Selasa, 10 Januari 2012

HOW DEEP IS YOUR LOVE*

Saya menggali dan terus menggali perasaan saya sendiri, sedalam-dalamnya. Tanpa sadar saya justru membuat 'galian' buat diri-sendiri, justru menjauh dari hal-hal yang dicintai. Cintaku berhenti hanya pada tahap membangun semegah-megahnya perasaan tanpa adanya usaha nyata. Saya asik sendiri membahagiakan mereka dengan caraku yang kupikir mereka membutuhkan apa yang kulakukan, ternyata tak segampang itu. Mereka butuh lebih dan saya tak tahu itu karena saya justru telah membuat benteng dari keping-keping perasaan saya tersebut : "saya benar telah membahagiakan mereka!". Tak ada pintu ataupun jendela yang membuatku harus melihat wajah mereka apakah bahagia atau tidak.Galian perasaanku semakin dalam, yang terlihat oleh pandanganku tinggal gelap, dan kini identitas sebuah cinta telah ditelan gelap, saya pun tak bisa merasakannya lagi apakah itu cinta atau perasaan yang lain, saya tak tahu lagi, saya tak bisa percaya lagi apakah ini benar-benar cinta!

Saya mungkin sedang menunggu seseorang atau lebih yang membawakan pelita, membantu saya melihat apa saja yang tertera pada dinding lorong galian yang telah kugali dalam gelap tersebut. Mungkin mereka bisa mencintai saya tapi saya telah tak yakin apakah bisa mencintainya...

*salah satu lagu THE BEE GEES, yeah... tahun 60an itu ajaib!

Sabtu, 07 Januari 2012

Akhirnya Mengerti...

Kau gak punya IQ, hanya itu yang bisa kau ucapkan : "SORRY"!
--- CINTA (Slank) 

Pada akhirnya nanti, saya hanya bisa mengulang-ulang takdir mereka yang telah lebih dahulu ada, orang-orang yang kalah dan hanya bisa mengucapkan maaf. Saya pernah mencaci seorang dosen dalam diam, tapi lagi-lagi malah membuat saya membenci diri saya sendiri. Rintangan-rintangan itu justru menampar saya, bahwa sebenarnya saya orang yang tak becus mencintai, saya tak pantas mendapatkan 'dicintai' balik. Semua uang untuk membuat diri ini (mungkin) lebih berguna sepertinya sia-sia saja, menghabiskan isi kas keluarga saja. Persis seperti pejabat yang membuat nyaman dirinya dengan berbagai fasilitas negara dan akhirnya terlalu 'nyaman' sehingga lupa akan tugasnya yang sebenarnya. Pun saya pernah mencaci mereka (para birokrasi) dengan segala sumpah serapah, dan saya ternyata tak jauh bedanya dengan mereka! Itulah mengapa saya membenci diri dan saya tidak mengerti mengapa kebanyakan orang malah menggiring untuk mencintai diri sendiri. Saya tak pernah mengerti...

Untuk seorang dosen yang pernah kucaci-maki, seorang kawan pernah menyarankan saya untuk meneror Anda, agar membuat Anda tidak bisa tidur, agar Anda terus dihantui wajah saya, tapi saya tak lakukan. Anda pengajar, oleh karena itu Anda adalah orang yang penting untuk negara. Tidurlah nyenyak malam ini dan malam-malam berikutnya, agar Anda selalu tepat waktu, agar Anda bisa mengucilkan semua orang yang tak bisa menyamai Anda baik dalam hal kesempatan, pendidikan maupun semangat. Tak memberikan tandatangan Anda sepertinya memang hak Anda, buat apa saya sarjana? Itu hanya perintah semua orang, bukan kemauan saya, saya hamba semua orang, dan sekali lagi : 'telah terlalu banyak tuhan'.

Salam ROVVO

Jumat, 06 Januari 2012

TWO OF US

David Bailey


Paul, ambil remah-remah ini, ambil ilusi ini, ambil ketenaran ini, karena aku akan meninggalkanmu.
--- John Lennon, September 1980

John beruntung, ia bisa mengeluarkan semua rasa sakit hatinya. Sifatku berbeda. Masih banyak kepedihan dalam diriku yang harus dibereskan.
--- Paul McCartney, Oktober 1986

Kamis, 05 Januari 2012

O'ON

Barusan punya kenalan kayak dia, memikirkannya langsung perut teraduk-aduk pengen muntah, keringat dingin dan pengen berak sekaligus. Mungkin itu reaksi tubuh saya menghargainya, semua kotoran dalam tubuh saya berlomba untuk memberikannya penghormatan. Tak hanya itu, saya merasa mental saya sedikit lagi cidera karena harus berhadapan dengannya, itulah penyakitnya dan sayangnya menular ke semua orang. Oh Tuhan, saya berlindung kepadamu agar tidak tertular karena semua keluargaku (yang bahkan tak pernah bertemu dengannya sekalipun) telah ditularinya, mereka semua telah menjelma agennya untuk mengikut kepada mereka, mencoba sedikit demi sedikit menciderai mental saya.

Yang di luar sana, yang sedang membaca postingan saya kali ini, jika suatu waktu sedang depresi, jika ingin merasakan rasanya sinting atau punya keinginan lenyap sekalipun, tolong hubungi saya, dengan senang hati saya akan memberikan nomor hape dan alamat rumahnya...

Selasa, 03 Januari 2012

RESO-iLUSI 2012



Sudah tiga hari berjalan 2012, semacam kebiasaan (macam apa) orang-orang pada umumnya membuat resolusi untuk diwujudkan. Ada uang kita yang terbuang percuma untuk menghiasi langit pada malam tutup tahun kemarin. Ini 2012, sebagaimana yang diprediksikan suku maya bahwa 2012 akan kiamat, bumi akan terkena banjir dahsyat, jadi sudahkah Anda membuat perahu? Daripada membuat perahu, saya hanya akan menangis saja, memohon dikutuk jadi ikan, bukan manusia lagi. Walau dengan membuat mataku menetaskan air mata tak akan membuat apa-apa, justru membuat diri ini makin bersalah. Saya tak akan minta maaf karena saya yakin akan membuat kesalahan lagi. Maaf, hanya pantas diucapkan bagi yang bisa melaksanakan komitmennya untuk tak mengulang kesalahannya.

Maaf, yah seperti yang selalu dilakukan oleh ‘generasi tua’ jika tak bisa melakukan hal-hal yang semestinya mereka lakukan. Dengan mudah, mereka akan  ‘cuci tangan’ dengan menyerahkan kesalahan itu kepada ‘generasi muda’ untuk dilaksanakannya kelak, dengan alas an supaya generasi berikutnya lebih baik lagi dari mereka. Cwih, betapa gampangnya mewariskan kesalahan, mereka hanya menyerahkan dan tak mau tahu kerusakan-kerusakan yang telah mereka perbuat. Dengan mudah jari telunjuk mereka menunjukkan apa-apa yang harus dilakukan padahal sebelumnya mereka tak pernah melakukan itu. Seperti anak sulung yang menasehati si bungsu untuk membahagiakan ibunya, dengan hal-hal yang tak bisa mereka capai. Jika mereka tak bisa, mengapa dosa-dosa itu harus beralih ke tangan kita? Yah sayalah generasi muda yang egois, mudah merasa bersalah tapi bisa tiba-tiba membunuhnya dengan menulis. Menulis bagi saya obat sekaligus racun. Saya bisa jadi apapun dengan menulis fiksi.

Berbagai ragam motivasi seseorang menulis, ada yang menganggap sedang mengemban misi besar membawa kebaikan lewat kata-katanya, ada yang ingin menguak kebenaran, tidak! Mungkin saya belum semulia itu, saya kaum muda yang picik, lebih doyan curhat daripada menyuarakan resah orang banyak. Dalam fiksi saya bisa membunuh orang-orang yang saya benci (termasuk diri saya sendiri) dan mengungkapkan cinta kepada orang-orang yang saya sayangi. Pernah seorang menasehati dan katanya, puisi itu tak ada artinya jika saya tak berusaha untuk membahagiakan orang tersebut. Jika memang orang yang saya singgung dalam puisi tak bisa memahaminya, paling tidak saya memahaminya. Puisi itu adalah keyakinanku sendiri bahwa saya mencintainya, saya tak punya apa-apa, saya hanya punya kata-kata. Saya tak ada bedanya dengan pejabat yang banyak mengumbar janji, tak ada aksi. Jadilah saya malah justru menyadari, saya menulis untuk percaya akan diri ini, saya menulis untuk diri sendiri, membuat perasaan saya nyata walau tak terasa oleh siapapun. Saya menulis untuk membuat rumah bagi semua apa yang ada di pikiran saya. Haha, jadi terdengar lucu. Kuliah telah membuat pikiran ini terkekang, justru bagi saya fiksilah yang memerdekakan pikiran saya, mungkin otak saya tak cocok untuk kuliah.

Kuliah yang telah membelenggu lebih dari tujuh tahun, setahun berhadapan dengan dosen yang satu itu dan saya tak membaca dia menampakkan muka ingin membantu walau mulutnya berkata lain. Yah telah lama bahasa berfungsi untuk ‘tidak’ mengungkapkan yang sebenarnya ingin diungkapkan, justru untuk menyembunyikan. Oh Tuhan, jika kemudian hari saya jadi seperti orang ini saya ingin jadi bodoh saja (baca : tidak berpendidikan). Saya jenuh, menu insomnia saya bertambah dengan wajahnya. Saya jadi lebih mudah menangis karenanya, itulah selemah-lemahnya perlawananku karena saya pantang ‘tidak menghormati’ orang yang lebih tua. Karena ‘hormat’ inilah juga, saya menerima kutukan ini, harus segera memegang ijazah sarjana yang bagi saya membuat diri saya malah jadi budak bagi ilmu (lebih tepatnya ‘sekolah’). Banyak orang berpendidikan tinggi bukan untuk meluaskan pikirannya, memberi kesempatan untuk orang lain untuk menjadi bagian darinya, tapi tidak. Sekolah telah jadi kemewahan tersendiri, membuat diri bisa merasa eksklusif, sulit terjangkau oleh siapapun. Saya jenuh! Orang-orang yang dulu, tempatku mengungsi dari semua hujatan dan cercaan, kini pun di dalamnya telah dihinggapi para penyihir memantrai diri ini paling tersangka di dunia jika tidak segera menyelesaikan tugas besar ini.

Huhhh, tak ada rumah Bob. Terima kasih untuk Bob Dylan dan The Beatles yang tak lelah-lelah kusuruh bernyanyi via winamp di laptopku. Sungguh, sepertinya tandatangan kalian jauh lebih berharga untuk kukejar daripada tandatangan orang-orang glamor akan sekolah itu. Suara kalian, tempat mengungsi paling nyaman sekarang ini. Kita sama, tak ada rumah, mari kita jadi rumah satu sama lain, mari kita menghibur satu sama lain. Zaman 2000an telah terlalu banyak menyakiti saya, tapi sejak mengenal kalian yang justru lahir dari zaman 1960an membuat saya pelan-pelan menyenangi hidup.

Sebuah wajah lelah Bob Dylan pernah berkata “I just want to go home, you know what home is?”, ah separah itukah sampai dia lupa bagaimana rasanya punya rumah, bagaimana nyamannya suatu tempat sampai kita menamakannya “rumahku”, tempat rehat saat lelah menguasai tubuh dan pikiran? Tak ada rumah lagi, Bob. Waktunya membakar kuncinya!


Wahai Ibu AB, semoga bulan depan kita bertemu sebagai sesama manusia biasa, haha! Semoga bukan ilusiku semata. Betapa jelatanya otak kita jika hanya memamerkan pendidikan itu saja!

*tak bosan-bosan mendengar 'LIKE A ROLLING STONE'