Tuhan...
Aku lelah Tuhan, sampai-sampai aku pernah berfikir bahwa mati bisa memadamkan segalanya.
Tuhan, KAU hanya satu, tapi mengapa serasa begitu banyak?
Diri yang hanya satu ini lelah terbagi-bagi untuk berbagai banyak tujuan dan fungsi.
Atau, KAU memang hanya satu, sedangkan yang lain hanya berusaha menyerupaimu?
Tuhan...
Semoga tak ada kemurkaan yang membuatMU harus meruntuhkan surga.
karena di sini, di dunia ini, begitu banyak tuan yang ingin melampauimu...
menuntut ingin dibangunkan surga untuknya.
Rabu, 25 Mei 2011
Selasa, 19 April 2011
TABUNGAN RINDU (1)
Label:
curhat picisan,
hadiah,
malam,
poting,
teman
Ada begitu banyak sosok terpendam dalam diri seseorang, muncul satu persatu secara pelan-pelan. Hal itu terjadi sebagai respon kita saat berkenalan atau lebih dari sekedar itu seperti sebuah kejadian kehilangan seorang yang dicintai. Jadi, jangan khawatir jika ada yang membenci, itu artinya kita telah memberi kesempatan orang itu mengenal salah satu karakternya lagi. Sikapnya tiba-tiba berubah drastis, terbawa arus akan kebenciannya, sementara usahanya untuk terlihat “baik” terabaikan, padahal itulah yang selama ini dia coba untuk perlihatkan. Hem, maaf! Mungkin ini hanya satu paragraf teori bikinan saya, entah setuju atau tidak setuju, itu terserah Anda.
Kami memang harus bertemu, tujuh tahun lalu…
Saya berkenalan dengannya saat malam terakhir ospek. Sebelum-sebelumnya, saya hanya menganggapnya calon teman kuliah yang baik. Dia mengajakku untuk ‘lari’ dari hukuman senior dengan berlama-lama di mushollah, sementara teman-teman yang mengaku sedang halangan akan disuruh mijit-mijit senior. Malam itu, dia tak bisa lari dari ketakutannya, ruangan remang sehingga mendatangkan rasa harap-harap cemas bagi maba. Malam paling tersangka, disuruh menunduk terus-menerus, seolah paling bersalah sedunia, mereka meneriakkan “Bantai saja!”. Dia menggenggam tanganku, mengalirkan ketakutannya. Saya meyakinkannya, bahwa ini hanya pura-pura, dia masih terus ketakutan sampai acaranya selesai.
Hari ke hari, kami saling menggiring satu sama lain, entah kepada kebaikan atau keusilan (semoga tak tergolong jahat sekali! :P). Selesai kuliah, kami akan berjalan dari fakultas ke pintu satu universitas. Kemana-mana kami sering sama-sama, sampai banyak yang mengira kami punya hubungan keluarga, seorang teman malah menyangka kami punya hubungan terlampau serius. Dia senang mengajakku ke kamarnya, mengenalkan dengan tetangga-tetangganya dan memperlihatkan hadiah-hadiah dari temannya lengkap dengan nilai historikalnya. Dari situ saya tahu, dia orang yang sangat menghargai teman. Sebuah boneka beruang pink menghuni tasnya kemanapun dia pergi, katanya itu hadiah dari sahabatnya. Saya sampai-sampai punya ide untuk menggelarinya Ms. BEAN. Dia punya banyak kisah yang diceritakan, bisa kukatakan dia tergolong cerewet. Saya malah diperkenalkan dengan sahabatnya yang tadi lebih banyak lewat cerita daripada bertemu langsung. Dan tanpa disengaja, saya dan sahabatnya saling mengagumi satu sama lain gara-gara dia. Heheheh…
Dia juga pernah bercerita, punya seorang sahabat namun keakraban itu telah hilang. Sahabatnya telah memilih jalan sendiri, punya pandangan sendiri soal hidup. Begitulah idealisme dengan kejam mengkotak-kotakkan kita. Membuat kita terlalu banyak hati-hati bergaul, membuat kita membangun benteng untuk melindungi diri kita dari sesuatu yang mungkin bukan bahaya. Tapi beruntunglah, saya dan dia bukan orang-orang yang suka mencari nama di organisasi, memang tidak demen. Menjadi orang yang berguna bagi banyak orang tak perlu punya muka dulu kan? Jadilah, kami tak menjadi apa-apa, sementara teman sebaya sibuk dengan organisasi, ikut lomba dan semacamnya. Kami lebih senang membincangkan hal-hal ringan, tentang seorang ‘mace’ yang lansia namun selalu mudah tersenyum, atau tentang dosen yang terlambat ngajar karena keranjingan memenuhi hobi nonton acara gossip dulu, sampai pergaulan dunia maya yang menyihir kami juga untuk segera ingin menjadi salah satu penghuninya.
Terkadang dia bercerita dengan sangat bersemangat padahal itu cerita ulangan darinya. Mungkin, karena kebiasaannya ini, kemana-mana mungkin dia merasa aneh jika pergi sendirian. Dia selalu butuh telinga untuk menumpahkan ceritanya. Beruntunglah, saya salah satunya. Selain telingamu akan kenyang akan ceritanya, kau tak perlu khawatir kelaparan walau tugasmu hanya berkata “O, iyakah?”, karena sebenarnya perutnya lebih duluan dibajak kelaparan daripada perutmu. Bercerita butuh banyak energi daripada hanya mendengar, bukan begitu? Hehehe. Kadangkala saya digiring olehnya untuk berdebat, saya lebih banyak mengalah, saya tidak tahu mengapa harus mengalah dengan tulus (bukan karena traktirannya), mungkin karena saya merasa memang pantas saya menyenangkannya. Latoh, pada kenyataannya nanti dia akan mempertanyakan lagi kemenangannya. “Betul apa yang kau bilang dulu, Nay!”. Begitulah, keadaan tak bisa diajak berdebat, kenyataan tetap jadi pemenang.
Semua keseruan itu terjadi sampai suatu malam, saya bertemu seorang laki-laki yang mengaku temannya. Saya curiga, mungkin dia telah lebih dari sekedar teman. Saya diam-diam tidak menyukai keadaan ini. Dan benar saja, jadwal kami tak sama lagi. Dia telah banyak buru-buru, saat dihubungi dia banyak menolak karena sudah punya janjian. Bisa dikatakan saya cemburu… Kami bertiga pernah bertemu malam di pinggir jalan. Mereka berdua sedang makan, sedang saya dari bergentayangan dari Biblioholic sampai mampir ke warnet, kuliah-ran malam, sendiri! Saya merasa aneh berjalan sendiri, tanpa sengaja saya merasa tergantung untuk menemani. Ada ruangan yang telah dibuat karena selalu akan diisi, dan hari ini ruangan itu serasa mubazir. Dan begitulah! Kita tak selamanya harus punya, pada akhirnya hanya ada peng’rela’an, melepaskan! Ya, dan benar terjadi pada hubungan mereka jugas, dia melepaskan diri dari hubungan itu. Setengah mati saya membujuknya untuk berhenti merasa bersalah, tapi dunia tetap dijadikan sebagai musuhnya. Saya lumayan membenci lelaki yang telah membuat teman saya hilang, dan celakanya tak berhasil mengembalikannya seperti dulu.
Tapi, tidak. Itu setahun yang lalu. Sekarang dia sedang menjalani proses penyembuhan. Tiap malam begadang mengisi pikirannya dengan membaca buku-buku teori , melanjutkan kuliahnya sebagai pelaksanaan misinya yang lebih penting :: menyelamatkan dunia! Hahahah… Saya hanya mendo’akan semoga dunia bisa membalasmu sebaik-baiknya imbalan. Saya tak bisa mentraktirmu (mengenalkanmu-lah :P)seorang lelaki yang bisa membuatmu mengecek lagi list-list pasangan idaman di dalam hatimu. Saya hanya mengulurkan harap kepada DIA, yang tahu yang terbaik, karena… saya hanya temanmu!
Hem, semoga kereta api kata-kata ini tak mengganggu malam khusyukmu dengan si DJ. Pesanku “Jaga baik-baik nama ‘negeri’ Makassar di luar negeri, Nak!”
Kami memang harus bertemu, tujuh tahun lalu…
Saya berkenalan dengannya saat malam terakhir ospek. Sebelum-sebelumnya, saya hanya menganggapnya calon teman kuliah yang baik. Dia mengajakku untuk ‘lari’ dari hukuman senior dengan berlama-lama di mushollah, sementara teman-teman yang mengaku sedang halangan akan disuruh mijit-mijit senior. Malam itu, dia tak bisa lari dari ketakutannya, ruangan remang sehingga mendatangkan rasa harap-harap cemas bagi maba. Malam paling tersangka, disuruh menunduk terus-menerus, seolah paling bersalah sedunia, mereka meneriakkan “Bantai saja!”. Dia menggenggam tanganku, mengalirkan ketakutannya. Saya meyakinkannya, bahwa ini hanya pura-pura, dia masih terus ketakutan sampai acaranya selesai.
Hari ke hari, kami saling menggiring satu sama lain, entah kepada kebaikan atau keusilan (semoga tak tergolong jahat sekali! :P). Selesai kuliah, kami akan berjalan dari fakultas ke pintu satu universitas. Kemana-mana kami sering sama-sama, sampai banyak yang mengira kami punya hubungan keluarga, seorang teman malah menyangka kami punya hubungan terlampau serius. Dia senang mengajakku ke kamarnya, mengenalkan dengan tetangga-tetangganya dan memperlihatkan hadiah-hadiah dari temannya lengkap dengan nilai historikalnya. Dari situ saya tahu, dia orang yang sangat menghargai teman. Sebuah boneka beruang pink menghuni tasnya kemanapun dia pergi, katanya itu hadiah dari sahabatnya. Saya sampai-sampai punya ide untuk menggelarinya Ms. BEAN. Dia punya banyak kisah yang diceritakan, bisa kukatakan dia tergolong cerewet. Saya malah diperkenalkan dengan sahabatnya yang tadi lebih banyak lewat cerita daripada bertemu langsung. Dan tanpa disengaja, saya dan sahabatnya saling mengagumi satu sama lain gara-gara dia. Heheheh…
Dia juga pernah bercerita, punya seorang sahabat namun keakraban itu telah hilang. Sahabatnya telah memilih jalan sendiri, punya pandangan sendiri soal hidup. Begitulah idealisme dengan kejam mengkotak-kotakkan kita. Membuat kita terlalu banyak hati-hati bergaul, membuat kita membangun benteng untuk melindungi diri kita dari sesuatu yang mungkin bukan bahaya. Tapi beruntunglah, saya dan dia bukan orang-orang yang suka mencari nama di organisasi, memang tidak demen. Menjadi orang yang berguna bagi banyak orang tak perlu punya muka dulu kan? Jadilah, kami tak menjadi apa-apa, sementara teman sebaya sibuk dengan organisasi, ikut lomba dan semacamnya. Kami lebih senang membincangkan hal-hal ringan, tentang seorang ‘mace’ yang lansia namun selalu mudah tersenyum, atau tentang dosen yang terlambat ngajar karena keranjingan memenuhi hobi nonton acara gossip dulu, sampai pergaulan dunia maya yang menyihir kami juga untuk segera ingin menjadi salah satu penghuninya.
Terkadang dia bercerita dengan sangat bersemangat padahal itu cerita ulangan darinya. Mungkin, karena kebiasaannya ini, kemana-mana mungkin dia merasa aneh jika pergi sendirian. Dia selalu butuh telinga untuk menumpahkan ceritanya. Beruntunglah, saya salah satunya. Selain telingamu akan kenyang akan ceritanya, kau tak perlu khawatir kelaparan walau tugasmu hanya berkata “O, iyakah?”, karena sebenarnya perutnya lebih duluan dibajak kelaparan daripada perutmu. Bercerita butuh banyak energi daripada hanya mendengar, bukan begitu? Hehehe. Kadangkala saya digiring olehnya untuk berdebat, saya lebih banyak mengalah, saya tidak tahu mengapa harus mengalah dengan tulus (bukan karena traktirannya), mungkin karena saya merasa memang pantas saya menyenangkannya. Latoh, pada kenyataannya nanti dia akan mempertanyakan lagi kemenangannya. “Betul apa yang kau bilang dulu, Nay!”. Begitulah, keadaan tak bisa diajak berdebat, kenyataan tetap jadi pemenang.
Semua keseruan itu terjadi sampai suatu malam, saya bertemu seorang laki-laki yang mengaku temannya. Saya curiga, mungkin dia telah lebih dari sekedar teman. Saya diam-diam tidak menyukai keadaan ini. Dan benar saja, jadwal kami tak sama lagi. Dia telah banyak buru-buru, saat dihubungi dia banyak menolak karena sudah punya janjian. Bisa dikatakan saya cemburu… Kami bertiga pernah bertemu malam di pinggir jalan. Mereka berdua sedang makan, sedang saya dari bergentayangan dari Biblioholic sampai mampir ke warnet, kuliah-ran malam, sendiri! Saya merasa aneh berjalan sendiri, tanpa sengaja saya merasa tergantung untuk menemani. Ada ruangan yang telah dibuat karena selalu akan diisi, dan hari ini ruangan itu serasa mubazir. Dan begitulah! Kita tak selamanya harus punya, pada akhirnya hanya ada peng’rela’an, melepaskan! Ya, dan benar terjadi pada hubungan mereka jugas, dia melepaskan diri dari hubungan itu. Setengah mati saya membujuknya untuk berhenti merasa bersalah, tapi dunia tetap dijadikan sebagai musuhnya. Saya lumayan membenci lelaki yang telah membuat teman saya hilang, dan celakanya tak berhasil mengembalikannya seperti dulu.
Tapi, tidak. Itu setahun yang lalu. Sekarang dia sedang menjalani proses penyembuhan. Tiap malam begadang mengisi pikirannya dengan membaca buku-buku teori , melanjutkan kuliahnya sebagai pelaksanaan misinya yang lebih penting :: menyelamatkan dunia! Hahahah… Saya hanya mendo’akan semoga dunia bisa membalasmu sebaik-baiknya imbalan. Saya tak bisa mentraktirmu (mengenalkanmu-lah :P)seorang lelaki yang bisa membuatmu mengecek lagi list-list pasangan idaman di dalam hatimu. Saya hanya mengulurkan harap kepada DIA, yang tahu yang terbaik, karena… saya hanya temanmu!
Hem, semoga kereta api kata-kata ini tak mengganggu malam khusyukmu dengan si DJ. Pesanku “Jaga baik-baik nama ‘negeri’ Makassar di luar negeri, Nak!”
Minggu, 03 April 2011
AKU MENCINTAIMU WALAU AKU TAK PUNYA APA-APA
Label:
artikel siluman,
fiksi,
neting,
poting,
sok bijak
Apakah cinta yang membahagiakanmu? Sesuatu yang ingin kumiliki!
Inilah aku, yang mencintaimu dengan segala yang tidak kupunyai.
Aku mungkin tak punya telinga tempat suara resahmu mengalir.
Akupun tak punya keinginan memperlihatkan bahwa aku seorang yang telah dewasa untuk cukup menguatkanmu dengan kata-kata nasehatku, yah aku jauh lebih muda. Umurku bukanlah lautan yang asin karena pengalaman, tempatmu berenang seluas-luasnya, mungkin malah hanya sebuah kubangan yang beruntung ada karena hujan sejenak saja.
Keberanian tak kujadikan mulut untuk mengatakan cintaku padamu.
Aku juga tak punya dana untuk membeli jarak agar kau bisa merindukanku.
Perasaan ini sungguh sederhana, ada begitu saja seperti sebuah bangunan menjulang yang muncul tiba-tiba, tapi mengapa terasa rumit?
Aku tak punya sesuatu yang pantas membuatmu bangga, sesuatu yang harus membuatmu memilihku…
Aku hanya punya dua ‘tahu’, tahu bahwa aku mencintaimu. Dan tahu, itu tak pernah cukup!
Inilah aku, yang mencintaimu dengan segala yang tidak kupunyai.
Aku mungkin tak punya telinga tempat suara resahmu mengalir.
Akupun tak punya keinginan memperlihatkan bahwa aku seorang yang telah dewasa untuk cukup menguatkanmu dengan kata-kata nasehatku, yah aku jauh lebih muda. Umurku bukanlah lautan yang asin karena pengalaman, tempatmu berenang seluas-luasnya, mungkin malah hanya sebuah kubangan yang beruntung ada karena hujan sejenak saja.
Keberanian tak kujadikan mulut untuk mengatakan cintaku padamu.
Aku juga tak punya dana untuk membeli jarak agar kau bisa merindukanku.
Perasaan ini sungguh sederhana, ada begitu saja seperti sebuah bangunan menjulang yang muncul tiba-tiba, tapi mengapa terasa rumit?
Aku tak punya sesuatu yang pantas membuatmu bangga, sesuatu yang harus membuatmu memilihku…
Aku hanya punya dua ‘tahu’, tahu bahwa aku mencintaimu. Dan tahu, itu tak pernah cukup!
Rabu, 23 Maret 2011
MALAM “TUMBEN” INSAF
Malam selalu harus berdurasi panjang, ada banyak cerita yang menggelayut di kepala meminta untuk diceritakan. Begini, saya hanya ingin memberitahukan bahwa saya sudah jarang pulang kampung. Saat nenek saya masih hidup dan sehat, beliau sering bercerita tentang masa kecil kami, masa lalunya dia, atau tentang dongeng-dongeng yang tak bisa dijangkau jamannya bahkan (mungkin) oleh kakeknya sendiri. Kampung, dalam pikiran saya tahun-tahun terakhir ini hanya berbentuk cerita, salah satunya melalui cerita Mak kepada saya jika beliau menghadiri acara keluarga.
Teman-temanku mungkin mencapku sombong, anak desa yang telah durhaka karena jarang berkumpul lagi dengan mereka. Saya lebih senang menyebutnya ‘menabung rindu’. Pun sedikit kecewa juga, keindahan desa yang kurasakan hanya terbingkai oleh dongeng-dongeng para orang tua. Desa-desa kini telah mengkhianati kesederhanaannya, yang dipaksa menjadi kota oleh penghuninya. Jadi, bukannya tak ingin pulang, hanya merasa tak ada perbedaan. Dari kota pulang ke desa yang ‘nanggung’ jadi kota.
Saya jadi ingat seorang teman sekelas, dia seorang siswi lumayan rupawan. Pun kepintarannya jangan diragukan, jika ujian tiba dia akan begadang untuk menghapal satu buku demi sebuah nilai yang bagus. Heheheheh… Namun, yang sangat jadi perhatiannya adalah poninya, sepertinya dunia akan jungkir balik kalau dia belum menjenguk mukanya sesekali di cermin membetulkan kemiringan poninya!
Suatu pagi, saya dengan beberapa teman duduk di halaman sekolah. Sepertinya Tuhan membuatku harus berfikir tanpa harus belajar di kelas pagi ini, sebuah kejadian kecil membuat saya kecewa. Kebetulan La Kato’, seorang penjual *roti otti di kampungku lewat. Segera kupanggil karena memang pagi itu saya belum sempat sarapan. Beberapa teman yang sudah mengenalnya segera mendekat untuk membeli juga. La Kato’ segera memarkir sepedanya.
Saya mengajak si Bintang Kelas ini turut merasakan enaknya jajanan yang satu ini, dia langsung memperlihatkan wajah jijik melihat La Kato’.
“Enak lo!” kata saya.
“Ah, janganmi! Tidak jijikko Nay lihat mukanya? Ih….!” Dia meludah.
Semua hal-hal yang bagus selama ini kulihat padanya berguguran. Saya tak melihatnya lagi sebagai salah seorang siswi pintar di kelasku, tapi hanya seorang budak nilai. Saya berbalik mengucilkannya, bahwa dengan mudah dia menganggap najis seseorang hanya karena fisiknya, hanya dengan melihat mata La Kato’ yang tak lagi sempurna, hanya karena dia jijik kepada giginya yang tak rapi. Saya malah menyesal mengapa pernah mengakui bahwa dia pintar.
La Kato’, selain tiap paginya keliling kampung bersepeda untuk menjual roti buatan Maknya yang sudah janda, dia juga bekerja sebagai penjaga salah satu masjid yang lumayan besar di kampungku. Setiap harinya dia bertugas mengecek sound system, menyapu lantai, membersihkan tempat wudhu, dan mengatur sandal para jema’ah. Dia hidup dari ucapan “terima kasih” para jama’ah. Malah saya pernah mencandainya, kebetulan dia memang orang yang dikenal humoris dan mudah bergaul.
“Wey, PNS betulanmi La Kato’je’, pake pakaian dinas terus ke masjid!”, dia tertawa menanggapi bercandaanku sambil meneruskan tugas menyapunya. Banyak warga yang memberinya baju, mungkin banyak baju dinas PNS, maka dia jadikan semacam seragam kerja saat bertugas.
Semoga orang-orang macam dia tak ditumbuhkan kekesalan akan hujat terhadap fisiknya. Seandainya saya yang dihidupkan Tuhan dengan jalan hidup seperti itu, mungkin saya akan lebih banyak putus asa. Tapi tidak dengan dirinya, dia tahu bahwa banyak orang yang tak bisa menerima kekurangannya. Maka dia mencari tempat-tempat yang bisa menerimanya, yah masjid! Diapun menampilkan dirinya sebaik mungkin, sesopan mungkin menghormati orang lain bahwa dia pun layak berarti buat orang banyak.
Maka, saya pun teringat seseorang. Banyak yang mengatakan bahwa dia, memang seorang lelaki dengan terbelakang mental. Kehidupannya hanya berkisar dari suatu hajatan ke hajatan yang lain. Orang di kampungku memanggilnya La Bandung. Saya tidak tahu mengapa dia dinamai demikian. Mukanyapun sering jadi bahan tertawaan karena dianggap idiot. Dengan pakaian lusuhnya yang seolah melecehkan sebuah pesta yang dikerumuni dengan baju-baju kerlap-kerlip dan makanan mewah, dia berkali-kali lalu lalang di tengah tamu untuk mengumpulkan piring-piring kotor, pekerjaan yang mungkin orang-orang gengsi untuk melakukannya. Jika saja tidak ada La Bandung, maka piring untuk menjamu tamu akan habis. Di sela-sela kewajibannya, sejenak dia menuju ke depan pengiring musik pesta tersebut. Dia akan bergoyang di depan panggung, dan orang-orang masih akan menertawakan ulahnya itu. Dia mungkin tak peduli, dia terus bergoyang mendengar musik karena begitulah caranya menikmati hidup.
Maka, malam ini saya telah menguliahi diri sendiri. Mereka berdua tak perlu dilabeli pahlawan, mereka tak perlu. Jikapun diberi, mereka tak tahu untuk menjadikannya suatu kebanggaan, pikiran mereka terlalu sederhana. Mereka tak perlu diundang ke acara semacam KICK ANDY untuk menyiarkan apa yang telah mereka perbuat untuk orang banyak. Tak perlu membayar mahal-mahal seminar ESQ di hotel mewah hanya untuk memikirkan : bukan apa yang telah kita terima semasa hidup, tapi apa yang telah kita berikan kepada orang lain, walau posisi kita seorang idiot sekalipun!
Satu hal, kita telah hilang kesederhanaan. Kita terlalu banyak mengejar, berlari menuju tujuan yang menawarkan kemewahan sehingga kita menghiraukan berbagai ragam keindahan yang banyak disisipkan di perjalanan. Rasa-rasanya banyak hal yang harus kita lewati namun kita telah melompatinya. Mungkin, kita telah lupa menjadi sederhana!
Salam KUPER, Luwwwaarrr biasa….!!! =P
*Roti otti : kue tradisional bugis terbuat dari tepung beras dan pisang, biasa juga disebut roti berre'
Teman-temanku mungkin mencapku sombong, anak desa yang telah durhaka karena jarang berkumpul lagi dengan mereka. Saya lebih senang menyebutnya ‘menabung rindu’. Pun sedikit kecewa juga, keindahan desa yang kurasakan hanya terbingkai oleh dongeng-dongeng para orang tua. Desa-desa kini telah mengkhianati kesederhanaannya, yang dipaksa menjadi kota oleh penghuninya. Jadi, bukannya tak ingin pulang, hanya merasa tak ada perbedaan. Dari kota pulang ke desa yang ‘nanggung’ jadi kota.
Saya jadi ingat seorang teman sekelas, dia seorang siswi lumayan rupawan. Pun kepintarannya jangan diragukan, jika ujian tiba dia akan begadang untuk menghapal satu buku demi sebuah nilai yang bagus. Heheheheh… Namun, yang sangat jadi perhatiannya adalah poninya, sepertinya dunia akan jungkir balik kalau dia belum menjenguk mukanya sesekali di cermin membetulkan kemiringan poninya!
Suatu pagi, saya dengan beberapa teman duduk di halaman sekolah. Sepertinya Tuhan membuatku harus berfikir tanpa harus belajar di kelas pagi ini, sebuah kejadian kecil membuat saya kecewa. Kebetulan La Kato’, seorang penjual *roti otti di kampungku lewat. Segera kupanggil karena memang pagi itu saya belum sempat sarapan. Beberapa teman yang sudah mengenalnya segera mendekat untuk membeli juga. La Kato’ segera memarkir sepedanya.
Saya mengajak si Bintang Kelas ini turut merasakan enaknya jajanan yang satu ini, dia langsung memperlihatkan wajah jijik melihat La Kato’.
“Enak lo!” kata saya.
“Ah, janganmi! Tidak jijikko Nay lihat mukanya? Ih….!” Dia meludah.
Semua hal-hal yang bagus selama ini kulihat padanya berguguran. Saya tak melihatnya lagi sebagai salah seorang siswi pintar di kelasku, tapi hanya seorang budak nilai. Saya berbalik mengucilkannya, bahwa dengan mudah dia menganggap najis seseorang hanya karena fisiknya, hanya dengan melihat mata La Kato’ yang tak lagi sempurna, hanya karena dia jijik kepada giginya yang tak rapi. Saya malah menyesal mengapa pernah mengakui bahwa dia pintar.
La Kato’, selain tiap paginya keliling kampung bersepeda untuk menjual roti buatan Maknya yang sudah janda, dia juga bekerja sebagai penjaga salah satu masjid yang lumayan besar di kampungku. Setiap harinya dia bertugas mengecek sound system, menyapu lantai, membersihkan tempat wudhu, dan mengatur sandal para jema’ah. Dia hidup dari ucapan “terima kasih” para jama’ah. Malah saya pernah mencandainya, kebetulan dia memang orang yang dikenal humoris dan mudah bergaul.
“Wey, PNS betulanmi La Kato’je’, pake pakaian dinas terus ke masjid!”, dia tertawa menanggapi bercandaanku sambil meneruskan tugas menyapunya. Banyak warga yang memberinya baju, mungkin banyak baju dinas PNS, maka dia jadikan semacam seragam kerja saat bertugas.
Semoga orang-orang macam dia tak ditumbuhkan kekesalan akan hujat terhadap fisiknya. Seandainya saya yang dihidupkan Tuhan dengan jalan hidup seperti itu, mungkin saya akan lebih banyak putus asa. Tapi tidak dengan dirinya, dia tahu bahwa banyak orang yang tak bisa menerima kekurangannya. Maka dia mencari tempat-tempat yang bisa menerimanya, yah masjid! Diapun menampilkan dirinya sebaik mungkin, sesopan mungkin menghormati orang lain bahwa dia pun layak berarti buat orang banyak.
Maka, saya pun teringat seseorang. Banyak yang mengatakan bahwa dia, memang seorang lelaki dengan terbelakang mental. Kehidupannya hanya berkisar dari suatu hajatan ke hajatan yang lain. Orang di kampungku memanggilnya La Bandung. Saya tidak tahu mengapa dia dinamai demikian. Mukanyapun sering jadi bahan tertawaan karena dianggap idiot. Dengan pakaian lusuhnya yang seolah melecehkan sebuah pesta yang dikerumuni dengan baju-baju kerlap-kerlip dan makanan mewah, dia berkali-kali lalu lalang di tengah tamu untuk mengumpulkan piring-piring kotor, pekerjaan yang mungkin orang-orang gengsi untuk melakukannya. Jika saja tidak ada La Bandung, maka piring untuk menjamu tamu akan habis. Di sela-sela kewajibannya, sejenak dia menuju ke depan pengiring musik pesta tersebut. Dia akan bergoyang di depan panggung, dan orang-orang masih akan menertawakan ulahnya itu. Dia mungkin tak peduli, dia terus bergoyang mendengar musik karena begitulah caranya menikmati hidup.
Maka, malam ini saya telah menguliahi diri sendiri. Mereka berdua tak perlu dilabeli pahlawan, mereka tak perlu. Jikapun diberi, mereka tak tahu untuk menjadikannya suatu kebanggaan, pikiran mereka terlalu sederhana. Mereka tak perlu diundang ke acara semacam KICK ANDY untuk menyiarkan apa yang telah mereka perbuat untuk orang banyak. Tak perlu membayar mahal-mahal seminar ESQ di hotel mewah hanya untuk memikirkan : bukan apa yang telah kita terima semasa hidup, tapi apa yang telah kita berikan kepada orang lain, walau posisi kita seorang idiot sekalipun!
Satu hal, kita telah hilang kesederhanaan. Kita terlalu banyak mengejar, berlari menuju tujuan yang menawarkan kemewahan sehingga kita menghiraukan berbagai ragam keindahan yang banyak disisipkan di perjalanan. Rasa-rasanya banyak hal yang harus kita lewati namun kita telah melompatinya. Mungkin, kita telah lupa menjadi sederhana!
Salam KUPER, Luwwwaarrr biasa….!!! =P
*Roti otti : kue tradisional bugis terbuat dari tepung beras dan pisang, biasa juga disebut roti berre'
Sabtu, 19 Maret 2011
SURAT UNTUK DIRI SENDIRI
Label:
artikel siluman,
curhat picisan,
poting,
teman
Sebuah hati, kau hanya berkenalan beberapa menit tapi sensasinya seperti telah tua bersama. Maka tak perlu lagi menghitung tahun, umur bukan lagi ukuran untuk tidak saling memahami, tak butuh pertanyaan untuk mendapatkan banyak jawaban antara kalian. Namun, kemana kau harus bercerita ketika hati yang punya banyak stok “memaklumi”mu itu tiba-tiba dibajak oleh hati yang lain, yang seharusnya adalah milikmu? Apakah karena saat kenalan telah melimpah jawaban sehingga sekarang yang tersisa hanya perkiraanmu tentangnya? Mendadak, kau merasa dia jauh lebih mudah dari ‘umur kalian’. Kau merasa menyayangkan, harus berkenalan ulang dengan dirinya yang ini, walau tak nyaman lagi untuk menjabat erat hatinya. (Yah, harus diakui, kita sebenarnya harus tabah berkenalan dengan banyak orang yang berdiam diri pada satu raga yang sama.)
Kemana kau harus mengungsi saat semua orang yang kau butuhkan dicuri oleh kesibukannya masing-masing? Mereka tak sempat mendatangkan wujudnya di depanmu sebagai bala bantuan, terkadang rindu itu meledak di mata, hujan-hujan yang membuat lorong-lorong ingatanmu tergenang-genang kenangan. Kenangan yang butuh diperbaharui dan diulang, namun kau hanya bisa merindu dan meyakinkan diri bahwa mereka senantiasa mendo’akanmu, bantuan terhebat bagi seorang yang banyak penghalang ruang dan waktu. ‘Sesuatu’ yang lebih hebat dari sekedar uluran tangan-tangan mereka akan datang: Kuasa Tangan Sang Maha Baik! Percayalah, mereka cuma mengucapkan “sampai jumpa” bukan “selamat tinggal”.
Jadi tak usah khawatir, mereka hanya sibuk, bukan melupakanmu. Tak selalu ingat, bukan berarti lupa kan? Jadi saya pun tak ingin kalah, “Maaf, saya sibuk merindukan kalian!”
Kemana kau harus mengungsi saat semua orang yang kau butuhkan dicuri oleh kesibukannya masing-masing? Mereka tak sempat mendatangkan wujudnya di depanmu sebagai bala bantuan, terkadang rindu itu meledak di mata, hujan-hujan yang membuat lorong-lorong ingatanmu tergenang-genang kenangan. Kenangan yang butuh diperbaharui dan diulang, namun kau hanya bisa merindu dan meyakinkan diri bahwa mereka senantiasa mendo’akanmu, bantuan terhebat bagi seorang yang banyak penghalang ruang dan waktu. ‘Sesuatu’ yang lebih hebat dari sekedar uluran tangan-tangan mereka akan datang: Kuasa Tangan Sang Maha Baik! Percayalah, mereka cuma mengucapkan “sampai jumpa” bukan “selamat tinggal”.
Jadi tak usah khawatir, mereka hanya sibuk, bukan melupakanmu. Tak selalu ingat, bukan berarti lupa kan? Jadi saya pun tak ingin kalah, “Maaf, saya sibuk merindukan kalian!”
Langganan:
Komentar (Atom)
