Tampilkan postingan dengan label curhat picisan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label curhat picisan. Tampilkan semua postingan
Senin, 12 Juni 2017
tengah ramadan 2017
Label:
curhat picisan
Saya tidak suka jadi beban orang lain, seandainya bisa menghilang saja, atau mungkin dengan mati saja. toh, saya tidak pernah merayakan yang namanya ultah, tak perlu doa semoga panjang umur. dengan demikian, dia bisa ke anaknya yang lain, jadi ndak perlu selalu menjadikan saya alasan bahwa tak ada yang menemani saya.
Minggu, 03 April 2016
ditumpuk
Label:
buku,
curhat picisan,
keluarga,
neting
Buku yang judulnya tak diperlihatkan itu adalah buku yang kubeli dari bulan satu, dan belum dibaca sampai sekarang. Makin hari makin malas membaca. Di rumahku ada tiga orang yang suka menumpuk bahan bacaan, minimal dua kali dalam setahun Mak mengharuskan kami memilih mana yang harus dibuang dan disimpan. Bagi kami sih semuanya penting, tapi daripada Mak marahmarah, jadi biarlah... sedih. Mak bilang, buku hanya sekali dibaca, setelah itu tak ada gunanya lagi, hanya menuhin ruangan saja.
Buku tidak ada apaapanya sampai dibaca, bacaan dan pengetahuan pun tak ada apa-apanya jika tidak diaplikasikan ke kehidupan seharihari. Tanteku yang dari kampung akan tertawa mengejek saya seandainya bukubuku di foto tersebut buku resep memasak atau berkebun, karena saya payah dalam memasak dan Bapak dan Mak saya bukan lagi ''keturunan petani'' yang suka bercocoktanam, mereka guru dan pedagang.
Tante saya pernah bilang kalau kami ini, anaana' monri e*, tidak tahu apaapa selain sekolah, buku dan belajar. Dia pernah bilang kepada kami, mukaaalaa sikolama'tu!**
Ada benarnya, kami mah apa atuh, hanya budakbudak ilmu pengetahuan semata.
*anak zaman sekarang
**saya hanya kalah sekolah dari kalian semua
Senin, 07 Maret 2016
SUMANTI
Label:
curhat picisan,
teman
Semalaman mencari miniatur kaktus yang pernah diberikannya, tapi sudah menghilang. Sudah berkalikali pindah rumah jadi ada beberapa benda yang hilang, tapi chat ini belum hilang. Dia menamakan dirinya Sumanti, hari itu, ketika kami berdua duduk di belakang, bosan mendengar Pak Albert yang (sungguh) dengan ingatan yang luar biasa cemerlang memberi kuliah tentang perang, bahkan nama panglima perangnya pun dia ingat.
Orang yang ketakutan ketika kami diospek, bahkan setelah itu saya lupa namanya. Saya lupa, saya sibuk mencari perlengkapan ospek. Sampai ketika hari pertama kuliah, dia menghampiri pertama kali, membuka catatanku tanpa izinku, menemukan dua buah cerpenku dan menanyakan ‘’kau suka menulis?’’ kujawab iya, ‘’saya juga’’, katanya. Saya tak terlalu peduli bahwa dia orang yang ketakutan malam itu, yang lebih membuatku bersemangat justru karena dia suka menulis, berharap suatu nanti punya teman, berjalan ke impian tersebut.
Jarak yang dia ciptakan membuat menyayanginya jadi susah, terkadang membencinya menjadi lebih mudah, keduanya tak bisa dibedakan lagi. Maka dia yang sebenarnya baik tapi jauh, kuhadirkan dia, yang bukan dia, dia yang ciptaanku semata, dia yang kubenci walau tak nyata.
Mungkin dia membaca postingan ini, mungkin juga tidak. Tidak ada niat untuk rujuk kembali dengannya. Dia sudah memutuskan untuk menjauh dari saya, yang mau pergi biarkan pergi, gak usah dibikin galau, gak usah ditahantahan. Saya bukan dirinya yang bisa sok tegar, kemarin menangis, walau mengurung diri tapi membuka telinga untuk menggantikan yang hilang dari hatinya.
Saya, orang yang mengganti kehilangan dengan segera mencari yang lain, walau sebenarnya saya orang yang sulit dapat teman dekat. Jarang orang yang mau dekat dengan orang yang lebih banyak pesimisnya. Ketika seseorang pergi dan menjauh sedikit demi sedikit, disaat itu kau yakin dirimu orang yang membosankan, teman yang buruk. Kemarin dia ingin saya melihat air matanya akibat tulisantulisanku, maaf, saya tidak melihatnya, terlalu jauh jarak itu.
Jika itu untuk memberi hukuman rasa bersalah ke saya, saya rasa dia tidak perlu repotrepot, saya menerimanya, ini bukan goodbye lagi kan, ini ‘’badbye’’. Saya malas memperbaikinya, saya hanya akan bikin dia tambah sedih, tidak memberi halhal baik di kehidupannya, biarlah dia mencari teman yang baik untuk kebaikan dirinya. Selanjutnya hanya akan ada ujicoba perasaan untuk mengisi kekosongan itu. Dia yang sangat baik, berkebalikan dengan teman angananganku, kuucapkan doa ini....
Semoga tambah tegar, tambah bijak, bahagia, dan segera menjadi penulis seperti yang telah diimpikan selama ini. Amin.
Kupajang doa di sini (padahal katanya Tuhan tidak bikin akun di dunia maya), supaya ada yang berusaha mewujudkannya, ya saya tidak percaya doa yang tak ditunaikan. Doa sunyi kebanyakan untuk menenangkan batin saja, menunggu Tuhan mau.
Orang yang ketakutan ketika kami diospek, bahkan setelah itu saya lupa namanya. Saya lupa, saya sibuk mencari perlengkapan ospek. Sampai ketika hari pertama kuliah, dia menghampiri pertama kali, membuka catatanku tanpa izinku, menemukan dua buah cerpenku dan menanyakan ‘’kau suka menulis?’’ kujawab iya, ‘’saya juga’’, katanya. Saya tak terlalu peduli bahwa dia orang yang ketakutan malam itu, yang lebih membuatku bersemangat justru karena dia suka menulis, berharap suatu nanti punya teman, berjalan ke impian tersebut.
Jarak yang dia ciptakan membuat menyayanginya jadi susah, terkadang membencinya menjadi lebih mudah, keduanya tak bisa dibedakan lagi. Maka dia yang sebenarnya baik tapi jauh, kuhadirkan dia, yang bukan dia, dia yang ciptaanku semata, dia yang kubenci walau tak nyata.
Mungkin dia membaca postingan ini, mungkin juga tidak. Tidak ada niat untuk rujuk kembali dengannya. Dia sudah memutuskan untuk menjauh dari saya, yang mau pergi biarkan pergi, gak usah dibikin galau, gak usah ditahantahan. Saya bukan dirinya yang bisa sok tegar, kemarin menangis, walau mengurung diri tapi membuka telinga untuk menggantikan yang hilang dari hatinya.
Saya, orang yang mengganti kehilangan dengan segera mencari yang lain, walau sebenarnya saya orang yang sulit dapat teman dekat. Jarang orang yang mau dekat dengan orang yang lebih banyak pesimisnya. Ketika seseorang pergi dan menjauh sedikit demi sedikit, disaat itu kau yakin dirimu orang yang membosankan, teman yang buruk. Kemarin dia ingin saya melihat air matanya akibat tulisantulisanku, maaf, saya tidak melihatnya, terlalu jauh jarak itu.
Jika itu untuk memberi hukuman rasa bersalah ke saya, saya rasa dia tidak perlu repotrepot, saya menerimanya, ini bukan goodbye lagi kan, ini ‘’badbye’’. Saya malas memperbaikinya, saya hanya akan bikin dia tambah sedih, tidak memberi halhal baik di kehidupannya, biarlah dia mencari teman yang baik untuk kebaikan dirinya. Selanjutnya hanya akan ada ujicoba perasaan untuk mengisi kekosongan itu. Dia yang sangat baik, berkebalikan dengan teman angananganku, kuucapkan doa ini....
Semoga tambah tegar, tambah bijak, bahagia, dan segera menjadi penulis seperti yang telah diimpikan selama ini. Amin.
Kupajang doa di sini (padahal katanya Tuhan tidak bikin akun di dunia maya), supaya ada yang berusaha mewujudkannya, ya saya tidak percaya doa yang tak ditunaikan. Doa sunyi kebanyakan untuk menenangkan batin saja, menunggu Tuhan mau.
Senin, 29 Februari 2016
29 Februari 2016
Label:
artikel siluman,
curhat picisan,
hobi,
hujan,
poting,
sok bijak,
teman
Pernah, saya punya hubungan yang tidak baik dengan seorang senior, di media sosial. Padahal kami punya hubungan darah lumayan dekat. Suatu hari, saya berinisiatif mendatanginya, hari kedua lebaran Idul Adha. Saya mengirimkan message via fb dan dia dengan heran membalasnya ‘’Ada perlu apakik mau ketemu?’’. Saya bilang, mau ketemu saja. Sempat takut sih dia ndak mau ketemu, tapi ternyata kemudian dia membalas message saya dengan memberi alamat kantornya.
Besoknya saya datang, tak lupa membawakannya sedikit makanan Idul Adha, Mak senang dengan inisiatif saya walau dia tidak tahu kalau kami sedang musuhan. “Baguslah, apalagi dia ndak sempat pulang kampung kasiyan, pasti dia senang ko bawakan makanan”. Saya merasa beruntung bisa memanfaatkan momen ini.
Siang itu, saya masuk ke kantornya yang sejuk berAC. Dia di meja kerjanya, tersenyum. Saya mendekat dan dengan mata yang mulai berkacakaca dia mempersilakan saya duduk tepat di depan mejanya. Sambil menatap wajah saya, dia meremas tangan saya yang terlipat rapi di mejanya. Kulihat airmatanya jatuh pelanpelan, saya tersenyum dan berkata... ‘’Janganmakik menangis kak, yang berlalu jangammi diingat’’. Dia masih meremas tangan saya, saya bisa merasakan campur aduk perasaannya, antara senang bertemu dengan saya untuk pertama kalinya, dan sedih karena kami pernah punya hubungan yang tidak baik di dunia maya.
Saya kemudian meraih makanan yang saya bawakan untuknya, saya masih bisa melihat sisasisa air matanya. Tak ada perdebatan, tak ada caci maki lagi. Selanjutnya saya pulang dengan rasa lega luar biasa. Sesimpel itu minta maaf, dan saya tidak menyangka reaksi dia sangat baik terhadap saya. Setelahnya kami baik-baik saja, masih sering bertegur sapa sebagai keluarga. Salah satu kejadian yang tak bisa saya lupa.
Saat ini, saya kembali punya hubungan yang agak rumit dengan seorang teman. Saya sudah minta maaf, saya dimaafkan atau tidak, saya tak tahu. Satu hari saya habiskan untuk minta maaf kepadanya, besoknya saya pasrahkan saja, seperti yang saya katakan tadi, sesimpel itu minta maaf. Terserah dia memaafkan atau tidak.
Dia (katanya) membuat jarak dengan saya, yeah... Ada banyak spasi, dan dia berhasil. Dia diam, menyembunyikan semua akunnya, saya pun sudah lama tidak memegang nomor hpnya. Mungkin dia marahmarah di akunnya, atau bagaimana, saya tidak tahu. Walau saya maunya kita berdebat saja, kalau nantinya malah jadi musuhan itu soal belakang, tapi dia diam. Okelah, orangnya gak mau dikejar yah gak usah dikejar.
Orang-orang mengatakan kalau ‘’Tuhan saja selalu memaafkan hambaNya yang punya banyak dosa, kenapa kita ndak bisa memaafkan orang lain.’’ Tapi itu kan Tuhan, justru karena kita manusia biasa makanya kita tak bisa memaafkan orang lain dengan mudah. Memaafkan itu susah, jangan bandingbandingkan kekuatan Tuhan dengan manusia biasa. Karena saya pun sering demikian, mengucap maaf di bibir memang mudah, tapi hati akan was-was karena kita tak mungkin lupa akan kesalahan orang tersebut.
Intinya hanya mau bilang, kalau punya kesalahan ma orang lain, jangan terlalu seringlah minta maaf, nanti malah jadi annoying. Okeee, kita skip topik sok bijak ini, saya mau cerita kalau sudah sebulan ini saya pegang smartphone, barang yang bagi saya masih mewah. Apa perlu saya pajang pin BBM saya di sini... *pamer*. Hari-hari pertama saya bisa BBMan, teman-teman BBMan komplain, ‘’eh, jammoko terlalu sering ping ping kik, tassejam napingkik lagi’’, kubilang “sori, itu miscallji, masih norak bisa BBMan.’’
Handphone android ini bukan saya yang beli, tapi pemberian dari kakak laki-laki saya, salah seorang yang kukagumi di keluarga. HP bekas sih, tapi tak apalah. Hahaha... Kalau mau kubilang, dia aktif di gerakan kiri, pernah aktif di PRD, hal yang pernah membuat khawatir Mak akan keselamatannya, berbanding terbalik dengan adeknya yang anomali ini, ahahahaha.
Sebelum dia bekerja di sebuah yayasan luar negeri yang memberikan dana hibah untuk siswa SD tak mampu di sebuah kabupaten, pindahpindah lokasi kerja telah dilaluinya berkalikali, mulai LSM yang bergerak di Bidang Agraria, Pertanian, Perburuhan dan seterusnya. Ini tidak baik untuk pendidikan anak-anaknya. Maka dia dan istrinya akhirnya memutuskan untuk mencari pekerjaan yang masih bisa berjuang untuk idealismenya tanpa perlu mengorbankan anak-anaknya.
Bidang pendidikan, sebuah bidang yang baru bagi dia. Tapi selain itu, selepas bekerja dia selalu menyempatkan bertemu dengan kelompok tani di lokasi tempatnya bekerja. Pernah dia memajang status, yang sama sekali tidak kumengerti. Tapi setelah melihat potonya, saya tanya ke dia, ternyata itu air sari bambu. Tadinya, kupikir itu adalah komoditas pangan, ternyata bukan, itu nutrisi buat tanaman, setelah di fermentasi tentunya.
Terkadang, banyak jokejokenya yang ringan yang saya tahu itu jokejoke warga desa yang dia temui. Yang bagi saya, benarbenar lucu, khas obrolan orang kampung, polos, natural, tidak butuh ilmu dan pengetahuan yang wah untuk bikin orang lain tertawa, hanya modal tulus saling membantu dan menghibur. Saya juga punya sepupusepupu yang lucu sebagaimana yang saya bilang tadi, karena sebenarnya saya orang kampung.
Ada di antara mereka yang tukang ojek, pernah nanya kayak gini ke kakak saya “Dimanakikjek kita kerja, Ndik? Kalau saya lima tahunma kerja di Dinas Perhubungan tapi belumpi diangkatangkatka kasi’ jadi PNS.’’, yah yang dia maksud kerjanya sebagai tukang ojek, hehehehe. Sepanjang obrolan saya, Mak, kakak, dan semua orang yang hadir di sana tertawatawa karena celotehannya. Saat dia pulang ke rumahnya, kami pun berdiri, berjabat tangan dengannya, dia kemudian berseloroh ‘’Salamakki twe sampe Tana Marajaaa* eee, jangan lupa celak sama air zamzamnya...’’. Kami melepasnya pulang di halaman, masih dengan tertawaan yang masih tersisa.
Salah satu hal yang membuat saya berat untuk menutup akun di facebook, bukan soal medianya, tapi soal siapasiapa yang ada di sana. Musim hujan beberapa tahun yang lalu, seorang sepupu memajang poto tanamannya yang subur dengan caption, ‘’Tinggal kenangan kasi’, tenggelam dalam banjir, ndak jadi kaya kita’’, lengkap dengan komenkomen di bawahnya, dari sanak saudara yang lain, gak kalah lucu juga untuk dibaca. Saya tidak melihat kesedihan mendalam di sana, tapi justru dia membuatnya jadi penghibur untuk dirinya sendiri. Bagi orang lain, para ahli atau siapalah, banjir ada karena ada sebab, danau kampung sebelah kadang jadi kambing hitam. Tapi bagi mereka, yang susahsusah menanam, banjir bukanlah musibah, banjir ada agar mereka bisa merelakan.
Pengen juga kembali ke kampung, kayak kakak saya yang menjadi bagian dari orangorang sederhana tadi, tapi nantilah kalau saya sudah bosan di kota. Huuuuuuuuuu....apaji!
*Mekkah
Besoknya saya datang, tak lupa membawakannya sedikit makanan Idul Adha, Mak senang dengan inisiatif saya walau dia tidak tahu kalau kami sedang musuhan. “Baguslah, apalagi dia ndak sempat pulang kampung kasiyan, pasti dia senang ko bawakan makanan”. Saya merasa beruntung bisa memanfaatkan momen ini.
Siang itu, saya masuk ke kantornya yang sejuk berAC. Dia di meja kerjanya, tersenyum. Saya mendekat dan dengan mata yang mulai berkacakaca dia mempersilakan saya duduk tepat di depan mejanya. Sambil menatap wajah saya, dia meremas tangan saya yang terlipat rapi di mejanya. Kulihat airmatanya jatuh pelanpelan, saya tersenyum dan berkata... ‘’Janganmakik menangis kak, yang berlalu jangammi diingat’’. Dia masih meremas tangan saya, saya bisa merasakan campur aduk perasaannya, antara senang bertemu dengan saya untuk pertama kalinya, dan sedih karena kami pernah punya hubungan yang tidak baik di dunia maya.
Saya kemudian meraih makanan yang saya bawakan untuknya, saya masih bisa melihat sisasisa air matanya. Tak ada perdebatan, tak ada caci maki lagi. Selanjutnya saya pulang dengan rasa lega luar biasa. Sesimpel itu minta maaf, dan saya tidak menyangka reaksi dia sangat baik terhadap saya. Setelahnya kami baik-baik saja, masih sering bertegur sapa sebagai keluarga. Salah satu kejadian yang tak bisa saya lupa.
Saat ini, saya kembali punya hubungan yang agak rumit dengan seorang teman. Saya sudah minta maaf, saya dimaafkan atau tidak, saya tak tahu. Satu hari saya habiskan untuk minta maaf kepadanya, besoknya saya pasrahkan saja, seperti yang saya katakan tadi, sesimpel itu minta maaf. Terserah dia memaafkan atau tidak.
Dia (katanya) membuat jarak dengan saya, yeah... Ada banyak spasi, dan dia berhasil. Dia diam, menyembunyikan semua akunnya, saya pun sudah lama tidak memegang nomor hpnya. Mungkin dia marahmarah di akunnya, atau bagaimana, saya tidak tahu. Walau saya maunya kita berdebat saja, kalau nantinya malah jadi musuhan itu soal belakang, tapi dia diam. Okelah, orangnya gak mau dikejar yah gak usah dikejar.
Orang-orang mengatakan kalau ‘’Tuhan saja selalu memaafkan hambaNya yang punya banyak dosa, kenapa kita ndak bisa memaafkan orang lain.’’ Tapi itu kan Tuhan, justru karena kita manusia biasa makanya kita tak bisa memaafkan orang lain dengan mudah. Memaafkan itu susah, jangan bandingbandingkan kekuatan Tuhan dengan manusia biasa. Karena saya pun sering demikian, mengucap maaf di bibir memang mudah, tapi hati akan was-was karena kita tak mungkin lupa akan kesalahan orang tersebut.
Intinya hanya mau bilang, kalau punya kesalahan ma orang lain, jangan terlalu seringlah minta maaf, nanti malah jadi annoying. Okeee, kita skip topik sok bijak ini, saya mau cerita kalau sudah sebulan ini saya pegang smartphone, barang yang bagi saya masih mewah. Apa perlu saya pajang pin BBM saya di sini... *pamer*. Hari-hari pertama saya bisa BBMan, teman-teman BBMan komplain, ‘’eh, jammoko terlalu sering ping ping kik, tassejam napingkik lagi’’, kubilang “sori, itu miscallji, masih norak bisa BBMan.’’
Handphone android ini bukan saya yang beli, tapi pemberian dari kakak laki-laki saya, salah seorang yang kukagumi di keluarga. HP bekas sih, tapi tak apalah. Hahaha... Kalau mau kubilang, dia aktif di gerakan kiri, pernah aktif di PRD, hal yang pernah membuat khawatir Mak akan keselamatannya, berbanding terbalik dengan adeknya yang anomali ini, ahahahaha.
Sebelum dia bekerja di sebuah yayasan luar negeri yang memberikan dana hibah untuk siswa SD tak mampu di sebuah kabupaten, pindahpindah lokasi kerja telah dilaluinya berkalikali, mulai LSM yang bergerak di Bidang Agraria, Pertanian, Perburuhan dan seterusnya. Ini tidak baik untuk pendidikan anak-anaknya. Maka dia dan istrinya akhirnya memutuskan untuk mencari pekerjaan yang masih bisa berjuang untuk idealismenya tanpa perlu mengorbankan anak-anaknya.
Bidang pendidikan, sebuah bidang yang baru bagi dia. Tapi selain itu, selepas bekerja dia selalu menyempatkan bertemu dengan kelompok tani di lokasi tempatnya bekerja. Pernah dia memajang status, yang sama sekali tidak kumengerti. Tapi setelah melihat potonya, saya tanya ke dia, ternyata itu air sari bambu. Tadinya, kupikir itu adalah komoditas pangan, ternyata bukan, itu nutrisi buat tanaman, setelah di fermentasi tentunya.
Terkadang, banyak jokejokenya yang ringan yang saya tahu itu jokejoke warga desa yang dia temui. Yang bagi saya, benarbenar lucu, khas obrolan orang kampung, polos, natural, tidak butuh ilmu dan pengetahuan yang wah untuk bikin orang lain tertawa, hanya modal tulus saling membantu dan menghibur. Saya juga punya sepupusepupu yang lucu sebagaimana yang saya bilang tadi, karena sebenarnya saya orang kampung.
Ada di antara mereka yang tukang ojek, pernah nanya kayak gini ke kakak saya “Dimanakikjek kita kerja, Ndik? Kalau saya lima tahunma kerja di Dinas Perhubungan tapi belumpi diangkatangkatka kasi’ jadi PNS.’’, yah yang dia maksud kerjanya sebagai tukang ojek, hehehehe. Sepanjang obrolan saya, Mak, kakak, dan semua orang yang hadir di sana tertawatawa karena celotehannya. Saat dia pulang ke rumahnya, kami pun berdiri, berjabat tangan dengannya, dia kemudian berseloroh ‘’Salamakki twe sampe Tana Marajaaa* eee, jangan lupa celak sama air zamzamnya...’’. Kami melepasnya pulang di halaman, masih dengan tertawaan yang masih tersisa.
Salah satu hal yang membuat saya berat untuk menutup akun di facebook, bukan soal medianya, tapi soal siapasiapa yang ada di sana. Musim hujan beberapa tahun yang lalu, seorang sepupu memajang poto tanamannya yang subur dengan caption, ‘’Tinggal kenangan kasi’, tenggelam dalam banjir, ndak jadi kaya kita’’, lengkap dengan komenkomen di bawahnya, dari sanak saudara yang lain, gak kalah lucu juga untuk dibaca. Saya tidak melihat kesedihan mendalam di sana, tapi justru dia membuatnya jadi penghibur untuk dirinya sendiri. Bagi orang lain, para ahli atau siapalah, banjir ada karena ada sebab, danau kampung sebelah kadang jadi kambing hitam. Tapi bagi mereka, yang susahsusah menanam, banjir bukanlah musibah, banjir ada agar mereka bisa merelakan.
Pengen juga kembali ke kampung, kayak kakak saya yang menjadi bagian dari orangorang sederhana tadi, tapi nantilah kalau saya sudah bosan di kota. Huuuuuuuuuu....apaji!
*Mekkah
Jumat, 11 Desember 2015
Book Sniffing
Label:
buku,
curhat picisan
Kalau ke Toko ATK, nemu orang yang mendekatkan wajahnya ke dalam sampel
buku tulis baru --segel telah terbuka-- , mungkin itu saya... ahahaha. Tapi bukan hanya buku baru saya senang menciumnya, buku-buku lama juga, seperti di Perpustakaan Pusat Unhas juga wangi, wanginya bukan karena parfum tapi lebih vintage, karena buku di sana buku-buku lama, mungkin sudah 70 tahunan berdekam di sana. Kalau harum 'vintage' ini, kita tak perlu sengaja untuk membuka dan menciumnya, cukup berdiri di antara rak-rak buku tersebut, baunya akan mengepung kita. Aroma macam ini juga sering saya dapati di gudang-gudag kantor, dimana banyak dokumen lama bertumpuk di sana.
Dulu, di kampung, alm. Bapak punya usaha sablon/cetak undangan. Saya dan kakak saya sering kebagian melipat dan mengelem sampul undangan. Biasanya, semakin mahal harganya semakin wangilah kertasnya, tapi yang ini lebih ke wangi parfum daripada bau kertas.
Seandainya banyak uang, pengen deh bikin parfum, variantnya terbagi dua New Book and Old Book, yang New Book mungkin baunya kayak inti pohon yang barusan di tebang, kalau yang Old Book yang harumnya vintage, hehehehe.
Dulu, di kampung, alm. Bapak punya usaha sablon/cetak undangan. Saya dan kakak saya sering kebagian melipat dan mengelem sampul undangan. Biasanya, semakin mahal harganya semakin wangilah kertasnya, tapi yang ini lebih ke wangi parfum daripada bau kertas.
Seandainya banyak uang, pengen deh bikin parfum, variantnya terbagi dua New Book and Old Book, yang New Book mungkin baunya kayak inti pohon yang barusan di tebang, kalau yang Old Book yang harumnya vintage, hehehehe.
Minggu, 29 November 2015
KURANG NASIONALIS
Label:
artikel siluman,
curhat picisan,
untag
Kalau berkunjung ke toko buku akhir-akhir ini, ada yang
aneh. Sedang ramai buku mewarnai untuk dewasa, ramai pula dibahas di medsos.
Katanya terapi anti-stres, yang benar saja, saya sampai sekarang masih suka
mewarnai. Saya tidak tahu siapa yang tidak normal, saya yang kekanak-kanakan,
atau orang-orang dewasa yang “mendadak” menganggap seru kegiatan mewarnai ini.
Mungkin kebanyakan orang ke toko buku untuk membeli buku, oke, saya juga
membeli buku jika kebetulan lagi ada uang, tapi saya akan paling lama
memelototi lemari, khusus memajang sebuah merk alat tulis-menulis paling
terkenal di dunia, mau beli semua jenis-jenisnya, pensil warna, cat warna, cat
akrilik, blablabla, pokoknya mau membeli satu set suuuuper lengkapnya, mungkin tak
ada orang yang mau merelakan uangnya untuk itu, begitupun orang-orang di
sekitar saya, buang-buang duit saja kan? Tidak bisa memenuhi obsesi saya yang
ini, maka sebagai gantinya, saya hanya bisa memeriksa stok pensil warna para
krucil di rumah, kalau pensil-pensil mereka sudah sekarat, saya merasa
bertanggung jawab membelikan mereka yang baru. Kasiyan mereka jika harus
bernasib sama dengan saya waktu kecil, pensil dan spidol warna hanya untuk tugas
kesenian kakak-kakak di sekolah, setelahnya pensil dan spidol warna itu
diumpetin agar saya yang belum sekolah tak merengek karena melihatnya.
Bicara tentang ‘mewarnai’, mungkin
orang yang paling terhindar dari stres adalah tukang cat, mungkin. Tapi, mereka
melakukannya untuk bekerja, lebih kepada kewajiban (untuk mendapatkan materi,
nafkah) daripada kesenangan. Atau, perempuan yang tiap hari make-up, mewarnai
wajahnya, bisa dibilang terhindar dari stres, jadi ini juga salah satu
kebingungan saya mengapa ada buku mewarnai untuk dewasa. Tapi trend jilbab,
rok, baju (terutama untuk wanita), mulai dari pertengahan tahun ini adalah monochrome,
dua warna saja. Pakaian dengan lebih dari tiga warna kurang diminati sekarang,
terkesan norak, murahan. Agh, bagi saya membosankan sekali, seperti hitam dan
putih, rasanya dunia sepi sekalilah kalau begini keadaannya, hahahaha. Seperti
warna bendera kita, tapi sepertinya jarang orang yang mau memakai trend ‘merah-putih’
doang, nanti dikira bendera berjalan.
Tapi lihatlah, bendera negara
lain, Amerika misalnya, pernah juga tuh trend Bendera Amerika diaplikasikan ke
fashion. Bendera merah-putih terlalu membosankan, berIndonesia bukan lagi soal ‘berani’
dan ‘suci’, seperti dunia yang tak lagi melulu hitam dan putih, benar atau
salah.
Rabu, 09 September 2015
Gak Penting Lagilah Menulis-Nulis Ini...
Label:
artikel siluman,
curhat picisan
Mengikutkan tulisan ke lomba/sayembara, mengapa kita harus menang?
Mengirimkan tulisan ke media, mengapa harus terbit?
Mengapa tulisan yang panjangnya hanya tiga paragraf dipaksakan jadi cerpen?
Setelah terkenal, mengapa harus berbagi tips ma penulis pemula?
Mengadakan jumpa fans? Ikut festival A, festival B?
Menerbitkan buku? Diskusi setelahnya... Mengapa?
MENGAPAAAAAAAA!!!!
Apa salahnya menulis untuk diri-sendiri? Mengapa harus membuat orang lain kagum?
Jadi apa bedanya, "pemelihara mimpi" dengan yang "enggan bermimpi", sama sajaaaaaa...
Mengirimkan tulisan ke media, mengapa harus terbit?
Mengapa tulisan yang panjangnya hanya tiga paragraf dipaksakan jadi cerpen?
Setelah terkenal, mengapa harus berbagi tips ma penulis pemula?
Mengadakan jumpa fans? Ikut festival A, festival B?
Menerbitkan buku? Diskusi setelahnya... Mengapa?
MENGAPAAAAAAAA!!!!
Apa salahnya menulis untuk diri-sendiri? Mengapa harus membuat orang lain kagum?
Jadi apa bedanya, "pemelihara mimpi" dengan yang "enggan bermimpi", sama sajaaaaaa...
Kamis, 27 Agustus 2015
Tujuhbelasan ala 2015
Label:
curhat picisan,
pete-pete
Perlombaan yang saya ikuti mungkin hanya lomba batuk pas di sentral, suara batuk saling sahut-sahutan di pasar. Kemarau, panasnya cuaca membuat kita harus menipu badan ini dengan meneguk minuman dingin/es. Belum lagi dengan mataku yang sudah mirip mata panda (bukan pocong loh yah *ngeles), terpaksa minum air banyak supaya bangun pipis, begitulah rutinitas kemarau tahun ini. Minum banyak, tidur, bangun pipis, kasih ngalir air, matikan dinamo, minum air lagi, tidur, begitu seterusnya, demi untuk menabung air untuk sekedar mandi pas paginya. Kalau tidak, pas paginya jatah airnya hanya cukup untuk mandi minimalis alias cuci muka doang. Hahaha...
Oke, itu bukan masalah besar,dibanding dengan orang-orang pedalaman yang harus kesusahan mendapat air bersih (gak usah sok empati gitulah, basi, klise), yang jadi bikin kesel adalah kalau nemu sopir pete-pete usil. Kitanya lagi mojok, duduk paling belakang, posisi nyaman buat nyicil ngantuk, eh malah dia kadang suka gas tiba-tiba, otomatislah tidurannya terinterupsi. Kadang saya melihat dia tersenyum setelah melakukannya. Dia seolah berkata "Enak saja luh, gue yang harus sadar seratus persen buat nyopir, elu malah enak-enakan tidur di belakang". Sial! Tapi bagus juga sih, supaya tujuan tidak kelewatan. Hehehe.
Tapi, saya harus bersyukur, kurang lebih setengah tahun membantu Om menjaga lapaknya. Saya belajar banyak hal. Betapa beratnya hidup para penjual kaki lima mereka masih bisa bercanda satu sama lain, saling menghibur. Membantunya membuat saya sedikit demi sedikit pulang ke "kesederhanaan" saya, yang selama ini ditutupi oleh gengsi akan kesarjanaan, pendidikan tinggi, harus sekolah luar negri, blablabla.
Tiga hari ini ada job fair diadakan besar-besaran oleh Disnakertrans Makassar di Graha Pena Fajar, tapi tak tertarik melayangkan lamaran selembar pun. Saya sebenarnya tak tahu ini gejala buruk atau baik untuk diri saya, apakah karena menjaga (yang katanya) "idealisme" atau sekedar menurutkan rasa malas. Pernah satu dua kali menemukan pegawai kantoran mentereng membeli di lapak, lagaknya seolah menganggap enteng kami, yang mungkin baginya hanya tammatan SMA. Saya tidak suka!
Akhirnya, terbuka pintu itu, kembali ke "kesederhanaan", menghargai kerja-keras, yang tak perlu mengumpat mengapa nilai rupiah terhadap dolar mencapai Rp. 14.000/satu dolar Amerika, itu urusan ekonom dan analis pasar dan semacamnya, kami tahu apa! Kami hanya tahu bilang "halo misteeeer!" kepada bule yang kebetulan lewat depan lapak.
Oke, itu bukan masalah besar,
Tapi, saya harus bersyukur, kurang lebih setengah tahun membantu Om menjaga lapaknya. Saya belajar banyak hal. Betapa beratnya hidup para penjual kaki lima mereka masih bisa bercanda satu sama lain, saling menghibur. Membantunya membuat saya sedikit demi sedikit pulang ke "kesederhanaan" saya, yang selama ini ditutupi oleh gengsi akan kesarjanaan, pendidikan tinggi, harus sekolah luar negri, blablabla.
Tiga hari ini ada job fair diadakan besar-besaran oleh Disnakertrans Makassar di Graha Pena Fajar, tapi tak tertarik melayangkan lamaran selembar pun. Saya sebenarnya tak tahu ini gejala buruk atau baik untuk diri saya, apakah karena menjaga (yang katanya) "idealisme" atau sekedar menurutkan rasa malas. Pernah satu dua kali menemukan pegawai kantoran mentereng membeli di lapak, lagaknya seolah menganggap enteng kami, yang mungkin baginya hanya tammatan SMA. Saya tidak suka!
Akhirnya, terbuka pintu itu, kembali ke "kesederhanaan", menghargai kerja-keras, yang tak perlu mengumpat mengapa nilai rupiah terhadap dolar mencapai Rp. 14.000/satu dolar Amerika, itu urusan ekonom dan analis pasar dan semacamnya, kami tahu apa! Kami hanya tahu bilang "halo misteeeer!" kepada bule yang kebetulan lewat depan lapak.
Senin, 13 Juli 2015
RAMADAN 2015
Label:
curhat picisan,
keluarga
Seminggu yang lalu, mengalami kejadian yang na’as. Karena keteloderanku, tas tempat uang pembeli di lapak Om diambil orang, saat itu panik luar biasa. Tante hanya bisa pasrah, Om luar biasa kesal dengan saya. Memang sih saya yang salah, tumben juga hari itu tas uang itu tak kuselempangkan, hufh, musibah! Saya hanya bisa nangis, rasa-rasa separuh nyawa ini hilang entah kemana, belum lagi sedang puasa, sampe di rumah mata bengkak.
Padahal sehari sebelumnya seorang pencuri tertangkap basah sedang mengambil dompet seorang penjual. Si penjual menggiringnya keliling pasar sambil berteriak “Weeee, inimieh mau ambil uangku tadi eee, tandai memangmi mukanya”. Si pencuri, seorang ibu-ibu, tak berdaya diseret sana-sini. Jalanan tiba-tiba macet luar biasa, apalagi saat itu banyak orang berbelanja untuk lebaran. Tidak ada kejadian saja, pundak baku pundak bertemu, perjalanan menuju wc terdekat atau ke masjid buat shalat sungguhlah sebuah perjuangan luar biasa, apalagi sedang ada hal heboh kayak gini.
Itu pencuri yang merupakan “lawan” dari penjual di pasar, lain pula dengan pencopet dan preman yang tidak mengganggu penjual, justru ada yang berteman baik dengan penjual, sasarannya adalah pengunjung/pembeli, bahkan saya mengenal beberapa di antara mereka. Jika Anda tidak mengganggu mereka, mereka pun tak akan mengganggu Anda, bahkan bisa akrab dan jadi penolong Anda.
Asal Anda tutup mulut ketika mereka beraksi maka Anda akan aman-aman saja dari hajaran mereka, maksud saya, mereka tidak main-main, akan memukul Anda. Pun dengan preman ini, jika Anda seseorang dari luar daerah (Jawa, Maluku, Papua dan sebagainya), berhati-hatilah berbelanja. Jika di film-film Anda bisa melihat preman-preman itu memalak para pedagang, lain halnya dengan di Pasar Sentral Makassar ini. Preman-preman ini akan memaksa Anda membeli barang yang Anda tawar dengan harga tinggi. Ini semacam kerjasama antara si penjual dengan preman tersebut. Jadi saran saya, alangkah baiknya jika teman Anda saja yang membelikan barang yang Anda ingini.
Inilah pasar, tidak ada peraturan yang menjamin keamanan Anda. Hari ini Anda menyaksikan orang lain sedang sial, mungkin besok giliran Anda! Tetaplah waspada, apalagi para pencopet ini pasti sedang senang-senangnya beroperasi sekarang karena pasar ramai akan ibadah “tawaf” para pembeli, yang baginya adalah sasaran empuk. Selamat menunaikan ibadah “tawaf”, tetap waspada!
Ngomong-ngomong soal lebaran, tahun ini, style yang paling diminati adalah Jodha, seiring dengan merebaknya serial India di tivi. Istilah Jodha buat menyebutkan barang-barang/fashion yang memiliki aksen emas pada bahannya. Jilbab jodha, tas jodha, sandal jodha, bahkan daster jodha pun ada, ckckck. Saya bukan penggemar berat India, tapi saya tidak bisa menafikkan betapa cantiknya kain-kain mereka. Beberapa hal yang membuatku bertahan menonton tivi, fashion dan desaign. Bahkan saya kadang-kadang pantengin Dangdut Academy demi melihat apa yang dikenakan oleh pesertanya, kalau menurutku "jelek" yah tinggal pindah chanel, hahahaha. Tapi apapun yang Anda kenakan, selamat berlebaran, selamat berkumpul dengan keluarga.
SALAAAAAAAM! *pegang dahi, hormat ala Jodha Akbar
Padahal sehari sebelumnya seorang pencuri tertangkap basah sedang mengambil dompet seorang penjual. Si penjual menggiringnya keliling pasar sambil berteriak “Weeee, inimieh mau ambil uangku tadi eee, tandai memangmi mukanya”. Si pencuri, seorang ibu-ibu, tak berdaya diseret sana-sini. Jalanan tiba-tiba macet luar biasa, apalagi saat itu banyak orang berbelanja untuk lebaran. Tidak ada kejadian saja, pundak baku pundak bertemu, perjalanan menuju wc terdekat atau ke masjid buat shalat sungguhlah sebuah perjuangan luar biasa, apalagi sedang ada hal heboh kayak gini.
Itu pencuri yang merupakan “lawan” dari penjual di pasar, lain pula dengan pencopet dan preman yang tidak mengganggu penjual, justru ada yang berteman baik dengan penjual, sasarannya adalah pengunjung/pembeli, bahkan saya mengenal beberapa di antara mereka. Jika Anda tidak mengganggu mereka, mereka pun tak akan mengganggu Anda, bahkan bisa akrab dan jadi penolong Anda.
Asal Anda tutup mulut ketika mereka beraksi maka Anda akan aman-aman saja dari hajaran mereka, maksud saya, mereka tidak main-main, akan memukul Anda. Pun dengan preman ini, jika Anda seseorang dari luar daerah (Jawa, Maluku, Papua dan sebagainya), berhati-hatilah berbelanja. Jika di film-film Anda bisa melihat preman-preman itu memalak para pedagang, lain halnya dengan di Pasar Sentral Makassar ini. Preman-preman ini akan memaksa Anda membeli barang yang Anda tawar dengan harga tinggi. Ini semacam kerjasama antara si penjual dengan preman tersebut. Jadi saran saya, alangkah baiknya jika teman Anda saja yang membelikan barang yang Anda ingini.
Inilah pasar, tidak ada peraturan yang menjamin keamanan Anda. Hari ini Anda menyaksikan orang lain sedang sial, mungkin besok giliran Anda! Tetaplah waspada, apalagi para pencopet ini pasti sedang senang-senangnya beroperasi sekarang karena pasar ramai akan ibadah “tawaf” para pembeli, yang baginya adalah sasaran empuk. Selamat menunaikan ibadah “tawaf”, tetap waspada!
Ngomong-ngomong soal lebaran, tahun ini, style yang paling diminati adalah Jodha, seiring dengan merebaknya serial India di tivi. Istilah Jodha buat menyebutkan barang-barang/fashion yang memiliki aksen emas pada bahannya. Jilbab jodha, tas jodha, sandal jodha, bahkan daster jodha pun ada, ckckck. Saya bukan penggemar berat India, tapi saya tidak bisa menafikkan betapa cantiknya kain-kain mereka. Beberapa hal yang membuatku bertahan menonton tivi, fashion dan desaign. Bahkan saya kadang-kadang pantengin Dangdut Academy demi melihat apa yang dikenakan oleh pesertanya, kalau menurutku "jelek" yah tinggal pindah chanel, hahahaha. Tapi apapun yang Anda kenakan, selamat berlebaran, selamat berkumpul dengan keluarga.
SALAAAAAAAM! *pegang dahi, hormat ala Jodha Akbar
Selasa, 19 Mei 2015
MERASA
Label:
artikel siluman,
curhat picisan,
keluarga,
sok ilmiah,
teman
Kalau ke tempat kerja, senior bilang ''Ko kurusan, Nay. Diet ko, dek?'' Saya hanya membalasnya ''Iyakah, kak? Gak diet, bukan saya sekali!'' Yah, siklus tubuh enam bulan ini agak menyebalkan. Akhir bulan kalau bukan pertengahan bulan ditengok penyakit. Sigh... Jadi tahanan kamar, gak bisa kemana-mana, padahal tiap hari keluyuran kemana-mana, menyusuri belantara Makassar ini.
Sakitnya sih hanya sehari, tapi penyembuhannya itu makan waktu dua hari, Bos di tempat kerja ngomel karena tugas-tugas sudah deadline. Belum lagi dengan perubahan pola makan habis sakit, dari lambung yang kosong melompong karena gak nafsu makan ketika sakit, setelah sembuh harus dipaksa dengan porsi normal seperti biasanya, alhasil itu gas di lambung mengamuk.
Menyebalkan, karena kurus bukan karena diet, bukan karena usaha, tapi karena malas jaga kesehatan. Tapi kayaknya dari dulu gak doyan ma diet-diet, apalagi ada tuh yang lagi trend, food combining, banyakan makan buah ma sayur daripada hewani ma karbohidrat, agak mirip vegetarian yah, dimana bedanya food combining ini ma vegetarian, silakan Anda cari sendiri ya... Lagian kalau saya pikir-pikir, dua hal ini pola makan bangsa timur yah? Kayak di Jepang, makannya banyak sayur. Biksu juga hanya makan protein nabati tanpa hewani, orang Barat dan Eropa sana mencoba dan menerapkannya dan ternyata terbukti lebih menyehatkan, diberi merk bahasa Inggris jadinya kedengaran ''wah'' gitu yak, piss yah buat penggiat vegan ma food combining, ini hanya opini saya, ini hanya opini saya. Gak peduli siapa yang pertamakali menerapkannya, kalau itu menyehatkan kenapa tidak. Saya saja yang malas, karena saya fikir bagaimana kalau yang kerja berat kayak kuli makan sayur ma buah doang, kalau lapar di siang hari pastilah mereka harus makan, tapi yah sudahlah, ini kan sesuai porsi kebutuhan energi mereka.
Memang sih, sudah beberapa orang yang bilang saya kurusan, teman kerja (yang saya ceritakan di atas), seorang tante, seorang lagi sepupu, hallah, belum cukup lima sih, gitu aja bangga, belum valid tuh... Tapi merasa agak kurusan sih.
MERAAAASSAAAA atauuuu PERASAANMU SAAAJAAA, Nay??? *sudahlah, mungkin mereka lelah*
Sakitnya sih hanya sehari, tapi penyembuhannya itu makan waktu dua hari, Bos di tempat kerja ngomel karena tugas-tugas sudah deadline. Belum lagi dengan perubahan pola makan habis sakit, dari lambung yang kosong melompong karena gak nafsu makan ketika sakit, setelah sembuh harus dipaksa dengan porsi normal seperti biasanya, alhasil itu gas di lambung mengamuk.
Menyebalkan, karena kurus bukan karena diet, bukan karena usaha, tapi karena malas jaga kesehatan. Tapi kayaknya dari dulu gak doyan ma diet-diet, apalagi ada tuh yang lagi trend, food combining, banyakan makan buah ma sayur daripada hewani ma karbohidrat, agak mirip vegetarian yah, dimana bedanya food combining ini ma vegetarian, silakan Anda cari sendiri ya... Lagian kalau saya pikir-pikir, dua hal ini pola makan bangsa timur yah? Kayak di Jepang, makannya banyak sayur. Biksu juga hanya makan protein nabati tanpa hewani, orang Barat dan Eropa sana mencoba dan menerapkannya dan ternyata terbukti lebih menyehatkan, diberi merk bahasa Inggris jadinya kedengaran ''wah'' gitu yak, piss yah buat penggiat vegan ma food combining, ini hanya opini saya, ini hanya opini saya. Gak peduli siapa yang pertamakali menerapkannya, kalau itu menyehatkan kenapa tidak. Saya saja yang malas, karena saya fikir bagaimana kalau yang kerja berat kayak kuli makan sayur ma buah doang, kalau lapar di siang hari pastilah mereka harus makan, tapi yah sudahlah, ini kan sesuai porsi kebutuhan energi mereka.
Memang sih, sudah beberapa orang yang bilang saya kurusan, teman kerja (yang saya ceritakan di atas), seorang tante, seorang lagi sepupu, hallah, belum cukup lima sih, gitu aja bangga, belum valid tuh... Tapi merasa agak kurusan sih.
MERAAAASSAAAA atauuuu PERASAANMU SAAAJAAA, Nay??? *sudahlah, mungkin mereka lelah*
Jumat, 15 Mei 2015
PEMBEBASAN
Label:
curhat picisan,
keluarga
Sebentar lagi adek ke pulau sebrang buat lanjut studi, kasih tambah lagi namanya. Hiks hiks, sedih... Nda adami lagi yang temani kemana-mana, bonceng antar sana-sini, angkat-angkat barang. Dipikir-pikir, saya kejam juga yak... *baru nyadar* Akhirnya dirinya bebas dariku yang manenna' dan pannooko-nookoreng ini, hahaha.
Sabar yah kaki, betis, besok-besok kita jalan kaki lagi... Caw taw...
Sabar yah kaki, betis, besok-besok kita jalan kaki lagi... Caw taw...
Rabu, 25 Februari 2015
Pengumuman Pemenang
Label:
curhat picisan

Selamat kepada
Fadilla Kahar (seangkatan SAKSI 04)
Maryam (teman kerja)
Hamran Sunu (senior)
Minggu, 01 Februari 2015
DUA PULUH SEMBILAN
Label:
curhat picisan
Mengapa mengekangnya dalam kebahagiaan yang kau tawarkan kepadanya? Seperti dirimu, dia juga ingin bahagia dengan cara yang diingininya. Jika caramu tak berhasil membuatnya bahagia, relakanlah. Tak usah dipaksakan lagi, biarkan dia membahagiakan dirinya dengan cara yang diinginkannya.
Jika kau terus-terusan memaksakan membahagiakannya dengan caramu maka dia akan kecewa, itu hanya akan membuatmu makin membenci dirimu, itu buruk. Kau bisa membenci dia yang pergi darimu, tetapi kau akan malah balik menyalahkan dirimu. Yah, kau bisa membenci semua orang, tapi orang yang paling kau benci justru dirimu sendiri.
Kau tidak bisa menghentikan itu-membenci-, daripada kau dan dia sama-sama tersiksa, maka relakanlah. Kau memang tak memenangkan apapun, tapi camkan satu hal bahwa dengan keputusanmu ini paling tidak ada satu pihak yang bahagia.
Jika kau terus-terusan memaksakan membahagiakannya dengan caramu maka dia akan kecewa, itu hanya akan membuatmu makin membenci dirimu, itu buruk. Kau bisa membenci dia yang pergi darimu, tetapi kau akan malah balik menyalahkan dirimu. Yah, kau bisa membenci semua orang, tapi orang yang paling kau benci justru dirimu sendiri.
Kau tidak bisa menghentikan itu-membenci-, daripada kau dan dia sama-sama tersiksa, maka relakanlah. Kau memang tak memenangkan apapun, tapi camkan satu hal bahwa dengan keputusanmu ini paling tidak ada satu pihak yang bahagia.
Senin, 22 Desember 2014
CACAT
Label:
artikel siluman,
curhat picisan,
fiksi,
neting
Sepuluh tahun lalu...
Dia yang baru kukenal dua hari, menghampiri kursi tempatku duduk dan mengambil bukuku. Didapatinya dua buah cerpenku, dua buah cerpen yang kubuat saat SMA, ‘’kamu suka nulis?’’ saya tak menjawab, dia bagiku masih orang asing, ‘’saya juga suka nulis.’’ tambahnya. Dosen masuk, kami berhamburan menemukan kursi masing-masing.
Lima tahun lalu...
‘’Sedang bikin apa?’’, sms seperti itu sering mampir di handphoneku, dari dia seorang, keluargaku pun sudah tahu kedekatan kami, demikian pun dengan teman seangkatan. Ada yang bilang kami seperti saudara, punya kemiripan wajah, ada yang beling hubungan kami sepasang kekasih. Whateverlah, orang hanya mencap, kami yang menjalaninya.
Setahun yang lalu...
Handphone saya hampir tak punya kegunaan lagi selain melihat jam, dan hanya sebuah sms penting pernah mampir, ‘’Apa kabarmu?’’, itu bunyi smsnya. Hai orang asing, tiba saatnya kita jadi kenalan biasa saja. Mungkin saya yang lelah mengenal setiap dirinya, kini muncul dirinya yang baru lagi. Semua teman dan keluarga menanyakan kabarnya, saya tak tahu harus menjawab apa. ‘’Teman macam apa kamu tak tahu apa-apa tentang temanmu?’’ Yah, teman macam apalah saya ini.
Saya tak tahu apa-apa lagi tentangnya, hubungan ini hanya punya satu kaki untuk melangkah ke depan, tak ada kaki kiri dan kanan yang bergantian di depan dan satunya menahan berat badan di belakang, pincang. Sebelahnya lagi lunglai, tak meminta pertolongan, asik menikmati kesakitannya sendiri.
Mungkin akan ada sapaan basa-basi, dan hanya balasan ‘’hehehe’’ sekedarnya dari saya atau darinya. Seperti halnya kaki pincang tadi punya sanggahan lagi, tapi dari kayu, yang lunglai itu tetap asik di situ menghabiskan dukanya.
Selasa, 09 Desember 2014
Kaki Kipas
Label:
curhat picisan,
pete-pete,
untag
Hari ini ketiban macet lagi, tau gitu lebih baik tiduran di rumah membayar cicilan-cicilan kantuk selama ini, cuaca dingin habis hujan mendukung. Saya pikir, apa lagi yang terjadi? Ternyata hari ini tanggal 9 Desember, saya lupa kalau hari ini Hari Anti Korupsi. Saya malas berbicara mengenai Korupsi, saya lebih takut dengan pencopet yang terus mondar-mandir di lapak seorang Pamanku di Pasar Sentral Makassar. Saya pernah meremehkan dua kali nasehat dua penjual minuman yang berbeda agar menjaga tas ransel saya, ternyata memang benar ada pencopet di sekitaran jalan sana.
Pertama melihatnya, dia sedang rehat bersama beberapa temannya, yang bukan pencopet. Teman-temannya ini mengumpulkan uang dengan memaksa orang-orang untuk beli di lapak di mana dia bekerja, memaksa orang untuk singgah dan membeli dengan hasil tawar-menawar dan berdebat dengan mereka. Satu-dua orang biasa ''diladeni'' tiga orang lelaki tersebut. Supaya aksinya dan akting emosionalnya lebih mantab, terkadang sebelumnya mereka meminum ballo' terlebih dahulu, atau kalau mampu mereka membeli minuman bermerk.
Kembali ke pencopet tadi. Selesai mencopet, berlagak jagoan akan bercerita ke temannya mengenai apa yang didapatnya, walau yang didapatnya sedikit atau sedang sial, tak dapat uang sama sekali. Seolah pekerjaannya sangat beresiko tinggi, butuh keahlian khusus. Saat pertama kali melihatnya mencopet, saya ditegur oleh Paman saya supaya tidak komen apa-apa, berusaha untuk tidak memperhatikannya. Paman saya bercerita kalau dia ditegur ketika kedapatan mencopet, dia akan marah-marah bahkan sampai pada tahap memukuli orang tersebut.
Kebaikan dan keburukan tidak ada yang menang dan kalah, siapa yang punya kekuatan itulah yang menang, soal waktu saja. Saya tercenung memikirkan semua itu... Seperti ketika ada Badan POM datang ke sana, semua bisa disita, tapi tidak dengan keinginan menjual dan membeli barang tersebut. Seperti ketika seorang dosen kedapatan sedang mengonsumsi shabu-shabu di hotel, saya teringat dengan istri dan anak-anaknya. Seperti ketika orang tua yang terus-terusan mengungkung cita-cita kita hanya sebatas sebagai pegawai. Sigh. Kehidupangnga!
Apa kita tidak bosan terus-terusan memakai seragam? Apa kita tidak bosan memakai pantofel dan selalu bangun pagi setiap hari? Walau sebenarnya saya tidak bosan jalan kaki, dari TK sampai kuliah. Mungkin itulah penyebabnya telapak kaki saya bentuknya tidak seperti bentuk kaki wanita kebanyakan yang langsing, muat dengan sandal jepit untuk wanita. Ketika membeli sandal jepit, saya justru mencari sandal jepit yang nyaman, sandal jepit laki-laki dan cenderung kebesaran untuk telapak kaki saya. Peduli siapa, kaki saya yang makai kok.
*ballo : minuman miras khas Makassar
Kamis, 27 November 2014
untuk apa tulisan yang bagus
Label:
curhat picisan,
neting
Gadis Surat, sungguh tidak kekinian. Barangkali memang ada baiknya mengganti nama blog ini dengan ''curhat picisan'' saja. Makin hari tidak ada postingan bagus, saya juga tak ada niat untuk menghilangkannya, bahwa saya juga pernah alay, menye-menye dan semacamnya, agar saya tidak sok eksklusif, saya pernah melalui fase itu. Dengan begitu saya tak mudah mencela selera orang lain.
Jadi ingat seorang kawan, kini diakui sebagai penulis, sekarang malang-melintang di festival-festival. Ketika pertama kali membacakan puisinya, seorang senior seperti memandangnya sebelah mata. Kini, senior itu justru berbalik jadi jempolers di setiap apa yang diposting di wall facebooknya, betapa alaynya...
Maksud saya, jangan terlalu cepat meremehkan kemampuan orang lain, hanya karena dia bukan teman komunitasmu sehari-hari beraktifitas bersama, hanya karena kau tak melihat bagaimana dia berusaha. Atau mungkin penggiat seni itu memang butuh eksklusif? Bergaul di antara mereka saja? Masa bodoh.
Jadi penulis kesannya keren, tulisan saya pernah dimuat di beberapa buku. Rasanya biasa saja. Mungkin ini yang dirasakan oleh tokoh pedagang yang di Novel Alkemis, seumur hidupnya dia memimpikan naik haji, namun seumur hidupnya pula dia enggan mewujudkannya, dia takut kalau keinginan satu-satunya tersebut terkabul, maka hidupnya tidak berarti lagi. Dia bukan manusia yah? Yang benar saja, manusia itu banyak keinginan.
Tapi itulah yang terjadi. Tuh lihat, novel yang kukutip saja termasuk novel lumayan mainstream, saya malas baca buku memang. Saya tidak ada keinginan lagi bikin tulisan yang bagus, walau sebenarnya selama ini saya tak yakin tulisan saya benar-benar bagus. Saya pernah bikin puisi, tapi kata abangku, apa artinya semua puisi kalau egomu yang berkuasa, ''kau sekedar indah di kata-kata''. Sempat juga tertarik jurnalisme sastra, tapi belakangan sadar, keindahan hanya dijadikan orang-orang menyelipkan hal-hal yang sebenarnya buruk, yang membaca jadi memaklumi, tapi itu tergantung sih.
Jadi ingat seorang kawan, kini diakui sebagai penulis, sekarang malang-melintang di festival-festival. Ketika pertama kali membacakan puisinya, seorang senior seperti memandangnya sebelah mata. Kini, senior itu justru berbalik jadi jempolers di setiap apa yang diposting di wall facebooknya, betapa alaynya...
Maksud saya, jangan terlalu cepat meremehkan kemampuan orang lain, hanya karena dia bukan teman komunitasmu sehari-hari beraktifitas bersama, hanya karena kau tak melihat bagaimana dia berusaha. Atau mungkin penggiat seni itu memang butuh eksklusif? Bergaul di antara mereka saja? Masa bodoh.
Jadi penulis kesannya keren, tulisan saya pernah dimuat di beberapa buku. Rasanya biasa saja. Mungkin ini yang dirasakan oleh tokoh pedagang yang di Novel Alkemis, seumur hidupnya dia memimpikan naik haji, namun seumur hidupnya pula dia enggan mewujudkannya, dia takut kalau keinginan satu-satunya tersebut terkabul, maka hidupnya tidak berarti lagi. Dia bukan manusia yah? Yang benar saja, manusia itu banyak keinginan.
Tapi itulah yang terjadi. Tuh lihat, novel yang kukutip saja termasuk novel lumayan mainstream, saya malas baca buku memang. Saya tidak ada keinginan lagi bikin tulisan yang bagus, walau sebenarnya selama ini saya tak yakin tulisan saya benar-benar bagus. Saya pernah bikin puisi, tapi kata abangku, apa artinya semua puisi kalau egomu yang berkuasa, ''kau sekedar indah di kata-kata''. Sempat juga tertarik jurnalisme sastra, tapi belakangan sadar, keindahan hanya dijadikan orang-orang menyelipkan hal-hal yang sebenarnya buruk, yang membaca jadi memaklumi, tapi itu tergantung sih.
Minggu, 20 Juli 2014
Surat Kepada Prabowo dan Jokowi
Label:
curhat picisan,
fiksi,
film
Kepada Kandidat Nomor 1*
Sudahlah, mungkin RK bukan jodohmu, tidak usah ditangisi...
Kepada Kandidat Nomor 2**
Gosip-gosip yang nyebar, katanya RK sudah melamarmu dua kali dan belum pernah diterima. Oh, come on! Terimalah lamarannya, kalau tak, masak RK harus balik ke Kandidat Nomor 1. Kalau RK sudah gak punya perasaan ma No. 1, masak saya yang harus maju gitu jadi Kandidat Nomor 3. (cuih, ngarep!)
Catatan
RK : Ranbir Kapoor
* : Depika Padukone
** : Katrina Kaif
Sudahlah, mungkin RK bukan jodohmu, tidak usah ditangisi...
Kepada Kandidat Nomor 2**
Gosip-gosip yang nyebar, katanya RK sudah melamarmu dua kali dan belum pernah diterima. Oh, come on! Terimalah lamarannya, kalau tak, masak RK harus balik ke Kandidat Nomor 1. Kalau RK sudah gak punya perasaan ma No. 1, masak saya yang harus maju gitu jadi Kandidat Nomor 3. (cuih, ngarep!)
Catatan
RK : Ranbir Kapoor
* : Depika Padukone
** : Katrina Kaif
ketika kau bilang saya jahat, maka saya lebih jahat kepada diri saya sendiri
Label:
curhat picisan,
neting
Ketika saya bilang kau itu teman yang jahat, melupakan teman dan mengabaikannya begitu saja, maka tenang saja, karena setelahnya saya akan bilang kalau memang sayalah yang membosankan.
Jumat, 11 April 2014
MIRIP BAPAK
Label:
artikel siluman,
curhat picisan,
film,
kartun,
keluarga

I don't consider myself different to anyone else with AlDS. I'm not guilty. I'm not innocent. I'm just trying to survive.
Itu
perkataan Ms. Benedict, sambil memandang dengan penuh iba kepada
penderita AIDS , Andrew Backett di ruang sidang. Andrew adalah seorang
pengacara yang menuntut firma tempatnya bekerja, firma terbaik di Kota
Philadelphia. Dia dipecat karena dianggap teledor menghilangkan sebuah
berkas penting dan dia sangat sadar bahwa dia disabotasi. Pada akhirnya,
keputusanjuri memenangkan Andrew Backett karena ini bentuk diskriminasi
terhadap penderita AIDS.
Andrew Backett diperankan
dengan sangat cemerlang oleh Tom Hanks, pengacara yang paling diandalkan
di kantornya. Tom Hanks berperan sebagai seorang gay di sini,
berpasangan dengan Antonio Banderas. Tom Hanks harus menurunkan berat
badannya demi tuntutan perannya, jadi sedih ngelihatnya, apalagi Tom
Hanks ditampakkan semula sehat, perlahan-lahan sekarat. Saya suka
dengan keluarga dan teman-temannya, yang mereka pikirkan bagaimana agar
mereka melepas Andrew dengan kesedihan yang tak berlebihan.


Joe Miller (Denzel Washington) yang semula merupakan ‘rival’nya pada mulanya menolak, tapi kemudian dia merasa tertantang pada kasus yang ditawarkan Andrew. Karena film PHILADELPHIA (1993) ini sedih, karaker Joe Miller datang sebagai karakter yang lucu mengisi kemuraman cerita. Dan, Antonio Banderas (Miguel) masih sangat muda, penonton perempuan pasti sangat terhibur dengan kemunculannya. Andrew-Miguel, cute couple! :)

Dulu,
saya suka menonton film walau saya tak memperdulikan siapa yang main,
siapa sutradaranya dsbginya. Suatu malam, jauh sebelum saya mengenal Tom
Hanks, saya pernah menonton satu babak film The Terminal di sebuah
chanel televisi. Saya melewatkan opening film dan bagian end creditnya,
jadi saya tak tahu kalau orang tersebut bernama Tom Hanks. Saya, seorang
yang baru saja kehilangan Bapak kandung, dengan serta merta dalam hati
mentitahkan, orang ini mirip Bapak, mungkin hanya emosi saya, atau saya
berlebihan, tak saya pedulikan lagi.


Saya
mengenal Tom Hanks ketika Toy Story (3) dirilis. “Hey, film kartun
tentang mainan ini dibuat sequelnya lagi!”, kebetulan beberapa kali
menontonnya, ceritanya unik, saya pikir, mungkin (di pikiran anak kecil)
mainan itu berjalan, itulah sebabnya mainan sering hilang. Saya
menonton seri pertama dan kedunya, juga masih dari televisi, saya belum
pernah ke bioskop waktu itu. Saya bersemangat, selain karena saya memang
penyuka animasi. Saya mencari infonya di internet dan takjub, Woody si
koboy ternyata diisi oleh orang yang bernama Tom Hanks ini, yang juga
pemeran utama di The Terminal. Saya bahkan mencari di internet, orang
lain yang ingin punya Bapak seperti Tom Hanks, saya menemukan Joko Anwar
:)


Rabu, 19 Februari 2014
TIM dan TOM
Label:
curhat picisan,
fiksi,
film
Ini film apa? Saya yakin blogger film juga hampir semua tak pernah melihat poster di atas. Tapi, Om yang punya lesung pipi itu, siapa dia, saya yakin banyak yang tahu. Kalau Papa Tom Hanks tak kunjung datang mengadopsi saya sebagai anaknya, baiklah, sekarang saya kenalan ma Uncle Tim Robbins.
Langganan:
Postingan (Atom)















