Sabtu, 29 Oktober 2011

Mengusirmu

Pergi...,
pergilah semuaaaa...,
pergilah menggugurkan kewajiban,
kalau ngomong hak semua tak ada yang mau jadi nomor dua!


*untuk dua orang yang mengaku mengajarkan hak dan kewajiban tapi ternyata sama sajaaaaa dengan orang yang tidak pernah belajar hukum, sepertinya pendidikan luar negri malah membutakan mata mereka!
 

Rabu, 19 Oktober 2011

Untukmu Saja...

http://sweet-feet.deviantart.com/art/Your-feet-12264874

Di bawah sepasang kakimu yang jauh dari indah ini telah Tuhan tanamkan surga untukku. Tapi untuk sampai dan menjumpainya berupa 'surga' kenyataan sungguh susah. Butuh melewati berbagai macam kesulitan tempat para neraka bersarang. Mungkin, bagiku hanya bisa sampai pada neraka-neraka, di situ saja sudah cukup, karena surga itu, biarlah untukmu saja Mak.
Aku (lebih dari) mencintaimu...

*sekali lagi telah membuktikan diri ini orang yang membosankan di dunia!

Rabu, 28 September 2011

SAYAP-SAYAP INGATAN

Semua yang berhasil dikumpulkannya, puji-pujian dan prestasi telah membuatkannya sayap. Mungkin itulah mimpinya, mengangkasa. Hanya sesekali bahkan akan melupakan cara berjalan. Lama-kelamaan kaki itu pun akan hilang, karena seluruh yang dia makan untuk memperlebar sayapnya agar bisa memeluk langit. Maka makin tinggilah meninggalkan daratan. Kemudian, dia hanya akan dipandang sebagai titik yang jauh di sana dan menghilang ditelan langit.

Sedangkan aku, tak perlu langit, tak perlu terbang. Kenangan ini telah meluas melebihi langit. Kutelah memiliki angkasa di kepalaku, jadi percumalah sayap itu. Percuma punya sayap jika untuk melupakan, beruntunglah kupunya ingatan agar tak mudah meninggalkan…

Kamis, 08 September 2011

TELINGA-TELINGA

Dunia sepertinya tak akan pernah alpa : bernafas dan berdetak dengan cinta. Tentang pengorbanan, tentang kepahlawanan, semua kisah harus melibatkan cinta. Pada novel, film, musik, semuanya mesti terinfeksi. Pahlawan super yang harus memakai topeng guna mengaburkan identitasnya, memang sisi humanitas mendominasi cerita, tapi lagi-lagi wajib menyelipkan sisi lain dari pahlawan super. Bagaimana yang dicintainya justru menggilai dirinya yang pahlawan bagi banyak jiwa, namun yang di depannya hanya hadir seorang pahlawan yang menanggalkan tugas-tugas mulianya. Seseorang yang menghadirkan dirinya apa adanya, ingin dicintai bukan karena jasa-jasanya di balik topeng itu, bukan pahlawan bagi orang banyak, hanya ingin jadi pahlawan bagi diri sang kekasih.

Sekarang, aku di depanmu. Tak ada bunga, tak ada coklat, tak ada surat, hanya diam yang kusuguhkan. Sudahlah, cerita romantik seperti itu hanya rekaan, cinta pada kelanjutannya adalah masalah dan tanggung jawab. Cinta memang senang memperlihatkan sisi terangnya untuk menyembunyikan bagian yang kelam itu. Cinta tak seindah namanya…

Akulah diamnya, biarkan kaulah yang jadi ramainya. Aku sungguh senang jika kau berkeluh kesah, bercerita tentang apapun. Jika ini lagu, biarkan aku yang jadi pengiringnya, kaulah yang menjelma liriknya. Ceritakan semua, tentang tawa yang bermekaran, tentang kemarau yang begitu deras yang bisa memadamkan bahagiamu. Ceritakan kemana nasib mengalirkan hidupmu,aku menyimak!

Tumpahkan, ada banyak pendengar di tubuhku yang bersedia menampungnya. Tuangkan semua masalah agar setelah kau bercerita, yang tersisa di pikiranmu tinggal solusi –yang selama kita terpisah- sedang menjadi bagian dari antrian yang lama untuk diberi jalan, berdesak-desakan dengan masalahmu yang berlimpah. Jalan keluar itu, selama itu telah resah ingin diberi ruang untuk menampilkan dirinya dengan leluasa.

Tenanglah, tubuhku bukan hanya punya dua telinga, ada telinga di pori-pori kulitku, di kukuku, ujung-ujung rambutku pun adalah beribu mikropon yang berukuran sepernya dari seper ukuran kuman, semuanya khusus untuk ‘unjuk rasa’mu. Akulah manusia telingamu, datanglah jika kau perlu dan pulanglah dengan bahagia… Aku manusia telingamu seorang.


Oh Tuhan, saya tak akan menolak semua pemberianMu, tapi ijinkan saya meminta padaMu. Anugerahkan padaku kekayaan kesempatan agar bisa berkumpul dengannya sesering-seringnya…

Kamis, 18 Agustus 2011

(SEMOGA) MALAM-MALAM SELALU AJAIB

Malam, pinjamkan telingamu sejenak kepada Ayahku!

Kau mendengarku, Ayah? Kau berada di sini? Aku sedang sangat mengingatmu, sedang butuh pertolonganmu.

Aku hanya memohon kau sejenak bisa menyisip ke mimpinya, memberitahukan bahwa yang sedang kulakukan kepada Ibu adalah ‘hanya’ membahagiakannya, seburuk apapun usahaku itu. Aku ingin mengabdi dengan caraku sendiri, bukan dengan memberinya materi, tapi mencintainya dengan diam, dengan menangis tiap malam sebagai upayaku untuk sedikit mencicil semua rasa bersalah itu.

Yah, aku merasa tugas membahagiakannya telah merambat kepadaku setelah kau tak ada di sini. Yah, memang telah lama saya menyangka diri ini telah menjadi teman bercerita yang membosankan bagi semua orang. Seorang teman mengaku sebagian besar tema percakapan dan isi goresan penaku melulu tentang kalian berdua, bukan soal pacar yang bisa dibanggakan, bukan pula tentang soal prestasi seperti orang lain pamerkan. Cerita-ceritaku yang sebetulnya tak bisa membahagiakan kalian secuilpun. Tapi beginilah caraku.

Kutanggung dosa itu dengan asin yang mengalir dari kedua mataku. Semoga sebagian kecilnya menguap, bergabung dengan udara malam, menjelma sebuah bumbu rahasia. Semoga kelam bersedia meramunya menjadi masakan yang super rahasia karena dimasak dalam lindungan gelap, saat semuanya justru sedang dipermainkan mimpi. Dan saat Ibu mencicipi wangi ramuan ‘udara pagi’ ketika dia membuka pintu awal hari, semoga aromanya akan membuatnya bahagia. Walau aku sendiri masih tidur dengan asinan mataku yang bengkak.

Begitulah caraku membahagiakannya Ayah, maafkan aku karena telah berkali-kali merasa gagal.


*sambil dengar The Beatles ~hey , you've got to hide your love away!