Sabtu, 07 Maret 2015

Sheila on 7 - Lapang Dada

Petikan gitarnya Eross, sukaaaaa sekaaaaaliii... Btw, ini album terakhir Sheila on 7 di bawah label Sony. Ini sih opini saya saja, sejak Pak Jan Djuhana (yang katanya punya kuping emas) gak di Sony lagi, Sony jalan begitu saja, Sony seperti kehilangan bapaknya.

Nggak apa-apa Mas Eross, saya dari SD sampe sekarang masih suka Sheila on 7 dan tetap nunggu lagu-lagu selanjutnya, Kau harus bisaaa, bisaaa, karena saya percaya kalian bisa!


Kamis, 05 Maret 2015

WILLIE NELSON - THE SCIENTIST

Entah, ini tak lagi terdengar seperti gombal, mungkin karena om Willie Nelson sudah gak muda lagi jadi rasanya liriknya dari dalam hati, apa adanya, dan gak perlu musik mewah untuk nyampein, suara sederhana, pesan sampe...

Rabu, 25 Februari 2015

Pengumuman Pemenang

 

Selamat kepada

Fadilla Kahar (seangkatan SAKSI 04)
Maryam (teman kerja)
Hamran Sunu (senior)

Berhubung si Cora II telah tamat, beruntung sms kalian tersimpan di simcardku. :(

Louise, Johanna, dan Raisa

Akhir-akhir ini jarang mendengarkan Bob Dylan lagi. Tapi hari ini bosan, jengah ketika lagu-lagu yang kujejalkan ke telingaku, berbagai macam akrobatik suara yang manis, yang sering diputar di radio. Mari kembali mengungsi, meringkuk, dan merenung apa semua itu??? haaaa???

Visions of Johanna, saya tidak tahu, mengapa lagu ini tak bisa bergeser dari daftar lagu-lagu favorit (mungkin) sepanjang hidup saya. Mendengar lagu ini, seperti menyadari betapa brengseknya dunia ini, tetapi betapa lebih brengseknya kita, silakan mencaci sepuasnya kemudian terimalah semua itu apa adanya.

copas link

Saya justru tidak tahu, mengapa orang-orang di luar sana begitu menyukai Raisa, okelah kalau dia cantik, okelah kalau suaranya bagus, tapi lagunya tidak ada yang nyangkut ke saya. Maaf yah buat penggemar Raisa ahahahaha... Saya rasa Afgan lebih mendingan dalam memilih lagu daripada Raisa. Coba Andika (Kangen Lagi Band) mau nyiptain lagu buat Raisa, pasti hits.

Atau mungkin benar, telinga saya telah dirusak oleh suara sengau orang ini, sigh!

Minggu, 01 Februari 2015

DUA PULUH SEMBILAN

Mengapa mengekangnya dalam kebahagiaan yang kau tawarkan kepadanya? Seperti dirimu, dia juga ingin bahagia dengan cara yang diingininya. Jika caramu tak berhasil membuatnya bahagia, relakanlah. Tak usah dipaksakan lagi, biarkan dia membahagiakan dirinya dengan cara yang diinginkannya.

Jika kau terus-terusan memaksakan membahagiakannya dengan caramu maka dia akan kecewa, itu hanya akan membuatmu makin membenci dirimu, itu buruk. Kau bisa membenci dia yang pergi darimu, tetapi kau akan malah balik menyalahkan dirimu. Yah, kau bisa membenci semua orang, tapi orang yang paling kau benci justru dirimu sendiri.

Kau tidak bisa menghentikan itu-membenci-, daripada kau dan dia sama-sama tersiksa, maka relakanlah. Kau memang tak memenangkan apapun, tapi camkan satu hal bahwa dengan keputusanmu ini paling tidak ada satu pihak yang bahagia.