi saja, bukan berarti saya menganggap diri saya cerdas, tidak. Saya punya pendapat sendiri tentang isu global warming ini.

Bagaimana Eropa menggulirkan isu lingkungan ini agar kita senantiasa ‘mengerti’ alam, kemudian kita mencoba untuk menanam pohon dan memeliharanya. Tapi, pemerintah dan beberapa pihak masih saja melewatkan (atau sengaja?) bahkan mengacuhkan oknum-oknum yang mengeksploitasi secara berlebihan. Kita yang setengah mati menanam dan menjaga, merekalah yang memanen untuk kepentingan dompet mereka. Yang jelas bagi saya, menjaga lingkungan adalah tugas kita bersama. Kalau mereka yang cerdas namun pesimis dan ‘cuek’, ada semacam kecerdasan yang mubazir/terbuang percuma, tapi kembali lagi itu hak mereka.

Kebanyakan orang optimis itu, selalu berpikir kalau bisa menularkan keoptimisannya kepada orang lain. Mengutip berbagai macam kalimat para motivator agar bisa mengubah si pesimis, seperti cahaya yang melabrak kegelapan, akhirnya cahaya itu sekedar lewat, ada yang berhasil tapi lebih banyak yang sia-sia. Memangnya jadi pesimis itu selamanya ‘nyampah’? Beberapa bulan lalu, saya iseng mencari, adakah seseorang yang bangga dengan kepesimisan. Memang tak ada yang secara gamblang mengatakan dirinya lebih cenderung pesimis tapi ada kalimat yang lumayan membuat saya bersyukur :

Orang optimis dan pesimis sama pentingnya.
Orang optimis membuat kapal, orang pesimis membuat pelampung. 
(Pepatah Cina)



Ini, lebih dari Cinta Segi Tiga? Cinta Segi Banyak? :D



Begitulah dunia diciptakan, kita tidak bisa menerima hanya putih, namun ada juga hitam dan kemungkinan besar datang pula abu-abu. Kita tak bisa memilih hanya satu saja, kita harus menerima ‘satu paket’ hidup ini. Kita bisa menawarkan berbagai hal kepada orang lain, namun kita tak bisa memaksakannya. Seperti A yang mencintai B, namun B belum tentu punya perasaan yang sama kepada A. Bagaimana kalau B ternyata lebih mencintai si C, dan begitulah seterusnya. Konon, kita akan menerima kebaikan yang telah kita lakukan di masa lalu, memang klise. Klise, karena memang itulah yang akan terjadi. Saling mencintailah atau punah, nasehat Prof. Morrie kepada Mitch Albom (Buku SELASA BERSAMA MORRIE).




 Ini Bunga Kupu-Kupu atau kupu-kupu yang dikutuk jadi bunga?

Rabu, 11 Juli 2012

BUKAN DONGENG

Tak tahukah Mak Malin Kundang kalau seorang Ibu yang sabar menasehati anaknya akan lebih mudah masuk surga daripada harus mengutuk anaknya jadi batu? Jadi soleh, atau sekalian salah pun anak kalian, tetap kalian akan masuk syurga jika kalian menyikapinya dengan baik, wahai orang tua negeri dongeng!

Tidak suka sekali dengan orang dewasa yang mudah sekali mencap seseorang 'durhaka', mudah sekali mereka mengatakan hal-hal seperti itu, memperdayai beberapa anaknya agar jadi penurut, 'anak manis'. Belum puas menyalahgunakan cap 'durhaka' itu, setelahnya akan ada umpatan 'keras kepala' dan lain-lain lagi.

Mereka tak akan melunak lagi, mereka akan terus keras, mereka telah kalian kutuk jadi batu!

Senin, 02 Juli 2012

TABUNGAN RINDU (2)

--- special untuk Club PUNGGUNG


Apakah melihatmu membutuhkan teleskop atau mikroskop?*

Saya sepertinya harus sering-sering minta maaf kepada beberapa teman akrabku sendiri walau saya tahu mungkin mereka merasa saya tak punya salah. Saya terlalu banyak berfikir negatif tentang mereka terlebih-lebih mengenai diri saya sendiri, untuk apa mereka bertahan menjadi teman saya padahal saya tak punya apa-apa untuk dibanggakan. Sebenarnya, sulit bagi saya menyebut mereka sahabat, hanya masa depan yang layak mengujinya. Sahabat bagi saya adalah “barang mewah”. Sahabat itu pekerjaan hati. Bukan soal hartamu, bukan soal intelektualmu, bukan soal umur atau apapun.

Maka ketika penyakit rindu itu kumat, kita membuat benteng sendiri, planet kita sendiri, lebih banyak membayangkan daripada menerima kenyataan. Rindu itu gejala  meng-alien, menjauh dari riuh, berkonsentrasi, membuktikan bahwa kita tak pernah lupa dengan mereka. Sampai suatu saat kita benar-benar mencintai merindukannya, tak perlu lagi kehadirannya, benar-benar telah alien. Kita terus-terusan mencatat “kita pernah blablabla…”. Kenyataannya,  tidak ada yang bisa memaksa seseorang untuk terus menyukai kita.

Yah, hanya alien yang selalu rindu, selalu ingat, karena lupa dan bosan itu konon manusiawi.



Minggu, 10 Juni 2012

MBAK DUKUN

Kata SIPUT, saya mengerikan, terkadang membuatnya takut dengan opini-opiniku tentang masa depan seseorang. Saat tahun kedua kuliah, sahabat saya yang lain si KEONG punya geng sendiri, sering mengajak dia jalan-jalan. Tapi, kasiyan juga si KEONG, senangnya sama-sama, pas susah-susah dia sendirian. Jika ada tugas, dia diborong ma teman-temannya. Itulah yang kulihat.

Suatu siang, saya berkata kepada SIPUT. “Keong itu dimanfaatkan saja, kasiyan! Nanti mereka akan abaikan dia.” Dan kejadianlah, apalagi pas skripsi, tapi si KEONG sukses selesai lebih awal. Mentalnya telah terlatih untuk melaksanakan banyak tugas.  Dimanfaatkan, itu kata saya, tapi bagi dia itu latihan. Begitulah orang yang baik, seperti teman saya si KEONG ini.

Beda lagi dengan SIPUT, saya pernah datang ke kostnya untuk mengajaknya kuliah-ran seperti biasa. Tapi sial, ada yang menelponnya, “Iyya tunggu saya di halaman”, katanya dengan orang di ajaknya bicara. Saya diusir pelan-pelan, dan ketika di halaman saya menemui seorang lelaki. Oh yah, ini dia, lelaki yang merampas ‘teman jalan’ saya. Saya segera memasang tampang sangar.

"Sekampung yah sama SIPUT?"

"Tidak, teman biasa" Jawabnya, kasiyan juga, dia menjawab seperti seorang tersangka yang diinterogasi.

Sepanjang jalan, saya kesal dan berfikir, pasti itu pacarnya. Saya selalu menunggu si SIPUT cerita yang sebenarnya dengan saya dan bersabar, kehilangan teman jalan, dia yang jadi lain, tidak antusias kalau ada tema yang kulemparkan kepadanya untuk diperbincangkan. Beberapa bulan baru dia jujur karena saya mencoba jadi sahabat yang baik baginya.

Sebenarnya, MBAK DUKUN adalah gelar darinya untuk saya, resminya pas si SIPUT nyusun skripsi. Jurusan yang kami ambil HUKUM INTERNASIONAL, butuh banyak literasi berbahasa asing. Buku-buku bahasa asing di Indonesia tidak begitu banyak bertebaran, menjadikan kami lebih mengandalkan internet.

Celakanya, dia tak bisa kemana-mana sendirian, dia tipe orang yang suka ditemani. Saya sering diajaknya untuk searching di warnet karena saat itu wifi belum familiar. Yah tidak apa-apa jadi ‘budak’nya, lagipula dia sering mengajak makan sebagai upahnya, hahaha. Jika saya tidak sempat menemaninya, dia akan mengsms dan minta ditemani esoknya. Besoknya dia akan bercerita, “Eh, Pak M***** suruh nyari deklarasi blablablabla tapi saya tidak temukan kemarin, coba kau yang cari, Nay!”

Saya mengambil alih komputer sambil mengetikkan di google apa yang dicarinya. “Nih, adaji!” Dengan senang dia akan berujar “Nay, kenapa kalau ada kau selalu kudapat yang ku cari!” Di momen tersebutlah, saya disebutnya sebagai MBAK DUKUN, walau hanya sebagai pajangan di sampingnya duduk, terkadang juga main dibayarkan olehnya, dia nggak tegaan :D Pernah suatu kali, dia (di Jogja) via YM mengeluhkan MOZILLA yang tidak mau terbuka. "Sudah berulang-ulang kurestar tetap nda mau, tapi saya coba lagi deh. Tunggu nah!"

Saya menunggunya memulai percakapan lagi via YM, saya membuka satu halaman baru, hari itu entah mencari apa, saya lupa. Dan Tab YM saya berkedih-kedip. "Dak, thanks! Mmmuaaach. Setelah curhat ma kau, kenapa MOZILLAku bisami terbuka. Kau masih sakti mandraguna" Apa? Saya mirip MANDRA? :D

Saya terkadang meramal, mungkin lebih tepatnya memprediksi. Bedanya, kalau dukun-dukun tradisional pakek kemenyan ma kembang, saya hanya butuh komputer/laptop yang bisa terhubung ke internet. Seorang teman SMA yang sudah pindah ke Palu, jauh sebelum pacaran dengan seorang perempuan, saya sudah memprediksinya mereka akan pacaran, dan benar itu terjadi walau beberapa tahun ditutup-tutupi, maksudnya tidak cerita ke saya. Iyyalah, emang penting gitu dia cerita sama saya. :P
 
Pernah, saya di add seorang lelaki, yang kemudian membuat saya curiga, dia begitu akrab dengan seorang teman perempuan yang telah lebih dulu menjadi temanku. Saya bertanya kepada teman lainnya, saya mengira mereka sudah pacaran, tapi teman saya tak menanggapi. Tapi belakangan, teman perempuan saya ini bercerita kalau dia pacaran dengan seorang asli Toraja, ramalan saya gugur seketika. Tiga bulan berselang, justru mereka masing-masing memajang foto mereka berdampingan di FB, keduanya memasang wajah senang. Ramalanku sebenarnya tidak salah, hanya tertunda. -----haaaaaa?

Saya tak lama kenalan dengan seorang teman, juga lewat FB. Inisialnya OP, saya rajin membagi note-note atau apapun yang menurut saya menarik karena dia pernah meminta saya untuk menjadi kontributor tulisan di majalan digital miliknya (maksudnya proyeknya ma teman-temannya).


itulah kenapa kamu harus ada disini, kamu nonton film yang jarang dinonton orang banyak, dengar musik yang jarang didengar orang banyak..... sebenarnya interest utama mu apa sih?

sembarang, yang penting senang, haha! nulis juga yah adalah sedikit, gambar? coret2 bisa, tapi tidak untuk serius. apa lagi di'? sembarang... haha, saya juga bingung.

Dan tak lama seorang perempuan cantik berkerudung hijau di foto profilnya mengadd saya, mungkin cemburu dengan saya. Ahahaha, lucu saja. Dia atau saya yang lucu, kebingunan ini juga lucu. Dia yang cemburu atau saya yang kePDan telah membuat cemburu pacarnya orang. Ahahahah! Saya belum tahu apakah si jilbab hijau ini benar-benar pacar si OP, ah saya malas menanyakannya!

Mungkin, ini hanya perasaan saya kalau saya memang terlalu peka. Saya teringat nasehat alm. Bapak saya menjelang saya mengikuti Ujian Akhir Nasional sewaktu SD, “Perempuan itu, sangat percaya pada firasat!”, saya sepenuhnya mengiyakan. Semua prediksi yang saya lontarkan mungkin kebetulan saja. Tenang saja, saya ini hanya paranormal, saya pun tidak mengerti mengapa mereka disebut demikian. Bukankah Anda juga paranormal kan, maksudnya normal-normal saja, kan? Memangnya para’tidak’normal itu yang bagaimana?

Oh yah, ini adalah bagian penting dari tulisan ini. Saya memprediksikan JERMAN yang akan jadi pemenang Liga EURO tahun ini! Hahahah. Maaf sebenarnya bukan memprediksikan sih, menjagokan lebih tepatnya. :P


Dak : Badak, panggilan si SIPUT buat saya :D

Kamis, 16 Februari 2012

PAMER

Diri ini sampai hari ini belum bikin apa-apa, jadi hari ini mau pamerin karya orang lain saja dulu...

GROWING PENS
http://truesome.deviantart.com/art/sustainable-development-266598765

Kereeeen, rasanya seperti pertama kali mendengar kalimat "I was so much older then, I’m younger than that now...", siapa yang pernah mengatakannya, silakan googlinglah. Anda membaca postingan saya kali ini pasti karena terkoneksi dengan internet. Jadi jangan manja, apa-apa mau diLINKan : P

Selanjutnya, coba tilik video ini! 'Orang lain' yang selanjutnya....



Namanya LANA NITIBASKARA, penyanyi cilik, yang luar biasa adalah musik yang dipilihnya berkarir adalah genre jazz, jazz itu tidak mudah. Keren nih ini anak, apalagi pas dia nyanyi L-O-V-E, improvisasinya unpredictionable. Video di atas saya dapatkan sekitar setahun yang lalu dan membuat saya penasaran. Ternyata Lana sudah sering menyanyi bersama dengan band yang digawangi ma Bapaknya (Prof Ronny Nitibaskara), PROF Band. Jadi unik, karena dia sendirian yang bocah, pengiringnya bapak-bapak yang berprofesi sebagai dosen.

Rabu, 18 Januari 2012

I Start A Revolution From My Bed

Judul di atas adalah petikan lirik dari lagu Oasis "Don't Look Back In Anger", sepertinya Noel Gallagher sang pencipta lagu memang mengkhususkan lagu ini tentang John Lennon walau pada bagian reffnya bisa dibilang tak berhubungan sama sekali dengan sang legendaris. Tak ada yang bisa menafikkan, bagaimana intro pembuka lagu ini mengingatkan kita pada lagu "Imagine".

Apa yang dilakukan seseorang di tempat tidur sehingga harus menyinggung kata revolusi segala? Revolusi bukannya dengan demonstrasi, atau perang? Tapi tidak bagi John Lennon yang bisa dibilang orangnya pemalas, namun 'jenius'. Maka berhati-hatilah kalian orang yang rajin, jika sang pemalas mempergunakan sedikit saja otaknya maka bisa akan mengalahkan seluruh usaha yang telah kalian lakukan. Haha! Sok tahu, tapi saya bukan jenius yah, saya hanya pemalas biasa tanpa embel-embel.

Maka, kamar hotel biasa yang dia tempati tak sepi akan penggemar, pendukung, wartawan yang meliput, dunia begitu memperdulikan aksi ini.

 John Lennon yang baru saja menikah dengan Yoko Ono berbulan madu, tapi ini bukan bulan madu biasa. Selama sepekan, mereka tetap hanya duduk dan tidur-tiduran di kamar hotel. "I'm gonna start a revolution from my bed, cause you said the brains I had went to my head." Begitulah sebuah petikan wawancara dengan John Lennon. Mungkin dia pernah muak akan kepopularitasan sisa-sisa keBeatlesannya, tapi tidak, dia kemudian sadar harus berbuat sesuatu selama dunia masih menganggapnya seorang yang harus didengar dunia. Daripada pergi berbuat kekacauan, pengrusakan, perang lebih baik duduk, diam, tidur-tiduran di atas kasur. Yah, bisa menjurus ke make love no war.

Bed-Ins for Peace
Saya pernah begitu membenci Yoko Ono, bagi saya dia itu wanita aneh dan mengapa bisa John Lennon mencintainya? Dia adalah salah satu penyebab bubarnya The Beatles. Itu dulu, dan sekarang saya justru maklum. Betapa kau butuh seseorang yang mendampingimu, mengerti dirimu, menemanimu mewujudkan mimpi-mimpi gila. Dunia bisa saja menghina akan pilihan itu tapi kau yakin dia orang yang tepat! Saat John Lennon telah muak akan popularitasnya, maka mengliarlah mereka berdua, pada mulanya semua mencaci, tapi seiring waktu mereka bisa membuktikan justru mereka adalah dua orang yang bersatu yang layak didengarkan dunia!

Lalu apa yang bisa saya lakukan di tempat tidur. Sebelum tidur, saya hanya memuaskan birahi insomniaku yang menunya telah tersusun panjang, bahkan tiap hari makin bertambah. Saya mengingat orang-orang yang pernah marah dan kecewa kepada saya, saya mengingat orang-orang yang menuntut saya membahagiakan mereka dengan brebagai macam cara, saya mengingat ambisi-ambisi yang tak terwujud. Gambar-gambar yang kubuat semasa kecil, yang telah almarhum dimangsa api tempat sampah di rumahku dulu... Garis-garisnya terus menghantui pikiranku, mereka seolah-olah meminta untuk digambarkan kembali.

Mau tak mau, justru insomnialah yang jadi ninabobo saya tiap malam. Saya sudah terbiasa tidur jam empat pagi, terkadang menunggu adzan subuh dulu, itu penanda pagi bagi saya karena jam hape dan laptop sering kubuat tak konsisten dengan waktu sebenarnya. Jika beruntung saya harus tidur walau beberapa jam, beruntunglah lebih banyak hari untung daripada buntungnya. Jika buntung, saya tak akan tidur karena saya tidak boleh bangun telat, biasa ada agenda pagi dan jadinya berjalan kayak orang mabuk, perasaan seperti hantu (melayang-layang di udara), mencicil-cicil ngantuk di atas angkot. Lalu apa relevansinya dengan John Lennon dan judul di atas?

Mungkin tak ada, saya hanya mau bilang kalau saya harus tidur. Biasanya kalau saya tidak tidur, kegiatan 'menabung' saya terhambat. Itu saja, maka itu saya harus tidur kalau tidak bisa kewalahan mencari WC di jalan. Hehe! Nda' penting kan? Ini bukan revolusi sama sekali, ini hanya semacam rekreasi kenangan akan lagu ini, saat Oasis masih sering muncul di MTv, saat saya masih SD. Dengan begitu bisa tertawa minimal tersenyum, itu saja. :)

Jumat, 02 Desember 2011

tidak penting

Jika KAU menjanjikan martabat bagi orang yang berilmu...
Selanjutnya jika saya yang jadi tuhan, saya akan mengutuk orang-orang yang suka mengmewah-mewahkan ilmu mereka, mendamparkan mereka ke zaman dimana ilmu mereka tak bisa dipakai sama sekali, karena yang mereka sombongkan sebenarnya bukan ilmu tapi sekolah mereka...

Bersyukurmi, saya bukan tuhan! Seandainya saya tuhan, saya tidak perlu capek-capek sekolah, memikirkan banyak hal yang tidak perlu, yang di'ada-ada'kan oleh orang sehingga nampak sangat dibutuhkan dalam hidup. Pengetahuan-pengetahuan yang tidak penting membuat banyak orang tak lagi sederhana, tak banyak waktu untuk bisa lebih mudah bahagia. Berfikir memang membuat otak tajam, namun jika terus-terusan berfikir sampai yang tidak penting pun difikirkan, bisa jadi ketajaman otak itu untuk 'bunuh diri' otak itu sendiri.

Woyyy, dunia ini dibangun dengan kerumitan, nyadar woy! Kalau mau yang sederhana, yah jadi orang gila sanaaaah!

Kamis, 01 Desember 2011

PR dari MEVI*

 *) http://mestand.blogspot.com/

1.      Tokoh panutan dalam hidupmu siapa? Sebutkan alasannya yang dapat menggugah air mata!
Bapakku alm., semua laki-laki bisa jadi ayah bagi anaknya tapi tak semua bisa jadi sahabat bagi anaknya.

2.   Paling males kalo disuruh ngerjain apa? Kenapa?
Disuruh tidur tapi doyan tidur juga sih, hehe. Yeah, begadang sebenarnya adalah jadwal bagi orang-orang yang sudah bosan dengan “kerja di pagi hari, istirahat di malam hari”.

3.   Pernah marah ga?
Yah normalnya pasti pernah

4.   Sebutkan alasan kenapa?
Yang pastinya tidak suka kejadian-kejadian itu, saya juga bingung menjelaskannya.

5.   Kalo bisa nambahin cabang olahraga untuk ditambahkan di kompetisi Sea Games kemarin, apa yang paling cocok? Harus mewakili apresiasi bangsa dan negara ya!
KORUPSI, haha!

6.   Sebutkan hal yang belum pernah kamu bisa dapetin sampai sekarang.
Pengen punya kamera yang canggih.

7.   Makanan apa yang menurutmu paling aneh didunia dan pengen kamu cobain? Makanannya harus beneran ada dan bisa di cari di mbah google ya kalo ada yang mau tau bentuknya :D
Tunggu dulu saya googling, hehe…

8.   Sebutkan 7 keajaiban dunia menurut versimu.
Adanya internet, surat2an Nazaruddin dengan pak Esbeye (gak nyangka dibalas), acara musik jadi acara gosip (lebih ke keanehan daripada keajaiban), ketemu guru SDku, ada angkot, ada eskrim, sandaljepit, masih banyak lagiiiiiii…

9.   Sebutkan mimpi teraneh yang pernah kamu alami.
Saya bertemu anak kecil laki-laki dengan rambut keriting, dan saya akrab dengannya, saya berfikir itu alm. Bapak saya.

10. Kalo ada kesempatan untuk main film Hollywood, kamu mau main film  bareng siapa?
Tom Hanks, saya berperan sebagai anaknya, huahaha! Dasar yatim.

11. Andai kamu presiden Amerika, apa yang akan kamu lakukan untuk menjaga hubungan baik terhadap semua Negara-negara di dunia, terutama dengan predikat Negara adi kuasa. Jawaban harus serius dan berbobot.
Menghimbau kepada seluruh negara untuk bersekutu, ‘menyumbangkan’ militer mereka, bukan untuk berperang tapi untuk menyebarkan benih pohon karena konon Amerika termasuk penyumbang polusi terbanyak di bumi.

Rabu, 30 November 2011

PERAHU SENYUM

Jika seorang teman pernah mengataiku Kuda Nil, kerjanya menguap melulu di kelas...
Jika seorang teman pernah menggelariku Badak karena lebih suka jalan kaki mengitari unhas...
Kali ini saya ingin punya telinga gajah, mengibas-ngibas untuk mengusir serangga dan (mungkin) mengatup untuk tak mendengarkan yang tak mau didengarkannya. Haha, semuanya harus lucu!

Hari ini, tak berhasil bertemu PD1. Dalam keadaan darurat seperti ini, ngemis untuk diberi kesempatan menjadi mahasiswa satu semester lagi adalah ide satu-satunya. Tiga rumahnya kudatangi, tak satupun berisi dirinya, tolong, saya bukan Ayu TingTing. HPnya tak bersamanya, yang ngangkat seorang putrinya. Skenario-Mu memang canggih, Tuhan! Saya hanya bisa sok bijak, kalau ingin mendengar kabar baik harus keliling kota dulu. Sudah pengen nangis sih, saya termasuk mudah nangis, tapi tiba-tiba saya memikirkan sesuatu...


Sebelum matamu pecah, menumpahkan airnya, paksakan dirimu tersenyum. Sebelum kau tak bisa bernafas lagi karena telah tenggelam, secepat mungkin mekarkan senyummu, jadikan perahu untuk menyelamatkanmu sebelum kau benar-benar sudah tidak bisa menyelamatkan diri.
Haha, ini bukan tips, ini hanya sekedar ide konyol yang tiba-tiba bercokol di kepalaku tadi siang. Dalam hal ini, kayaknya harus sering-sering melototin gambar Joker, yang punya banyak 'perahu', banyak joke-joke menyedihkan yang dia lontarkan agar terpaksa lucu.

Jika dunia nyata telah terlalu banyak melukai, saya harus segera mengungsi, ke dunia maya. Segera mencari warkop karena si SHIRO lagi malas berlari, sudah lama tidak memberinya nutrisi, uang habis buat keliling kota jadi tidak ada tersimpan buat beli pulsa untuk SHIRO. Power laptop tinggal 10%, sudah bunyi-bunyi kayak alat pendeteksi detak jantung di ruang ICU. Colokannya segera dihubungkan, dan... baterainya tak terbaca sedang dicharge. Saya ulangi sampai tiga kali pada colokan yang berbeda di warkop tersebut, pun sama. Lunglaaaaaaai! Laptop buluk ini tak membaca aliran listrik, mau disubsidi pakek apa lu, hah? Pakek ciuman? Jangan sampai penjaga warkopnya ngira saya gila dan dengan segera memberiku nama : Plankton. Cappuccino pun tak sempat kuhayati, di luar sudah gelap dan warkop ini telah rame akan nyamuk. Baiklah, ini sepertinya pertanda untuk pulang lebih cepat dari biasanya.

Langsung mengagendakan ke MTC besok nyari charger baru. Tak jauh dari tempat itu pun beberapa hari yang lalu si MUHRIM terpisah denganku, tersesat di tangan pencuri. Saya jadi begidik sendiri, jangan-jangan ini penolakan dari zaman digital terhadap diri ini. Pelan-pelan, sepertinya diri ini dijauhi teknologi satu-persatu. Naik pete-pete, dapat kursi paling belakang, dengan perasaan yang aneh sambil mandang lampu-lampu mobil/motor yang ngantri di belakang. Jangan-jangan itu bukan mobil, jangan-jangan mereka itu sekelompok harimau liar yang matanya bisa bersinar dalam gelap. Seraaaaaaam! Makin horor karena membayangkan diri ini menggigit-gigit kaki sendiri dalam mobil, gara-gara tadi digempur sama nyamuk pengen ngegaruk tapi tadi pagi sudah potong kuku.

Berleha-leha di jalan menuju rumah, gaya jalan kayak orang mabuk padahal hanya neguk air minum biasa bekal dari rumah dari tadi siang. Suasana kompleks juga lagi sepi, hanya kodok yang kedengaran kayak membunyikan terompet satu sama lain, sambil memikirkan dimana bisa kucuri benda yang bernama 'telinga gajah' (daun telinga yang lebar, bukan Telinga Gajah yang krupuk!) dan membayangkan dari colokan listrik di rumah nanti keluar ranting-ranting lunak pohon yang pelan-pelan mencekik sekujur badan.

Sampai di rumah, buru-buru cobain cargher laptop, dan................ berhasil! Alhamdulillah, akhirnya gak jadi menjadi manusia purba yang kesasar di era digital. Tiba-tiba kepikiran untuk membuat bahagia diri sendiri. Setiap hari, setiap bangun pagi, saya harus membuat kabar baik untuk diri sendiri : D.O. memang tidak keren, tapi D.O. itu tidak selalu buruk, Nay!

Kamis, 24 November 2011

(bukan) TANAH AIR BETA



Kaget lihat video ini, atlet Indonesia yang tanding pada video di atas justru mendapatkan emas. Yah "sesuatu" itu memang selalu mempunyai dua sisi, jika itu bukan "kehormatan" itu sudah pasti "kemaluan", haha!

Lebih baik mendapatkan juara II tapi dengan usaha emas, seperti yang ditampilkan tim Garuda Muda di pertandingan final. Banyak yang kecewa dengan mereka, tapi lebih banyak yang lebih suka mencela lawannya : Malaysia, sebuah negara yang banyak menganggapnya sebagai musuh bebuyutan Indonesia. Hal-hal yang tidak ada sangkutpautnya dengan olahraga dibawa-bawa untuk membangkitkan (red: memanas-manasi) nasionalisme. Ada yang menyalahkan wasit, sepertinya kita susah menerima kalau kita memang 'buruk'. Jika tak mau menerima kenyataan, bagaimana kita bisa memperbaiki diri? Jangan karena kita tidak bisa main lebih baik dari orang lain lalu serta merta kita bisa dengan gampang menyalahkan orang lain yang memang bisa bermain lebih baik.

Memang banyak hal-hal yang membanggakan dari Indonesia, banyak yang setengahmati berjuang di perhelatan internasional agar Indonesia Raya bisa berkumandang setelah perlombaan tapi semua seolah tak ada artinya jika dibandingkan dengan sikap para birokrat kita, korupsi adalah berita yang membuat nama Indonesia terngiang-ngiang.

Kembali ke bola. Titus Bonai, Patrich Wanggai dan Oktavianus Maniani adalah tiga di antara pemain sepakbola berhasil menghantar Indonesia menuju final. Seorang teman berkelakar "Jadi apa Indonesia tanpa Papua? Papua berhentilah bergolak, banyak putra-putramu memperjuangkan merahputih!". Haha, lucu. Saya kemudian bilang "Jadi apa Indonesia? Bukan Indonesia, tapi PAPUA MERDEKA yang sedang di final". Dengan mudahnya kita menempelkan Indonesia...

Kenyataan bahwa mereka yang dari Papua dengan bangga berjuang untuk merah putih membuat kita miris karena saat mereka membela Indonesia sementara saudara-saudara mereka terus-terusan dianaktirikan. Lalu, mengapa kita masih harus ber'negara' jika negara itu sendirilah yang menginjak-nginjak? Jika Papua merdeka, paling tidak mereka telah punya atlet bola yang handal. Haha...


Yah, memang aneh rasanya juga harus jadi lawan dari 'mantan', Timor Leste. Apakah Papua akan mengikuti jejak mereka? Papua Merdeka terus-terusan dicap separatis. Hey, siapa yang lebih separatis? Telah lama Pemerintah bersikap separatis terhadap mereka, menganggap mereka seolah bukan warga negara Indonesia, alamnya terus-terusan dimanfaatkan dan penduduk pribuminya hidup menurut adat mereka sendiri tanpa ingin tahu bahwa wilayah mereka dibawah naungan NKRI. Menjadi warga negara siapa sepertinya tak begitu penting bagi mereka. Toh jaminan untuk warga negara seperti kesehatan tak pernah sampai kepada mereka dengan baik.


Mari kita lihat, bisa apa Indonesia hanya dengan Pulau Jawa? Bisa Apaaaaaaaa???

Minggu, 20 November 2011

in memoriam si MUHRIM


MUHRIM*, setahunan bersamaku. Kuberi nama MUHRIM karena Makku telah menitipkan saya kepadanya, katanya kalau saya di luar sulit dihubungi. Maka setelah si CORA** dimuseumkan, tugas-tugasnya beralih ke si MUHRIM ini, fungsi paling utamanya adalah tempat Makku berteriak di telingaku jika saya lupa pulang, menghilang di belantara malam.
Telah dua jam MUHRIM tak menemaniku. Hiks! Foto di atas, adalah momen terindah selama bersamanya, saat semua ruangan digelapkan agar seisi rumah bisa terlelap, saya masih bermain-main menggunakan senternya, poto-potoan pakek kamera laptop alakadarnya. Hehe
MUHRIM, bagaimana kabarmu? Rindu menengokmu setiap setengah jam...


nb : menemukan video ini di tengah kehilangan MUHRIM




"Somebody else could have replicated the Stones. Nobody could have been Dylan or the Beatles." Steve Jobs benar-benar menyukai Bob Dylan dan The Beatles, yeeeah!




*NOKIA 1202
**NOKIA Express Music 5220

Selasa, 15 November 2011

Mari Memeluk Pohon

Save The Tree, salah satu episode Shaun The Sheep yang membuat pikiranku lumayan terjarah dibandingkan episode yang lain. Membuat saya teringat kepala sekolahku waktu sekolah dasar, tempatku menyalurkan rasa ingin tahuku waktu kecil saat jawaban-jawaban yang kudapat dari orang lain justru membuatku semakin bingung. Mulai pertanyaan pelajaran, berita politik yang kudengar sampai dongeng-dongeng pun kutanyakan padanya. Mengapa banyak orang yang takut kepada pohon besar, apakah memang benar ada jin yang hidup di dalamnya? “Itu syirik, tidak boleh. Pohon itu pohon biasa seperti pohon-pohon yang lain!”, begitu jawaban Nenekku.


Tapi jawaban berbeda justru kudapatkan dari Pung Uleng, guru favoritku ini. Dia dengan bijak mengatakan, “Orang jaman dulu membuat cerita seperti itu agar kita menyayangi pohon tersebut, karena pohon itu banyak manfaatnya, dia banyak menghisap air jika curah hujan lebat, kalau kamu jalan-jalan di sana pada siang hari, kamu tidak akan kepanasan kan?”. Saya mengangguk dalam hati. Dia guru terbaik yang pernah kukenal.

Mitos-mitos semacam ini memang pernah hidup di nusantara, banyak orang membawa sesajen di bawah pohon besar, ada pula kepercayaan Hindu yang berasal dari India dimana para bertapa dianjurkan bersemedi di bawah pohon besar. Yah begitulah sejarah mengungkapkan bahwa nusantara terbangun dari nilai mistis, sangat dipengaruhi oleh agama Hindu yang berasal dari India. Di India sendiri, pernah terjadi pemberontakan dahsyat yang ada hubungannya dengan pohon, lebih dikenal dengan nama Chipko Movement, chipko artinya memeluk. Hutan tempat mereka menggantungkan hidup sehari-hari terancam digusur oleh pemerintah. Uniknya, aksi memeluk pohon ini dilakukan oleh para perempuan.

Apakah episode Shaun The Sheep yang ini dipengaruhi oleh Chipko Movement tersebut? Yah kita tidak dapat mengingkari, India pernah sebegitu mengubahnya wajah dunia. Siapa yang tak mengenal Gandhi, masa mudanya dihabiskan untuk belajar menghargai perbedaan tanpa mengikutsertakan kekerasan. Ini seperti menampar keras negara-negara Eropa yang merasa paling ter di dunia dengan memamerkan persenjataannya yang canggih melalui perang. Seketika masyarakat dunia merasa harus pindah haluan, menuju ke Asia. Jadilah pemikiran-pemikiran Gandhi mewarnai dunia, tak lupa ‘sedikit’ kultur India mempengaruhi kaum muda pemberontak perang masa itu.

Kaum ini, kemudian lebih dikenal dengan nama hippy. John Lennon yang sangat mengagumi Gandhi mengantarkan The Beatles memutuskan untuk mengadakan perjalanan spiritual ke India. Jadilah musik ‘empat ajaib’ ini disusupi musik khas sitar petikan George Harrison. The Beatles kemudian melepaskan kostum jas seragamnya dan tak lagi mengenakan rambut moptop. Bukan The Beatles kalau mereka tak bisa mempengaruhi dunia, banyak pemuda mengenakan warna-warni (warna cerah khas India) turun ke jalan seolah menghina media dan televisi yang masih diisi hitam-putih. Mereka mengajak untuk berhenti mendengarkan berita tentang betapa hebatnya negara mereka dengan berperang, pikirkan tentang berapa orang yang telah dibunuh oleh negaramu.


Mereka membagi-bagikan bunga kepada yang mereka temui,  bahkan memasangkan bunga pada moncong senjata para aparat yang mengawal aksi mereka di jalan. Mengajak orang sebanyak mungkin berkumpul di sebuah tanah lapang yang luas, mendengarkan lagu-lagu keresahan akan perang atau sekedar pentas puisi menuntut perdamaian. Kemudian dikenallah Pete Seeger yang terkenal dengan Hammer Song-nya, Bob Dylan yang mengajak kita bertanya kepada angin (lebih tepatnya bertanya pada diri sendiri), atau puisi Allen Ginsberg yang menemukan banyak airmata di ‘library’ negaranya sendiri. Isu tak melulu tentang perang dan damai, masih banyak tema yang mereka suarakan.

They took all the trees, and put em in a tree museum
And they charged the people a dollar and a half to see them
No, no, no, don't it always seem to go
That you don't know what you've got till it's gone
They paved paradise, and put up a parkin' lot

Begitulah rangkaian lagu ciptaan Joni Mitcell membayangkan masa depan. Saat tak ada tempat bagi petani atau sekedar lahan untuk para pejalan kaki karena semuanya telah berfungsi sebagai parkir. Tak ada lahan kosong lagi untuk alam sebab pabrik-pabrik yang begitu banyaknya telah dibiarkan bernafas senyaman mungkin, sementara pohon-pohon telah diawetkan (hanya) menjadi pajangan di museum.

* * *

Beberapa bulan lalu saya sepete-pete* dengan dua orang bule. Mereka menyetop pete-pete ini dari Pasar Sentral menuju ke Terminal Daya. Saya memberanikan bercakap-cakap dengan mereka padahal Bahasa Inggris saya terbilang menyedihkan. Haha! Saya pun tahu, mereka berasal dari New Zealand, tujuan mereka ke Tana Toraja. Tapi, saya sebagai orang timur dibuat mereka lumayan berfikir. Selama ini saya tahu mereka orang yang dimanjakan kecanggihan, mengapa pula mereka mau repot-repot berpanas-panas ria mengendarai pete-pete padahal naik taxi bisa lebih nyaman bagi mereka.

Atau jangan-jangan mereka berwisata ke endonesa justru menghindari kecanggihan, bosan dengan berbagai kemudahan itu, apalagi saya pernah mendengar di Eropa sedang santer-santernya pertanian organik.  Mereka tertarik dan menganggap ketradisionalan unik, kenapa justru kita senang terlihat modern? Tak bisakah kita seperti dua tetanggaan yang berbeda, dimana Barat yang berlimpah kemudahan, sehari-hari menyantap makanan instan, yang sesekali mengunjungi tetangganya si Timur yang masakannya lebih enak dan lebih menggiurkan karena diolah secara alami dan manual? Saya sering sekali menonton di televisi, bule-bule tanpa gengsi membeli keperluannya (itu Thailand apa Filipina yah?) pada penjual pinggir jalan sedangkan kita (dan pemerintah kita) senang menggusur para pedagang kecil untuk memajang mall dengan bangga?

Apakah timur dan barat akan tertukar? Hehe, mari 'memeluk' bumi yang telah jomblo dan jablay...



Nb : tulisan semakin aneh bin ngawur, sepertinya otakku sedang pedekate dengan d.o.
* : angkot

Senin, 14 November 2011

Sedang KAYA

Saya sedang merasa kaya malam ini, semoga bertahan cukup lama. Saya pernah tiba-tiba merasa lebih hartawan dari siapapun, ketika di Top Mode ketemu dengan guru SD saya. Saya refleks menjabat tangannya, kasar! Yah saya tahu, Umar Bakri yang satu itu pekerja keras, selain mengajar dia juga bertani dan merintis usaha menjahit bersama istrinya. Dia telah jauh, jauh lebih hitam daripada saat saya bertemu terakhir kali.

Dan hari ini saya memaksa diri menemukan jalan menjadi kaya kembali dengan membeli sebuah novel, ATONIA UTERI: MENEMUKAN JEJAK MASA LALU. Oh terima kasih, kalimat paling terakhir (tentunya di lembaran terakhir) adalah nomor yang bisa menghubungkan saya dengannya. Saya bertemu lagi dengan Navis itu, BAHARUDDIN ISKANDAR. Saya senang bisa dipertemukan lagi dengan beliau walau keadaan saya (dia bilang) telah bermetamorfosis, saya bukan lagi seseorang yang suka berdiskusi tentang moral dan akhlak. Yah baiknya seorang pengajar tetap malaikat. =)

Ingatanku sedang berpesta poraaaaaaaaa…. Terima kasih kenangan, kalian adalah hartaku. Harta bisa dicari, uangpun bisa dicuri, tapi kenangan hanyalah milik seseorang yang telah membangunnya.

Sabtu, 12 November 2011

Masih tentang SURGA

Terbuat dari apakah surga itu? Apakah selalu pagi di sana? Tak ada siang, tak ada sore, tak ada malam? Bayanganku, yah di sana pagi selamanya. Keluarga tetap lengkap di rumah, duduk santai sambil menikmati teh dan penganan kecil, menghirup hari yang selalu bayi, tanpa perlu khawatir harus ke sekolah atau ke kantor. Apakah akan bosan jika terus-menerus melakukan hal yang sama? Sepertinya, rasa bosan telah dicabut Tuhan digantikan oleh persediaan rasa bahagia yang selalu full.

Semua hanya penggambaran saja, yang katanya, jika kita menghayalkan keindahannya maka yang sebenarnya justru jauh berkali-kali lipat melampaui khayalan kita sebagai manusia biasa. Konon, semua yang kita minta ada di sana. Tidak, saya tak sedang berminat membuat daftar permintaan di surga, saya hanya senang memikirkannya, menyambungkannya dengan kisah-kisah yang sudah saya dengar sebelumnya.

Manusia paling matahari di dunia pernah bertitah bahwa surga itu hidup di bawah telapak kaki ibumu. Bahkan beliau memerintahkan menuruti sosok ibu tiga kali lebih dahulu kemudian ayah. Di budaya India, seorang yang lebih muda jika memasuki sebuah rumah harus menyentuh kaki orang yang lebih tua di rumah tersebut. Inilah adegan paling saya suka jika kebetulan menonton Film India. Yah yang jelas tak sampai bersujudlah, sujud itu hanya hak Tuhan.

Ohhow, apakah Tuhan punya niat terselubung dengan menanam begitu banyak perempuan di dunia? Meski semuanya belum tentu akan jadi ibu. Jadi, surga itu terbangun dari sekian banyak kaki ibu? Tapi bukankah surga itu lebih tua dibandingkan saat pertama manusia itu sendiri diciptakan? Oh, yang terjadi mungkin surga telah terbagi-bagi ke kaki-kaki semua wanita yang akan ditakdirkan menjadi ibu kelak(?)

Huff, surat kali ini lagi-lagi tentang Ibu, semoga tidak bosan karena saya tidak tahu banyak sekali stok tentang ibu di otakku yang berdesakan minta tumpah. Untuk kali ini itu saja surat saya.


*skripsi, oh kenapa kau tak pernah cantik di mataku?

Kamis, 10 November 2011

HANYA INGIN SECANGKIR CAPPUCCINO

Hari ini hari pahlawan, tapi justru saya tak ingin melakukan apa-apa, apalagi harus menemui dosen perempuan. Saya malas berurusan dengan mereka, hal-hal yang bisa saja mudah kulakukan, tiba-tiba terasa rumit jika mereka yang menjelaskannya. Mari merayakan kemalasan karena kebanyakan orang telah terlihat sok rajin. Kita telah terlalu banyak merayakan, mungkin nanti, pertama kali Winnie The Pooh memakai celana akan kita rayakan juga. Merayakan terus-menerus tanpa tahu mengapa harus merayakan, memperingati untuk ingat tapi kurang menjiwai dan mengamalkan. Hem, sebentar saya mau pesan segelas es cappuccino dulu…

Yap, beberapa hari ini padat akan hujan. Saya tetap saja menyenangi minuman dingin, mungkin itulah yang membuat tebal badan ini, seperti pinguin di benua beku sana yang melulu menghirup dingin. Pada dasarnya saya suka dingin, saya tak bisa tidur tanpa kipas angin walau suhu telah relatif dingin. Hey, dengar teori bodoh yang telah kubuat : “dalam keadaan dingin kau bisa menciptakan hangat hanya dengan selimut, tapi kau harus menyalakan kipas angin untuk menyegarkan dirimu jika matahari tengah menyengat.” Alangkah mahalnya dingin itu, jadi nikmati sajalah selagi alam menyediakannya dengan gratis. Hehe…. Pesanan saya telah datang! Tunggu dulu agar dinginnya merata, jadi mari kita lanjutkan dulu tulisan ini.

Beberapa bulan yang lalu, saya harus berurusan dengan kopi agar malam bisa lebih panjang dari biasanya, mata ini harus terjaga untuk mengetik skripshit. Pelan-pelan saya belajar menikmatinya, mendalami mengapa alm. Bapak menyukai minum kopi, seorang kakak laki-lakiku malah menggilai kopi. Mengapa menggilai? Karena dalam segelas, takaran kopinya bisa sampai 3 sendok penuh. Silakan terperanjat, karena saat pertama kali melihatnya membuat kopi pun saya terperanjat. Apakah ini ritual khusus bagi para pemuja Castro yang konon juga fanatik terhadap kopi, saya enggan menanyakan hal-hal berbau ideologis kepadanya. Dia abangku, telah banyak yang harus terpisah dengan yang dicintainya karena tembok yang satu itu, jadi saya tak usah menanyakannya.

Alm. Nenekku justru lebih suka teh. Yah ‘mari bicara, mari ngeteh’, sepertinya sangatlah tepat. Teh adalah minuman para pemikir yang tetap ingin tenang. Bagi mereka yang memutuskan istirahat setelah bekerja seperti biasanya, sepertinya lebih tepat menikmati teh ketimbang kopi karena kopi justru usaha untuk tetap melek, bukan istirahat. Balzac menghantam tenggorokannya dengan kepahitan kopi saat begadang menciptakan inspirasi untuk karya-karyanya. Kopi, minuman pilihan favorit bagi penggila bola, teman begadang bagi orang-orang yang bekerja tak cukup di siang hari saja. Telah banyak warkop bertebaran dimana-mana, bukan war-teh yang memang terdengar aneh, aneh tentu saja bisa kurang menjual. Begadang dan kopi, haha, sungguh baik untuk meriuhkan malam walau (konon) justru tak baik untuk kesehatan, saya bukan dokter maupun ahli gizi, saya hanya mahasiswa hukum yang telah men-D.O.-kan dirinya, yang celakanya tak mau ditanya apapun tentang hukum.

Anggap saja diriku yang mahasiswa telah mati, saya malah pernah kedapatan membaca novel di kelas daripada serius merapal pasal per pasal sebuah peraturan. Saya kedapatan oleh dosen tersebut setelah berkali-kali berhasil menipunya, dikiranya novel yang kubaca itu undang-undang mata kuliahnya. Beberapa teman menasehati tentang nasib, bahwa saya telah salah masuk fakultas. Apakah nasehat bisa memperbaiki takdir? Takdir tak semudah itu, tak seperti di film yang nasib para karakternya bisa kita tebak karena ‘t’uhannya hanya manusia biasa seperti kita. Dalam film, seorang yang akan diceritakan mati dalam beberapa jam kemudian akan (sempat) memberikan isyarat akan ‘pergi’. Sekitar sepuluh tahun sebelum alm. Nenekku ‘pulang’, dia sering sekali mengatakan bahwa sebentar lagi dia bisa saja mati. Saking seringnya, telinga kami menganggap kalimat itu terlampau biasa. Tak ada yang tahu tentang takdir, takdir selalu lihai menyembunyikan dirinya. Tak ada yang tahu tentang takdir, takdir selalu lihai menyembunyikan dirinya. Kita bisa menemukan seseorang yang nyambung, berencana menikah, menjamin kebahagiaan, tapi takdir bisa saja bicara lain. Yang mulanya bahagia berkemungkinan untuk bercerai karena 'tak cocok lagi'. Bersatu  atas nama Tuhan, kemudian berpisah hanya mengatasnamakan egois. Takdir banyak membuat kaget, begitulah cara Tuhan menampar.

Saya adalah orang yang menerka takdir di benak sendiri dengan kemungkinan selalu buruk, bukannya melangkahi hak Tuhan untuk merancang hidup saya, tapi salahkah saya yang mempersiapkan kemungkinan terburuk itu? Saya termasuk manusia yang hidup dengan stok pesimis sangat banyak, mantra-mantra macam Mario Tergugah justru tak membuat saya teguh. Mengapa orang harus mencari Tuhannya melalui orang lain? Celakanya beberapa harus berbayar pula (MLM penghisap uang!).  Saya benci diri ini yang punya otak tak mudah mengenakan novel semacam 5 CM, justru BILANGAN FU yang di GRAMEDIA hanya beberapa exampler begitu mudah membuat saya mengangguk-ngangguk. Kebanyakan orang sudah nyerah duluan memandang BILANGAN FU sebelum membaca, tebal bukan main. Semua orang bisa meneriakkan 'SEMANGAT!', tapi sepertinya berteriak saja tak bisa memberi ruh pada semangat itu. Yah, saya berkembang jadi pencaci, setelah 1000 kali mencaci orang lain entah mengapa malah seperti boomerang, 1.000.000 kali kembali saya mencaci diri sendiri. Saya bisa membenci orang lain dan selanjutnya saya bisa jauh lebih membenci diri saya sendiri. Seorang teman pernah menawarkan ide untuk bunuh diri, haha, kedengarannya seperti mengikuti jejak Kurt Cobain yang (katanya) jenius. Haha, tidak, diri ini terlalu bodoh untuk bunuh diri. Dunia ini memang penjara bagi orang-orang jenius. John Lennon, apakah kemungkinan dia membayar Chapman untuk membunuh dirinya. Haha, konyol. Saya ini jauh dari jenius, lagian bunuh diri bukanlah cara untuk mencintai diri. Membandingkan diri ini dengan Kurt Cobain dan John Lennon, haha, 'siapa gue?''

Saya tidak membenci hidup, saya hanya membenci diriku sendiri. Pun saya tak mau jadi orang lain, saya hanya membenci diriku sendiri…

Baiklah, surat kali ini telah terlalu panjang untuk membuat es cappuccino menunggu. Gelasnya  telah terlihat menangis, semoga ada keputusan untuk mencintai diri setelah meminumnya. Kopi, bukan untuk memulai istirahat, tapi hanya jeda untuk bekerja keras kembali. Jadi setelahnya, mari melanjutkan agenda : berfikir keras untuk membenci diri lagi…

nb : info paling penting hari ini adalah ustadz Zolmed menikah besok.