Rabu, 19 Februari 2014

TIM dan TOM


Ini film apa? Saya yakin blogger film juga hampir semua tak pernah melihat poster di atas. Tapi, Om yang punya lesung pipi itu, siapa dia, saya yakin banyak yang tahu. Kalau Papa Tom Hanks tak kunjung datang mengadopsi saya sebagai anaknya, baiklah, sekarang saya kenalan ma Uncle Tim Robbins.

Sabtu, 01 Februari 2014

DUAPULUH DELAPAN

Dua orang manusia, lahir dari rahim yang sama, keduanya perempuan. Sebutlah mereka Si Sulung dan Si Bungsu.

Sulung terlahir sempurna, pancaran kedua orang tuanya. Secara fisik sangat menarik, dia menjaga makannya agar tidak kelebihan berat badan. Banyak orang tua lainnya yang telah meliriknya jika dia kebetulan lewat di depan rumah mereka, untuk dijadikan menantu kelak. Menjelang remaja, konon sudah ada beberapa lelaki yang datang untuk melamar, tapi orang tua Si Sulung orang yang sangat peduli akan pendidikan. Semua lamaran ditolak dengan halus, mereka mau menyekolahkan Si Sulung sampai sekolah setinggi-tingginya.

Begitulah, Bungsu selalu tak sengaja mendengar cerita tersebut. Ya, cerita itu bukan untuk diceritakan kepadanya, tapi kepada handai taulan. Lagipula buat apa memikirkannya, dia belum faham, dia masih balita waktu itu. Sedangkan Si Sulung tengah kuliah di kota dengan biaya dari ikatan dinasnya, bertambahlah rasa syukur akan kehadiran Sulung, adanya dirinya di keluarga tersebut tak pernah memberatkan mereka.

Meski telah berulang-ulang mendengar cerita tersebut, Bungsu tetap berusaha sebaik mungkin, nilainya tak pernah jelek di sekolah. Sampai tiba saatnya Sulung menikah, meninggalkan orang tuanya, ke luar pulau bersama suaminya, menjenguk orang tuanya sesekali. Kali ini, mereka datang mengendarai mobil, sesuatu yang masih mahal bagi mereka. Dengan bangga mereka tersenyum, melambaikan tangan, padal itu masih beberapa meter dari halaman rumah. Ayah dan Ibu segera berlari membuka tirai jendela melihat kedatangan Si Sulung dan suaminya serta ditemani seorang bayi.

Bungsu yang masih SD tidak mengerti, mengapa ada orang yang tersenyum dengan mudah lewat di atas aspal. Suatu kali dia bertanya kepada Guru Sejarahnya, bagaimana sejarah aspal di desa mereka bisa ada. Sang Guru menjawab, bahwa semua wilayah itu dulunya adalah hutan, kemudian ada yang menebangnya agar manusia bisa lalu-lalang di sana. Kemudian penjajah datang, menerapkan kerja paksa terhadap nenek moyang mereka, membangun jalan yang tak becek ketika hujan, agar kendaraan bisa melewatinya dengan mulus.

Sejak hari itu, dia berfikir terus akan cerita gurunya tersebut. Terbayang di kepalanya, kakek buyutnya dengan tubuh kurus tersengat matahari, berkeringat sepanjang hari untuk membangun jalan yang selalu dilaluinya ke sekolah tiap hari. Dia memutuskan, sebisa mungkin dia akan jalan kaki melewati jalan aspal, berkeringat, disengat matahari, merasakan apa yang dirasakan kakek buyutnya dulu.

Cerita itu membekas di dalam dirinya, dia bertumbuh jadi sosok yang lebih sensitif, bahwa ketika mencicipi sebuah kenikmatan, dia harus sadar akan pengorbanan orang-orang sebelum adanya nikmat tersebut. Dia jadi seorang yang tak gampang tersenyum, dicap aneh, terkadang jadi bahan lelucon. Dia pernah membaca, Charlie Chaplin yang pernah satu-dua kali ditontonnya bilang, bahwa pelawak yang baik adalah pelawak yang tidak tertawa akan lawakannya.

Kemudian teknologi komunikasi yang lebih canggih menembus desanya, sekarang mereka tak perlu lagi antri di wartel untuk menelpon. Si Sulung telah membelikan handphone ke orang tuanya. Mereka bisa berbicara kapanpun mereka mau. Bungsu sadar, Sulung dan Ibunya sangat dekat, usia mereka hanya terpaut 17 tahun. Ketika Ibunya dan Si Sulung berbicara, mereka bercerita seperti adek-kakak.

Namun, kebalikannya bagi Si Bungsu, dia sering banyak tak sefaham dengan Ibunya. Mereka sering bertengkar, ujungnya Ibu mendiaminya selama dua hari, sedangkan Bungsu hanya bisa menangis diam-diam. Apakah memang dirinya tak perlu ada di keluarga ini? Adakah Tuhan sedang iseng menyisipkannya sampai-sampai dia dicap aneh bahkan oleh keluarganya sendiri?

Bungsu jadi sosok yang pendiam, dia memilih seperti itu daripada harus selalu bersitegang dengan Ibunya, dia takut jadi anak durhaka seperti kata udztas. Dia sebenarnya iri dan cemburu kepada Si Sulung, apalagi ketika Si Sulung dan Ibunya saling membincangkan kasih sayang mereka satu sama lain. Tapi, Bungsu sering bersedih, kalau mereka tiba-tiba bercerita tentang dirinya, mereka tertawa, bagi mereka Si Bungsu itu aneh sehingga bagi mereka lucu.

Bungsu hanya bisa sedih, dia sepenuhnya mengiyakan pendapat Charlie Chaplin. Dia tidak tertawa, dia sedih, yah dia pelawak yang sedih di balik panggung. Tak ada yang pernah mengamati berapa kesedihan yang harus dibayar untuk membuat orang lain tertawa, tapi dia percaya bahwa ketika seorang bahagia, ada orang yang membayar untuk itu, seperti asal-usul jalanan aspal di sekolah mereka, seperti dirinya yang bisa saja menghamburkan air ketika ada orang di Afrika yang kehausan.

Bungsu semakin hari jadi sosok yang misterius. Sulung bahkan sering menanyakan kepadanya, dengan siapa dia bergaul. Pernah suatu kali dia mengajak Sulung bertemu beberapa temannya, tapi Sulung tidak suka dengan teman Bungsu yang dikenalkan kepadanya, seorang penyair yang tak enggan membacakan sajak yang mengumbar kelamin di dalamnya.

Sulung tidak suka jika adiknya berteman dengan orang seperti itu, dia dari keluarga yang baik-baik. Bungsu marah kali ini, katanya, itu temannya yang pertama dan terakhir dikenalkan kepada keluarganya. Tak ada seorang pun yang boleh menghakimi teman-temannya, dia pun bebas bergaul dengan siapapun. Walau setiap hari hidup bersama, Bungsu membangun jarak dengan keluarganya. Bungsu tak peduli jika keluarganya meremehkannya, mengatai-ngatainya dengan nakal dan tak tahu diri.

Apa semua orang harus baik? Dia teringat lagi nasehat udztas, tapi untuk apa neraka diciptakan jika seluruh manusia harus masuk surga? Tuhan menciptakan kebaikan tidak datang dengan sendirinya di bumi, seperti halnya kaya-miskin, cerdas-bodoh. Bungsu sadar, dia bukannya takut durhaka, dia tetap mencintai keluarganya dengan sekedarnya.

Dia bukan kakaknya, Si Sulung yang telah jauh di luar pulau, kaya dan telah sanggup membeli jarak agar dia dirindukan. Bungsu membangun temboknya sendiri, dengan membenci dirinya dan kemudian menerima dirinya apa adanya. Bungsu hanya pengangguran, tapi bersedia ada di sana saat Ibunya membutuhkan dukungan tanpa harus menelponnya, tembok yang dibangunnya tak mematikan kepekaannya akan keadaan di rumahnya.

Cintanya, selalu ada. Selalu ada, dalam artian abadi, seperti plastik yang tak butuh tanggal kadaluarsa, bukan daging yang bisa busuk. Tapi,suara Thom Yorke membuatnya resah, plastik itu memang abadi, tapi fake.

Palsu, Bungsu sadar mengapa dia layak diabaikan, lebih pantas dijadikan lelucon untuk membuat orang di sekitarnya senang walau dia tak bisa bahagia dengan itu.

Sabtu, 18 Januari 2014

EXPECTING RAIN

Untuk ERNISA PURBA


Sebelum kau melangkah pergi lebih jauh meninggalkan cerita-cerita sedih dan pilu yang kita bagi satu sama lain, izinkan saya menceritakan sesuatu padamu.

Hari ini kita janjian bertemu, di sebuah pantai, entah itu di kotamu, di kotaku atau bisa jadi di kota lainnya. Ranselku dipenuhi berbagai macam hal, kita berencana untuk piknik di sana. Tapi rencana tinggal rencana, mendung menyambut kita di sana.
Hujan deras, semua orang berlari untuk berteduh, kecuali kita. Entah mengapa rasanya ini lebih indah dari piknik. Entah hujan yang meresap ke dalam diri kita atau sebaliknya, sepertinya itu tak penting lagi.
Kita tetap berdiri, berpegangan tangan menghadap pantai. Rasa-rasanya tubuh ini mencair, kita menangis, tak penting lagi apakah itu tangis sedih atau senang. Kita dewasa, kita layak merayakan dan menghadapi itu semua. Tapi percayalah, dalam hatiku berdo’a, itu tangis bahagiamu.

*Anggaplah ini Pesta Bujang khayalan untukmu.

Selasa, 14 Januari 2014

FAVORITE SCENE


Scene ini, bagi saya ajaib, terutama dialognya. Lagi dan lagi dari film Stand by Me (1986), film yang seumuran denganku. Kebetulan hari ini sedang berulang tahun, saya sebenarnya tak suka merayakan, justru akhir-akhir ini ingin memberi hadiah-hadiah kecil ke beberapa teman. Dan yang satu ini, spesial buat HAQRAH DEWI SAFYTRA. Seperti pesan Chris Chambers kepada Gordie Lachance, agar dia tetap percaya dan yakin akan jadi penulis nantinya.





GL : Do you think I'm weird?

CC : Definitely.

GL : No, seriously. Am I weird?

CC : Yes, but so what? Everybody's weird.
You ready for school? Junior high.
You know what that means.
By next June we'll all be split up.

GL : What are you talking about?
Why would that happen?

CC : Cause it's not going to be Iike grammar school, that's why.
You'll be taking college courses, and me, Teddy, Vern we'll all be in the shop courses
making ashtrays and birdhouses.
You're gonna meet a lot of new guys. Smart guys.

GL : Meet a lot of pussies is what you mean.

CC : No, man. Don't say that. Don't even think that.

GL : I'm not going in with a Iot of pussies.

CC : Then you're an asshole.

GL : What's asshole with wanting to be with your friends?

CC : It's asshole if your friends drag you down.

GL : You hang with us, you'll just be another wise guy with shit for brains.

CC : You could be a real writer someday.

GL : Fuck writing! I don't to be a writer. It's stupid. It's a stupid waste of time.

CC : That's your dad talking.

GL : Bullshit! 

CC : Bulltrue!
I know how your dad feels about you, he doesn't care about you.
Denny was the one he cared about, and don't try to tell me different.
You're just a kid, Gordie.

GL : Gee thanks, Dad.

CC : I wish to hell I was your dad.
You wouldn't be talking about taking these stupid shop courses if I was.
It's like God gave you something, man, all those stories that you can make up.
He said, "This is what we got for you. Try not to lose it".
Kids Iose everything unless there's someone there to look out for them.
If your parents are too fucked-up to do it, then maybe I should.

Rabu, 01 Januari 2014

SURAT BUAT NUNU*

Sudah tahun 2014, bagaimana perayaan tahun barumu? Petasan meledak dimana-mana, serasa berada di zona perang. Mungkin bagi banyak orang bermain petasan itu menyenangkan dan keren, membunyikan sesuatu sampai terdengar keras sampai mengganggu orang lain (yang tidak menyukainya), kebebasan itu keren dan hebat. Saya juga pernah melihat mobil-mobil kavaleri lewat di jalan raya, saya sedang melintas di sana, petugas yang berdiri di atasnya terlihat bangga. Itu terlihat keren, yah mungkin perang masih keren, walau pada kenyataannya perang adalah hal yang sudah kuno untuk dilakukan lagi.

Oh ya, maaf, saya memanggilmu dengan sapaan Nunu saja, saya orang Indonesia. Dalam Bahasa Indonesia, jarang ada kata yang mendampingkan dua huruf vokal, kau tidak keberatan kan? Bahasa Inggris saya juga jelek, jadi saya menulis surat ini dalam Bahasa Indonesia. Maaf! Lagipula mungkin kau tak akan menemukan surat ini.

Ada saatnya kita meninggalkan, ada saatnya kita akan tiba giliran untuk melepas.

Gordie Lachance : What's asshole about wanting to be with your friends?
Chris Chambers : It's asshole if your friends drag you down! You hang with us, you'll be just another wise guys with shit for brains.

Agak egois memang, tapi bagiku inilah dialog terbaik dari film Stand by Me ini. Karakter Chris Chambers begitu membekas di hati saya, saya merasa Gordhie Lachance hanya pencerita walau digambarkan dialah tokoh utama dan paling pintar di antara mereka berempat, tapi saya merasa Chris Chamberslah letak kekuatan cerita.

Musik instrumental yang mengiring film ini terkadang membuat saya menangis. Ada orang, yang baru sebulan berkenalan dengannya, tapi kau sudah rindu untuk selalu menengok gambar dirinya, menebak dari wajahnya, kira-kira apa yang sedang dikatakan oleh pikirannya saat itu. Mungkin saya kecanduan akan apa yang kulakukan ini, karena Rio** telah tiada sejak 20 tahun yang lalu. Apalagi kau, yang pernah bertemu dan berkawan baik dengannya. Lihat makna nama kalian, “sungai” dan “hembusan sejuk dari atas gunung”, seperti sebuah keajaiban, memang kalian dinasibkan bertemu. Betapa mudahnya dia bisa dirindukan dengan sangat hebat. Kita menjadi sulit memaafkan diri kita sendiri akan kepergiannya.


Keanu Reeves & River Phoenix



Apakah kau percaya pada konsep reinkarnasi? Saya bertanya walau banyak bilang kau penganut Budha. Apakah kau pernah mencari sesuatu, seseorang atau apapun itu yang baru lahir dan bertanya dalam hatimu “Kaukah itu, teman? Rio yang lahir kembali?” Saya bukan Budha, tapi saya pernah diam-diam berdoa kepada Tuhan jika Ayahku lahir kembali, saya ingin lahir lagi di janin istrinya kelak, saya ingin menjadi anaknya lagi. Tapi untuk orang seperti Rio, saya tidak bisa berharap banyak, dia terlalu berharga, jadi mungkin dia hanya datang satu kali di muka bumi ini. Saya hanya bisa menikmati karya-karyanya, membuka laptop dan mencari info tentangnya. Saya hanya bisa membaca bahwa dia membeli tanah 320 ha yang merupakan hutan, agar tidak ada pohon yang ditebang di sana. Saya manusia biasa, kita hania bisa menghidupkannya sebatas ide-ide, bagiku itulah wujud reinkarnasinya.

Saya pernah punya sabahat di SMP, saya memanggilnya Er. Mungkin Er adalah sahabat terbaik yang pernah saya punya. Untuk pertama kalinya saya bertemu seseorang menerima apa adanya saya. Bersahabat dengannya memunculkan diri saya yang sebenarnya, dan itu bertahan sampai sekarang. Perpisahan terjadi ketika hari pertama saya mengenakan rok abu-abu, kami berjanji bertemu di sekolah kami yang baru, kami akan memamerkan rok SMA satu sama lain. Tapi hari itu Er tidak datang. Saya sibuk sekolah dan jarang bertemu lagi dengannya. Er sudah menikah, terakhir bertemu dia sedang menggendong bayi perempuan berumur setahun, itu terjadi lima tahun yang lalu. Dia masih orang yang sama, tidak berubah sedikitpun, waktulah yang berubah. Dia tak mungkin mengajak saya lagi nonton film kartun minggu di rumahnya, tak mungkin lagi ada kegiatan manjat pagar sekolah untuk bolos. Terkadang rasanya ingin jadi seseorang yang tak peduli akan waktu. Namun sepertinya hanya orang gila yang tak peduli sudah berapa usianya, tak perlu menatap kalender sudah tanggal berapa hari ini.

Mimpi adalah hal yang membuatmu bergairah untuk hidup. Saya menemukannya kembali, seorang sahabat, rasa indahnya berbagi, suka, duka, rahasia muncul kembali. Tapi kesalahanku adalah menganggapnya Er, padahal mereka dua sosok yang berbeda. Saya menyesal, merasa bersalah, sehingga terkadang saya merasa pantas untuk diabaikan. Dia pernah menghiburku dengan kalimatnya “Sahabat tidak akan pergi kemana-mana!”. Dia sedang diculik oleh duka atau apapun itu, dia berjanji kembali. Tapi bagiku, perpisahan dengan Er membuatku sadar bahwa benar-benar tak ada yang abadi. Semua harus pergi, sahabat paling sejati bagimu adalah dirimu sendiri, yang selalu ada dan tak pernah pergi.

Saya harus merelakan semuanya pergi, membiarkan mereka hidup dengan jalan yang mereka mau, bertemu dengan orang-orang, entah itu yang lebih baik dariku atau orang yang malah melukainya dan justru itu yang baik untuknya. Dengan begitu dia bisa jadi lebih dewasa, jadi lebih kuat, lebih tegar dari biasanya, menjadi orang yang berbeda. Yah, berbeda dari yang dulu kita kenal, sehingga ketika kita bertemu kembali dengannya, kita merasa aneh karena harus ‘berkenalan’ lagi dengannya, ada fase hidupnya yang tidak kau tahu, kau tidak sedang bersamanya pada saat itu. Pembicaraan menjadi tidak nyambung, kau tiba-tiba terlihat bodoh karena selera humornya telah berbeda, gaya bercandanya tidak sama lagi. Kau tidak mengerti itu dan merasa tidak perlu berusaha untuk mengerti karena bagimu itu baik untuknya, membuka pikirannya terhadap banyak hal baru, bergaul dengan begitu banyak orang yang bisa memperkaya pikirannya.

Kita tak perlu bersusahpayah untuk mengenalnya kembali, jalan terbaik adalah melepasnya, membiarkannya datang dan pergi, ini bukan lagi tentang apa yang kau inginkan, tapi apa yang dia butuhkan. Itu jauh lebih baik daripada harus mengejar ketertinggalan agar bisa menjadi teman yang bisa memahaminya, itu melelahkan.

Terima kasih, surat ini telah jadi, walau mungkin kau tak akan membacanya, paling tidak saya bisa ingat bahwa saya pernah menulisnya. Terima kasih, Nuuu! Terima kasih, Rio!


* Keanu Reeves
**Rio berarti sungai dalam Bahasa Latin, beberapa teman dekat memanggilnya dengan nama tersebut selain dengan sapaan Riv.